TENTANG PENDIDIKAN ANTI KORUPSI

Semua orang yang mempunyai nurani tentu akan sangat perihation melihat kondisi Negara kita yang semakin hari terus dijejali dengan persoalan korupsi, suap, dan sejenisanya, ditambah lagi dengan persoalan narkoba.  Berbagai upaya sesungguhnya sudah dilakukan, namun belum menunjukkan tanda tanda keberhasilan, karena belum adanya kesamaan pandangan dalam memberantas korupsi.  Bahkan beberapa waktu yang  lalu, para anggota parlemen ramai ramai ingin “mempreteli” sebagian kewenangan KPK yang sudah sedemikian kuat, meskipun dengan kekuatan public,  rencana tersebut kemudian dapat digagalkan.

Namun demikian dilihat dari riil di lapangan, kita memang tidak dapat mengelak  tentang semakin suburnya dan sejenisnya tersebut.  Yang terbaru beberapa hari lalu seorang hakim dan wakil ketua pengadilan negeri di Bandung tertangkap tangan saat  melakukan praktek suap di dalam ruang kerjanya.  Semua itu membuktikan bahwa persoalan korupsi masih sangat diminati oleh sebagian masyarakat kita, dan mereka sama sekali tidak merasa gentar terhadap segala kemungkinan yang bakal terjadi.  Toh dalam anggapan mereka  bahwa kalaupun mereka tertangkap, paling paling hanya akan menjalani hukuman beberapa tahun saja dan selebihnya akan tetap dapat menikmati hasil korupsinya tersebut.

Itulah kemungkinan yang ada dalam benak kebanyakan masyarakat kita, sehingga aspek keakhiratan yang selalu diingatkan oleh ajaran agama  menjadi terlupakan.  Mereka pada umumnya hanya berpikir pragmatis duniawi semata.  Mereka juga mengira bahwa dengan uang dan harta yang banyak, mereka akan dapat hidup layak, tenang, sejahtera dan bahagia.  Inilah sesungguhnya  yang harus  dipahami oleh seluruh masyarakat yang ingin memberantas korupsi, sehingga solusi yang dilakukan akan tepat dan membuahkan hasil yang maksimal.

Usaha memberantas korupsi di negeri kita ini memang tidak mudah, terutama ketika masing masing pihak tidak ada kesepahaman mengenai bagaimana cara yang tepat untuk melakukan itu.  Sebagai contohnya bagaimana kita saat ini menyaksikan para  pihak yang bertugas memberantas korupsi, sepeprti  polisi, jaksa, hakim, para anggota legislative, eksekutif, serta para penasehat hokum, ternyata  justru  tidak bisa memberikan contoh teladan yang benar dalam memberantas korupsi tersebut.  Bahkan banyak oknum dari mereka yang mempraktekkan perbuatan koruspsi dan sejenisnya tersebut.

Lantas bagaimana kita dapat memberantas korupsi kalau para petugasnya saja sebagai pelaku korupsi?.  Memang tidak semua, tetapi dengan semakin maraknya kejadian yang melibatkan para aparat, tentu menjadikan  persoalan ini semakin jauh dari harapan.  Terlebih lagi ketika mereka yang  melakukan praktek korupsi tersebut ternyata hanya diberikan sanksi hokum yang cuklup ringan, dan setelah selesai menjalani hukuman, mereka  masih dapat melakukan apa saja, termasuk menjadi pejabat lagi.

Seharusnya kalau kita sepakat dalam satu bahasa untuk memberantas dan menumpas habis korupsi, harus ada kamuan baik yang sungguh sungguh, yakni kalau para aparat yang mereka yang seharusnya memberikan teladan baik sebagaimana pihak pihak yang disebut di atas ternyata melakukan praktek korupsi,  diberikan hukuman berat, bahkan sampai  hukuman mati.  Setidaknya dipecat dari posisinya dengan tidak hormat, dan dimiskinkan serta diberikan penjara minimal 20 tahun.

Kalau hal tersebut disepakati dan dilaksanakan dengan kopnsisten, tentu aka nada perubahan yang  diharapkan, yakni semakin miris seseorang yang akan melakukan praktek korupsi.  Kesimpulannya kondisi akan semakin baik dan korupsi akan dapat ditekan sedemikian ruapa atau bahkan dapat dicegah  sama sekali.

Salah satu hal yang barangkali perlu mendapatkan kesepakatan lagi ialah  bagi korupstor seberapapun  nilainya, harus dikenakan hokum minimal 15 tahun penjara dan disita seluruh kekayaannya untuk Negara.  Kita tentu sangat terlukan ketuika para koruptor yang mengemplang uang rakyat sampai bermilyar milyar, namun kemudian hanya dihukum beberapa tahun saja dan harta hasil korupsinya masih aman.  Itupun yang sudah ketahuan, apalagi yang belum ketahuan, karena memang tidak ada penyelidikan ke sana.

