HASIL UN

Proses pelaksanaan ujian nasional yang  diwarnai protes dari banyak pihak, disebabkan adanya bebrapa kendala teknis, seperti keterlambatan soal dan lembar jawaban pada sebelas propinsi di Indonesia Tengah, pada akhirna dapat terselengga sampai akhir, dan pada hari ini akan diumumkan secara bersama, termasuk yang pelaksanaannya harus ditunda.  Tentu banyak yang berharap harap cemas, terutama mereka yang mengikuti ujian nasional, dan oarang tua mereka.  Apakah mereka benar benar lulus dan kemudian juga  dapat diterima di perguruan tinggi yang dipilih atau sebaliknya justru terpental.

Kita juga sudah mengetahui bahwa jumlah peserta ujian nasional yang lulus pada tahun ini meningkat dibandingkan dengan jumlah kelulusan tahun kemarin, yakni sekitar 0,2 persen peningkatan.  Jadi ada sekitar lebih dari 98% yang lulus ujian.  Kabar tersebut tentu cukup menggembirakan, yang artinya  ada peningkatan dari sisi kualitas.  Tetapi kita tidak boleh mengukurnya hanya dari hasil tersebut, melainkan harus  secara menyelruh jikalau memang berkeinginan untuk mengukurnya secara lebih akurat.

Sebagaimana kita tahu bahwa meskipn banyak kalangan yang meminta agar ujian nasional tidak dijadikan syarat masuk PTN sebagaimana yang disuarakan oleh kalangan angota DPR komisi X dan juga kalangan lainnya, namun menteri pendidikan dan kebudayaan tetap bersikukuh untuk menjadikan kelulusan ujian nasional sebagai syarat masuk perguruan tinggi negeri.  Tentu banyak argumentasi yang dapat disampaikan, terutama untuk apa ujian nasional diselenggarakan kalau kemudian tidak ada efeknya sama sekali, padahal UN tersebut dibiayai sangat mahal.

Disamping itu perguruan tinggi negeri juga tentunya tdak akan mau menerima mereka yang tidak lulus ujian nasional memasuki PTnya.  Lulus dalam ujian akhir nasional merupakan  sebuah pengakuan formal bahwa yang bersangkutan memang sudah  memenuhi syarat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.  Tentu perguruan tingi juga masih memberikan persyaratan lainnya, termasuk prestasi studi dan prestasi lainnya, sehingga diharapkan  yang bersangkutan akan dapat menyelesaikan studinya  tepat waktu  dan berkualitas baik.

Dalam kaitannya dengan penerimaan calon mahasiswa di perguruan tinggi negeri yang rencananya akan diumumkan pada  akhir bulan ini, maksimal tangal 28 Mei 2013 tentu juga dengan sendirinya akan menungu pengumuman ujian nasional tersebut, karena  jangan sampai ketika  ada calon mahsasiswa yang diterima di sebuah perguruan tingi, tetapi ternyata yang bersangkutan tidak lulus ujian nasional, tentunya akan merepotkan.  Sebenarna  dapat saja pengumuman penerimaan calon mahasiswa di perguruan tingi negeri diumumkan tanpa menunggu pengumumam ujian nasional, dengan ketentuan bagi mereka yang dinyatakan diterima tetapi ternyata tidak lulus UN, maka  dianggap batal.

Tetapi bagaimanapun juga hal seperti itu akan sedikit membuat masalah dan merugikan  pihak tertentu.  Karena itu keputusan pengumuman calon mahasiswa yang diterima di PTN tetap menunggu setelah pengumuman ujian nasional.  Kita juga sangat  yakin bahwa kalaupun ada  calon mahasiswa yang diterima di sebuah perguruan tingi  dan kemudian ternyata tdak lulus ujian nasional, jumlahnya tidak banyak, karena selesksi penerimaan calon mahasiswa didasarkan atas prestasi siswa  semenjak kelas satu hingga kelas tiga secara konsisten.

Ujian nasional yang diselengarakan  tahun ini memang sudah berjalan dan kritikpun juga sudah banyak disampaikan atas beberapa masalah yang menyertainya.  Bahkan ujian nasioanal tersebut juga sudah memakan korban dalam arti ada pihak yang diberikan sanksi dan juga  terpaksa harus mengundurkan diri sebagai tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.  Namun kesannya masih terus berlanjut hingga saat ini.  Bahkan  ekses dari ujian tersebut telah merrenggut jiwa siswa juga, yakni adanya sebagian siswa yang karena takut tidak lulus, kemudian bunuh diri.

Namun demikian sesungguhnya semua itu bukanlah disebabkan oleh kebijakan  diadakannya ujian nasional itu sendiri, kaena bagaimanapun juga kita membutuhkan ujian seperti itu, meskipun masih banyak diantara warga bangsa ini yang tidak sepakat.  Tentu mereka yang tidak sepakat mempunyai alasan yang cukup masuk akal, diantaranya masih adanya kesenjangan yang sangat jelas antara sekolah sekolah di daerah Timur dengan sekolah sekolah yang ada diperkotaan, baik mengenai fasilitas penunjang pembelajaran maupun dari sisi SDM guru yang ada,  sehingga ujian nasional menjadi sangat timpang dan bermasalah.

