MENUNGGU KERJA KEPOLISIAN

Jagat kepolisian saat ini sedang diuji oleh sebuah kasus yang sangat memalukan bagi dunia penegakan hokum dan keamanan, yakni dengan terjadinya peristiwa penyerangan oleh pasukan bersenjata lengkap yang menyerbu dan membunuh 4 tahanan di lembaga pemasayarakatan Sleman Yogyakarta.  Kenapa dikatakan  hal ini sebagai ujian kepada kepolisian, karena  memang persoalan tersebut menjadi wilayah kepolisian untuk mengungkapnya  dan sekaligus  memberikan kepercayaan kepada masyarakat serta dunia internasional.

Peristiwa penyerbuan tersebut tentu sangat  menohok kita semua.  Bagaimana mungkin di sebuah lapas yang tentu dijaga dengan ketat, bukan untuk tujuan  menghadapi penyerangan, melainkan untuk menjaga segala kemungkinan, termasuk kaburnya tahanan atau nara pidana atau gangguan lainnya, ternyata  dapat digasak oleh sekawanan penjahat yang terlatih.  Temua kontras dalam kunjungannya ke Yogyakarta kemarin telah memberikan gambaran yang lebih kepada kita bahwa gerombolan penyerang lapas tersebut merupakan sebuah pasukan yang cukup terlatih.

Tentu kita  tidak berharap bahwa kepolisian kembali gagal menangkap  pihak pihak yang melakukan penyerangan tersebut, sebagaimana peristiwa hamper serupa pada maa yang lalu.  Artinya dalam sepuluh tahun terakhir kita dapat menyaksikan bahwa kalau ada  peristiwa yang pelakuinya diduga  melibatkan aparat karena kemiripan  tanda tandanya, selalu saja tidak berhasil diungkpa oleh pilisi kita.  Padahal kita  paham bahwa polisi kita sesungguhnya sangat lihai dalam mengungkap berbagai peristiwa criminal yang terjadi.

Kita juga masih percaya dengan teori dalam hokum pidana bahwa sepandai pandai penjahat dalam melakukan aksinya, tentu  di sana pasti ada jejak yang ditinggalkan dan  dapat mengungkapkan para pelakunya.  Inilah yang kita tunggu dari kerja kepolisian kita.  Tentu semua masyarakat sangat berharap persoalan ini dapat segera diusut dan  para pelakunya diberikan hukuman berat,  bahkan sampai hukuman mati.  Tujuannya ialah dalam upaya mencegah dan memberantas tindakan serupa, sehingga rasa aman masyarakat dapat dipelihara dan bahkan ditebalkan.

Kasus penyerbuan lapas di Sleman tersebut memang pahit dirasakan oleh kita sebagai bangsa yang  menjadikan hokum sebagai panglima tertinggi di negeri ini.  Semua pihak juga  sangat vocal dalam menyuarakan penegakan hokum di negeri ini, tetapi justru peristiwa demi peristiwa yang bertolak belakang dengan pernyataan tersebut semakin membuktikan bahwa  kita belum serius dalam  melakukan upaya penegakan hokum tersebut.

Persoalan penegakan hokum di Negara kita memang terus mendapatkan sorotan.  Itu diebabkan oleh berbagai keganjilan yang terus terjadi, baik praktek melawan hokum yang terus bertambah maupun dalam putusan putusan pengadilan yang tidak memberikan  aspek jera kepada para palaku dan masyarakat.  Betapa banyak perkara kecil yang terus diproses an pelakunya ditahan, sementara itu banyak kasus yang cukup besar dan mendapatkan perhatian public, tetapi justru malah mandek dan seolah berhenti, serta para pelakunya sama sekali belum disentuh, apalagi ditahan.

Namun saat ini  yang lebih penting dan mendesak ialah bagaimana Negara memberikan jaminan rasa aman kepada masyarakat, terutama dari tindak pidana dan kejahatan yang dilakukan oleh wara Negara sendiri.  Kalau dahulu rasa takut masyarakat disebabkan oleh adanya kelompok teroris yang sangat membahayakan, tetapi saat ini rupanya  rasa takut tersebut bertambah lagi, yakni  ulah para penjahat yang terus melakukan aksinya, bahkan secara terang terangan.

Praktek penodongan, pemerkosaan, tindakan main hakim sendiri para preman, perilaku para geng motor yang sering merusak, dan bahkan tindakan menyimpang dan jahat dari para oknum aparat TNI dan polri yang akhir akhir ini  terjadi, sungguh sangat meresahkan kepada masyarakat.  Mereka saat ini sudah tidak lagi merasa nyaman, meskipun di kampong dan di rumahnya sendiri.  Apa lagi kalau mereka  sedang berada di perjalanan dan menumpang angkutan umum, sudah barang pasti tidask akan pernah merasa aman.

