REDENOMINASI

Sebagai bangsa yang berdaulat dan menginginkan kemajuan dalam berbagai bidang, tentu kita akan sepakat dengan rencana menghilangkan tiga nol dibelakang  rupiah kita, dengan tanpa mengurangi nilainya itu sendiri.  Artinya rencana  menjadikan seribu rupian hanya menjadi satu rupiah tanpa mengurangi nilainya, yang juga disebut sebagai redenominasi.  Tentu kajian terhadap persoalan tersebut sudah final dan  dianggap sangat menguntungkan  kita sebagai bangsa di dunia ini.  Hanya saja yang masih perlu dilakukan segera dan berkesinambungan serta terus menerus ialah persoalan sosialisasi.  Kita tentu tahu beberapa Negara yang mencoba menerapkan  hal ini  menjadi gagal, seperti Brtazil, Zimbahwe dan lainnya, dan kita tidak ingin mengulanginya.

Terlepas dari pertimbangan yang dimunculkan oleh pihak kementerian keuangan bahwa  anak SD diajari tentang hitungan 1+1 = 2, tetapi dalam prakteknya mereka sama sekali tidak pernah mempraktekkannya dalam  persoalan jual beli dengan rupiah.  Saat ini  uang dengan nilai seratus rupiah meskipun masih ada, tetapi sudah tidak ada harganya lagi, dan merekapun tidak  akan dapat berbuat apa apa dengan uang seratus perak tersebut.  Bahkan harga  sepotong kerupuk pun saat ini sudah mencapai lima ratus hingga seribu rupiah.  Namun lebih dari itu semua ialah  nilai rupiah kita dimata internasional seoalh sama sekali tidak ada harganya.

Kita dapat membayangkan bahwa satu dolar Amerika sama dengan Sembilan ribu tujuh ratus rupiah, bahkan satu dollar Singapura saja sudah lebih dari tujuh ribu rupiah.  Sehingga meskipun  gaji dari buruh dan pegawai kita  cukup banyak, tetapi kalau kemudian dikurskan dengan  uang dollar misalnya, sama sekali tidak  ada apa apanya.  Akan lebih bagus jikalau  nilai rupiah kita  sederhana, yakni dengan angka satuan saja tetapi nilainya dimata  internasional menjadi besar.  Karena itu rencana redenominasi tersebut yang akan menyederhanakan seribu menjadi satu rupiah, akan sangat membantu menaikkan nilai rupiah kita.

Ketika  kita  berada di negeri orang, rupiah kita sama sekali tidak dianggap karena terlalu rendah dan bahkan ada beberapa  tempat penukaran uang di negera  lain sama sekali tidak menerima penukaran dari rupiah.  Kita tentu banyak menemukan kasus seperti itu, misalnya ketika kita ke Jepang yang sama sama Negara di Asia, sudah pasti akan kesulitan.  Apalagi kalau kita berada di Negara barat ataupun Amerika.  Hanya bank bank tertentu saja yang menerima penukaran rupiah kita.  Disamping itu nilai tukar rupiah kita juga sangat tidak rasional, karena  lebih dari Sembilan ribu enam ratus, hanya dihargai dengan satu dollar.

Rencana redenominasi tersebut memang sudah  terdengar sejak lama, tetapi pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan rupanya belum siap dengan  itu dan ada rasa ketakutan serta tidak percaya diri dengan kemungkinan  tidak setujunya masyarakat.  Tetapi  saat ini setelah melalui berbagai kajian dan perbandingan yang rasional dan terukur, maka  niat tersebut akan direalisasikan tahun depan.  Tentu kita harus menyambutnya dengan antusias dan berharap rencana tersebut akan berjalan mulus serta tidak  mendapatkan  rintangan yang berat.  Soal kecemasan akan terjadinya  inflasi tentu tidak perlu dikhawatirkan jikalau pemerintah swerius dalam menangani maslah ini.

Kita juga masih ingat bahwa masih  ada pihak pihak yang tidak setuju dengan rencana ini, dengan berbagai alas an, diantaranya ialah belum mendesak, masih ada hal penting yang harus segera diselesaikan oleh kementerian keuangan ketimbang ngurusi redenominasi tersebut.  Bahkan mantan menteri perekonomian Kwik Kian Gie dan juga Rizal Ramli sampai saat ini masih menyarankan agar gagasan melakukan redenominasi tersebut diurungkan saja.   Namun harus diakui bahwa  ketika redenominasi tersebut dapat dilaksanakan dan berhasil mulus, maka aka nada manfaat yang dapat dirasakan, baik sebagai individual maupun sebagai bangsa Indonesai.

Namun yang terpenting dari semua itu ialah memberikan penjelasan kepada masyarakat dengan tepat dan benar, bahwa redenominasi tersebut  tidak akan mengubah nilainya.  Artinya redenominasi tersebut tdak sama dengan sanering yang berdampak penurunan nilainya.  Penjelasan tersebut menjadi sangat penting dan menentukan apakah  rencana  redenominasi rupiah tersebut akan berhasil dan didukung oleh masyarakat ataupun sebaliknya justru akan merugikan  perekonomian kita.

