MENEMUKAN KEIKHLASAN DI DESA

Barangkali kunjungan kerja ke lokasi KKN telah banyak dilakukan oleh pimpinan perguruan tinggi, bahkan  hampir setiap enam bulan sekali, namun  menurut saya ada sesuatu yang terlupakan, dan baru kemarin saya menyadarinya secara penuh terutama pada saat bertemu dengan masyarakat perdesaan yang sangat polos dan tampak sangat ikhlas dalam menyambut dan memberikan penghormatan kepada para tamu.  Tidak ada rasa berat ataupun keterpaksaan dalam wajah sumringah mereka, dan semuanya dijalaninya dengan penuh kebahagiaan.

Itulah yang dapat  dirasakan oleh semua orang yang menghadiri acara kunjungan kerja pimpinan IAIN Walisongo dan bupati Demak ke lokasi KKN di kecamatan Karang Tengah.  Sungguh sangat  langka pemandangan seperti itu bilamana  divcari di perkotaan, dengan masyarakatnya yang seolah hidup secara individualistik serta  kurang memperhatikan dalam hal pemberian kehormatan secara ikhlas.  Tentu sangat berbeda dengan masyarakat desa yang  dapat dipastikan memberikan segalanya dengan penuh keikhlasan dan kesunguhan.

Kita tidak bermaksud membedakan secara membabi buta antara masyarakat di perkotaan dengan masyarakat di perdesaan, hanya saja  dengan melihat langsung kenyataan yang terjadi, kita memang  patut memberikan sebuah kesimpulan yang demikian.  Kita juga menyadari tidak seluruh masyarakat perkoaan hidup secara individualistik dan kurang menunjukkan keikhlasan, hanya saja  secara umum kenyataannya memang demikian.  Tentu ada  diantara masyarakat perkotaan yang sangat ikhlas dalam melakukan  apapun, dan demikian juga sebaliknya ada  juga masyarakat perdesaan yang dalam melakukan sesuatu kurang didasari keikhlasan.

Tetapi dalam kesempatan ini  saya tidak sedang membicarakan masalah keikhlasan tersebut, melainkan hanya ingin mengungkapkan ekspresi saya setelah menyaksikan betapa tampak dalam wajah wajah masyarakat di lokasi KKN yang sangat tampak polos dan ikhlas.  Rasanya  sangat nyeman dan  damai, meskipun  cukup banyak persoalan yang menghadang di hadapan kita.

Contoh kongkrit pemandangan tersebut terwujud dalam cara mereka mempersilahkan  para tamu untuk menikmati hidangan makan siang setelah selesai acara resmi kinjungan tersebut.  Bukan apa apa  dan bukan dlihat dari sisi jenis makanan yang disuguhkan, melainkan  dari betapa mereka sangat berharap para tamu dapat menikmati hidangan yang disediakan. Bahkan mereka akan sangat bersuka cita  sat kita menikamti makanan tersebut dengan lahap dan bahkan  menambah atau “tanduk” makanan tersebut.

Sejak awal kedatangan kami serombongan memang sudah sangat terasa bahwa  apa yang dilakukan oleh mereka sama sekali jauh dari basa basi dan segala  tampilan yang semu, melainkan benar benar tumbuh  dari hati dan perasaan yang paling dalam.  Kita tentu akan sangat mudah membedakan mana sikap yang dibua buat dengan mana sikap yangnkeluar dari keikhlasan dan tibul dari harti dan perasaan yang tulus.  Apa lagi sikap mereka pada saat acara berlangsung, mereka mengikutinya dengan penuh khidmad dan  sedikitpun tidak membuat suasana menjadi kuirang nyaman, termasuk pada saat selingan yang menampilkan anak anak  hasil dari kejuaraan  festifal anak shalih.

Kita memang sering menjumpai warga perdesaan yang  ramah dan penuh perhatian kepada  warga lainnya, tetapi pada saat lainnya kita juga pernah menjumpai waqrga perdesaan yang sudah terkontaminasi  perilaku orang orang kota dan sama sekali tidakperduli dengan sesama.  Sifat individualistiknya sangat tampak, meskipun  awalnya hanya  terpengaruh tetapi lama kelamaan menjadi kebiasaan yang mengakar dalam kehidupannya.

