KAPAN INDONESIAA DAPAT MENGALAHKAN CHINA

Barangkali  kita masih ingat betapa perkasanya kita dalam hal bulu tangkis  beberapa tahun silam, terutama sebelum china tampil mendominasinya bahkan hingga saat ini.  Dahulu kita dapat berbangga diri dengan keperkasaan para atlet bulu tangkis kita, baik di sektor putra maupun putri, namun saat ini seolah kita menjadi kelas dua atau bahkan kelas tiga dalam  bulu tangkis.  Beberapa negara di Asean saja yang dahulu seperti tidak ada apa apanya, sekarang mereka dapat unjuk diri dan sering membuat atlet kita tidak berkutik. 

Negara seperti Thailand yang dahulu sama sekali tidak diperhiungkan dalam olah raga ini, sekarang sudah sering mengalahkan atlet kita.  Belum lagi Malaysia yang terus melahirkan atletnya  yang cukup berkualitas, baik disektor putra maupun putri.  Apa lagi kalau kemudian kita ingat beberapa negara lainnya seperi Jepang, Korea, Denmark, Inggris dan beberapa negara di Eropa yang sudah  demikian kuat, sehingga negara kita menjadi tertinggal jauh dari mereka.

Pertanyaannya ialah kenapa  bisa begitu? Apakah kita salah dalam sistem kaderisasi atlet atau dalam pembinaan dan lainnya.  Namun yang jelas pasti ada yang kurang tepat, sehingga kenyataannya  seperti yang kita saksikan.  Kenapa  negara lain dapat melahirkan atlet yang baik dan kuat, sedangkan kita tidak, padahal dari sisi stok pemain, kita tidak kalah dengan negara lainnya.  Banyaknya penduduk negara kita  sesungguhnya merupakan modal yang sangat besar dalam melahirkan atlet potensial dalam bidang olah raga apapun, termasuk bulu tangkis.

Karena itu sudah saatnya  dilakukan evaluasi menyeluruh mengenai sistem pembinaan yang selama ini kita lakukan, dan jika diperlukan dilakukan pula kunjungan kepada negara lain dalam  melakukan pembinaan, khususnya di China, Korea, Jepang dan juga  di negara negara Eropa.  Barangkali apa yang selama ini kita lakukan yang sudah dianggap tepat dan bagus, ternyata  ada yang kurang tepat, bilamana dibandingkan dengan sistem yang dilakukan oleh negara yang saat ini  olah raga ulu tangkisnya  cukup maju dan kuat.

Dalam penyelenggaraan piala Sudirman kali ini kita sungguh sangat prihatin dan harus malu, karena dua kali dikalahkan oleh China, bahkan yang pertama kalah telak, lima kosong.  Beruntung dalam perdelapan final yang lalu kita hanya kalah dua tiga.  Berapapun scornya, kalah tetaplah kalah, karena kita tidak dapat meneruskan pertandingan berikutnya.  Dan itu berarti  menambah daftar panjang penantian kita untuk memboyong kembali piala Sudirman yang kita rancang dan untuk pertama kalinya kita menangi tersebut.

Sementara dalam kejuaraan lainnya kita juga masih belum dapat mengalahkan negara lain, apalagi China.  Kejuaraan All England yang dahulu menjadi langganan kita, saat ini nyaris tidak pernah kita nikmati, bahkan pernah dalam sebuah penyelenggaraan  All England kita sama sekali tidak mendapatkan satu gelarpun.  Ini sungguh tidak dapat diterima, setidaknya  tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena ini  menyangkut persoalan harga diri sebagai negara yang dikenal sebagai kekuatan bulu tangkis dunia.

Barangkali sangat perlu dicanangkan sebuah obsesi tunggal, yakni  mengalahkan kekuatan  dan mematahkan dominasi China.  Tentu pencanangan tersebut harus diikuti oleh sebuah usaha nyata dan bersungguh sunguh dalam mempersiapkan para atlet.  Memang tidak mudah etap harus dilakukan dan dirancang dengan tahapan tahapan yang  jelas.  Dalam hal ini kementerian olah raga juga harus mendukung dari sisi pendanaan serta support lainnya, sehingga keinginan tersebut benar benar akan dapat digapai.

