AL-KAHFI

Salah satu surat dalam al-Quran yang diberi nama dengan kisah yang disebutkan di dalamnya ialah suratini. Surat ini dinamakan dengan al-Kahfi atau goa dikarenakan didalamnya ada kisah menarik dan sangat terkenal, yakni kisah Ashabul Kahfi atau para penghuni goa.  Hampir seluruh umat Islam mengenal atau setidaknya pernah mendengar kisah Ashabul Kahfi tersebut, yakni beberapa orang pemuda beriman yang kemudian karena tekanan umatnya, mereka menyingkir dan berlingkung di sebuah goa.  Dalam goa tersebut mereka keleahan dan akhirnya tertidur, hingga khirnya mereka terbangun dan mereka saling mempertanyakan seberapa lamanya mereka tertidur tersebut.

Namun betapa terkejutnya mereka setelah diantara mereka pergi ke kota dengan membawa uang mereka dengan maksud membeli makanan, karena yang mereka sangat berbeda dan uang merekapun juga tidak dikenal.  Dan begitulah para Ashabul kahfi tersebut pada kenyataannya telah ditidurkan panjang oleh Tuhan hingga lebih dari tiga ratus tahun, dan anjing merekapun sudah punah tinggal tulangnya saja.  Maha Besar Allah yang telah menghidupkan kembali mereka setelah sekian lama tertidur atau meninggal, guna memberikan pelajaran kepada umat setelah mereka agar semakin mempercayai kekuasaan Tuhan.

Meskipun kisah Ashabul Kahfi tersebut menjadi sangat besar artinya bagi semua orang, namun di dalam surat ini juga terdapat cerita lain yang tidak kalah menarik dan bagusnya, yakni tentang nabi Musa dan Nabi Khidzir, tentang Dzul Qarnain dan Ya’juz Ma’juz dan lainnya.  Tentu di samping berbagai pelajaran lainnya, baik dalam bidang hukum, ketauhidan dan lainnya.

Dalam hal keyakinan surat ini menegaskan kembali bahwa dunia ini hanyalah sementara dan pasti nanti akan ada hari pembangkitan dan pembalasan di akhirat, karena itu manusia  harus selalu mengingat hal tersebut agar menyadarinya secara penuh dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.  Demikian juga surat ini menjelaskan bahwa kekuasaan Tuhan itu mutlak dan Tuhan sangat mungkin memberikan sesuatu di luar nalar manusia dan kebiasaan atau hukum alam atau sunnatullah sendiri.  Kekuasaan tersebut akan diberikan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya.  Kafrena itu memang tidak ada yang aneh atau mustahil bagi Tuhan dalam memutuskan apapun.

Ilmu Tuhan itu sangat luas dan manusia sama sekali tidak akan mampu mengikuti apa yang dimiliki Tuhan, bahkan seandainyapun manusia berusaha menuliskan seluruh ilmu Tuhan maka hal tersebut tidak akan mungkin dapat dilakukan.  Kalaupun diumpamakan seluruh air laut dijadikan tinta untuk menuliskan ilmu Tuhan, sampai habispun  tidak akan selesai.  Itulah gambaran keluasan ilmu Tuhan, dan hal ini harus diyakini ole3h semua umat manusia, sehingga mereka akan menjadi patuh dan tunduk dengan seluruh keputusan dan perintah-Nya.

Dalam bidang hukum, surat ini banyak menjelaskan mengenai persoalan perwakilan, yakni kalau seseorang tidak dapat melaksanakan sendiri sebuah keinginan disebabkan keterbatasan yang ada, maka diperbolehkan untuk mewakilkan  kepada pihak lain dengan beberapa persyaratan yang telah ditentukan.  Tentunya tidak semua hal dapat diwakilkan, terutama dalam persoalan ibadah, melainkan dalam persoalan muamalahlah yang secara umum diperkenankan.  Demikian juga  surat ini menjelaskan mengenai hukum larangan membangun tempat ibadah di atas kuburan.

Hal lain yang dijelaskan dalam surat ini ialah tentang diperbolehkannya seseorang sedikit merusak sesuatu dengan tujuan menghindarkan sesuatu bahaya yang lebih besar.  Artinya  kalau diperkirakan  ada kemungkinan datangnya  bahaya yang akan menimpa, dan hal tersebut dapat dihindarkan dengan cara merusak sedikit dan tidak sampai fatal, maka hal tersebut tidak saja diperbolehkan bahkan justru malah dianjurkan.

Demikian juga surat menegaskan kembali bahwa perbuatan manusia yang dilakukan karena lupa, maka hal tersebut dapat dimaafkan, karena lupa merupakan salah satu hal yang  dapat digolongkan sebagai sesuatu yang tidak perlu dimintakan pertanggung jawaban.  Semisal seseorang  itu wajib menjalankan shalat pada waktu yang telah ditentukan,  dan jikalau melanggarnya maka dapat dianggap dosa.  Namun jiklau hal tersebut disebabkan  oleh lupa, maka orang yang tidak menjalankan shalat tepat waktunya tersebut dapat dimaafkan dan tidak dianggap berdosa.

