HIDUP YANG BERMAKNA

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa hidup yang paling bermakna dan akan mendapatkan keberuntungan ialah manakala diberikan umur panjang, selalu akan digunakan untuk kebaikan atau dengan kata lain umur panjang dan amal perbuatannya  baik, dan sebaliknya  hidup yang sangat jelek dan akan membawa kepada kesengsaraan ialah kalau umur panjang dan selalu digunakan untuk kemaksiatan.  Namun bukan berarti umur yang pendek itu jelek, melainkan semuanya itu tergantung kepada pemanfaatan umur yang ada.  Apakah untuk kebaikan atau sebaliknya untuk kemaksiatan.

Artinya kalaupun seseorang diberikan umur yang tidak panjang, tetapi kalau sekluruh hidupnya tersebut digunakan untuk kebaikan dan membantu pihak lain, maka itu menjadi lebih baik baginya ketimbang diberikan umur panjang tetapi malanya biasa biasa saja, apalagi kalau umur panjang tersebut digunakan untuk maksiat.  Jadi yang terpenting ialah bagaimana kita dapat memanfaatkan usia yang diberikan oleh Tuhan untuk kemaslahatan,  baik dirinya, keluarganya, maupun umat manusia secara keseluruhan.

Kita memang mengerti bahwa masalah umur itu urusan Tuhan dan kita sebagai makhluk sama sekali tidak ada kewenangan untuk mengetahui seberapa usia kita.  Untuk itulah di samping kita diperkenankan untuk meminta panjang umur dan berusaha untuk mendapatkannya, dengan cara selalu menjaga kesehatan dan mengkonsunsi  hal hal yang baik dan tidak membahayakan, sudah seharusnya kita menggunakan umur kita untuk melakukan berbagai kebaikan.

Kita tidak tahu kapan usia kita berakhir dan di mana kita akan memejamkan  mata untuk selamanya, karena semua itu merupakan rahasia Tuhan.  Meskipun kita sudah berusaha dan meminta usia panjang, tetapi kalau Tuhan sudah memutuskan, maka tidak akan ada kekuatan apapun yang dapat menghalanginya.  Banyak contoh orang yang masih sangat muda dan tampak sehat, namun siapa sangka  dalam beberapa saat kemudian ternyata sudah meninggal.  Dan sebaliknya betapa banyak juga  orang yang sudah sakit sekian lama, tetapi ternyata masih tetap hidup dan bertahan hingga beberapa tahun.

Untuk itulah kita memang harus menyerahkan sepenuhnya masalah usia ini kepada Tuhan dan kita hanya dapat memohon dan memanfaatkannya  untuk kebaikan dan kemaslahatan umat manusia.  Nah, agar kita dapat memberikan makna yang baik bagi hidup kita, tentunya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilaksanakan.  Beberapah hal tersebut ialah:

