WAKTU SHALAT

Bagi orang yang tidak menekuni ilmu falak, persoalan waktu shalat nampaknya kurang mendapatkan perhatian serius, karena untuk melaksanakan shalat cukup dengan  melihat daftar waktu shalat yang sudah tersusun dengan rapi di almanak ataupun waktu shalat yang khusus dicetak untuk itu, atau dengan cukup mendengarkan adzan atau panggilan shalat yang  setiap waktu dikumandangkan oleh para muadzin, baik melalui pengeras suara langsung dari masjid ataupun mushalla yang ada ataupun melalui  suara di televisi, radio dan lainnya.  Namun persoalan waktu shalat bagi mereka yang menekuni bidang ilmu falak, menjadi persoalan tersendiri, bukan dalam persoalan apa apa melainkan hanya soal ketep atan dan keakurasian waktu saja.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pelaksanaan shalat yang diwajibkan oleh Tuhan itu memang ditentukan waktunya.  Al-Quran sendiri menyatakan demikian, meskipun tidak memberikan rinciannya secara detail, hanya menyatakan bahwa shalat itu merupakan sesuatu yang difardlukan atau diwajibakan yang waktunya tertentu.  Sementara itu petunjuk hadis Nabi sangat jelas, meskipun akan sangat sulit manakala dilaksanakan secara manual sebagaimana petunjuk hadits tersebut.  Artinya bahwa  petunjuk waktu shalat yang ada di dalam hadis memerlukan  pengamatan yang terus menerus pada setiap saat.  Tentu hal tersebut akan meyulitkan, belum lagi ketika ada halangan yang sifatnya alamiah, tentu akan menjadi semakin sulit.

 Petunjuk hadis terhadap waktu waktu shalat tersebut sangat berhubungan dan tergantung kepada perjalanan matahari, yakni  waktu dhuhur misalnya dimulai semenjak matahari bergeser sedikit ke arah Barat atau adanya bayangan  disebelah Timur dari sebuah benda yang tegak lurus, dan baru akan berakhir pada saat bayangan matahari tersebut  sudah sama dengan benda yang tegak tersebut.  Sementara waktu Ashar dimulai semenjak habisnya wakru dhuhur hingga  bayangan suatu benda dua kali lipatnya dan  bahkan ada yang memperpanjangnya  hingga  terbenamnya matahari.  Dan saat itulah sudah masuk waktu Maghrib hingga  hilangnya awan merah.  Dan waktu Isyak dimulai sejak berakhirnya waktu Maghrib hingga dua pertiga malam atau bahkan ada yang memperpanjang hingga terbitnya fajar, dan itulah saat dimulainya waktu subuh hingga terbit matahari.

Nah, kalau kita mengikuti petunjuk hadis  sebagaimana tersebut sudah barang pasti kita akan mendapatkan kesulitan tersendiri, karena patokan kondisi alam tersebut akan sangat sulit dilakukan, terutama jikalau pada saat musim penghujan seperti saat ini.  Karena itu  umat Islam kemudian  membuat  pedoman waktu shalat tersebut yang hakekatnya sama dengan ketentuan hadis, tetapi dilakukan tidak secara manual dengan melihat perjalanan matahari tersebut melainkan dengan melakukan kajian dan hitungan yang akurasinya dapat dipertanggung jawabkan, karena telah melalui  serangkaian observasi dan penelitian.

Persoalannya saat ini ialah bagaimana  pedoman yang sudah dibuat oleh para ahli tersebut diterapkan secara konsisten di masyarakat, sebabnya meskipun  jadual shalat sudah dibuat, tetapi umat Islam sendiri terkadang kurang memperhatikan persoalan ini.  Taruhlah saat ini ketika  akan melaksanakan shalat isya’, kebanyakan umat dan masyarakat sudah terbiasa melaksanakannya sekitar jam 7 malam, sehingga kita dapat menyaksikan dan mendengar suara adzan Isya’  setelah jam 7 malam, meskipun untuk ukuran kota Semarang, waktu Isya’ baru dimulai pada jam 7.20.  Padahal kita tahu bahwa diantara syarat sahnya shalat itu ialah telah masuk waktu.

