MEMELIHARA DIRI DARI GODAAN

Setiap orang yang  mendapatkan kepercayaan umat dan mendapatkan amanah untuk menjalankan tugas, tentu tidak akan lepas dari cobaan, baik yang ringan maupun yang cukup berat.  Hanya mereka yang tabah dan  kuatlah yang akan dapaat memepertahankan diri untuk tidak terpengaruh pada godaan tersebut.  Ibarat pohon, semakin tinggi pohon tersebut akan sangat kuat angin yang menerpanya, dan kalau dahannya rapuh, akan sangat mudah patah, tetapi kalau pohon tersebut kuat dan dahannya juga kuat, maka  angin yang besar sekalipun tidak akan mampu merobohkannya.

Artinya  siapapun yang mendapatkan kepercayaan umat untuk mengemban tugas sebagai pemimpin dalam bidang apapun, tentu akan medapatkan cobaan untuk tidak berlaku adil dan bijak serta melanggar aturan atau menyeleweng.  Nah, kalau niatnya tidak kuat ataupun imannya tidak kokoh, akan sangat mungkin terseret pada godaan tersebut.  Mungkin awalnya hanya sebatas pelanggaran kecil terhadap aturan yang ada, namun lama kelamaan akan  menjadikannya  terbiasa dan bahkan tidak akan dapat menghindar dari  pelanggaran tersebut.  Tetapi kalaupun godaan tersebut sangat dahsyat menghantamnya, namun imannya kuat serta tekadnya untuk melakukan kebenaran dan kebaikan serta kejujuran  sangat kuat, godaan tersebut hanya akan berlalu begitu saja.

Godaan tersebut ternyata tidak saja  dapat menyeret orang orang yang  secara lahir lemah, melainkan dapat pula memerosokkan mereka yang secara lahir sangat kuat dan bahkan berpendidikan tinggi.  Karena memang benar  bahwa cobaan itu tidak hanya berupa kekurangan harta saja, melainkan juga  berlimpahnya harta.  Artinya orang yang kekurangan harta atau merasa kekurangan padahal sudah berlimpah harta, sangat mungkin dan mudah tergoda  melakukan pelanggaran terhadap aturan yang ada.  Mereka yang melakukan praktek korupsi dengan melanggar aturan, disebabkan  adanya rasa kurang puas terhadap terhadap harta yang sudah dimiliki.

Mereka merasa kurang  karena tidak pandai mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadanya.  Mereka masih melihat ada pihak lain yang lebih kaya dari dirinya, sehingga  kehidupannya selalu kurang dan “ngrangsang”.  Akibatnya mereka  berani melakukan pelanggaran dan penyelewengan terhadap aturan yang ada.  Mereka mengira bahwa apa yang dilakukan tersebut merupakan sesuatu yang lazim dan sebuah “kreatifitas” dalam memainkan aturan. Mereka lupa bahwa apa yang dipraktekkan tersebut merupakan awal dari sebuah  kehancuran yang lebih besar.  Hanya saja  mereka kurang cermat dalam menyikapinya.

Demikian juga godaan dapat berupa perselingkuha dengan pihak lain.  Anugrah Tuhan yang diberikan kepadanya bukannya dijadikan sarana untuk menambah kualitas kasih sayang  dengan sleuruh keluarganya, melainkan justru dijadikan alat untuk memuaskan nafsunya.  Ada dua bentuk perselingkuhan tersebut, yakni ada yang  melandasinya dengan dasar agama yang dianggapnya melegalkan perselingkuhan tersebut, yaitu dengan melakukan kawin sirri, meskipun aturannya jelas, khususnya bagi mereka yang PNS.  Sedangkan yang kedua dengan bersembunyi sembunyi, yakni menyimpan selingkuhan, baik dengan hanya sama sama suka saja maupun yang benar benar dijadikan simpanan dan diberikan berbagai fasilitas yang dibutuhkan.

Kita tentu tahu bahwa keberuntungan atau anugrah Tuhan tersebut merupakan sebuah ujian dan tidak selamanya akan seperti itu, untuk itu ketika tuntutan semakin banyak dan anugrah Tuhan tersebut semakin tidak mencukupi tuntutannya, maka  mulailah ia tergiur melakukan sesuatu yang nyerempet bahaya, dan pada saatnya benar benar melakukan hal hal tercela dan dilarang oleh eturan yang berlaku.

Alhasil penyesalan tidaklah akan menyelesaikan persoalan, karena semuanya telah terjadi dan proses hukum akan tetap dilaksanakan.  Karena itu kesadaran yang tinggi terhadap kehidupan ini memang dibutuhkan oleh semua orang.  Artinya kecermatan dan pengendalian diri untuk tetap berada dalam koridor ketentuan, baik dalam ajaran agama maupun dalam peraturan perundangan yang berlaku, menjadi mutlak dilakukan.  Kalau kita sudah sangat menyadari bahwa hidup ini ujian, termasuk harta dan kemiskinan, maka seharusnya kita selalu mengutamakan  kesyukuran diri kepada Tuhan atas segala yang diberikan kepada kita.

