AL-NISA’

Al-Nisa’ merupakan salah satu surat dalam al-Quran yang cukup panjang, dan bahkan terpanjang setelah al-Baqarah.  Penamaan surat ini dengan al-Nisa’ yang berarti perempuan atau wanita, disebabkan dalam surat ini banyak dibahas mengenai persoalan yang berhubungan dengan perempuan.  Memang ada surat lain yang banyak membicarakan perempuan, yakni surat al-Thalaq, namun dibandingkan dengan surat ini masih  lebih banyak.  Tentu bukan itu satu satunya alas an karena  disamping memang dalam kenyataannya surat ini banyak mengupas persoalan perempuan dari berbagai aspeknya, juga dimaksudkan bahwa  perempuan biasanya hanya dijadikan  pelengkap saja.  Nah, dengan mengangkat perempuan sebagai salah satu nama di dalam surat al-Quran, tentu ada maksud untuk mengangkat derajat mereka, yang sama sama  hamba Tuhan dan mempunyai  kesempatan yang sama untuk mendapatkan  kemuliaan di mata Tuhan.

Surat ini  secara umum ayat ayatnya diturunkan di Madinah, sehingga disebut sebagai surat Madaniyah.  Meskipun  persoalan perempuan banyak dibahas di dalam surat ini, namun bukan berarti persoalan lainnya tidak disebutkan.  Masih banyak hal yang menjadi focus dalam surat ini, termasuk juga kisah megenai Nabi Musa dan umatnya serta  berbagai sifat yang melekat kepada banyak pihak.  Demikian pula aspek hokum juga tidak ditinggalkan sama sekali, sehingga  dapat dikatakan bahwa surat ini dan juga surat surat lainnya selalu akan memunculkan berbagai persoalan dengan maksud agar umat yang membacanya selalu ingat dan  menjadikannya sebagai sebuah pedoman.

Memang surat ini banyak menceritakan seputar hokum keluarga yang berkaitan dengan persoalan pernikahan, perceraian, wasiat dan lainnya.  Persoalan poligami juga dibahas  dalam surat ini, meskipun penafsirannya kemudian menjadi bervariasi.  Kandungan surat ini hanya menjelaskan tentang  kemungkinan seorang laki laki dapat berpoligami dengan lebih mengedepankan persoalan  keadilan, baik dalam hal harta maupun persoalan lainnya.  Hamun ada yang menekankan  persoalan kebolehannya da nada yang lebih menitik beratkan kepada persoalan persyaratan.

Mengenai persoalan perkawinan, surat ini memberitahukan kepada kita bahwa ada beberapa perempuan yang tidak boleh dinikahi da nada perempuan yang boleh dinikahi.  Semua itu dimaksudkan untuk tetap menjaga kehormatan dan martabat manusia  itu sendiri. Kemudian  mengenai hubungan  siantara keluarga juga menjadi persoalan yang disinggung dalam surat ini.  Dalam hubungannya dengan  pergaulan secara umum maupun secara khusus, surat ini juga menjelaskan beberapa hal termasuk tentang perbuatan keji yang dilarang serta berbagai hal yang dapat merusak hubungan diantara umat manusia.

Secara lebih khusus surat ini memang mengupas lebih banyak mengenai  pergaulan  dalam keluarga, termasuk  kalau sekiranya ada perempuan yang melakukan nusyuz dan sejenisnya, dan bagaimana sikap dan tindakan yang sepatutnya dilakukan.  Surat ini secara lebih rinci memang  mengatur bagaimana seseorang harus memberikan shadaq atau maskawin pada saat melangsungkan pernikahan, bagaimana  kehidupan rumah tangga dan siapa yang bertanggung jawab sebagai pimpinan dalam  bahtera rumah tangga.  Semua itu dimaksudkan agar dapat terbentuk sebuah mahligai rumah tangga yang kuat dan harmonis, karena hal tersebut akan menjadi fondasi bagi masyarakat yang kuat dan harmonis juga.

Tentu persoalan tersebut tidak dapat lepas dari persoalan waris dan keadilan.  Artinya  persoalan ini memang sangat krusial dan pada saat ini  menjadi persoalan yang seolah di”gugat” sebagian orang Indonesai,  yang dianggap kurang mencerminkan rasa keadilan.  Persoalan waris yang menghendaki satu banding dua untuk  permpuan dan laki laki untuk saat ini dan di sini dianggap tidak lagi adil, sehingga beberapa waktu lau memang ada usaha untuk mereaktualisasi hokum Islam, khususnya bidang waris, sehingga tidak akan tampak ketidak adilannya.

