YUNUS

Yunus memang merupakan  salah satu nabi Nabi Allah dan kemudian diabadikan sebagai nama surat di dalam al-Quran.  Sebagaimana  penamaan surat lainnya, surat Yunus ini dimaksudkan untuk peringatan kepada semua orang tentang kisah nabi Yunus beserta kaumnya yang teguh imannya, agar dijadikan teladan bagi umat manusia.  Surat ini sesungguhnya merupakan surat yang diturunkan di Makkah, sehingga dikatakan sebagai surat Makkiyyah, meskipun ada beberapa  ayatnya yang diturunkan di Madinah atau ditempat lain setelah Nabi Muhammad saw berhijrah.

Dalam surat ini disamping  menceritakan kisah nabi Yunus dan juga nabi nabi lainnya, juga dibahas tentang  ilmu yang saat ini dikenal dengan ilmu falak.  Menentukan perjalanan tahun dan waktu dengan mempertimbangkan perjalanan matahari dan bulan merupakan  hal yang disampaikan oleh al-Quran, sehingga untuk mengetahui perjalanan waktu yang akurat memang tidak bisa lepas dari perhitungan perjalanan  matahari dan bulan tersebut.

Bagi umat Islam untuk menentukan waktu waktu shalat juga  bergantung kepada perjalanan matahari tersebut.  Hadis nabi Muhammad saw, dalam masalah ini sangat jelas, bahwa mulai waktu Dhuhur, ashar, Maghrib, Isya’, dan Subuh, semuanya ditentukan berdasarkan perjalanan matahari.  Demikian juga dalam menentukan  awal ataupun akhir  bulan bulan Qamariyyah tidak dapat dilepaskan dari perhitungan perjalanan bulan.  Itulah kenyataan yang  kita saksikan dan hal tersebut  telah disampaikan oleh Tuhan dalam surat ini.

Pada awal surat ini dijelaskan oleh Tuhan tentang  pengaturan langit dan bumi  oleh Allah swt sendiri tanpa bantuan siapapun, karena Tuhan memang maha Kuasa atas segala sesuatu.  Keyakinan ini  harus terus ada dalam diri manusia beriman, karena dengan keyakinan yang kuat atas kemaha kuasaan Tuhan merupakan  fondasi yang  penting untuk membangun kepercayaan  yang lebih atas segala hal.  Dalam  surat ini Tuhan juga mengingatkan kepada kita bahwa  al-Quran itu merupakan kalam Allah yang disampaikan kepada nabi Muhammad saw, melalui malaikat Jibril untuk dijadikan sebagai pedoman bagi seluruh umat manusia, dan bukanlah sihir sebagaimana tuduhan  umat kafir.

Persoalan keyakinan kepada Tuhan memang selalu mendapatkan prioritas Tuhan, terutama dalam ayat ayat yang Makkiyyah, seperti tentang  hal hal yang ghaib tentang kekuasaan Tuhan, termasuk untuk mengamati dan mencatat seluruh perbuatan manusia dan lainnya. Persoalan syafaat juga dijelaskan di sini, meskipun  ada catatannya, yakni bahwa syafaat tersebut harus seijin Tuhan juga.  Demikian juga Tuhan perlu menegaskan sekali lagi tentang  Posisi dan kedudukan Tuhan yang  Maha Tinggi dan sama sekali berbeda dengan manusia.  Karena klaim sebagain orang kafir bahwa Tuhan mempunyai anak tentu tertolak dan ditegaskan oleh Tuhan bahwa hal seperti itu sama sekali tidak berdasar dan tidak benar.

Pada mulanya sebagaimana dijelaskan oleh Allah sendiri bahwa manusia itu merupakan umat yang satu, tetapi kemudian manusia itu sendirilah yang  memunculkan perbedaan.  Namun  diingatkan bahwa perselisihan tersebut  nantinya akan diputuskan di akhirat, mengingat masing masing pihak tidak mau mengalah dan menganggap dirinya paling benar dan berkuasa.  Untuk itulah Tuhan mengutus  para utusannya untuk menyampaikan ketentuan Tuhan agar umat manusia kembali kepada kebenaran dan tidak berselisih yang tidak ada ujungnya.

Tuhan juga mengingatkan kepada manusia bahwa  akan ada hokum dan akibatnya bagi mereka yang selalu berusaha mengada ada tentang  Tuhan.  Sudah sangat jelas apa yang disampaikan oleh Tuhan dan juga oleh Nabi Muhammad saw, mengenai Tuhan, sehingga tuduhan  dan ocehan orang orang tidak beriman terhadap Allah, sama sekali tidak ada dasar dan argumentasinya.  Demikian juga mengenai ayat ayat Tuhan yang disampaikan sudah sangat jelas dan gambling, serta tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya.  Karena itu bagi yang mendustakannya, tentu aka nada balasan  hukuman  yang sangat pedih.