Kita terperangah ketika KPK terus mengembangkan penyeledikan  terhadap harta kekayaan  tersangka korupsi simulator SIM, yakni mantan korlantas yang ternyata  sedeikian luar biasa.  Sangat mungkin harta yang demikian banyak tersebut tidak hanya dari satu aktifitas korupsi kasus simulator, melainkan ada banyak penyeleweangan yang pernah dilakukan.  Nah, kalau nantinya hanya harta yang dari kasus simulator saja yang ditangani, maka  yang bersangkutan masih akan tetap  kaya dan terhormat setelah menjalani hukuman.  Itulah salah satu keprihatinan kita saat mengikuti kasus korupsi yang ternyata sudah mengakar lama di para pejabat kita.

Kita sangat yakin bahwa hamper semua pejabat public di negeri kita ini  pernah melakukan praktek yang dapat digolongkan korupsi.  Hanya saja  pada saat itu masih aman aman saja dan hingga saat inipun masih tersimpan dengan baik.  Indikasinya ialah bagaimana mungkin seorang pejabat yang gaji dan tunjangannya sangat terbatas dan dapat dibaca, kemudian mempunyai kekayaan yang spektakuler.  Mungkin saat ini kita tidak perlu mengarahkan bidikan pada persoalan yang sudah terjadi dan tidak  dapat ditelusuri lagi, melainkan bidikan kita harus diarahkan kepada masa sekarang dan akan datang.

Karena itulah sudah saatnya kita, terutama yang berada  di dunia pendidikan untuk tertarik dan terpanggil untuk ikut memperbaiki kondisi dengan cara yang mungkin kita lakukan.  Salah satu hal penting dan menjadi concern kita dan bahkan  dapat menjadi kewajiban kita ialah bagimana kita menyiapkan generasi mendatang sebagai generasi yang terbaik, mempunyai integritas, berakhlak mulia, cerdas, dan tentu anti korupsi.

Pendidikan anti korupsi memang seharusnya diberikan sejak dini, yakni sejak  di pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.  Soal bentuknya tentu dapat beraneka ragam dan disesuaikan dengan tingkat pendidikan itu sendiri.  Karena itu kita berharap bahwa pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan dan kebudayaan dan juga kementerian agama yang memang menangani persoalan pendidikan di negeri kita, dapat memberikan perhatian dan  kebijakan yang mendukung dimasukkannya pendidikan anti korupsi tersebut dalam kurikulum.

Artinya kita sangat berharap ada good will dari para pengambil kebijakan dalam dunia pendidikan untuk persoalan ini.  Tentu semua itu bukan dalam arti untuk tujuan tertentu, melainkan dalam satu tujuan menyelamatkan bangsa ini secara terencana dari kemungkinan  keruntuhan yang nyata.  Pendidikan merupakan sarana paling  realistis dalam menghadirkan dan mencetak generasi bangsa yang diharapkan.  Melalui pendidikanlah kita akan dapat mencetak sosok yang ideal sebagai harapan di masa mendatang.

Pendidikan anti korupsi sesunggunya secara tidak langsung sudah  merupakan bagian tidak terpisahkan dari mata kuliah atau mata pelajaran  yang selama ini telah diajarkan di kelas, terutama dalam mata kuliah atau mata pelajaran  yang berkonotasi keagamaan, seperti fiqih, tafsir, hadis, akhlak dan lainnya.  Hanya saja memang tidak ada penekanan secara khusus dalam persoalan korupsi tersebut.

Untuk itulah ada dua  pilihan dalam  merealisasikan pendidikan anti korupsi  tersebut, yakni  (1). Memasukkan  pendidikan anti korupsi tersebut dalam mata kuliah atau mata pelajaran yang sudah ada dengan memberikan penambahan silabi khusus tentang anti korupsi, dan (2) membuka tersendiri mata kuliah atau mata pelajaran tentang anti korupsi sebagai  sesuatu yang sama sekali baru.  Kedua pilihan tersebut tentu akan ada konsekwensi masing masing dan semua itu tergantung dari kesiapan dan kebijakan dari para pengambil kebijakan.

Persoalan guru atau dosen, menurut saya tidak perlu dikhawatirkan, karena  dari guru dan dosen  yang sudah ada dapat diberdayakan dengan memberikan sedikit treatment  khusus beberapa hari saja sudah cukup.  Tentu selanjutnya harus ada komitmen dari mereka untuk menjadi teladan dalam perilaku dan sikap serta konsisten dalam menjalankan aturan yang ada serta terus belajar.  Pembinaan juga tetap harus terus dilakukan sebagaimana mestinya.  Dengan begitu nantinya diharapkan akan lahir generasi baru yang  ideal dan  dapat membangun bangsa ini dengan semangat tinggi dan tulus.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.