KERUSAKAN AKHLAK SUDAH PARAH

Barangkali himbauan dan ajakan banyak kalangan untuk  mengedepankan pendidikan karakter bagi bangsa ini, terutama melalui pendidikan, sudah cukup bagus, meskipun sangat mungkin latar belakangnya bukan sesuatu yang sangat parah, melainkan hanya sebuah kekhawatiran saja dengan melihat banyaknya  tawuran dan kemaksiatan di beberapa wilayah di pelosok tanah air.  Memang berbagai kejadian tersebut sudah cukup meresahkan dan membuat was was kita semua, terutama  untuk kelangsungan generasi mendatang.  Tetapi dengan kejadian yang semakin membuat kita miris, maka penyadaran umat bukan sekedar cukup dengan sebuah himbauan dan ajakan, melainkan haqrus dilakukan usaha nyata.

Ungkapan pepatah lama yang menyatakan bahwa sekejam kejam dan sebuas buasnya harimau maka ia tidak akan melakukan  atau memangsa anaknya sendiri, tetapi umat manusia yang diberikan akal oleh Tuhan dan diciptakan sebagai makhluk yang paling mulia, justru dapat melakukan perbuatan yang tidak dilakukan oleh seekor binatang sekalipun.  Sungguh kerusakan pada diri manusia saat ini sudah sangat parah dan sangat pantas manakala  Tuhan kemudian menurunkan adzab-Nya.  Untuk itu kita harus segera melakukan pertaubatan secara menyeluruh dan sekaligus berkomitmen untuk memperbaiki kondisi, sehingga Tuhan tidak akan  menurunkan adzab kepada kita.

Kalau kejahatan mencuri, menjambret, menodong dan merampok, kiranya sudah sangat terbiasa dilakukan oleh manusia, walaupun hal tersebut dengan jelas dilarang dan akan menimbulkan kerusakan dan ketidak harmonisan.  Kalaupun seseorang membunuh misalnya, juga  sudah kita dengarkan semenjak zaman dahulu, yakni semenjak zamannya nabi Adam dimana anak beliau Qabil telah membunuh saudaranya Habil.  Namun saat manusia kemudian  membunuh, lalu memotog motong tubuh mayat yang sudah tidak bernyawa tersebut untuk kemudian dibuang secara  berceceran di beberapa tempat, tentu membuat nurani kita menjerit.

Sungguh sadis nian orang tersebut, apakah ia benar benar masih manusia ataukah sudah berubah menjadi iblis yang berbentuk manusia.  Kalau kemanusiaannya masih melekat dalam dirinya, tentu untuk membunuh saudaranya saja  sudah akan terjadi pertempuran dalam jiwanya, lalu ketika sudah terjadi pembunuhan, tentu akan  ada sebuah penyesalan yang mendalam dan kemudian insyaf untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan dan juga dari pihak pihak yang dirugikan atau dirampas kemerdekaannya.  Namun dengan kenyataan yang kita semua  ketahui bahwa justru pelaku mutilasi tersebut ternyata  justru seolah sangat menikmati apa yang dilakukannya, ini sungguh kejadian yang luar biasa biadab.

Demikian juga ketika kita mendengar ada pemerkosaan, atau perzinaan dengan ancaman, kiranya  sudah terlalu lama kita mengetahuinya, meskipun hal tersebut sesungguhnya  sangat menyakitkan kita semua dan membuat khawatir, terutama bagi mereka yang mempunyai akan atau anggota keluarga yang perempuan.  Namun ketika kita mengetahui ada seorang ayah yang tega memperkosa anaknya sendiri hingga berkali kali  dalam sebuah ancaman, tentu kita tidak bisa mengerti, bagaimana orang tersebut benar benar waras atau tidak.

Sebagai orang tua yang seharusnya melindungi anak anaknya dari segala macam ancaman ataupun gangguan, ternyata malah memanfaatkan kesempatan yang ada untuk melakukan kejahatan yang sangat luar biasa dan kepada anaknya sendiri.  Ini sungguh merupakan kejahatan yang tidak dapat “diampuni” dan pelakunya harus mendapatkan ganjaran yang sangat berat, bahkan kalau mungkin dihukum mati atau penjara seumur hidup.

Tentu dalam persoalan ini kita tidak relevan lagi mempertimbangkan persoalan hak hak azasi manusia yang biasanya selalu dimunculkan untuk tidak memberikan hukuman mati atau berat bagi pelaku kejahatan.  Artinya terkadang kita tidak mempertimbangkan berbagai aspek yang melatar belakangi sebuah kejadian, dan hanya melihat satu sisi saja, yakni aspek  HAM, sehingga  terkadang ada pihak yang ngotot menentang hukuman yang berat dan hukuman mati, padahal seseorang yang diancam hukuman tersebut sungguh telah merusak dan  melanggar lebih dari hanya sekedar HAM.

