KITA INI HARUS BAGAIMANA

Salah satu puisi Gus Mus yang masih kita kenang hingga saat ini dan terus relevan dengan kondisi saat ini ialah tentang pertanyaan kita ini harus bagaimana.  Banyak persoalan yang sesungguhnya dapat diatasi dengan baik asalkan ada keseriusan dari para pihak yang terlibat dalam persoalan tersebut, namun nyatanya  tidak pernah selesai, dan bahkan seolah menjadi jadi.  Masalah demi masalah terus bermunculan, meskipun jeritan masyarakat dengan berbagai lemennya terus dikumandangkan.  Karena itu sangat tepat kalau kemudian  ada pertanyaan menggelitik dan bernada protes, kita ini harus bagaimana.

Dalam dunia penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, tentu secara formal semua orang akan setuju dilakukan, namun dalam kenyatannya praktek korupsi dan lemehnya penegakan hukum masih terus bergulir, dan diprediksi masih akan terus berjalan tanpa ada habisnya.  Tentu juga sudah banyak  solusi yang ditawarkan yang diperkirakan akan dapat menekan atau bahkan menghentikan sama sekali praktek korupsi, tetapi selalu mendapatkan penentangan, dengan berbagai alasan yang dicari daqn seolah paling hebat.

Kemarin kita  baru mendengar lagi adanya seorang hakim bahkan wakil ketua  Pengadilan Negeri di Bandung yang ditangkap tangan oleh KPK  yang sedang menerima suap di ruang kerjanya.  Ini sungguh merupakan sebuah kemajuan dalam hal keberanian melakukan perbuatan suap dan korupsi.  Artinya apa yang dilakukan oleh oknum hakim tersebut sungguh tergolong berani dan seoalh menentang arus.  Kalau sebelumnya perbuatan semacam itu dilakukan di tempat tempat tertentu seperti cafe, tempat parkir bawah  di sebuah hotel ataupun di tempat yang dianggap aman.

Nah, yang satu ini ternyata malah melakukannya di dalam kantornya.  Hal tersebut disamping merupakan perbuatan  terkutuk, juga sudah merendahkan martabat pengadilan sebagai tempat mencari keadilan bagi masyarakat.  Memang saat ini banyak masyarakat yang sudah  sinis dan acuh takacuh kepada pengadilan, serta menganggapnya hanya sebagai panggung sandiwara milik para orang berduit, namun  akhir akhir ini dengan berbagai usaha yang dilakukan oleh KPK dan KY untuk memperbaiki kondisi, masyarakat sudah agak menar4uh harapan kepada pengadilan.

Namun dengan kejadian kali ini,  mungkin masyarakat akan semakin anti pati dengan segala macam persoalan dan akan tetap menganggap bahwa pengadilan tidak akan dapat memberikan keadilan kepada masyarakat, terkecuali hanya kepada mereka yang berduit saja.  Tentu kerja dan keinginan pihakpihak yang akan memperbaiki citra pengadilan akan menjadi sangat berat dan membutuhkan  waktu yang cukup panjang dalam upaya memulihkan kepercayaan masyarakat tersebut.

Namun lepas dari hal tersebut saya  sangat menaruh harapan bahwa  para pengambil keputusan, baik yang ada di Senayan maupun para hakim, dapat mempertimbangkan dan sekaligus mendengarkan  saran para ahli dalam upaya menegakkan hukum dan memerangi korupsi di negeri ini.  Saya tidak perlu lagi mengulang beberapa saran  para ahli yang menawarkan solusi jitu untuk mengatasi korupsi tersebut.  Tetapi sekedar untuk mengingatkan kembali beberapa saran tersebut, saya terpaksa harus menyebutkannya kembali.

1.     Saran untuk memberikan sanksi pemiskinan kepada para koruptor.  Saran ini sudah berdengung sejak lama, tetapi ada saja yang menentangnya dengan berbagai alasan, manusiawilah, HAM lah dan lainnya.  Memang dalam memberikan sanksi, di sana  ada tujuan yang ingin digapai, yakni memberikan aspek jera kepada pelaku dan sekaligus kepada siapapun yang akan melakukan hal serupa.  Orang melakukan korupsi itu sebab utamanya ialah untuk mendapatkan harta dan  mereka menganggap bahwa dengan harta yang banyak, mereka akan dapat hidup enak.  Untuk itu kalau kemudian ada hukuman pemiskinan, maka mereka akan tekut, karena  disamping mereka akan mendapatkan hukuman penjara  atau hukuman lainnya,  setelah menjalani hukuman mereka akan miskin dan tidak bisa lagi hidup enak serta terhormat.

