CINTA RASUL

Ada orang yang memberitahukan kepada saya tentang sebuah acara yang akan dikemas dalam tema cinta Rasul, namun  melihat nada  dan cara yang digunakan untuk mengundang, menjadikan saya kurang simpatik, bukan masalah cinta Rasulnya , melainkan cara yang gunakan.  Untuk cinta Rasul saya kira semua umat muslim  akan setuju, karena memang sebagai utusan Tuhan, rasul menjadi teladan bagi semua umat, dalam segala aspeknya.  Bahkan ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam al-Turmudzi bahwa siapapun yang mencintai Rasul, maka  ia akan bersama dengan Rasul  di surga pada saatnya nanti.

Sebagaimana kita tahu bahwa  cara untuk mewujudkan cinta kepada Rasul itu banyak dan disesuaikan dengan kondisi serta adat yang ada, sehingga siapapun tentu akan  dapat melakukan berbagai aktifitas yang muaranya ialah cita Rasul, dan bukan hanya satu cara.  Kenapa saya menjadi kurang simpatik kepada pengundang tersebut?, ya karena dalam undangan tersebut disebutkan  bahwa siapapun yang mengaku dirinya mencintai Rasul, harus hadir dalam  acara yang digelar tersebut, padahal sebagaimana kita tahu bahwa  dalam waktu yang bersamaan di beberapa tempat, tentunya juga diselenggarakan acara yang relatif sama, karena musimnya memang  memperingati maulid Nabi saw.

Seolah siapapun yang tidak menghadiri undangan tersebut sama dengan tidak cinta kepada Rasul atau cintanya hanya sebuah kepalsuan semata.  Tentu saya mengharga undangan tersebut dan senang melihat ada acara yang dikemas untuk memperingati hari jadi Nabi Muhammad saw, sebagai wujud cinta  Nabi,  tetapi yang menyelenggarakan  acara seperti itu bukanlah  hanya di tempat itu, melainkan juga di beberapa tempat lainnya, sehingga  wujud cinta Nabi tersebut tidak harus ditentukan oleh datang atau tidaknya seseorang di tempat acara tersebut.  Bahkan kalaupun seseorang karena alasan yang  dapat dibenarkan kemudian tidak mendatangi seluruh acara memperingati  maulid tersebut, bukan otomastis tidak  cinta kepada Nabi.

Barangkali saudara kita yang mengundang dengan cara seperti itu berharap agar seluruh umat  dapat mendatangi acara tersebut sebagai wujud cintanya kepada Rasul, namun tanpa disadari ternhyata undangan seperti itu  justru tidak simpatik dan bahkan dapat kontra produktif.  Alangkah  baik dan santunnya ketika undangan tersebut hanya menghimbau   dengan kata dan kalimat yang santun, dan tidak menghakimi bagi yang tidak mendatanginya sebagai tidak cinta Rasul.  Saya sendiri berharap bahwa maksud dari undangan tersebut tentu sangat baik, yakni mengajak seluruh umat muslim untuk bersama sama merayakan maulid Nabi.

Hubbun Nabi memang sudah menjadi tradisi yang mengakar di masyarakat muslim, karena memang itulah  yang seharusnya  dilakukan oleh masyarakat muslim.  Hanya saja kita perlu mengingatkan bahwa bentuk hubbun Nabi tersebut tidak hanya memperingati hari jadi Nabi dan dilaksanakan  satu tahu sekali, melainkan  seharusnya ditunjukkan setiap waktu, yakni dengan berupaya menjalankan seluruh  hal yang dianjurkan serta diwajibkan olehnya.  Sebagai wujud cinta, seharusnya memang bukan hanya sekdar memperingati harlahnya semata melainkan  justru  diwujudkan dalam bentuk perilaku yang tentu akan menyenangkan Nabi.

Maksud pernyataan Nabi bahwa berang siapa yang mencintai Nabi, maka ia akan masuk surga bareng dengan Nabi, tentu bukan hanya sekedar mereka yang memperingati maulid saja, tetapi justru yang mencintai Nabi dan ditunjukkan dalam perilaku yang mengikuti sunnah sunnah Nabi.  Nabi itu disebutkan oleh Tuhan sebagai teladan yang baik bagi siapapun yang mengharapkan Allah dan hari hari akhir ataupun surga.  Karena itu mencintai Nabi seharusnya diwujudkan dalam perilaku yang sesuai dengan  sunnah Nabi.