Artinya kalau masyarakat menjadi khawatir bahwa dengan rencana  tersebut akan merugikan mereka dan kemudian mereka tidak lagi mau berinvestasi dengan rupiah dan seluruh uang milik mereka ditukarkan dengan benda semacam emas dan sejenisnya, maka perekonomian kita akan menjadi lumpuh dan itu  tentu tidak kita kehendaki.  Aspek psikologi masyarakat tentu akan berpengaruh sangat kuat dalam praktek di lapangan.  Untuk itu kalau rencana tersebut akan dimulai pada tahun 2014 dan tuntas hingga 2017, maka saat ini merupakan saat yang sangat menentukan untuk sosialisasi etrsebut dan memberikan keyakinan kepada seluruh masyarakat bahwa  redenominasi tersebut akan teidak berpengaruh terhadap nilai rupiah, dan bahkan akan mengangkat nilainya  di mata internasional.

Memang tidak mudah untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat, apa lagi kalau ada  oknum yang sengaja  memperkeruh suasana dengan menakut nakuti masyarakat dan  mengajak mereka untuk menolak rencana tersebut.  Masyarakat  saat ini  sedang dalam  kondisi yang kurang  mempercayai pemerintah secara penuh, sehingga akan sangat mudah  dipengaruhi,  apalagi untuk persoalan yang bagi mereka sama sekali baru dan belum pernah dialami.

Menurut saya pemerintah dalam upaya sosialisasi tersebut harus melibatkan banyak pihak, terutama  para tokoh yang  dipercaya oleh masyarakat secara penuh.  Caranya para tokoh yang diajak untuk melakukan sosialisasi tersebut diberikan semacam training terlebih dahulu sampai benar benar memahami persoalan dan yakin bahwa rencana redenominasi tersebut memang sangat baik dan akan mendorong perbaikan nilai rupiah kita.  Selama  mereka masih mempertanyakan atau belum seratus persen yakin, maka selama itu pula  sosialisasi belum aman untuk dikatakan berhasil.

Kita tentu masih ingat bagaimana sulitnya meyakinkan masyarakat dalam hal  program keluarga berencana.  Bertahun program tersebut direncanakan dan dilakukan, tetapi selalu menemui kegagalan.  Namun setelah pemerintah mengajak serta para tokoh dan ulama  dalam mensosialisasikan  program KB tersebut, maka  sebagaimana kita saksikan program tersebut sangat sukses.  Artinya bahwa  rencana redenominasi tersebut  sangat perlu bantuan para topkoh untuk mensosialisasikan kepada masyarakat umum.  Sosialisasi tersebut harus menyeluruh dan  sampai ke pelosok perdesaan, dan tidak sekedar sudah ada daftar  pelaksanaan sosialisasi saja.

Persoalan ini tidak cukup hanya formalitas telah melakukan sosialisasi, melainkan harus benar benar diyakini bahwa  seluruh masyarakat atau matoritas mereka sudah mengerti dan memahmi bahwa redenominasi tersebut sama sekali tidak akan merugikan meeka dan mempengaruhi asset kepemilikan uang mereka yang ditabung di bank misalnya ataupun kekhawatiran lainnya.  Kita sangat yakin bilamana masyarakat dapat diyakinkan, maka redenominasi tersebut akan lancar dan sukses, tetapi sebaliknya selama sosialisasi tidak berjalan sebagaimana diharapkan, maka rencana tersebut akan menuai kegagalan sebagaimana beberapa Negara lain yang  gagal melakukannya.

Redenominasi memang merupakan hal baru terutama bagi masyarakart kita.  Sebagai barang baru dan berkaitan dengan persoalan uang, tentu diperlukan  sebuah langkah maton dan bijak serta persiapan yang tidak main main.  Persoalan ini akan sangat mudah dijadikan bahan perdebatan dan bola panas oleh kelompok kelompok tertentu.  Ditambah lagi tahun ini bagi bangsa kita merupakan tahun politik, sehingga sangat rawan terhadap permainan politik.  Untuk itu sebagimana  saya sebutkan di atas bahwa sosialisasi merupakan  hal mutlak yang tidak bisa hanya dilakukan sebagai formalitas belaka, melainkan harus benar benar dilaksanakan sampai memahamkan masyarakat.

Kita tentu nantinya akan merasa sangat bangga ketika rupiah kita dapat penghargaan, tidak saja dari masyarakat kita sendiri, melainkan juga dari masyarakat internasional.  Artinya satu rupiah masih ada harganya, bahkan  dapat membeli sesuatu yang bermanfaat bagi kita.  Tidak seperti saat ini satu hingga  ratusan rupiah sama sekali tidak berharga, meskipun hanya sekedar untuk membeli permen atau sepotong kue yang tidak akan memberikan kenyang perut kita.  Kita berdoa semoa rencana tersebut dapat terealisasi dan kita semua dapat merasakannya.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.