EVALUASI TERHADAP UJIAN NASIONAL

Meskipun kontroversi mengenai ujian nasional sampai saat ini masih terus berjalan, namun hal itu jangan menyurutkan niat untuk melakukan upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia, khususnya melalui pendidikan.  Jangan kaena berbagai argumentasi yang kemukakan kemudian  anak anak bangsa ini menjadi korban dan maa depannya  kurang menjanjikan.  Dalam persoalan peningkaan kualitas SDM, kiranya kita semua sangat sepakat, hanya caranya saja yang barangkali masih terjadi perbedaan diantara kita.

Ujian nasional dianggap sebagai salah satu cara untuk menaikkan kualitas pendidikan di tanah air secara relatif lebih merata.  Artinya dengan ujian nasional ini para siswa dari seluruh wilayah negera ini  akan mempunyai kemampuan yang relatif tidak jauh berbeda.  Akan lain halnya kalau ujian hanya dilaksanakan oleh masing masing sekolah atau guru.  Dalam hal ini kemungkinan saja ada  sekolah yang restasi siswanya sangat bagus didasarkan atas nilai yang diraih  dalam ujian  ternyata bagus, namun kalau kemudian diadu atau dikompetisikan dengan sekolah lainnya, ternyata sangat jauh tertinggal.

Inilah salah satu alasan kenapa harus dilakukan ujian nasional yang standarnya sama, sehinga diharapkan para siswa akan mempunyai kemampuan yang relatif sama, dan para pendidik juga akan terpacu untuk memberikan perhatian  kepada siswa lebih banyak.  Hanya saja barangkali harus ada gerakan yang  sama di seluruh wilayah negeri ini untuk menyadarkan persoalan ini.  Artinya dorongan pemerintah untuk mensupoort kepeda sekolah sekolah yang  masih relatif tertingal, baik dalam aspek SDM maupun sarana pra sarananya harus dilakukan secara konsisten.

Kita tentu sangat prihatin dengan kondisi yang ada, karena  sejak dulu persoalan ini masih terus menjadi polemik dan tidak segera tuntas.  Ketika  ujian nasional dilaksanakan, mengenai standar kelulusan saja menjadi persoalan serius, sehingga pernah kta memberlakukan standar kelulusan hanya 3,5.  Dan ironisnya  masih ada sekitar 20 % yang tetap tidak lulus.  Lambat laun  dengan perbaikan standar tersebut kemudian dinaikkan menjadi 4 dan setersnya hingga menjadi 5,5 rata rata.

Kondisi  seperti itu tentu sangat memprihatinkan, karena bagaimana mungkin kita  memberikan standar kelulusan yang tidak rasional tersebut?. Seharusnya  standar kelulusan  ya minimal 6 sehingga kita dapat bangga dengan prestasi pendidikan kita  dalam upaya menyahuti  keinginan undang undang kita  yakni upaya mencerdasakan kehidupan bangsa.  Karena itu sangat pantaslah kalau kemudian kita tidak dapat bersaing dengan negara lain dalam hal kualias SDM.

Namun yang sangat ironis ialah kondisi yang riil kita hadapi, baik yang dilakukan oleh siswa maupun oleh oknum pendidik yang tidak mendukung peningkatan kualitas tersebut, yakni dengan melakukan berbagai hal yang sangat tidak terpuji dan sekaligus tidak mendukung alasan diadakannya ujian nasional ersebut.  Ulah tidak terpuji tersebut antara lain ketidak percayaan diri para siswa dengan apa yang telah dimiliki.  Hal tersebut terlihat dari adanya upaya mencari bocoran soal atau jawaban yang mungkin dilakukan oleh para pihak tidak bertanggung jawab.

Keterpengaruhan  dengan adanya  bocoran soal dan jawaban tersebut menunjukkan bahwa  kemampuan dirinya masih sangat rendah sehingga   dalam menghadap ujian tersebut kurang atau malahan tidak siap.  Bahkan ada sebagian oknum pendidik yang justru mencontohkan kurang baik, yakni dengan mengerjakan soal dan kemudian memberikannya kepada para siswanya denga tujuan mendapatkan pujian dan prestasi atas proses belajar yang telah dilakukannya.

