MEWARISI SEMANGAT KARTINI

Barangkali kondisi yang saat ini kita saksikan, terutama berkaitan dengan keberadaan kaum perempuan, adalah buah dari usaha yang dahulu diupayakan oleh Kartini yang tterus digelorakan oleh para generasi hingga saat ini. Harus diakui bahwa pada saat itu kondisi dan kedudukan kaum perempuan di negeri kita sungguh sangat memperihatinkan.  Mereka pada umumnya hanya dianggap sebagai konco wingking bagi kaum laki laki atau hanya sebagai pelengkap penderita semata.  Martabat mereka sama sekali tidak diperhitungkan, bahkan diakui saja tidak, sehingga mereka seolah hanya sebagai barang yang kurang berharga.

Melihat kondisi yang sangat menyentuh perikemanusiaan sebagai perempuan tersebut, Kartini kemudian  berusaha  untuk mengangkat martabat kaumnya agar dapat menjalani kehidupan secara wajar dan sejajar dengan kaum laki laki.   Tentu hal tersebut tidak serta merta menjadi sebuah kenyataan, melainkan membutuhkan perjuangan yang sangat panjang dan berat, karena tidak berhadapan dengan kaum laki laki yang memang sangat nyaman dengan kondisi yang telah ada, tetapi juga berhadapan dengan kaum perempuan sendiri yang kebanyakan hanya pasras kepada keadaan.

Untuk mewujudkan keinginan luhurnya tersebut Kartini harus  terjun langsung untuk mengajar kepada para perempuan agar mereka mempunyai pengetahuan yang dapat diandalkan.  Melalui pendidikan itulah kiranya cita cita yang ditancapkan untuk mengentaskan kaum perempuan tersebut akan dapat berhasil.  Memang hingga saat wafatnya, kartini belum dapat mewujudkan keinginannya tersebut secara lebih luas, tetapi semangat yang gelorakan, baik dalam tindakannya secara langsung maupun dalam pesan tertulisnya, terus memberikan bara api yang berkobar, sehingga sampai saat ini gelora tersebut tetap dipelihara dan dilanjutkan.

Barangkali pada zaman Kartini dulu tuntutan emansipasi masih sangat terbatas, dan sesuai dengan kondisi pada saat itu.  Emansipasi dapat dimaknai secara sederhana, yakni mensejajarkan perempuan dengan laki laki dalam hak dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari hari, khususnya dalam kehidupan rumah tangga.  Artinya kalau sebelumnya kedudukan perempuan sama sekali tidak diperhitungkan dan hanya menjadi obyek yang sama sekali tidak mempunyai daya tawar dan sangat lemah, maka emaqnsipasi menghendaki agar perempuan juga mempunyai peran yang jelas dan tanggung jawab yang seimbang dengan laki laki.

Penghargaan yang wajar kepada peran perempuan di dalam rumah tangga misalnya harus diakui, bahwa rumah tangga itu memang harus ada nahkoda, tetapi untuk mengarungi samudra kehidupan yang sangat luas, tentu antara laki laki dan perempuan harus bekerjasama dengan harmonis dan  saling berbagi tugas, sehingga perjalanan bahtera tersebut akan stabil dan harmonis.  Tetapi kalau semua tanggung jawab hanya dipegang oleh seorang nahkoda, semengtara yang lain hanya sebagai pelengkap saja,  tentu akan menemui kesulitan dan masalah dalam perjalanan menempuh lautan luas yang harus dilalui.

Namun  memang emansip[asi tersebut saat ini  deapat dimaknai secara lebih luas, yakni tidak saja  pengakuan atas peran perempuan dan penghargaan atas jasa mereka, melainkan juga  dalam arti yang lebih, seperti pengakuan atas persamaan hak dan kewajiban antara kaum laki laki dan perempuan dalam semua aspek kehidupan.  Kalau dahulu tuntutan persamaan dan pengakuan atas posisi perempuan tersebut masih dalam wilayah domistik, tetapi saat ini juga sudah pada wilayah publik.

Hanya saja memang sebagai orang beriman kita harus tetap memberikan pengertian kepada semua pihak bahwa tidak akan mungkin dalam kehidupan ini peran peran laki laki dan perempuan disamakan secara keseluruhan, sebab di sana akan ada wilayah yang khusus bagi  laki laki dan ada yang khusus bagi perempuan, walaupun kemudian kalau saling membantu tidak ada persoalan.  Bahkan itulah yang terbaik untuk dilakukan oleh laki laki dan perempuan.