Memang kemudian muncul pendapat mengenai tafsiran satu banding dua tersebut, ada sebagiannya yang memaknai secara apa adanya sehingga memang ya harus seperti itu, tetapi ada juga yang memandangnya sebagai ambang batas, sehingga diperbolehkan tidak mengikuti  maksimalnya, dan disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya.  Namun demikian ada juga yang memaknainya sebagai sesuatu yang akan terasa adil bilamana  ketentuan tersebut diberlakukan dalam sebuah masyarakat yang mengikuti prinsip prinsip al-Quran.

Artinya kalau prinsip al-Quran, seperti laki laki itu merupakan  kepala keluarga yang bertanggung jawab atas nafkah keluarganya, baik yang dlaruriyat, hajiyat maupun yang tahsiniyat, kemudian dia juga  masih harus memberikan  mas kawin kepada isterinya pada saat menikah dan lainnya.  Sementara bagi perempuan  disamping akan mendapatkan mas kawin yang akan menjadi haknya secara pribadi, juga nafkah dan kebutuhannya  akan dicukupi oleh laki laki atau suaminya, sehingga dengan kondisi seperti itu pembagian waris satu banding dua  akan sangat terasa adil.

Dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat secara umum, surat ini  telah mengingatkan kepada kita semua bahwa asal kejadian manusia itu satu, sehingga seharusnya manusia  tetap memelihara persudaraan dengan sesamanya dan tidak membuka peluang untuk bermusuhan.  Karena itu mereka yang lemah harus ditolong dan disantuni seperti  para anak yatim, mereka yang miskin dan sejenisnya, bukannya malah dimanfaatkan untuk kesenangannya sendiri atau mengeksploitasinya.  Demikian juga  kita dilarang untuk mendapatkan harta atau rizki dengan cara yang tidak benar atau batil, karena kalau hal tersebut dilakukan, disamping nilai persaudaraan akan hilang, juga kita akan mendapatkan kesengsaraan di akhirat nanti.

Secara umum untuk  menyelaraskan kehidupan di dunia diperlukan  pengertian dan pemenuhan hak dan kewajiban oleh seluruh masyarakat, karena itulah surat ini menekankan betapa pentingnya  memnuhi kewajiban tersebut.  Jangan sampai hanya hak saja yang di inginkan tanpa mau menjalankan kewajiban. Disamping itu dalam kaitannya dengan dunia  hokum, surat ini juga menakankan betapa pentingnya menegakkan hokum dengan  melakukan  peradilan yang  manusiawi dan tidak berat sebelah.

Dalam kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara surat ini juga menekankan  tentang bagimana seharusnya  mengelola pemerintahan  dan Negara yang baik.  Dasar dasar pemerintahan yang ditunjukkan di sini tentu akan  sangat tepat manakala diterjemahkan ke dalam  dataran riil dan kemudian menghiasi perjalana  mengelola bangsa dan Negara.  Dalam kaitannya dengan hal tersebut surat ini juga menekankan betapa pentingnya siap siaga dalam menghhadapi setiap ancaman, termasuk ancaman musuh yang tampak jelas meupun yang berada dalam selimut.  Dengan kata lain siaga dan waspada harus selalu dilakukan untuk  menangkal berbagai kemungkinan yang akan dapat mengganggu atau merusak suasana kondusif yang ada.

Kita juga diingatkan  bahwa dalam setiap perjalan hidup itu selalu aka nada pihak yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan berbagai kecurangan.  Dalam hal ini sebagai contoh konkritnya adalam kaum munafiq, baik dalam kondisi damai maupun genting atau peperangan sekalipun, mereka akan selalu melakukan hal hal yang dapat meruigikan kita secara umum,  karena itu waspada kepada keberadaan mereka mutlak diperlukan.

Sebagai pelengkap surat ini juga menyuguhkan kisah umat bani Israil sebagai umat nabi Musa yang selalu saja membuat masalah.  Memang ada  sebagian umat beliau yang taat, namun kebanyakan mereka itu selalu  tidak puas dengan apa yang ada dan melakukan perbuatan yang sangat meresahkan, bahkan termasuk harus memerangi pemimpin mereka atau membunuhnya.

Dengan membaca dan mengkaji  kandungan surat ini tentu kita akan mendapatkan pengetahuan yang luas  dan sekaligus akan dapat memrankan diri kita sebagai manusia yang baik, terutama bila kita mengikuti arahan dan ketentuan yang dicanangkan.  Khusus dalam  hal kerumah tanggaan, hubungan antara suami isteri dan penyelesaian persoalan yang timbul diantara mereka serta berbagai hal lainnya,  akan sangat membatu kita dalam membangun mahligai rumah tangga yang ideal dan harmonis.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.