Kita semua tentu sangat merindukan masa dimana para atlet kita mendominasi dunia bulu tangkis, seperti pada era Rudi Hartono, Liem Swie King,  Icuk Sugiarto,  Lius Pongoh, Hastomo Arbi, Verawati Fajri, Ivana Lie, Sarwendah, bahkan hingga masa Alan Budi Kusuma, Ardi B Wiranata, Susi Susanti, dan Taufik serta masih banyak lagi pemain bulu tangkis kita yang begitu membangakan.  Apakah saat ini dan masa mendatang  atlet seperti mereka tidak dapat dilahirkan di negeri ini?   Jawabannya sudah pasti bisa!.  Hanya saja diperlukan sebuah  perencanaan dan pelaksaan program yang jitu dan secara konsisten dilaksanakan.

Sesungguhnya  peminat olah raga ini sangat banyak dan bibit bibit unggulpun juga tidak sedikit, terbukti dengan tampilnya beberapa pemain pemula yang sangat bagus di beberapa kejuaraan dan seleksi yang dilakukan oleh klub klub yang ada.  Tetapi dalam kenyataanna mereka kemudian tidak menjadi semakin berkembang melainkan  semakin tengelam dan akhirnya sama sekali tidak ada prstasi yang dapat dibanggakan.

Tentu banyak faktor yang dapat mempengaruhi persoalan ini, yang salah satunya ialah mengenai sistem pembinaan yang tentu kurang tepat, baik dalam aspek programnya maupun dalam aspek penyesuaian dengan usia mereka dan lainnya.  Tenu ada faktor lainnya yang terkait yang  harus dicari dan kemudian dicari pula solusinya.  Namun menurut saya masih ada satu faktor penting yang terkadang luput dari perhatian kita, yakni faktor masa depan para atlet yang berprestasi di negeri ini yang kurang mendapatkan penghargaan dari pemerintah.

Sudah terlalu banyak para atlet kita yang telah berprestasi nasional maupun internasional yang hidupnya  sangat memprihatinkan, bahkan hanya sekedar rumah saja mereka tidak punya.  Faktor ini tentu akan sangat mempengaruhi keseriusan para atlet dalam berlatih dan mendapatkan  prestasi maksimal.  Dapat saja mereka berpikir bahwa untuk apa harus bersusah susah menjadi atlet yang membela nama bangsa dan negara, kalau pada akhirnya mereka hanya dikenang pada saat jaya, dan setelah itu mereka dilupakan.

Pada akhirnya ketikaa  mereka berpikir realistis masa depannya, mereka akan lebih memikirkan sesuatu yang lebih jelas, seperti  serius dalam sekolah dan mengurangi porsi latihan atau fokus dalam melakukan usaha bisnis ketimbang harus  serius dalam berlatih dan lainnya.  Konsentrasi dan motivasi untuk berprestasi tentu juga akan berkurang bersamaan dengan suramnya masa depan para atlet yang sudah mendahuli mereka.  Kalaupun ada eberapa atlet yang sukses dalam hidupnya, itu bukan semata mata disebabkan  fasilias pemerintah kepada mereka, melainkan karena sebab lain.

Hal tersebut terbukti dengan banyaknya atlet yang hidupnya sengsara sebagaimana  yang disebutkan di atas.  Memang setelah ada beberapa protes, kemudian ada sedikit perhatian pemerintah  terhadap mereka, tetapi hal tersebut belum dianggap cukup, karena dinilai belum sebanding dengan jerih payah mereka  pada saat menghrumkan nama bangsa.  Inilah faktor yang menurut saya cukup mempengaruhi konsenrasi dan motivasi para atlet dalam berprestasi.

Tentu akan  lain bilamana  ada jaminan masa depan yang cukup menggiurkan kepada para atlet, tenu semua  atlet dan calon atlet akan semakin  antusias dan semangat dalam berlatih untuk meraih prestasi yang setingi tingina.  Barangkali hal inilah yan saat ini juga harus dipikirkan dan direncanakan oleh kementerian pemuda  dan olah raga agar keberadaan bangsa ini, khususnya dalam bidang olah raga  tidak lagi dipandang sebelah mata oleh negara lain, bahkan oleh sesama  negara Asia Tenggara.  Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.