Barangkali para aparat kepolisian yang memang mempunyai tugas mengayomi dan menciptakan rasa aman bagi masyarakat, perlu melakukan  upaya upaya nyata dalam menciptakan rasa aman tersebut.  Artinya dari dalam  diri para anggota polri  memang harus diciptakan suasana yang  kompak dan  selalu ingin membela dan mengamankan  kondisi di masyarakat.  Tidak ada satu oknum pun dari mereka yang  dibenarkan untuk melakukan sesuatu yang di luar komando dan kepentingan masyarakat.  Dan kalau misalnya ada yang  melakukan tindakan di luar itu, maka hukumannya ialah pemecatan dan  hukuman berat lainnya.

Nah, kalau misalnya persoalannya bukan ada pada sikap tersebut,  dan  pada persoalan lainnya, semisal kurangnya personil polri, maka tentu kita sepakat untuk menambah lagi jumlah anggota polri sehingga menjadi ideal dengan upaya mengamankan suasana tersebut.  Kita semua sepakat bahwa Negara ini sangat mampu untuk melakukan rekrutmen  anggota p[olisi hingga sampai jumlah ideal.  Tentu hal tersebut perlu dilakukan perhitungan dan analisa yang cukup dan akurat, sehingga tidak akan memboroskan anggaran Negara.

Kembali kepada persoalan pokok dalam tulisan ini yakni bagaimana polisi dapat mengungkap para pelaku kerusuhan dan penyerangan di lapas sleman Yogyakarta baru baru ini.  Polisi seharusnya merasa tertantang untuk membuka persoalan ini dengan  jelas.  Artinya polisi tidak  boleh ragu dan menyerah, meskipun diindikasikan sejak awal bahwa para pelaku penyerangan tersebut ialah para oknum yang merupakan kawan dari seorang anggota kopassus yang tewas dikeroyok para tahanan tersebut, yang diduga dari kelompok  yang sangat professional dan bersenjata lengkap.

Siapapun orangnya, apakah mereka itu  oknum anggota TNi maupun bukan, tetap harus diusut secara tuntas.  Kita memang berharap bahwa para pelakunya memang bukan dari oknum para anggota TNI, sebagaimana pernyataan tegas pangdam IV Diponegoro setalah kejadian tersebut.  Sebab kalau pelakunya  oarng sipil tentu kita sedikit lega, meskipun tetap menyisakan berbagai pertanyaan.  Salah satunya ialah kenapa orang orang sipil di Indonesai dapat memppersenjatai diri mereka dengan senjata yang cukup lengkap dan jumlahnya  cukup banyak pula.

Tentu hal tersebut  menjadi masalah tersendiri, karena kepmilikan senjata bagi sipil tentu sangat ketat aturannya dan bahkan  dilarang secara umum.  Kalau senjata tersebut illegal, maka pertanyaan selanjutnya, kenapa senjata illegal tersebut dapat masuk ke Negara kita dengan begitu banyak dan tidak terdeteksi.  Dan tentu masih banyak sederet pertanyaan lainnya yang cukup membuat kita menjadi  tidak tahu.

Ada satu pertanyaan besar lagi menyangkut kejadian penyerangan lapas di Sleman tersebut yakni tentang  peran intelijen kita.  Apakah sudah begitu lemahnya peran intelijen kita sehingga ada rencana yang demikian besar sampai tidak terendus sama sekali.  Seharusnya  setiap ada rencana apapun, termasuk penyerangan ke lapas dan  mengeksekusi mati para tahanan yang diduga mengeroyok salah seorang anggota kopassus, dapat diketahui oleh intel dan kemudian dapat dilakukan upaya pencegahan.

Rupanya  kita patut mempertanyakan dan menyarankan kepada  pemerintah agar  mengevaluasi kinerja intelijen kita.  Kayaknya ada beberapa kelamahan yang  sangat tampak, karena beberapa kejadian besar yang merugikan  pemerintah secara umum, tetapi hal tersebut tidak tersentuh oleh intel kita.  Perlu peningkatan profesionalitas para intel dan kalau diperlukan penambahan personel terlatih, Negara harus mengusahakannya.  Semua itu demi keamanan dan kenyamanan seluruh masyarakat dan mengamankan Negara dari rong rongan pihak pihak yang tidak bertanggung jawab.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.