2.    Hukuman mati bagi para koruptor, terutama  mereka yang seharusnya memberikan teladan untuk kehidupan damai di masyarakat.  Para pejabat teras dan anggota parlemen atau hakim, jaksa, polisi dan lainnya adalah pihak yang aehaqrusnya menjadi harapan dan teladan  bagi masyarakat, karena itu kalau mereka kemudian terbukti melakukan praktek korupsi, maka hukumannya harus  lebih berat, bahkan sampai dengan hukuman mati.  Tetapi lagi lagi hal tersebut selalu mendapatkan penentangan dari pihak pihak yang mengatas namakan penggiat HAM.  Kita sepakat bahwa HAM harus diperhitungkan dalam hal apapun termasuk memberikan hukuman, hanya saja pertimbangan lainnya, yakni  terjadinya efek jera, sehingga masyarakat tidak lagi berani melakukan hal serupa juga harus  menjadi pertimbangan pula.

Tuhan sendiri dalam al-Quran sangat jelas menyatakan bahwa  dalam hukuman mati tersebut sesungguhnya ada kehidupan yang lebih baik.  Itu artinya dengan menegakkan hukum melalui hukuman berat dan mati, kehidupan masyarakat akan menjadi lebih baik, karena siapapun yang akan melakukan perbuatan jahat termasuk korupsi, akan berpikir beberapa kali, termasuk akibatnya, yakni akan dikenai hukuman mati, sehingga  mereka tidak akan berani melakukannya.

Dua saran yang menurut para ahli akan dapat menekan praktek korupsi dan sekaligus dapat memberikan keadilan kepada masyarakat tersebut ternyata hingga saat ini belum dilakukan, bahkan putusan putusan pengadilan yang ada  semakin membuat orang tertarik melakukan praktek korupsi.  Kita tentu masih ingat dengan kasus Gayus, Nazaruddin dan Angelina Sondakh yang meskipun telah terbukti melakukan praktek korupsi dan merugikan negara, tetapi hukumannya dianggap terlalu ringan dan mereka masih mempunyai harapan untuk kembali “berjaya” dan dihormati pihak lain.

Coba kalau mulai Gayus yang menilap pajak dan suap  bermilyar milyar tersebut diberikan hukuman pemiskinan dengan disita seluruh hartanya, baik yang didapatkan melalui korupsi maupun harta lainnhya sebagai bentuk hukuman  denda, sehingga dia menjadi miskin dan tidak mempunyaim apa apa, tentu orang akan berpikir dan kemudian tidak akan berani ,elakukan praktek korupsi tersebut.  Tetapi lagi lagi  disebabkan hukuman yang ringan dibandingkan dengan  sejumlah harta yang didapatkannya, tentu orang akan berani melakukan praktek tersebut.

Hal tersebut saat ini terbukti, yakni bahwa korupsi semakin hari bukannya semakin berkurang melainkan justru terus bertambah dan para pelakunya semakin berani.  Lalu kalau sudah seperti ini kita harus bagaimana?.  Contoh kongkrit yang sangat menyakitkan nurai masyarakat ialah keputusan hakim terhadap Angelina sondakh yang terbukti korupsi hingga lebih dari 30 milyar, tetapi jangankan  dimiskinkan, hanya untuk mengembalikan  harta yang dikorupsi saja hakim tidak memerintahkannya melalui putusannya, bahkan malah hanya menghulumnya dengan hukuman penjara yang sangat ringan.

Bahkan semakin tertohok nurani masyarakat ketika praktek korupsi terus terjadi, dan terakhir kemarin itu seorang wakil ketua pengadilan ternhyata melakukannya di kantornya sendiri.  Apa dunia ini sudah sedemikian edan dan rusak,  sehingga saran apapun yang baik dan menginginkan kebaikan selalu mental dan ditentang dengan alasan yang sama sekali tidak populer, tetapi selalu menang.  Lalu kita ini harus bagaimana?.

Mari kita  berdoa kepada Allah swt agar kita diberikan kekuatan untuk menahan diri  dan sabar dalam menghadapi situasi seperti ini.  Semua kita serahklan kepada Tuhan karena kita sudah tidak bisa berbuat apa apa.  Artinya pertanyaan  kita ini harus bagaimana? Tetap kita jawab kita harus terus berdoa dan berusaha sesuai dengan kemampuan yang ada  pada diri kita.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.