Tetapi tindakan tersebut justru sangat berbalik, karena dengan begitu mereka justru tidak percaya diri dengan  kemampuan siswa, dan bahkan juga tidak percaya dengan kemampuan dirinya sendiri dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik.  Memang persoalan moral di negeri ini masih sangat jauh dari harapan, karena orang dapat dengan mudah mencederai profesinya sendiri hanya untuk mendapatkan pengakuan bahwa dirinya berhasil dan baik.  Ketulusan juga sudah menjadi barang yang langka, bahkan bagi para pendidik yang seharusnya menjadi pelopor dalam masalah ini.

Carut marut ujian nasional tahun ini memang harus diakui oleh semua pihak, namun bukan berarti kemudian  lantas ujian tersebut ditiadakan, melainkan harus dijadikan  alat untuk memperbaikinya di masa depan, menyangkut berbagai masalah, termasuk kemungkinan kebocoran yang saat ini disuarakan oleh ombusman Jawa Timur.  Memang masih banyak yang harus dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Persoalan pemerataan kemampuan SDM pendidik  tentu merupakan hal pertama dan utama yang segera  dibenahi.  Tidak cukup hanya dengan  melakukan sertifikasi yang ternyata belum dapat menghasilkan pendidik yang benar benar profesional.  Bhuikti paling kongkrit dalam masalah ini ialah rasa takut yang berlebihan dari para pendidik saat akan diadakan uji kompetensi kepada mereka yang sudah tersertifikasi.  Seharusnya kementerian memang  menganggarkan  pembinaan dan peningkaan kualitas guru melalui berbagai kegiatan training dan sejenisnya.

Disamping itu hal penting yang harus dipenuhi oleh kementerian ialah persoalan sarana yang memadahi di seluruh sekolah dan wilayah Indonesia.  Kita harus yakin bahwa  masih banyak sekolah yang tidak layak disebut sebagai sekolah yang baik untuk para siwanya, mulai dari bangunan gedungnya, peralatan penunjang belajar dan lainnya.  Bahkan  masih banyak sekolah yang sama sekali tidak mempunyai kelengkapan sarana seperti perpustakaan dan laboratorium.  Kalau masalah ini belum terselesaikan, maka ujian nasional yang tujuannya sangat mlia, masih etap akan menyisakan persoalan.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan khususnya leh kementerian pendidikan dan kebudayaan ialah mengenai akses sekolah terhadap berbagai informasi yang dibutuhkan oleh sekolah, siswa dan guru.  Kita  sangat paham dan mengerti bahwa masih banyak di wilayah negeri kita yang belum dijangkau oleh listrik maupun akses internet.  Seharusnya program pemerintah diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masalah tersebut, sehingga seluruh masyarakat kita dapat mengakses sesuatu yang memang dibutuhkan oleh mereka.

Nah, akan sangat tampak ketidak adilannya, kalau persoalan tersebut belum dibenahi dan relatif disejajarkan, lantar tetap dilakukan ujian nasional yang standarnya  sama.  Tentu saja hasilnya tidak akan sama, bahkan seperti yang saya sebutkan di atas bahwa kalaupun batas kelulusan diturunkan ingga 3,5 saja masih banyak yang tidak dapat lulus.  Ini tentu logis karena ketertinggalan dalam berbagai informasi dan kepasitas pendidik yang relatif berbeda tersebut.

Untuk itu kita berharap dengan peristiwa ujian nasional yang cukup semrawut kali ini, akan dapat dijadikan bahan evaluasi menyeluruh terhaap pelaksanaan ujian nasional tahun tahun mendatang.  Kita tetap mendukung pelaksanaan ujian nasional, karena memang tujuannya sangat bagus, yakni meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya insani kita.  Hanya saja  sangat diperlukan evaluasi dan perbaikan yang menyeluruh dan serius agar tujuan yang mulia tersebut akan benar benar dapat diraih.

Kita tidak perlu bersikap dan berpkir emosional dengan menyarankan ataupun merekomendasikan  agar ujian nasional ditiadakan, sebagaimana yang dilakukan oleh PGRI dan juga anggota DPD.  Kita seharusnya bersama sama memikirkan bagaimana agar  bangsa ini menjadi kuat dengan kualitas SDM yang sangat baugs dan dapat bersaing dengan negara lain. Pembenahan sektor pendidikan inilah yang akan dapat mengubah  kondisi negara kita ke depan, dan bahkan akan dapat menjadi kebanggan kita sebagai bangsa yang mempunyai daya saing dalam masalah SDM nya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.