MARI BEKERJA SAJA DENGAN BENAR DAN SERIUS

Saat ini kalau iman tidak kuat, akan sangat mudah tergoda dengan berbagai  hal yang sangat menggiurkan, meskipun hal tersebut sesungguhnya sangat berbahaya, karena bertentangan dengan hokum dan peraturan yang berlaku.  Terkadang memang ada sedikit rasa frustasi dan “iri” kepada kenyataan yang dibneritakan setiap harinya, yakni tentang pelanggaran hokum yang dilakukan oleh banyak pihak dan tidak mendapatkan keadilan sebagaimana mestinya.  Sementara  diri orang yang  selalu taat hokum tidak mendapatkan apresiasi sebagaimana mestinya dan  biasa biasa saja.

Kondisi seperti itu memang sering menghayuti banyak diantara kita yang bekerja secara benar dan jujur.  Namun sesungguhnya  godaan tersebut hanyalah cobaan dalam hidup kita yang harus kita sikapi dengan bijak, yakni sikap kita yang tetap dalam kebenaran dan peraturan yang berlaku, sebab sekali kita  berani mencoba untuk menyeleweng, maka disitulah awal dari kehancuran kita.  Penyesalan  sudah barang pasti datangnya di akhir, tetapi kalau kita mau merenungkan segala sesuatunya dengan benar, maka  keputusan yang kita ambil tentu merupakan sesuatu yang akan membawa kita kepada  keberuntungan dan keselamatan.

Cara yang  dapat memberikan dorongan kepada kita agar tetap dalam koridor hokum dan peraturan yang ada ialah dengan tetap menyertakan Tuhan dalam setiap langkah dan pekerjaan kita.  Artinya kita harus senantiasa menghidupkan  hati dan pikiran kita bahwa Tuhan akan senantiasa mengawasi kita dan pada saatnya nanti kita harus mempertanggung jawabkan semua yang kita kerjakan kepada-Nya.  Namun cara ini  seringkali diluipakan orang, karena  memang  derap kehidupan yang demikian cepat, dapat melupakan  hal hal penting yang seharusnya tetap dipelihara.

Banyak aspek yang dapat menyeret seseoranag menjadi jahat dan menyeleweng dari jalan yang benar, yang salah satunya ialah  tuntutan hidup dan persaingan yang  sangat tidak sehat di masyarakat.  Produksi barang, baik yang primer maupun sekunder sangat marak di sekitar kita.  Siapapun tentu akan tertarik untuk mendapatkannya.  Belum lagi  pergaulan bebas yang  sudah menyusup dalam kehidupan kita  akan menambah  minat untuk mengikuti trend yang sedang terjadi.  Nah, tuntutan seperti itulah yang kemudian dapat membawa seseorang  terjerumus kedalam persoalan yang  akan membawanya kepada keterpurukan.

Hanya kesadaran total lah yang akan dapat menyelamatkan kita ari setiap godaan tersebut.  Kita tentu  tahu bahwa sudah banyak pihak yang terseret masalah, meskipun secara dhahir pihak tersebut dinilai sebagai sosok yang kuat, shalih dan alim.  Kita tidak dapat mengetahui isi hati dan pikiran seseorang, karena itu sudah selayaknya kalau kita hanya percaya kepada diri sendiri, karena yang akan  menentukan nasib kita, baik  beruntung maupun sengsara adalah diri kita sendiri.  Ibaratnya biarpun anjing menggonggong tetapi kita tetap santai dan percaya diri dengan keimanan yang kita miliki.

Tuhan tentu Maha Tahu dan Maha Adil, karena itulah kita serahkan seluruh persoalan kepada Tuhan, dan kita tetap melakukan hal hal positif dan menjadi tanggung jawab kita.  Biarpaun banyak pihak menertawakan kita atau menganggap kita sebagai orang yang kolot dan tidak  dapat mengikuti trend, tetapi kita harus dapat membuktikan bahwa langkah yang kita tempuh itulah yang benar dan akan membawa keberuntungan bagi kita, baik di dunia maupun nanti di akhirat.  Kita harus dapat membuktikan bahwa  apa yang kita lakukan adalah sebuah  kebenaran dan kebaikan.