Seharusnya  hal hal tersebut dibenahi terlebih dahulu, sehingga seluruh sekolah sudah mempunyai stnadar yang relatif sama.  Nah, kalau sekolah sekolah yang  relatif sama, ujian nasional seperti itu baru dapat diterapkan.  Namun bagi mereka yang sepakat harus ada ujian nasional juga tidak kalah argumentasi, yakni bahwa selama ini  sekolah dan pendidikan di  negara kita selalu kalah dengan pendidikan di negara lain, bahan lulusannya tidak mempunyai daya saing bilamana disandingkan dengan lulusan  sekolah dari negara lain.

Kalau ujian  sekolah dilakukan oleh sekolah sendiri, tentu kondisinya akan tetap seperti saat ini, tidak ada kompetisi dan masing masing sekolah meluluskan anak didiknya sdesuai dengan kondisi yang ada, bahkan  bisa saja tidak standar dengan tuntutan  yang seharusnya.  Salah satu yang dapat memacu kompetisi ialah dengan diselenggarakannya ujian nasional yang soal salnya  sangat standar, dan kalau mereka lulus dalam ujian tersebut, maka  mereka akan mempunyai nilai kompetitif yang tinggi.

Hanya saja maksud dan dtujuan mulia tersebut belum dapat dipahami secara segaram oleh semua yang terkait dengan proses pendidikan, sehingga masih terjadi tarik ulur dalam masalah ujian nasional tersebut. Memang masing masing tudak bisa disalahkan karena msing masing mempunyai tolak ukur yang berbeda, tetapi sesunguhnya  harus ada solusi untuk mengatasi persoalan tersebut, yakni dengan keseriusan pemerintah dalam hal ini kementerian yang mengurusi pendidikan untuk memperhatikan standarisasi sekolah sekolah yang ada melalui percepatan pengembangan dan pembangunan kelengkapan  sekolah.

Selama tidak ada tindakan yang serius dari pengambil kebijakan mengenai upaya standarisasi tersebut, maka selama itu pula kontroversi ujian nasional akan selalu megemuka.  Kita terkadang juga juga dibuat tidak mengerti  pada tindakan dan komentar mereka yang sesungguhnya tidak mempunyai kapasitas dan  pengertian mengenai penddikan, meskipun mereka  berada dalam lingkup yang harus berhubungan dengan pendidikan.  Artina  banyak pihak yang  sama sekali tidak ada kompetensi berbicara masalah pendidikan, tetapi lantang mengomentari persoalan pendidikan.  Ini  yang kemudian menjadikan persoalan semakin ruyam, karena mereka itu ernyata mempunyai kekuatan yang lebih.

Ambil contoh mengenai pergantian kurikulum atau perbaikan kurikulum yang disesuaikan dengan tuntutan zaman.  Ternya  sangat banyak pihak yang mengungkitnya dan berkomentar miring, seolah setiap pergantian kabinet dan pejabat selalu diiringi dengan pergantian kurikulum.  Memang tampaknya ada enarnya, tetapi sesunggunya mengenai pergantian kurikulum tersebut lebih disebabkan oleh adanya pertimbangan prisip dimana tntutan zaman dan keadaan mengharusnya orientasi kurikulum harus berubah dan tdak mungkin dibiarkan terus seperti adanya.

Kita mengetahui bahwa perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan begitu cepatnya dan kita seolah kewalahan menghadapinya.  Nah, kalau peserta didik kita hanya kita berikan pelaqjaran  yang sudah kadalu warso dan sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman, maka apa yang dapat kita harapkan dari lulusan sekolah?.  Tentu kita tidak menginginkan mereka hanya  tahu tentang sesuatu yang saat ini sudah tidak lagi diperlukan, sementara untuk al hal baru yang saat ini sedang  berkembang, mereka justru sama sekali tidak menyentuhnya.

Jadi intinya perubahan kurikulum itu merupakan sebuah keharusan dan bukan lagi masalah pejabat menterinya, bahkan dapat saja dalam kurun waktu satu orang menteri, kurikulum dapat berubah dua kali.  Itu kalau memang perkembangan begitu cepatnya sehingga kalau tidak ada erubahan kurikulum, maka anak didik kita akan tertinggal jauh.  Tentu kita juga mengerti ada kalanya hanya sekedar adjusment atau penyesuaian krikulum dan tidak sampai harus membongkar kurulum secara mendasar dan total, etapi sekali lagi kalau memang harus dilaukan, maka itu merupakan sebuah  keharusan dan wajar.

Ketika saat ini banyak persoalan yang mendera bangsa ini, seperti persoalan korupsi, narkoba dan lainnya, sementara kurikulum tidak mendukung uapaya peberantasannya, mulai dari pembentukan karakter peserta didik dan lainnya, maka perubahan kurikulum tersebut justru menjadi mutla diperlukan dengan tujuan dapat mempersiapkan generasi yang lebih baik, tangguh dan sekaligus anti korupsi dan narkoba.  Semoga renungan ini dapat menyadarkan pihak pihak yang keras menentang perubahan kurikulum dengan alasan menghabiiskan dana saja, tanpa melihat urgensi lainnya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.