THAHA

Salah satu surat yang diberikan nama sesuai dengan fawatih al-suwar atau permulaan surat atau surat surat yang dimulai dengan huruf huruf hijaiyah tertentu ialah surat Thaha ini.  Banyak ulama memperbincangkan mengenai  makna dan maksud penempatan huruf huruf hijaiyyah di wal surat tersebut.  Salah satu diantaranya ialah untuk memberikan peringatan kepada para pembacanya bahwa setelah huruf huruf tersebut Allah akan mengemukakan sesuatu yang maha penting untuk dicermati oleh umat manusia.  Meskiopun demikian ada juga yang kemudian menjelaskan bahwa  hurf huruf tersebut merupakan singkatan dari beberapa  kata atau sebagai nama bagi Nabi.  Nah, Thaha ini juga ada yang mengaitkan dengan nama nabi Muhammad saw.

Surat ini termasuk dalam kategori surat makkiyyah, karena diturunkan  sebelum nabi berhijrah dan bahkan menurut beberpa ulama surat ini diturunkan setelah surat Maryam.  Mengenai jumlah ayatnya  ulama sepakat dalam menghitungnya, yakni 135 ayat.  Sebagaimana pada ciri surat yang diturunkan sebelum hijrah, maka surat inipun juga mengusung persoalan kepercayaan yang menjadi dasar  bagi seorang hamba yang  shalaih.

Allah menyatakan bahwa al-Quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, merupakan wahyu Allah yang berisi peringatan Tuhan kepada  umat manusia serta berbagai hal yang harus diembannya agar dapat selamat dalam mengarungi kehidupannya, baik data masih di dunia maupun setelah nanti berada di akhirat.  Demikian juga penjelasan Tuhan yang menegaskan bahwa Allah lah yang menciptakan alam semesta tanpa bantuan pihak manapun.  Itulah  kekuasaan-Nya yang sangat tidak terbatas dan  harus dimengerti sekaligus diakui secara tulus oleh seluruh umat manusia.

Tuhan juga menjlaskan dalam surat ini mengenai  akibat akibat yang akan dialami oleh umat manusia.  Artinya kalau mereka percaya kepada Tuhan melalui para utusan yang ada dan kemudian dengan keikhlasan mereka mau menjalankan seluruh perintah dan manjauhi larangan, tentu mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal, yakni  kehidupan yang layak dan kebahagian yang tidak terkira di akhirat.  Sebaliknya bagi mereka yang menentang kepada Tuhan dan juga para utusan-Nya, maka Tuhan juga akan membalsanya  sesuai dengan perbuatan yang dilakukan.

Penegasan lainnya yang disampaikan oleh Allah dalam surat ini ialah bahwa Tuhan itu mengetahui apapun yang terjadi di dunia ini, baik yang samar maupun yang lebih samar atau rahasia.  Artinya tidak ada lagi rahasia bagi Tuhan dan semua yang menurut manusia  menjadi sebuah rahasia, bagi Tuhan  semua itu  sangat jelas.  Bahkan Tuhan akan mengetahuyi apapun yang terbersit dalam pikiran dan hati seseorang.  Itu merupakan kekuasaan Tuhan yang memang tidak dapat dibantah, dan keyakinan untuk itu mutlak dimiliki oleh setiap manusia yang taat.

Bukti lain kekuasaan Allah yang disampaikan dalam surat ini ialah bahwa pertolongan atau syafaat di akhirat itu tidak dapat dioberikan oleh siapapun, termasuk para Nabi maupun malaikat atau orang baik, tanpa persetujuan dan ijin dari Tuhan.  Artinya syafaat itu tetap ada, tetapi hal tersebut tidak mutlak dan tidak ada yang mampu melakukannya, kecuali atas seijin Allah swt.  Jadi kalau ada manusia  yang saat disunia ini mengaku berkuasa dan akan memberikan syafaat di akhirat nanti, berarti orang tersebut telah menyombongkan diri dan pada saatnya tidak akan mampu melakukannya.  Hanya Allah lah yang akan memberikan syafaat itu melalui para hamba-Nya yang memang diberikan  kemampuan untuk itu.

Surat ini juga menegaskan bahwa sekali kali Tuhan itu tidak akan menyiksa hamba yang sama sekali tidak sampai dakwah kepada mereka.  Dengan kata lain selama sebuah kaum belum diutus seorang rasul kepada mereka, maka Tuhan tidak akan memberikan azab-Nya.  Itulah bukti keadilan Tuhan kepada umat manusia.  Kan lain halnya  krtika Tuhan sudah menyampaikan risalah melalui para utusan-Nya dan kemudian umat mentang dan membangkang serta memusuhinya, maka Tuhan pasti akan mmberikan azab sesuai dengan perbuatan yang dilakukan tersebut.

Dalam bidang hokum, surat ini juga menjelaskan mengenai perintah Allah kepada para hama untuk menjalankan kewajiban shalat.  Tentu kita sangat mengerti bahwa perintah shalat ini berulang kali disampaikan dengan tujuan agar umat manusia tidak lalai dengan kewajiban yang satu ini, karena memang sebagaimana sudah sering disampaikan bahwa shalat merupakan tiang agama yang sama sekali tidak boleh ditinggalkan.  Sekali shalat ini ditinggalkan, maka amalan seseorang akan ikut terabaikan.  