Tentu ini bukan hanyasekedar tugas para ahli ilmu falak saja, melainkan juga merupakan tugas kita semua, sehingga umat tidak akan keliru dalam menjalankan ibadahnya.  Namun sayangnya kepekaan dan kepedulian seperti itu tidak atau kurang dimiliki oleh mereka yang mempunyai umat, termasuk  para dai yang seharusnya  menyampaikan dan memberikan pencerahan kepada umat.  Saya sendiri sudah berupaya mengingatkan melalui orang orang yang mempunyai pengaruh  di masyarakat untuk  disampaikan kepada mereka.  Tujuannya sangat jelas agar ibdah yang mereka lakukan dapat dibenarkan secara syariat, dan yang terpenting mereka tidak memberikan informasi yang salah kepada masyarakat umum melalui adzan yang belum waktunya.

Itulah setidaknya persoalan waktu shalat di masyarakat yang hingga saat ini masih belum diperhatikan secara  serius.  Meskipun  tempat kita berada di wilayah yang relatif stabil waktunya, namun tetaplah ada perubahan yang berkisar setengah jam, karena itu sekali lagi persoalan ini memang harus mendapatkan penanganan serius dari para tokoh dan masyarakat agar masyarakat tidak tersesat dalam  niat baik.  Bahkan bagi mereka yang menekuni bidang ilmu falak sangat dianjurkan agar mau mendarma baktikan dirinya untuk menyusun jadwal shalat tersebut sesuai dengan daerah masing masing, bukan hanya di pusat kota besar dan kemudian untuk daerah lainnya hanya sekedar menyesuaikan.

Bagi mereka yang  menekuni bidang ini  tentu akan dapat melihat dengan jelas perbedaan antara yang dirumuskan tersendiri di setiap daerah melalui kondisi  dan letak yang sesungguhnya daerah tersebut dengan yang hanya diperkirakan saja dengan daerah lainnya.  Perbedaan yang ditemukan terkadang sangat signifikan, sehingga  akan menjadi masalah bilamana hal tersebut dibiarkan terus menerus, sementara saat ini sduah banyak ahli falak yang dapat menghitung waktu shalat tersebut secara tepat dan akurat.

Kita semua tentu sangat berharap bahwa dengan semakin banyaknya orang yang meminati bidang ilmu falak tersebut, seluruh kehidupan umat Islam dalam menjalankan ibadah akan dijamin kebenarannya secara pasti, termasuk mengenai waktu shalat, penetapan arah kiblat, penetapan  awal bulan Qamariyyah dalam kalender Hijriyyah dan lainnya.  Tentu  kalaupun sampai saat ini masih ada perbedaan diantara para ahli, maka perbedaan tersebut tidak menyangkut persoalan yang sangat prinsip dan dapat merugikan umat secara keseluruhan.  Kita tentu sangat berharap bahwa suatu saat seluruh hal yang berkaitan dengan  keahlian ilmu falak tersebut dapat disatukan dan menyatukan umat.

Kita juga menyadari bahwa dalam persoalan keilmuan, perbedaan itu merupakan sebuah keniscayaan, tetapi kalau dalam hal yang berkaitan dengan ibadah, tentu akan lebih bagus manakala dapat disatukan dengan masing masing yang berbeda mau  duduk bersama dan membicarakan  hal tersebut, tentu dengan berbagai  upaya yang serius dan bukan dengan mempertahankan pendapatnya masing masing.   Ilmu bukanlah sekedar untuk kepentingan ilmu semata, melainkan juga  untuk kepentingan ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan, karena itulah himbauan ini  patut dikumandangkan kepada seluruh umat.

Khusus untuk persoalan waktu shalat tersebut sesungguhnya relatif lebih mudah, karena  diantara para ahli tidak terlalu  berbeda dalam menetapkannya.  Memang ada  yang menetapkan waktu shalat secara abadi sepanjang masa, karena kondisi daerah kita di Indonesia yang relatif stabil dengan perbedaan dan pergeseran waktu yang  konstan, sehingga dalam setahunnya selalu akan  relatif sama.  Pergeseran matahari kearah  Utara dan selatan sudah tetap dan diketahui, untuk itulah kemudian waktu shalat juga dapat disusun secara tetap seuai dengan tanggal dan bulannya.

Namun demikian  tentu akan lebih akurat dan nyaman bilamana  waktu shalat tersebut ditetapkan secara  tersendiri setiap tahunnya dan juga mengingat letak dan tempat dimana waktu shalat tersebut disusun, bukan hanya sekedar menyesuaikan saja dengan daerah yang sudah disusun waktu shalatnya.  Dan kalaupun terpaksa dilakukan seperti itu kiranya akan bijaksana bilamana waktu tersebut diberikan  ikhtiyat sekitar tiga menit  dengan melihat waktu yang memungkinkan.   Dengan demikian kalaupun  ada sedikit perbedaan, akan terwadahi dalam ikhtiyat waktu tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.