SELAMAT UNTUK MU

Perhelatan liga Inggris memang masih menyisakan empat sampai lima pekan lagi, namun tadi pagi Mu telah menorehkan dan sekaligus mengunci juara berada di dalam genggamannya.  Keunggulan 16 point atas saingan terdekatnya Manchester City yang masih mempunyai sis  lima pertandingan, sudah tidak akan terkejar lagi.  Artinya kalaupun  City kemdian memenangi seluruh pertandingan dan MU selalu kala dalam empat laga sisa, maka point yang dapat diraih oleh City hanyalah 83, sehingga  gelar juara musim ini memang milik MU.

Memang banyak prediksi para pengamat yang sudah sejak beberapa minggu lalu menahbiskan MU sebagai juara  musim ini, namun sesungguhnya masih ada was was dalam benak banyak pihak.  Hal tersebut terinspirasi pada musi yang lalu dimana MU sudah unggul 8 point dan hanya menyisakan 6 pertandingan, namun pada akhirnya MU  kala dengan cara yang sangat menyakitkan, yakni hanya  dalam produktifitas gol saja, meskipun nilai akhirnya sama.  Apalagi setela dalam derbi kedua di markas MU justru Mu dipecundangi oleh City.

Saat itu City pun juga bangkit kembali harapannya untu mempertahankan juara dalam musim ini, meski dengan terus berdoa agar MU selalu terpeleset dalam sisa pertandingan yang masih.  Namun dengan kekalahan City dari Totenham Hotspur kemarin itu, City baru benar benar menyerah dan  melemparkan handuk serta mengakui bahwa MU lah yang pantas menyandang juara kali ini.  Demikian juga MU menjadi semaki bersemangat dan hampir tidak erbebani lagi dalam melakukan pertandingan tadi pagi, sehingga  dapat meraih kemenangan  dengan cukup bagus.

Sekali lagi kita ucapkan selamat buat MU yang telah menjuarai liga sebanyak 20 kali, dua kali lebih banyak dibandingkan dengan Liver pool yang meraihnya 18 kali.  Dan kalau dihitung sejak premire legue maka MU sudah menjuarainya sebanyak 13 kali.  Sungguh merupakan prestasi yang sangat luar biasa.  Konsistensi MU dalam kancah liga Ingris memang menjadi salah satu faktor yang memberikan gelar tersebut, karena  dalam sejarahnya, meskipun tidak meraih gelar liga, tetapi MU selalu aan menghuni empat besar liga.

Bilamana kita kemudian menengok persepak bolaan kita yang selalu kisruh, baik soal kepengurusannya, pemain, maupn suporternya, tentu kita menjadi sangat iri.  Meskipun saat ini PSSI sudah islah dan ingin bersama membangun sepak bola kita, namun kenyataan di lapangan masih saja terjadi persoalan mendasar yang  susah untuk mengantarkan tim nasional ita menjadi juara, bahkan hanya untuk level Asia Tenggara sekalipn.

Namun demikian kita tetap berharap bahwa  dengan pembinaan yang serius dan kompetisi yang baik, pada saatnya  nanti kita akan dapat memperoleh hasil sebagaimana yang kita harapkan, yakni mendapatkan juara, meskipun  untuk level Asia Tenggara dan kemudian merangkak ke level Asia dan seterusnya.  Hanya saja kondisi kepengurusan PSSI harus tetap dijaga kesolidannya sehingga tidak akan mempengaruhi kondisi para pemain dalam mengejar prestasi yang tingi.

Barangkali dalam pentas sepak bola di daratan Eropa, faktor meneger dan pelatih sangat menentukan sebuah klub dalam meraih prestasi, tentu disamping faktor pamain berbakat yang ada, namun untuk di negeri kita nampaknya faktor utamanya bukan berada pada pelatih, melainkan ada pada  para pemain dan suasana yang melingkupi sebuah klub.  Artinya kalaupun dengan kondisi yang ada saat ini, misalnya Jose Mourinho atau Pep Guardiola ataupun Sir Alex Ferguson dan lainnya didatangkan ke Indonesia dan mereka mau menangani tim Indonesia, maka kita sangat yakin mereka tidak akan sanggup menyulap timnas kita menjadi tim jawara.

