ANTARA POLITIK DAN SEPAK BOLA

Barangkali emang tidak tepat membandingkan antara politik dengan sepakbola, tetapi saya bukan bermaksud membedakan dalam arti diametral antara keduanya, tetapi karena saat ini saya sedang menikmati  dan menyaksikan beberapa sepakbola yang akan mengakhiri masa kompetisinya pada tahun ini dan raihan beberapa piala yang sedang atau akan didapatkan oleh beberapa klub terbaik.  Disamping itu situasi di dalam negeri kita  masih saja  berbalut dengan usaha bagaimana menegakkan hukum dan upaya upaya pihaktertentu yang  akan menghalanginya.

Jadilah saya  padukan  apa yang ada  dalam pikiran saya mengenai politik dan sekaligus dunia sepak bola.  Mungkin saya sedikit membandingkan antara keduanya dari sudut tertentu.  Tetapi kalau misalnya ada  yang kebertan atas perbandingan ini, saya sangat memaklumi dan anggaplah sebagai perbedaan yang akan memperkaya  wacana semata.  Dalam kaitan dengan masalah ini siapapun boleh berpendapat, asalkan tidak saling menggangu dan menyudutkan sehingga akan menimbulkan persoalan baru.

Sebagaimana diketahui bahwa saat ini khususnya di daratan Inggris sedang terjadi berita heboh dengan mundurnya Sir Alex Ferguson, seorang menejer MU yang telah lebih dari 26 tahun menukangi klub tersebut.  Berita tersebut tentunya sangat menghebohkan dunia sepak bola, karena meneger gaek asal Skotlandia tersebut nampaknya masih cukup sehat dan kuat untuk terus menukangi MU, meskipun  secara manusiawi semua orang juga dapat mengerti kalau dia  harus istirahat untuk menikmati hari tuanya.

Karena itu ketika dia mengumumkan  pensiun di akhir musim kompetisi tahun ini, banyak orang yang membicarakannya, terutama sikap respek yang sangat tingi kepadanya. Bahkan dikabarkan untuk menghormatinya, pada pertandingan terakhir MU musim ini hampir semua penggila bola dunia  hadir di Menchester.  Bukti tersebut dirilis sehubungan dengan pemesanan hotel pada saat itu sungguh sangat luar biasa meningkat drastis dan diperkirakan pertandingan  perpisahan tersebut akan dimanfaatkan leh  banyak orang sebagai sikap hormat kepada  sir Fergie.

Belum lagi tadi malam telah dilangsungkan  perebutan piala FA antara Manchester City degan Wigan Athletic dan  diluar dugaan banyak pengamat City dipermalukan oleh Wigan.  Jadilah cerita yang hangat, terutama spekulasi mengenai nasib kedepannya pelatih City Reberto Mancini.  Meskipun dia selalu yakin dengan posisinya saat ini, namun dengan puasa gelar pada musim ini, tentu ketar ketir akan tetap menghinggapinya.  Rumor bahwa City akan mendatangkan pelatih Monaco Pellegrini kian santer diberitakan dan ditambah dengan raihan yang sangat mengecewakan City tahun ini semakin membuat media menyudutkan Mancini.

Kita  tentunya dapat mengerti bagaiaman kecewanya pemilik klub syeh Mansour, karena dengan materi bintang yang bertaburan di semua lini danmenghabiskan banyak uang untuk membelinya, namun sama sekali nol dari gelar.  Tahun kemarin City  dapat berpesta meraih juara liga Inggris, tetapi sekarang semuanya menjadi berantakan, padahal materi pemainnya relatif sama.  Sangat masuk akal kalau kemudia mpemilik klub menginginkan ada perubahan yang besar, terutama  di menejer agar  tahun tahun mendatang dapat dipersembahkan banyak trofi  untuk megisi almari City.

Sementara itu bagi Wigan yang telah berdiri selama 81 tahun  baru kali ini mendapatkan trofi, karena itu  tentu sangat istimewa bagi mereka, meskipun klub tersebut hinga saat ini masihterancam degradasi dari liga primer Inggris.  Mungkin mereka saat ini sedang menikmati indahnya sebuah kemenangan dan juara FA,  dan sejenak melupakan ancaman degradasi terhadapnya.  Hanya saja kita tentu akan berharap bahwa dalam sisa pertandingan yang masih ada Wigan dapat memaksimalkan, sehingga dapat terhindar dari jurang degradasi.