Allah swt juga mengingatkan kepada kita tentang watak manusia yang digambarkan oleh Tuhan, yakni  kalau pada saat sulit, biasanya mereka  berkeluh kesah dan meminta bantuan kepada Tuhan.  Atau dengan kata lain pada saat kesulitan mereka pada umumnya  selalu ingat kepada Tuhan, tetapi begitu sudah merasakan enak dan mendapatkan anugrah yang banyak dari Tuhan, maka kemudian mereka melupakan Tuhan.  Seharusnya sebagai manusia yang beriman, dalam kondisi apapun, baik sedang senang maupun susah, kita harus terus mengingat Allah swt.

Kaitannya dengan persoalan tersebut, tuhan juga sekaligus mengingatkan kepada kita tentang  keadaan orang yang beriman dan beramal shalih pada saat diakhirat.  Demikian juga keadaan mereka yang tidak beriman dan juga mereka yang  jahat, pada saat di akhirta nanti.  Tentu akan sangat berbeda keadaan mereka.  Bagi mereka yang beriman dan beramal shalih tentu akan mendapatkan kebahagiaan dan nikmat dari Tuhan, dan sebaliknya bagi mereka yang tidak beriman dan berkelakuan jahat, akan mendapatkan siksa dan kesengsaraan.

Kaitannya dengan keberadaan para Rasul Tuhan, surat ini menegaskann kembali bahwa  tugas para utusan Tuhan tersebut hanyalah menyampaikan risalah dan ketentuan Tuhan kepada umat manusia, dan bukan yang lain.  Karena itu nabi Muhammad sendiri  dan juga para rasul secara  gambling telah menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak berkuasa untuk mendatangkan manfaat atau menolak madlarat yang dating.  Semua itu  atas kehendak Tuhan, Allah swt semata.

Dan khusus bagi  al-Quran yang merupakan kitab yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Tuhan menegaskan bahwa  al-Quran tersebut memang diturunkan oleh Tuhan, dan bukan bikinan Muhammad sendiri.  Karena itu siapapun yang meragukannya dipersilakan untuk membuat yang seperti itu, tentu tidak akan yang dapat melakukannnya.  Tuhan telah menitahkan bahwa al-Quran itu tidaka akan dapat ditandingi oleh siapapun, termasuk kalau mereka harus bersama sama.

Surat ini juga membicarakan mengenai ajal, bahwa setiap umat itu mempunyai ajalnya sendiri sendiri, dan ketika ajal tersebut sudah sampai, maka siapapun tidak akan mampu untuk memajukan ataupun mengundurkan barang sedetik pun.  Tentu ajal tersebut dapat dimaknai  sebagai kematian bagi seseorang dan juga dapat dimaknai sebagai kehancuran bagi sebuah kaum atau umat.  Semua telah ditentukan oleh Tuhan dalam lauh al-mahfudh, dan manusia sama sekali tidak akan mampu untuk mengubahnya.

Surat ini juga mengisahkan tentang perjalanan para nabi Allah beserta kaumnya, ada  yang kemudian sangat baik dan menjadi teladan bagi umat manusia da nada juga yang  menentang nabi Allah tersebut, sehingga juga perlu diperhatikan agar tidak  terpengaruh kejelekannya.  Kisah nabi Yunus dengan kaumnya  dimunculkan  di sini dan sekaligus dijadikan nama bagi surat ini dimaksudkan agar umat manusia menjadikannya sebagai pelajaran bagi kita semua.  Kisah lainnya yang dimuat di sini ialah tentang nabi Musa  bersama dengan Firaun dan tukang tukang sihir beserta umatnya.

Kisah nabi Nuh beserta kaumnya yang selalu membantah dan  tidak mau mengikutinya, dan hanya beberapa saja yang kemudian mengikuti dan selamat, juga dikisahkan di sini.  Demikian juga umat bani Israil yang keluar dari Mesir mendapatkan  tempat dalam surat ini.  Semua kisah tersebut, baik yang berkonotasi taat maupun yang berkonotasi jahat, semuanya dimaksudkan agar manusia dapat mempelajarinya dan menjadikannya sebuah pengalaman untuk diambil yang baik dan ditingalkan yang jelek.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.