KEMULYAAN DAN KEHINAAN MANUSIA

Tuhan menjadikan manusia sebagai sebaik baik makhluk ciptaan-Nya, termasuk bila dibandingkan dengan malaiakat sekalipun.  Tuhan sendiri telah menyatakan yang demikian, yakni bani Adam atau umat manusia ini memang telah dimuliakan oleh Allah dan juga dilengkapi dengan akal yang dapat membedakan antara yang baik dan buruk.  Namun demikian manusia juga sekaligus diberikan nafsu yang mempunyai dua kecenderungan, yakni kecenderungan kepada hal yang baik dan mkenenangkan serta kecenderungan kepada hal jelek dan menyengsarakan.  Kelengkapan itulah yang membedakan manusia dengan seluruh makhluk Tuhan lainnya.

Makhluk Tuhan yang bernama malaikt itu sama sekali tidak diberi nafsu, sehingga  mereka hanya me nuruti apapun yang dititahkan dan diperintahkan oleh Tuhan,  sedangkan makhluk Tuhan lainnya seperti hewan misalnya, mereka hanya diberikan nafsu saja dan tidak diberi akal, sehingga mereka sama sekali tidak akan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jelek, dan bahkan mereka sama sekali tidak mengenal malu dan akhlak.

Manusialah yang  diberi anugrah kesempurnaan berupa nafsu dan sekaligus akal pikiran.  Akala pikiran dibewrikan  tentu  dengan konsekwensi dan pertaqnggung jawaban yang dibebankan kepada manusia tersebut.  Artinya, karena manusia itu diberikan kemampuan untuk memilih dan memilah antara yang baik dan jelek, maka manusia kemudian diberikan tanggung jawab dan sekaligus beban  sebelum memasuki gerbang akhirat.  Manusia diberikan pilihan untuk memilih dan melakukan sesuatu yang baik dan menjuhkan diri dari sesuatu yang jelek dengan  akibat akibat yang akan dijalani atas piliihan tersebut.

Disamping itu Tuhan juga tidak begitu saja membiarkan manusia  dengan akal pikirannya, melainkan Tuhan juga mengirim utusan untuk menjelaskan kepada manusia mana yang baik dan diijinkan oleh Tuhan untuk dilakukan dengan akibat nantinya akan  mendapatkan kebahagiaan yang abadi di akhirat, dan juga  menjelaskan  mana yang jelek dan dilarang oleh Tuhan dengan akibat bila diterjang akan mendapatkan kesengsaraan di akhirat.  Nah,  dengan begitu manusia  sesungguhnya  telah diberikan kemudahan dan tinggal memperguanakan akalnya untuk memilih sesuatu dengan konsekwensi akan mendapatkan balasan sesuai dengan pilihannya tersebut.

Namun demikian manusia memang  diberikan ujian sekaligus oleh Tuhan yakni dengan diberikannya nafsu sebagaimana tersebut.  Hanya saja  kalau memang menudia benar benar mempergunakan akalnya dengan bijak, maka ia sesungguhnya akan dapat mengarahkan nafsunya tersebut untuk hal hal yang menyejukkan dan memberikan ketenangan, dan sebaliknya kalau manusia membiarkan nafsunya menguasai keinginan demi keinginannya, maka akal pikirannyapun akan dapat dikalahkan.  Dan akibatnya sudah dapat diterka, bahwa manusia tersebut justru akan melakukan sesuatu yang jelek tanpa menghiraukan akibatnya di akhirat nanti.

Dalam bahasa yang lain Tuhan sangat jelas menyatakan bahwa manusia itu  telah diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk terbaik, hanya saja kemudian Tuhan juga mengingatkan bahwa meskipun awaqlnya  manusia dijadikan sebagai makhluk terbaik, bisa saja ia kemudian berubah menjadi makhluk yang paling rendah dan hina.  Semua tergantung kepada perjalanan hidup dan pilihan manusia atas  semua yang diberikan dan disampaikan oleh Rasul kepada mereka.  Artinya  kalau manusia  mau mengikuti dan mentaati apa yang disampaikan oleh Rasul yakni pertama mau percaya secara penuh kepada Allah dan juga Rasul dengan segala yang disampaikannya, kemudian juga perilakunya  baik  dengan mengikuti  ajaran yang disampaikan oleh Tuhan serta  berakibat baik pula bagi manusia dan makhluk Tuhan lainnya, maka manusia tersebut tentu masih akan tetap berada dalam kedudukannya sebaqgai makhluk terbaik.