Ada banyak prasyarat yang harus dipenuhi oleh kita saat kita menginginkan  keberhasilan, khususnya dalam  dunia sepak bola, salah satunya ialah kedisiplinan, baik dalam  berlatih, bermain, dan dalam perilaku sehari harinya.  Tidak kalah pentingnya ialah faktor teknis para pemain dalam penguasaan bola dan bermain bola serta setamina yang cukup untuk bermain selama 90 menit.  Nah, beberapa faktor menentukan tersebut ternyata belum dimiliki oleh para pemain kita, sehingga bukannya meremehkan, melainkan  hanya sekedar sebuah kritik, bahwa kita masih jauh dari restasi yang diinginkan tersebut.

Kita tentunya dapat menyaksikan melalui siaran langsung di elevisi khususnya  pertandingan beberapa klub di Eropa bahwa kedisiplnan dan ketaatan terhadap  peraturan yang ada sangat dijunjung tinggi.  Misalnya pada saat mereka diberikan kartu kuning ataupun merah, meski sedikit protes, tetapi tidak sampai mendorong dorong wasit ataupun bahkan menganiayanya.  Cara protes yang dilakukan juga sangat elegan dan setelah itu mereka langsung menerima keputusan yang diberikan oleh wasit.

Tentu akan lain dengan kondisi di negeri kita sendiri yang kedisiplinan masih belum nyata, karena masih banyak  kasus yang berkaitan dengan  saling menyakiti antar pemain ataupun pemain terhadap wasit dan lainnya.  Kita memang juga menyadari bahwa para wasit di negara kita masih  belum  setara dengan para wasit di Eropa misalnya.  Artinya para wasit di Eropa juga dapat melakukan kesalahan, tetapi ketegasan dan kecermatannya perlu dipuji.

Lepas dari semua itu kita juga sangat menyadari bahwa Eropa bukanlah yang terbaik dan tidak mampnai kesalahan dan kelemahan.  Sebagai manusia biasa mereka juga dapat melaukankesalahan bahkan terkadang fatal, tetapi kalau kemudian ada yang seperti itu, tentu mereka akan mendapatkan sanksi hukuman yang berat dan akan membunuh karirnya sendiri.  Lain halnya dengan  kondisi di kita yang  belum  seperti itu.

 Kembali kepada sepak bola di Eropa, khususnya di Inggris bahwa MU memang pantas menjadi juara pada saat ini, karena memang penampilan yang ditunjukkan selama musim ini sungguh  luar biasa, terutama dalam hal konsistensi yang selalu dijaga.  Kalaupun  pernah menurun dalam penampilannya dan mengakibatkan  kekalahan, namun hal itu kemudian terus direspon dengan baik, yakni dengan penampilan yang lebih apik dan serius, sehingga kemudian  seolah tersengat dan berbalik memenangkan pertandingan selanjutnya.

Barangkali kita memang harus belajar dari MU dalam hal pengelolaan klub secara keseluruhan, walaupun kita tidak akanmungkin  dapat melaukannya persis, karena faktor finansial tentu akan menjadi faktor pembeda.  Kita  pasti dapat menebak bahwa gaji para pemain kita sangat jauh jka dibandingkan dengan gaji para pemain di MU.  Bahkan klub kita meskipun menamakan dirinya sebagai klub profesional, namun masih banyak yang mengandalkan bantuan dari APBD daerah, dan saat hal tersebut diputus, maka akan banyak klub kemudian gulung tikar atau setidaknya  tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk menggaji para pemainnya.

Kisah pilu yang pernah dialami oleh  para pemain sepak bola kita, bahkan ada yang sampai meninggal hanya gara ara tidak dapat berobat saat sakit, dan muaranya ialah karena gaji dalam beberapa bulan tidak dibayar oleh klub.  Tentu semua itu akan semakin menjauhkan perbedaan antara klub klub kita dengan klub Eropa, apalagi MU atau klub besar lainnya.  Namun sekali lagi sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada kita tetap berharap bahwa timnas kita pada saatnya  akan dapat meraih prestasi yang membanggakan.

Selamat buat MU, semoga keberhasilan dan keberadaan MU akan dapat menginspirasi sepak bola di negeeri ini, setidaknya semangat dalam  bermain dan meraih sukses.  Selebihnya biarla para pengelola klub dan pengurus PSSI serta para pemain sendiri yang akan menerjemahkannya  dalam lingkup keindonesiaan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.