Pernah suatu saat saya juga menjumpai masyarakat perdesaan yang  sedang memanen hasil tanaman mereka  dan pada saat mereka melihat saya  dengan spontan dan penuh berharap, mereka memohon saya untuk dapat menerima pemberian mereka.  Tentu dengan senang hati saya mau menerima pemberian yang dilakukan dengan ketulusan tersebut, walaupun  pada awalnya saya merasa berat karena harus membawa bawaan  tersebut, tetapi karena  pertimbangan perasaan yang demikian kuat, maka kemudian  saya dengan senang hati menerimanya bahkan dengan  ucapan terima kasih yang insya Allah tulus juga.

Lebih jelas lagi hal tersebut bagi saya karena saya dapat merasakannya   dengan demikian penuh, karena  saya memang  berasal dari desa yang dahulu masyarakatnya juga relatif sama ikhlasnya dengan masyarakat yang saya jumpai tersebut.  Namun sangat disayangkan bahwa masyarakat di desa saya asal ternyata sudah banyak berubah, karena pengaruh kehidupan kota yang sudah mulai merembet ke sana.  Salah satu penyebabnya ialah karena  hampir 80 % masyarakat yang ada  bekerja di kota dan mengais rizki di perkotaan.

Demikian juga pengaruh perkembangan teknologi informasi yaang demikian cepat  bahkan sampai masuk ke dalam ruang ruang rumah kita, semakin menambah kuatnya pengaruh kehidupan yang cenderung individualistik dan  mengabaikan persoalan kebersamaan diantara warga masyarakat lainnya.  Sedih memang tetapi apa boleh buat, karena memang sudah menjadi sebuah keniscayaan,jika pada saatnya  pengarus globalilasi pasti akan  meresap kedalam kehidupan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat perdesaan.

Jadi sesungguhnya masyarakat yang kemarin saya temui di desa lokasi KKN lama kelamaan juga akan dipengaruhi oleh kehidupan yang sama sekali berbeda dengan  yang ada saat ini.  Itulah sebabnya sangat diperlukan sebuah uapaya nyata untuk  menghindarkan masyarakat dari kerusakan yang akan membahayakan  mereka.  Artinyaharus ada usaha yang dapat memfilter mereka agar mereka tetap mempertahankan  kebiasaan baik yang selama ini mereka lakukan serta  dapat menilai serta memilih semua buadaya yang masuk melalui informasi yang sangat deras.

Menyadari atas semua itu maka keterpanggilan kita untuk menyelamatkan mereka dari bahaya globalisasi menjadi sebuah keniscayaan.  Kita tetap menginginkan bahwa meskipun gegap gempita kehidupan dunia yang demikian heboh, namun  harus masih ada  kebisaan masyarakat yang tetap mempertahankan keikhlasan dalam melakukan segala sesuatu.  Tentu  harus dimulai dari kita sendiri dan keluarga  agar  usaha kita untuk menyelamatkan masyarakat tersebut dapat efektif  dan berhasil.

Banyak hal  tentunya dapat kita lakukan  untuk usaha tersebut, baik melalui usaha langsung maupun tidak langsung.  Arinya usaha langsung itu melalui kerja kita  memberikan pencerahan secara langsung kepada masyarakat serta memberikan teladan bagi mereka, utamanya  desa yang dekat dengan kita atau bahkan mungkin desa  dimana kita dahulu dilahirkan dan dibesarkan.  Sedangkan melalui usaha tdak langsung dapat dilakukan melalui penugasan kepada para mahasiswa  dalam  kulaih kerja nayata yang mereka  lakukan.

Amat sayang rasanya kalau kondisi yang sangat menyejukkan seperti itu kemudian harus bergani dengan kondisi yang serba mementaingkan materi dan  perlombaan untuk mendapatkan harta dan pengaruh, bahkan meskipun harus dengan cara yang tidak sehat.  Untuk itu sekali lagi keikhlasan yang saat ini masih terlihat sangat nyata dalam kehidupan masyarakat perdesaan harus tetap kita usahakan untuk lestarikan.  Pada suatu saat kita dapat  mendatangi kehidupan mereka yang  asli tersebut untuk sekedar berbagi kebahagiaan dengan mereka dan menghibur diri dengan perilaku tulus yang mereka tunjukkan.

Silaturrahmi merupakan wahana yang sangat efektif untuk  melakukan usaha  tersebut, karena  melalui silaturrahmi tersebut kita dapat melakukan  usaha  mempertahankan  kebudayaan baik tersebut dengan tanpa  menemui kesulian serta masyarakat tidak merasa diperlaukan sebagai obyek.  Semoga  kondisi sebagaimana yang terjadi di perdesaan tersebut akan tetap dapat dilestarikan, meskipun pengaruh globalisasi telah menjalar ke semua  segi kehidupan masyarakat kia.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.