  1. Memelihara tauhid, yakni keyakinan kita kepada Tuhan yang kuat bahwa  hanya Allah lah yang Maha  segalanya dan  tidak ada kekuatan manapun yang dapat menandingi-Nya, bahkan mendekatinpun tidak.  Keyakinan tersebut memang menjadi dasar paling utama bagi  semua orang dalam mengarungi hidupnya dan sekaligus dalam upaya  mendapatkan kebahagiaan hakiki di akhirat.  Keyakinan tersebut harus terus dipelihara dalam detail kehidupan kita, seperti ketika ada godaan mengenai kekuatan lain yang dapat menolong dari bahaya atau akan dapat memberikan keajaiban dan semacamnya.  Semua itu tentu merupakan giodaan  tauhid kita dan sekali kita tergelincir, maka biasanya akan sulit untuk melepaskannya.
  2. Tetap konsisten melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran syariat kita dengan dibarengi ketulusan yang penuh, seperti melaksanakan shalat lima waktu, menunaikan zakat, menjalankan puasa Ramadlan, dan melaksanakan ibdah hajji bagi yang mampu.  Disamping itu juga mau melakukan perbuatan lainnya yang dianggap sebagai kesunnakan dan anjuran, seperti menolong pihak lain terutama yang membutuhkan, memelihara anak yatim dan mengentaskan mereka yang miskin, memberikan infaq dan sedekah, serta  selalu berpartisipasi dalam semua kegiatan amal dan kebaikan.
  3. Menjaga akhlak serta mematuhi peraturan  dan perundangan yang ada dan berlaku. Seringkali kita menyaksikan bahwa penyakit utama dan berbahaya bagi setiap orang ialah kalau seseorang tersebut mengikuti keinginan  setan, seperti  berlaku sombong kepada siapapun, terutama kepada mereka yang dianggap derajatnya lebih rendah. Sepatutnya sebagai orang beriman, kita tetap menghargai semua makhluk Tuhan, terutama manusia, betatapun mereka itu tidak mempunyai banyak harta.  Kita tentu sangat paham bahwa menurut Tuhan diantara makhluk-Nya yang mulia ialah bukan mereka yang banyak harta, melainkan mereka yang paling bertaqwa.  Pergaulan dengan sesama manusia seharusnya tetap dipelihara dengan baik sebagaimana yang ditunjukkan langsung oleh Rasulullah saw.
  4. Mengembangkan kreatifitas untuk kesejahteraan diri dan orang lain.  Tuhan memberikan  kemampuan baik dalam hal berpikir maupun kreasi kepada kita, karena itu akan sangat rugi manakala kita tidak memanfaatkan dan mengembangkannya untuk kebaikan secara  menyeluruh. Artinya banyak yang dapat kita lakukan  untuk memaknai pemberian akal pikiran kepada kita, karena berpangkal dari pikiran itulah  peradaban dunia dimulai.  Tentu banyak hal yang dapat kita pikirkan dan kemudian  ditindak lanjuti dengan pelaksanaan, terutama untuk  kesejahteraan dan kedamian umat manusia.  Salah satunya ialah bagaimana kita dapat meratakan jurang antara miskin dan kaya, bagaimana kita dapat memberikan pengetahuan yang relatif sama  diantara umat manusia meskipun berbeda nasib dalam hal ekonomi, dan lainnya.

Itulah beberapa hal yang kalau kita mau melakukannya secara kpnsisten dan sungguh sungguh, maka  kita yakin bahwa kehidupan kita akan terasa bermakna, dan kepuasan hati kita tentu akan dapat dirasakan.  Kepuasan sejati sesungguhnya bukan terletak pada kehidupan yang mewah dan banyak harta, melainkan  terletak pada  bagaimana kita dapat menyenangkan pihak lain,  dapat ikut membantu pihak lain dan sekaligus dapat mengentaskan mereka dari ketidak berdayaan.

Setidaknya dalam menjalani kehidupan ini kita dapat melakukan sesuatu yang memang menjadi tugas dan tanggung jawab kita dengan maksimal dan tulus.  Artinya  kehidupan kita akan terasa bermakna kalau kita sudah dapat melaksanakan tugas dan kewajiban kita dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang maksimal.  Untuk meraih sesuatu yang maksimal tersebut tentu tidak akan mudah, kalau kita belum melepaskan  semua keinginan yang bersifat pribadi dan ego yang senangtiasa menggoda.  Keikhlasan itulah yang menjadi pangkal kesuksesan dalam menjalankan tugas.

Namun demikian bukan berarti ikhlas yang dalam pengertian salah, yakni  hanya melaksanakan tugas  dan kewajiban secara apa adanya.  Ikhlas itu memungkinkan seseorang dapat melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan dan tanggung jawab akan hasil yang akan dicapai.  Sementara itu ikhlas yang salah  justru sebaliknya, yakni melakukan pekerjaan dengan apa adanya tanpa memperhatikan hasil yang dicapai.

Menyertakan Tuhan dalam setiap hal yang kita lakukan adalah kunci dalam meraih kesuksesandan mempertahankan keikhlasan.  Artinya bahwa dalam menjalankan kewajiban dan tanggung jawab tersebut sesungguhnya kita terus dipantau dan disaksikan oleh Tuhan, karena itu kita harus merasa malu kalau kita hanya melakukannya sekedarnya saja.  Dengan pantauan Tuhan tersebut menjadikan semangat kita menjadi menyala dan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut tentu akan  dilakukan karena Tuhan.

Itulah kiranya yang akan dapat memberikan makna dalam kehidupan kita.  Meskipun   Tuhan telah menentukan usia kita tidak panjang, namun kalau semua  umur kita tersebut kita gunakan untuk kebaikan, tentu akan dapat memberikan keuntungan bagi kita, baik  ketika  masih berada di dunia maupun setelah kita nanti berada di akhirat.  Semoga Tuhan senantiasa  terus memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita untuk dapat berbuat yang terbaik dan ikhlas karena  Allah.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.