Tetapi sebaliknya kalau manusia kemudian  justru melakukan hal yang bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh Tuhan, baik melalui al-Quran maupunmelalui sunnah Nabi-Nya,  yakni  tidak mau mempercayai semua yang dibawa oleh Rasul dan bahkan malah menentangnya,serta perbuatannya selalu merugikan  dan menyengsarakan pihak lain, maka ia tentu akan  berubah menjadi makhluk yang paling hina di mata Tuhan.  Akibat selanjutnya, sudah barang pasti nantinya ia akan menguhuni dasar neraka sebagaiamana yang dijanjikan oleh Tuhan.

Jadi pada dasarnya manusia itu mulia dan bermartabat, namun perjalanan hidupnyalah yang akan mengubah dirinya menjadi jahat atau tetap dalam kondisi  semula hingga akhir hayatnya.  Sehingga  kemuliaan manusia itu  sesungguhnya bukan ada pada  kedudukan, harta atau label keduniaan lainnya, melainkan ada pada sikap dan pilihan hidupnya, yakni pertama  mempercayai secara penuh apapun yang disampaiakan oleh Nabi dan sekaligus mengikuti dan mengerjakan secara tulus apapun yang diperintahkan dan menjauhkan diri dari semua yang jelek dan dilarang. 

Dengan demikian dalam bahasa agama sebenarkan kemuliaan seseorang itu terletak pada ketaqwaannya, bukan terletak pada status sosial, jabatan ataupun hartanya.  Realisasi taqwa tersebut tentu seperti yang dikehendaki oleh ajaran Islam, yakni mengikuti dan menjalankan seluruh perintah dan sekaligus dalam waktu yang bersamaan menjauh dan meninggalkan semua yang dilarang, baik oleh agama maupun oleh aturan yang berlaku di masyarakat ataupun di negera dimana ia berada.

Meskipun secara duniawi seseorang itu kekurangan dalam hal ekonomi, tetapi tetap dapat menjaga martabatnya sebagai manusia beriman dan menjaga dirinya untuk tidak menghinakan dirinya, maka manusia tersebut sangat mulia di mata Tuhan.  Sebaliknya meskipun seorang manusia dikaruniai banyak harta oleh Tuhan atau diberikan kesempatan untuk menduduki jabatan strategis di dunia ini, namun kalau sikap dan kelakuannya sangat tidak terpuji dan bahkan meninggalkan kewajiban sebagai seorang umat mkanusia  terhadap Tuhannya, maka orang tersebut sangat hina di mata Tuhan.

Nah dengan demikian sebagai manusia yang percaya bahwa hidup ini tidak hanya di dunia saja melainkan jusyru yang abadi itu nanti di akhirat, kita sudah seharusnya dapat memperguanakan akal pikiran kita yang dianugrahkan oleh Tuhan kepada kita dengan sebaik baik baiknya.  Artinya  dalam mengambil keputusan penting menyangkut masa depan dan kepentingan  kita sendiri untuk  kehidupan yang abadi, kita harus melakukannya dengan mempertimbangkan berbagai hal, sehingga  keputusan tersebut memang benar benar akurat dan memberikan keuntungan yang besar  bagi kita sendiri.

Atas dasar  kenyataan tersebut kita seharusnya dapat melakukan upaya upaya yang memungkinkan kita menjadi orang yang selamat, dan berhagia, baik saat kita menjalani kehidupan di dunia ini maupun nanti pada saat berada di akhirat.  Pertimbangan akal pikiran seharusnya selalu mengemuka dalam  setiap langkah dan keputusan kita, sehingga kita  akan dapat terus berada dalam bimbingan  akal untuk terus melakukan upaya dalam merajut kebahagiaan di dua dunia tersebut.

Harta yang kita miliki tentunya bukan untuk kita sendiri melainkan juga untuk kepentingan pihak lain juga melalui jalan sedekah dan sejenisnya.  Akal pikiran kita tentu akan selalu membimbing kita untuk mudah dan ringat dalam membantu pihak lain, tetapi kalau akal tidak kita pergunakan dan bahkan  semua tindakan kita selalu dikendalikan oleh nafsu, maka apa yang kita lakukan tentu  bertolak belakang dengan keinginan kita untuk hidup bahagia sebagaimana kita cita citakan.  Nafsu tentu akan terus menyetir kita untuk  melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kelayakan, sehingga  akan berat untuk memebantu pihak lain misalnya.

Demikian pula sebagai manusia yang beriman tentu kita tidak mungkin membiarkan diri kita terus berada dalam tekanan nafsu yang hanya ingin menyesatkan.  Kewajiban menjalankan kewajiban, baik secara individu maupun secara sosial, harus tetap terus diupayakan dan dilaksanakan, meskipun nafsu akan terus  menghoda kepada kita.  Kita memang harus  berperang melawan nafsu yang cenderung mengajak kepada  hal hal hina dan menyengsarakan, karena hanya dengan cara sepeprti itulah kita akan tetap menjadi makhluk Tuhan yang mulia dan bermartabat, baik di dunia maupun di akhirat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.