Bahkan secara ekstrim dapat dikatakan orang yang mendatangi acara maulid Nabi, sedangkan niatnya kita tidak tahu, namun yang jelas dalam kehidupan kesehariannya tersenyata menyimpang dari ajaran Nabi, dengan melakukan berbabagai kejahatan, menyakiti pihak lain, dan lainnya, tentu tidak termasuk mereka yang cinta Nabi beneran.  Artinya  memperingati ulang tahun kelahiran Nabi bukan merupakan satu satunya  tanda bahwa sesweorang itu mencintai Nabi, meskipun hal tersebut merupakan salah satu tanda bahwa seseorang tersebut peduli dan cinta kepada Nabi.

Saya tidak berpretensi  untuk menjauhkan umat dari  peringatan maulid sebagaimana orang orang tertentu melarangnya,  melainkan  hanya sekdar mengingatkan kepada semua pihak agar dalam melakukan peringatan tersebut tidak menggunakan kata atau kalimat yang justru akan menjadikan pihak lain tidak simpatik.  Erus terang saja saya termasuk yang  sangat mengajurkan umat untuk memperingati maulid tersebut bahkan tradisi yang ada di tempat saya ialah semenjak tanggal satu Rabi’ al-Awwal hingga  tanggal 12 dengan cara membaca sejarah Nabi dan membaca shalawat.

Dalam memperingati maulid tersebut juga  seharusnya  ada target yang dicanangkan ialah memberikan peringatan kepada umat agar mereka meneladani sifat sifat Nabi sebagai bentuk kecintaan tersebut.  Beberapa sifat Nabi yang banyak digambarkan oleh para  sejarahwan muslim, antara lain:

  1. Dalam hubungan  Nabi dengan keluarganya, sungguh terasa sangat intim dan indah, tidak pernah tercetus kata kata yang menyinggung dan menyakiti seluruh anggota keluarga, bahkan yang ada ialah kesantunan dan keramahan serta  kerendahan hati.  Sehingga dilukiskan  dalam beberapa riwayat bahwa  ketika salah seoranag isteri Nabi salah dalam memberikan hidangan ataupun suatu saat sama sekali tidak ada hidangan, Nabi dengan  sabar dan sayangnya  tetap lembut dan sama sekali tidak ada raut marah atau kesal agtau sejenisnya.  Bahkan Nabi tetap memberikan kasih dan sayangnya serta perhatian serta pengertian  isteruinya.  Sungguh suatu kondisi yang sangat kondusif dalam membentuk pondasi rumah tangga yang harmonis dan kekal.
  2. Dalam hubungannya dengan masyarakat atau umat, Nabu dikenal sebagai orang yang supel, rendah hati, sangat menghormati pihak lain.  Kata katanya sangat santun dan enak untuk didengar.  Bahkan ketika Nabi disakiti oleh siapapun, maka Nabi dengan senang hati memaafkannya dan sama sekali tidak membalas  serta tidak dendam.  Ketika Nabi di kata katai dengan keras dan menyakitkan, justru Nabi malah diam dan tidak menjawabnya.  Karena Nabi Tahu kalau ada seorang yang sedang emosi dengan mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan, maka ketika dijawab, malah akan menjadi jadi.  Dan itulah, makanya  semua orang, baik yang memusuhi  Nabi ataupun yang mencintainya sangat segan dan  menghormatinya.
  3. Ketika ada sesuatu yang menyangkut urusan masyarakat banyak, maka Nabi  tidak serta merta mengambil keputusannya sendiri, melainkan Nabi bermusyawarah dan mengajak para sahabat untuk urun rembuk dalam memutuskan perkara penting tersebut.  Termasuk pada saat menentukan strategi menghadapi musuh yang akan menyerang, Nabi pun tetap meminta pendapat sahabat sahabatnya.  Itulah akhlak yang ditunjukkan oleh Nabi dan sangat terpuji, bahkan Tuhan sendiri di dalam salah satu ayat di dalam al-Quran memuji  akhlak Nabi tersebut “wainnaka la’la khuluqin adhim”.   Sementara itu isteri beliau Aisyah ketika ditanya tentang akhlaknya Nabi, menjawab bahwa akhlak Nabi itu adalah al-Quran.

Alangkah indahnya kalau seandainya seluruh umat muslim mau meneladdani sifat sifat baik Nabi tersebut dan diterapkan dalam kehidupan mereka, baik dalam membangun rumah tangga maupun dalam kehidupan bermasyarakat, tentu kita akan melihat sebuah tatanan masyarakat yang sangat tertib dan penuh dengan kedamaian serta ridla Tuhan.  Itulah kiranya target yang sehrusnya kita canangkan pada setiap memperingati maulid Nabi seperti saat ini.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.