Kita harus dapat membuktikan juga bahwa tidak semua trend itu baik akibatnya, apalagi kalau kemudian  hal tersebut bertabrakan dengan norma norma yang kita yakini dan pegangi.  Lebih parah lagi kita harus dapat menunjukkan  bahwa  bertahan dalam kebenaran, meskipun  sangat berat dan harus mendapatkan  ejekan, merupakan sebuah langkah yang tepat dan sekaligus membawa ketenangan dan kedamaian dalam hidup.

Barangkali kita  menyaksikan betapa banyak orang yang dengan mudah dan cepatnya dapat menunjukkan diri sebagai orang yang mapan, dengan ditandi oleh kemilikannya tyerhadap barang barang seperti rumah, mobil dan  asoseris lainnya, padahal kita tahu bahwa dia  bekerja  sebagaiman kita juga bekerja.  Namun dalam menyikapi masalah ini tentu kita harus berlaku bijak dan tidak semata mata hanya mengembangkan sikap su’udzdzan.  Bisa jadi  seseorang tersebut mempunyai usaha lainnya yang halal dan kita tdak mengetahuinya, atau barangkali dia mendapatkan hibah ataupun warisan dari keluaraganya atau lainnya.

Namun kalau misalnya orang tersebut tidak mempunyai usaha dan tidak mendapatkan warisan,  da nada kecenderungan bahwa dia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hokum yang berlaku, maka kita harus dapat mengendalikan diri dan tetap berdoa semoga kita  dijauhkan dari hal hal yang dapat menyesatkan dan menyengsarakan diri.  Kalaupun  seseorang tersebut terjebur dalam  kubangan dosa, kita harus tetap dapat bertahan untuk tetap tegar dalam memegang amanah dan kepercayaan yang diberikan kepada kita.

Itulah prinsip hidup yang harus selalu menghiasi diri kita dan  dipertahankan hingga  ajal menjemput kita. Dalam keyakinan kita bahwa bekerja itu merupakan bentuk ibadah ghairu mahdlah sebagaimana kegiatan positif lainnya,  sehingga dengan sikap seperti itu kita  akan tetap terus mempertahankan   kejujuran dan amanah tersebut, karena  kita hakekatnya  ingin mendapatkan keridlaan dan pahala dari Tuhan.  Memang betul bahwa kita bekerja bukan semata ingin mendapatkan pahala, melainkan juga ingin mendapatkan  gaji sebagai harta kita, karena itulah bentuk ibadah ini dinamakan dengan ibadah yang tidak murni.

Kita sangat yakin bahwa dengan menekuni pekerjaan dengan serius dan tetap dalam kejujuran, kita akan mendapatkan kepuasan tersendiri, teruama secara batin.  Dan secara dhahir kita juga  yakin bahwa prestasi  akan dapat kkita raih, meskipun  tidak secara instan dan spontan.  Justru itulah yang menjadikan kita merasa puas dengan apa yang sudah kita kerjakan dan kemudian dapaat menghasilkan sesuatu yang baik dan memberikan manfaat bagi banyak orang.

Yang terpenting bagi kita ialah jangan sampai kita  mudah terpengaruh dengan sesuatu yang secara nalar tidak dapat diterima, seperti ingin cepat kaya dengan  cara melanaggar peraturan atau ingin cepat  naik pangkat, tetapi dilakukan bukan dengan memperbaiki kinerja dan peningkatan disiplin, melainkan dengan cara lain yang bertentangan dengan kepatutan dan peraturan yang ada, atau dengan  menjegal kawan dan lain sebagainya.

Sekali lagi kita harus percaya  bahwa prestasi akan dapat diraih dengan usaha keras dan tidak melakukan pelanggaran hukum ataupun peraturan yang berlaku.  Artinya kalau kita bekerja dengan jujur dan melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepada kita,  dan kemudian kita pasrahkan segalanya kepada Tuhan, Insya Allah kita akan mendapatkan sesuatu yang baik dan memberikan manfaat serta kepuasan.

Pada akhirnya kita harus dapat menerima apapun yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Karena sikap qanaah seperti itu justru akan dapat membuat diri kita semakin  bermakna dan tidak mudah frustasi serta iri atau hasud kepada siapapun.  Artinya adakalanya Tuhan memberikan cobaan kepada kita untuk mengukur sejauh mana kekuatan iman kita dengan memperlihatkan “ketidak adilan” menurut pandangan kita, padahal sesungguhnya  di mata Tuhan hal tersebut hanyalah sebuah tangga bagi kita untuk meraih sesuatu yang  lebih.  Semoga ini dapat menginspirasi kita dalam menjalankan tugas.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.