Kalau dalam persoalan yang berkaitan dengan peran dan keinginan untuk berkarya dan berkarir tentu kita tidak boleh membatasinya, karena sesama makhluk Tuhan kita ini mempunyai kesempatan dan hak serta kewajiban yang sama.  Demikian juga dalam persoalan  keinginan memperoleh kebahagiaan di akhirat, semua pihak mempunyai kesempatan yang sama.  Artinya kalau ada diantara  laki laki maupun perempuan yang berkeinginan untuk menjadi pejabat publik, ingin menjadi wakil rakyat, ingin  mengembangkan karir dalam bidang birokrasi dan lainnya, tentu semua itu merupakan hak mereka yang tidak ada satu pihak manapun yang boleh menghalanginya.

Termasuk di dalamnya ialah ketika ada seseorang laki laki maupun perempuan yang  rajin dan semangat dalam beribadah, baik ibadah mahdlah maupun ibadah ghairu mahdlah, seperti ibadah sosial dan lainnya, tentu tidak ada yang boleh melarangnya.  Apalagi kalau  berkaitan dengan keinginan untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih tinggi, tentu tidak ada yang boleh menghalangfi, bahkan justru harus terus didorong.

Nah, pada saat ini yang terpenting diingatkan kepada seluruh umat manusia Indonesia ialah bagaimana kita dapat mewarisi semangat yang dikobarkan opleh Kartini pada masa yang lalu, kemudian kita terjemahkan sesuai dengan mkondisi saat ini.  Tentu maksud Kartini pada saat itu ialah memberikan ruang yang sama kepada kaum perempuan dalam garak dan perannya, sehingga tidak lagi dianggap sebagai barang yang mudah dipermainkan dan diremehkan oleh kaum laki laki.  Tujuan lainnya ialah agar dalam kehidupan rumah tangga yang merupakan dasar dalam pembentukan masyarakat dapat berjalan dengan harminis dan memungkinakn semua pihak dapat saling memberi dan menerima.

Semangat untuk  menciptakan kehidupan yang selaras, serasi dan harmonis  itulah yang harus terus kita kembangkan  dalam kehidupan kita sehari hari, baik saat berada di dalam rumah tangga maupun saat berada di lingkungan masyarakat secara luas.  Jangan justru semangat lain yang ditangkap, yakni keinginan untuk bebas dan menuntut sesuatu yang segalanya  harus sama.  Sebab kalau hal ini yang justru kita kembangkan, maka tujuan mulia yang digagas oleh Kartini justru akan semakin jauh dari kenyataan.

Memang saat ini  kita sudah dapat menyaksikan  keberhasilan cita cita Kartini, terutama dalam mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan, sehingga saat ini sudah cukup banyak  perempuan yang menduduki posisi strategis di negeri ini.  Semua posisi yang dahulu diangggap tabu bagi perempuan, kini semuanya sudah tidak lagi.  Dalam persoalan ini perempuan memang sudah dianggap sama dengan laki laki.

Hanya saja dalam prakteknya  kita juga masih menyaksikan sebagian kaum laki laki yang belum rela untuk persoalan tersebut, sehingga dalam kehidupan rumah tangga saja ada laki laki yang bersikap seolah merekalah yang berkuasa, dan isteri atau perempuan hanya sebagai pelengkap saja.  Akibat dari sikap seperti itu kemudian timbul kekerasan dalam rumah tangga yang hingga saat ini masih banyak dijumpai di keluarga Indonesia.

Meskipun zamannya sudah emansipasi, tetapi secara nyata, perempuan itu fisiknya sangat lemah dan rawan menjadi sasaran kejahatan  oleh kaum laki laki, karena itu menjadi kewajiban bagi kita untuk terus memberikan perlindungan kepada mereka dengan berbagai cara yang memungkinkan.  Kita tentu sangat perihatin dengan semakin maraknya kasus perkosaan yang menimpa kaum perempuan, baik di tempat yang sepi maupun di keramaian.  Untuk itu memang kita harus terus menerjemahkan emansipasi tersebut dalam pengertian yang benar dan sekaligus memberikan pengaruh yang positif bagi kehidupan kita.

Artinya jangan sampai dengan pengertian emansipasi tersebut justru kemudian akan menyulitkan posisi perempuan itu sendiri, baik dalam dataran teorits maupun  dalam praktisnya.  Semoga dalam memperingati hari kartini ini kita semakin  tertarik untuk ikut menyumbangkan ide dalam memberikan pengertian yang pas bagi emansipasi tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.