Saat ini berbagai kejahatan luar biasa memang sudah menjadi sesuatu yang dianggap biasa oleh sebagian masyarakat, padahal kejahatan tersebut sungguh telah membuat kerusakan yang sangat parah dan mempengaruhi sendi kehidupan masyarakat secara umum.  Seharusnya kejahatan seperti itu memang harus diberikan hukuman maksimal, yakni hukuman mati atau minimal seumur hidup.  Beberapa kejahaan luar biasa tersebut antara lain:

  1. Pembunuhan sadis dengan perencanaan yang matang ataupun dengan melakukan mutilasi atau sejenisnya.  Termasuk dalam kategori ini ialah  bilamana ada seorang perempuan sendiri atau bersama  laki laki yang membunuh bayi  hasil perselingkuhannya.  Dalam kasus seperti ini seharusnya pelaku diberikan hukuman maksimal, yakni hukuman mati ataupun penjara seumur hidup. Kalau mereka itu hanya diberikan hukuman beberapa tahun saja, dikhawatirkan  persoalan pembunuhan seperti ini justru tidak akan selesai, malahan akan bertambah kuantitasnya.
  2. Pemerkosaan yang disertai ancaman, baik oleh satu orang maupun oleh rombongan secara beramai ramai.  Persoalan pemerkosaan saat ini seolah menjadi  hal yang diangap biasa, karena tidak adanya hukuman maksimal tersebut.  Bahkan  kasus seperti ini pada waktu yang lalu hanya diberikan hukuman beberapa tahun saja, sehingga  setelah yang bersangkutan keluar, justru malah mengulanginya lagi, serta pihak lainpun  kemudian juga tertarik untuk mencobanya.  Salah satu solusi yang kita anggap manjur ialah dengan memberikan hukuman mati bagi pemerkosa seperti itu atau hukuman seumur hidup.
  3. Korupsi, baik yang dilakukan secara sendiri maupun secara berjamaah.  Kejahatan ini sesungguhnya sudah dianggap sebagai kejahatan luar biasa dan hukumannya  cukup berat, tetapi menurut saya, hukuman riilnya  masih sangat rendah dan tidak sebanding dengan kejahatan yang dilakukan.  Baqhkan seringkali hasil kejahatan yang telah diketahui pun tidak termasuk  yang harus dikembalikan kepada negara.  Akibatnya sudah sangat jelas bahwa pelaku kejahatan korupsi tidak ada yang menjadi jera, bahkan  masih sangat bangga dengan keberadaannya.  Hal tersebut tentu justru akan menarik hati pada pihak pihak tertentu untuk melakukannya.  Dan diyakni bahwa kalau masih seperti ini, maka kejahatan jenis ini tidak akan mungkin diberantas di negara kita,  bahkan yang terjadi ialah sebaliknya, yakni semakin marak terjadi di berbagai daerah dan instansi.
  4. Narkoba, terutama para pengedarnya.  Bukan berarti mereka yang mengkonsumsi tidak harus dihukum berat, tetapi yang harus dihukum maksimal, yakni hukuman mati atau seumur hidup ialah mereka yang menjadi biang keladi kejahatan ini.  Mereka yang memproduksi narkoba dan sekaligus menyebarkan tentu hanya memikirkan keuntungan pribadi semata dan sama sekali tidak memikirkan akibat yang akan ditimbulkan oleh kerjaan mereka.  Generasi yang teler dan rusak pikirannya, tentu akan merupakan kerugian sangat besar bagi sebuah bangsa, karena itu sudah sepatutnya kalau mereka itu harus mendapatkan ganjaran yang setimpal agar ada aspek jera, baik bagi mereka yang telah melakukan kejahatan tersebut maupun mereka yang akan melakukannya.

Itlah beberapa jenis kejahatan yang sanagt mengusik nurani kita dan  mengancam kelangsungan  kehidupan masyarakat kita.  Dengan kenyataan tersebut, kita  harus berani mengatakan bahwa  persoalan akhlak bangsa saat ini sesungguhnya sudah sangat parah, dan harus segera dilakukan upaya nyata untuk menyelamatkan bangsa ini dari kemungkinan  terburuk yang bakal terjadi.  Salah satu caranya ialah ko sistensi aparat penegak hukum untuk memberikan aspek jera kepada para pelaku kejahatan tersebut, yakni dengan memberikan hukuman maksimal.  Barangkali cara tersebut tidak akan dapat melenyapkan kejahatan, namun diyakini bahwa dengan cara itu  akan dapat mengurangi dan meminimalisasi kejahatan yang ada.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.