Ada sebuah ajaran yang sangat menarik dalam surat ini yakni ntentang pernyataan “insyaallah” yang harus selalu menjadi pegangan manusia.  Ini disebabkan bahwa segala sesuatau yang memutuskan itu hanyalah Allah semata dan kita hanya dapat merencanakannya semata.  Ada sebuah kisah dimana Nabi Muhammad saw pada suatu saat ditanya oleh umat  tentang Ashabul kahfi, dan karena Nabi belum memperoleh wahyu dari Tuhan mengenai hal tersebut, kemudian Nabi  mengatakan datanglah besuk pagi dan saya akan menjelaskan hal tersebut.  Namun rupanya Nabi tidak mengatakan insyaallah dalam pernyataan tersebut, sehingga sampai besuknya Nabi tidak menerima wahyu tentang hal tersebut dan Nabi mendapatkan semacam teguran.

Dalam hal tersebut Tuhan kemudian juga memberikan wahyu kepada nabi Muhammad saw  sehingga pada saatnya Nabi akhirnya dapat memberikan penjelasan atas pertanyaan yang diajukan oleh umat sebagimana mestinya.  Hanya saja  dalam setiap akan memberikan sebuah janji atau akan melakukan apapun yang masih tergantung pada waktu yang akan datang, maka seharusnya umat manusia selalu mengaitkan hal tersebut dengan keputusan Tuhan, yakni dengan mengucapkan jikalau Tuhan berkenan.

Surat ini disamping memuat kisah tentang Ashabul Kahfi sebagaimana yang telah diuraikan di atas, juga mengkisahkan  Nabi Musa dengan Nabi Khidzir yang penuh dengan kenyelenehan.  Betapa tidak nabi Musa yang dengan pengetahuan dhahir, kemudian bertemu dengan nabi Khidzir yang mendalami ilmu batin, sehingga dalam pandangan Nabi Musa ada beberapa keganjilan yang dirasakan, karena itulah nabi Musa selalu mempertanyakan kepada apa yang dilakukan oleh Nabi Khidzir meskipun hal tersebut menjadi larangan yang disepakati antara keduanya, manakala nabi Musa masih ingin mengikuti nabi Khidzir.

Pertama kali siapa yang tidak berkomentar pada saat keduanya bersama dengan penumpang kapal lainnya ketika tiba tiba nabi Khidzir berusaha melobangi kapal dengan  menggunakan alat  (jawa: prekul).  Tentu semua  menjadi takut tenggelam.  Demikian juga siapa yang bisa berdiam diri menyaksikan nabi Khidzir membunuh seorang anak kecil, serta  kita dapat mengerti ketika nabi Musa menggerutu saat semua penduduk tidak mau mengasih makan barang sedikitpun,  namun kemudian nabi Khidzir malahan membetulkan sebuah rumah reyot yang hampir ambruk tanpa upah seperserpun.

Nah, ketika orang  yang dengan pengetahuan dhahirnya mempertanyakan seluruh tindakan nabi Khidzir, termasuk nabi Musa,  maka kemudian nabi Khidzir baru menjelaskan  sesungguhnya apa yang dimaksud dengan perbuatan perbuatan yang dianggap nyeleneh tersebut.  Untuk kapal yang seolah dilubangi tersebut dengan maksud agar kapal tersebut tidak disita dan dirampas oleh penyamun, karena kapal tampak jelak dan berlubang.  Sedangkan untuk pembunuhan terhadap seorang anak, nabi Khidzir menjelaskan bahwa  orang tua anak tersebut  sebagai orang shalih, sementara itu anak tersebut berpotensi menetang dan menjadi anak durhaka, maka sebelum hal tersebut  menjadi kenyataan, anak tersebut dibunuh agar tetap dalam kebaikan.

Sementara itu kenapa nabi Khidzir mau meperbaiki sebuah rumah reyot dengan gratis, padahal seluruh penduduk sama sekali tidak mau memberinya makanan, Beliau menjlaskan bahwa rumah tersebut milik anak yatim yang didalamnya ada harta mereka, sehingga kalau sampai roboh maka harta anak yatim tersebut akan musnah pula.  Dan begitulah ilmu yang dimiliki nabi Klhidzir ternyata  merupakan ilmu batin yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.

Kisah lainnya yang juga sangat terkenal ialah kisah Dzul Qarnain yang dalam perjalannya menemukan berbagai tipe umat yang berbeda;  Ada diantara mereka yang kemudian  Tuhan  menyerahkan urusan umat tersebut kepadanya untuk dihancurkan atau diberikan kesenangan.  Ada pula  kaum yang sama sekli tidak mendapatkan satir natara mereka dengan matahari dan ada pulan sebuah kaum yang hampir tidak dapat mengerti bahasa atau pembicaraan.

Semua kisah yang ada tersebut  sesungguhnya merupakan pelajaran yang sangat berharga  bagi semua orang yang mau mencermati dan memperhatikannya.  Artinya semua pelajaran yang baik tentu akan sangat membantu seseorang dalam menjalanin kehiduoannya di dunia dan mendapatkan karunia dari allah swt, tetapi sebaliknya bagi yang tidak mau memperhatinanya tentu tidak akan mendapatkan apapun dari  kisah tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.