Kalau toh ada harta yang berlebih dari kebutuhan pokok, maka akan sangat terpuji manakala digunakan untuk kebaikan, baik yang berkaitan dengan diri sendiri dan keluarga maupun yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak.  Inilah hidup sehat dan dilandasi dengan keimanan yang benar.  Keluarga muslim seharusnya selalu melihat kepada bagaimana  keteladanan yang dicontohkan oleh Rasul Muhammad saw, terutama dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat.

Kita terkadang menjadi sangat tidak dapat mengerti, bagaimana  seorang yang dapat digolongkan sebagai kaum intelektual, tetapi ternyata dapat tergelincir kepada godaan yang sangat remeh, semisal selingkuh dan kemudian bahkan terseret dalam melakukan praktek penipuan.  Memang kalau seseorang sudah terseret kepada persoalan kemaksiatan dan kebohongan, tentu ytidak akan dapat dengan mudah melepaskannya begitu saja, karena rentetan  perselingkuhan dan kebohongan tersebut akan ada  efek  domino yang sulit dihentikan.

Banyak contoh yang saat ini sudah menjadi kenyataan dan tidak dapat dicabut dari akar persoalan.  Sebagian diantara mereka tergoda melakukan penyelewengan dengan memperkaya diri sendiri melalui cara cara yang tidak terpuji, meskipun sangat mungkin awalnya dikira akan tidak ada masalah.  Misalnya dengan memotong sebagian bantuan yang diberikan kepada pihak pihak pihak tertentu, bahkan termasuk bantuan yang diperuntukkan bagi  rumah rumah ibadah sekalipun.  Bentuk seperti ini ternyata sudah mewabah sangat luas dan menggurita.

Celakanya  masyarakat kemudian juga seolah tidak mengerti atau bahkan dipaksa untuk tidak mengerti.  Artinya kalau mau bantuan untuk madrasah, sekolah, masjid, mushalla, perbaikan jalan dan lainnya, harus mau bekerjasama, yakni dengan membuat SPJ atau surat pertanggung jawaban yang tidak sama dengan uang yang diterima, semisal dipotoing 10% dari bantuan.  Bahkan seringkali juga disertai semacam “ancaman”, kalau tidak mau ya sudah tidak akan mendapatkannya, sebab masih banyak pihak yang mau menerima dengan persyaratan seperti itu.

Aneh bin ajaib bahwa yang melakukan sepeprti itu bukannya orang yang tidak mengerti atau buta hukum, melainkan justru mereka yang menjadi pimpinan yang seharusnya  menjadi teladan dan penggerak bagi dilaksanakannya proyek dengan baik dan menjauhkan diri dari praktek seperti itu.  Mungkin  praktek seperti itu sudah sangat lama terjadi, dan masyarakat tidak peduli serta hanya mengikuti saja apa yang dimaui pihak pihka tertentu ttersebut dengan dalih untuk keperluan administrasi dan lainnya.

Kondisi seperti itu memang kita akui sebagai hal yang dianggap lumrah oleh mereka yang sudah terbiasa mempraktekkannya, bahkan seolah dianggap sebuah konvensi diantara mereka dan masyarakat.  Tetapi sebagai pihak yang masih mempunyai iman dan moral serta mengakui sebagai hamba Allah, swt, tentu kita harus tetap terus berusaha untuk mematikan  dan menghentikan praktek seperti itu.

Nah, barangkali cara yang lebih selamat dan cepat untuk mengatasi persoalan tersebut ialah dengan memulainya dari diri sendiri.  Artinya kalau kita sebagai pemimpin sebuah komunitas apapun bentuknya, apalagi yang berkaitan dengan penyaluran  uang rakyat, kita harus mampu mengendalikan diri dan lingkungan agar tidak ada penyeleweangan.  Tentu keteladanan dan ketegasan serta konsistensi harus tetrus ditunjukkan serta  berusaha sekuat tenaga untuk tetap teguh memegang komitement  untuk menjalankan tugas dan wewenang serta tanggung jawab  sebagaimana yang semestinya.

Tentu harus terus dibarengi  permohonan pertolongan kepada Tuhan  agar tetap diberikan kekuatan dan kekuatan untuk tetap berada dalam koridor kebenaran.  Kita sangat yakin bahwa hanya Sallah lah yang mampu menolong dan menyelamatkan kita dari godaan apapun di dunia ini.  Semoga Tuhan senantiasa menyertai dan mengabulkan permohoanan kita. amin

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.