Demikian pula  Tuhan juga menegaskan bahwa sebagai seorang hamba yang baik, maka seseorang harus  memikirkan  nasib keluarganya, bukan dirinya sendiri.  Artinya  setiap orang yang beriman dan menjalankan  kewajiban shalat, maka ia juga harus memrintahkan dan mengingatkan keluarganya agar tetap menjalankan kewajiban shalat tersebut. Dalam surat ini perintah shalat tersebut juga dirangkaikan mengenai waktu waktunya yang utama dan mendorong agar umat manusia mancari waktu yang baik tersebut agar mendapatkan kebaikan yang banyak.

Tuhan dalam surat ini juga menjelaskan bahwa Nabi Musa  merupakan nabi yang cukup istimewa, sebab kalau nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah melalui perantaraan malaikat Jibril, maka nabi Musa mendapatkan wahyu tersebut langsung dari Allah swt  sendiri.  Keistimewaan nabi Musa juga tercermin dalam kisah mi’raj nabi Muhammad saat menerima kewajiban menjalankan shalat lima waktu untuk seluruh umatnya.  Saat itu menurut sebuah riwayat bahwa Nabi Muhammad saw pertama kalinya mendapatkan perintah shalat adalah 50 kali dalam sehari semalamnya.  Namun setelah bertemu nabi Musa  dan  diceritakan tentang hal tersebut kemudian nabi Musa menyarakan kepada nabi Muhammad agar meminta dispensasi kepada Tuhan.

Tentu pada awalnya nabi Muhammad saw enggan, karena perintah yang disampaikan  harus tetap dilaksanakan dengan  kesungguhan.  Akan tetapi setelah diingatkan bahwa umat nabi Muhammad kemungkinan akan merasa keberatan dengan perintah tersebut, maka nabi Muhammad pun akhirnya  menuruti saran nabi Musa tersebut, sehingga pada akhirnya nabi Muhammad beserta seluruh umatnya hingga saat ini hanya dibebani kewajiban shalat lima waktu saja dalam sehari semalamnya.  Meskipun demikian nilai pahalanya  masih tetap dianggap sama dengan perintah awalnya, yakni lima puluh kali.

Surat ini juga memuat kisah nabi Musa dan nabi harun dalam menghadapi Firaun serta bani Israil.  Beratnya  perjuangan yang harus dilakukan oleh nabi Musa, pada akhirnya memaksa nabi Musa meminta kepada Tuhan untuk menjadikan harun sebagai mitra dalam perjuangan dan permohonan tersebut kemudian dikabulkan oleh Tuhan.  Meskipun demikian dalam urusannya dengan bani Israil nabi Musa pernah “marah” kepada nabi Harun disebabkan  banyaknya umat bani Israil yang menyembah sapi setelah ditinggalkan Musa beberapa  waktu untuk keprluan dan tugas lain.  Namun kesalah pahaman tersebut pada akhirnya dapat diurai sehingga  keduanya tetap dalam kondisi yang baik dan tetap bersama berjuang mencerahkan umat.

Kisah lainnya yang diangkap surat ini ialah tentang  nabi Adam dan Iblis.  Sebagaimana kita tahu bahwa  penciptaan Adam kemudian memunculkan ketidak nyamanan bagi Iblis, sehingga dia tidak mau menurut ketika diperintahkan Tuhan untuk hormat dan sujud kepada Adam dengan mencari alas an bahwa dirinya lebih baik ketimbang Adam, karena dirinya diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah.  Itulah wal permusuhan manusia dengan iblis yang  akan berlangsung hingga akhir zaman.  Tentu iblis akan terus berusaha menyesatkan dan mengajak manusia untuk menentang Tuhan dan seluruh perrintah-Nya.

Hal lain yang disampaikan dalam surat ini ialah perintah Tuhan kepada nabi Muhammad saw agar selalu memohon ditambahkan ilmu pengetahuan oleh Allah sekalipun beliau sudah menjadi seorang rasul.  Ini juga berlaku bagi umatnya, yakni kita semua agar tidak berpuas diri dengan ilmu yang sudah didapatkan.  Sebarapapun ilmu seseorang, sesungguhnya masih ada dan banyak kekurangan, karena semakin orang itu pandai maka semakin merasa kurang dalam ilmu pengetahuan.  Artinya kita tidak boleh berpuas diri dengan ilmu yang sudah kita kuasai, karena  hal tersebut menunjukkan  kebodohan dirinya.

Terakhir Tuhan juga mengingatkan kepada kita semua bahwa kehidupan dunia itu hanyalah sementara dan yang abadi itu hanya diakhirat, karena itu kita tidak boleh terlena dalam kehidupan duniawi dan melupakan akhirat,  cukup banyak umat manusia yang terlenakan oleh kehidupan duniawi sehingga  pada akhirnya  akan mengalami kesengsaraan  belaka, terutama nantui di akhirat.  Semoga kita tidak mengikuti  jejak mereka yang seperti itu, dan kita tetap diberikan bimbingan agar tetap dijalan yang benar.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.