Itulahkenyataan dunia sepak bola yang menyita perhatian masyarakat dunia, dan semuanya menjadi satu kata “kompetisi” dan fair play.  Tentu akan lain halnya dengan dunia politik yang seringkali dicampur adukkan dengan dunia hukum yang terjadi di negara kita saat ini.  Belum terlalu lama kita telah menyaksikan drama Susno Duaji yang berusaha menghindar dari eksekusi hukuman yang telah berkekuatan hukum tetap dengan dalih kesalahan administrasi, dan lucunya  hal seperti itu malah dibela oleh pakar hukum tata negara yang mantan menteri hukum, yakni Yusril Ihya Mahendra.

Bahkan saat  pihak kejaksaan akan mengeksekusinya di rumahnya, kemudian datang polisi dari polda Jawa Barat yang mengamankannya  ke mapolda.  Lebih ironis lagi pada hari berikutnya ternyata Susno kabur dan hilang jejaknya termasuk olda sendiri juga kehilangan jejak.  Pada saat seperti itu Susno malah muncul di You tobe dan menjelaskan bahwa dirinya tdak bisa dieaksekusi dengan alasan tidak ada perintah eksekusi dalam putusan pengadilan dan dalih lainnya yang dicari cari.  Namun setelah dia dinhyatakan buron oleh kejaksaan dan  dimintakan bantuan kepada pihakkepolisian, maka  susno akhirnya menyerah serta para pendukungnya  menjadi diam seribu bahasa.

Kabar terbaru daang dari kantor DPP PKS jakata, dimana pada saat KPK datang dan akan menyita mobil mobil yang diduga berkaitan dengan tersagkan Lutfi Hakim Ishaq, ternyata dihalang halangi leh satpam di kantor tersebut. Pada akhirnya dari pada terjadi kegaduhan, maka KPK mengalah kembali pulang dan akan balik lagi keesokan harinya dan hanya melakukan penyegelan mobil saja.  Namun demikian ternyata esok harinya juga masih sulit untuk menyita barang bukti tersebut, karena sikap yang tidak kooperatif orang orang di kantor DPP PKS tersebut.

Lebih hebat lagi wakil sekjen PKS Fahri hamzah kemudian dengan sangat emosionla menyatakan bahwa KPK telah melakukan pembohongan publik dan mengancam akan melaporkan rencana penyitaan KPK kepada polisi. Dia mengatakan dengan nada tinggi dan seolah dia sendirilah yang paling menguasai perundangan dan KPK tidak.  Akar persoalannya ialah  KPK semena mena dalam menyita barang bukti, yakni melakukan penyitaan tanpa dilengkapi dengan surat.  Padahal KPK sudah menjelaskan bahwa surat sudah lengkap dan ditunjukkan kepada satpam, dan penjaga tersebut tetap ngoto tidak mau menyerahkan mobil, dan karena itu kemudian dibuatka berita acara keberatan penyitaan tersebut.

Ketika KPK menyatakan bahwa Zaki sebagai orang yang dipercaya untuk mengalihkan barang barang milik LHI ke beberapa tempat, termasuk ke kantor DPP PKS tengah diminta untuk mencari unci mobil mobil yang akan disita tersebut kemudian memanjat pagar dan melarika diri, wakil sekjen PKS jga membantah bahwa Zaki hanya kecapaian dan tertidur di lantai atas hingga jam 6 pagi.  Sunguh politik memang terkadang menmghilangkan akal sehat. Bagaimana mungkin akal sehat dapat menerima penjelasan bahwa Zaki tertidur, padahal dia sedang diminta untuk mencari kunci mobil, dan bagaimana mungkin wasekjen dapat mengatakan dengan lantang bahwa KPK tidak membawa surat, hanya berdasar keterangan anak buahnya saja.

Belum lagi pengurus teras PKS juga menyatakan  bahwa PKS sangat koncern dengan penegakan hukum serta taat hukum, sementara ketua Dewan Syuronya ketika akan dimintai keterangan sebagai saksi leh KPK  tidak datan.  Memang kemudian ada pernyataan bahwa yang bersangkutan baru ada acaa lain dan akan datang untuk pangilan keduanya nanti.  Kalau benar bahwa komitmen dalam memberantas korupsi itu sungguh sunguh, maka seharusnya  setiap proses untuk pemberantasan korupsi harus didukung, siapapn yang dituju.

Kita berharap bahwa  dunia sepak bola yang penuh dengan kompertisi dan fair paly dapar dipraktekkan dalam dunia lain, khususnya dunia politik dan hukum, sehingga pada saatnya kita akan dapat menyaksikan kondisi yang benar benar kondusif di masyarakat kita. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.