MEMANDANG MUSIBAH DARI SISI LAIN

Ketika kita mengamati berbagai kejadian di tanah air semenjak dulu hingga saat ini tentu kita kemudian berpikir, kenapa di tanah kita terjadi bencana yang terus menerus dan seolah bertubi tubi tiada hentinya. Barangkali ada sebagian musibah yang semata mata disebabkan oleh kelalaian umat manusia itu sendiri secara langsung dan dapat dilihat secara kasat mata, seperti musibah tabrakan kendaraan, tergulingnya bus yang mengakibatkan banyak korban,  dan sejenisnya.  Sebagian lainnya  tidak tampak secara langsung atas  ulah manusia, seperti  terjadinya gempa yang masih terus terjadi di beberapa wilayah negeri kita, gunung meletus dan sejenisnya.  Tetapi ada juga yang semi disebabkan ulah manusia, seperti banjir. Longsor dan sejenisanya.

Mengapa kita menyebut dan membagi musibah tersebut kedalam tiga golongan? , ya karena dilihat dari kasat mata, siapapun akan dapat menyimpulkan yang seperti itu.  Musibah yang disebabkan oleh kelalaian atau keteledoran manusia dan kemudian menyebabkan  musibah  tersebut memang  sering terjadi. Lebih lebih jikalau pada  musim dimana banyak manusia secara bersamaan mempunyai kepentingan yang relatif sama, seperti pada saat mudik lebaran dan sejenisnya. Solusi yang dapat dilakukan untuk persoalan ini ialah  memberikan  pencerahan kepada para  pengguna kendaraan, khususnya pengemudi, agar berhati hati dan cermat.

Artinya ketika  sedang lelah, mengantuk dan sejenisnya maka harus beristirahat cukup, baru kemudian mengemudi kembali, atau kalau sedang sakit maka harus libur mengemudi.  Hal yang harus terus menerus diingatkan kepada mereka ialah agar tidak mengkomsumsi minuman keras dan bahkan  memabukkan, apalagi barang terlarang seperti narkoba dan sejenisnya.  Karena disamping hal tersebut akan dapat membahayakan diri sendiri juga akan dapat membawa malapetaka dan merugikan banyak pihak.  Pencerahan dan peringatan tersebut tidak semata untuk pengendara yang membawa banyak penumpang, melainkan juga yang hanya sendirian.

Sementara itu untuk bentuk musibah yang tidak langsung berkaitan dengan ulah dan sepak terjang manusia seperti terjadinya gempa, gunung meletus dan sejenisnya.  Hanya saja memang secara pandangan agama, semua itu masih berkaitan, yakni sikap dan ulah manusia di dunia yang kurang atau bahkan tidak mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi secara benar dan konsisten.  Artinya dalam pandangan ini bahwa terjadinya musibah tersebut merupakan peringatan dar Tuhan agar ma usia menjadi ingat kepada penciptanya dan sekaligus taat kepada seluruh aturan yang diberlakukan bagi umat manusia.

Ada bentuk bentuk ajaran Tuhan yang bersifat universal dan tidak hanya tertentu bagi sebuah komunitas saja, seperti berlaku adil kepada semua pihak, termasuk kepada lingkungan.  Tidak berbuat dhalim, dan merugikan pihak lain, saling menghormati dan memahami masing masing pihak yang  kebetulan mempunyai perbedaan, tidak bertindak yang dapat merusak lingkungan, menyakiti pihak lain, hingga perbuatan yang sadis  seperti membunuh dan menganiaya, juga merupakan  sikap yang harus terus dijaga dan dipertahankan.  Nah, ketika  sifat sifat baik tersebut terus dilanggar dan bahkan seolah tidak ada dan merasa dosa sama sekali, maka  di situlah Tuhan akan menurunkan adzab  yang b erupa musibah sebagai peringatan dini.

Jadi sesungguhnya kalau dalam kajian keilmuan murni, bentuk musibah yang ini tidak termasuk dalam kesalahan manusia, tetapi kalau dikaji menurut ajaran agama, tentu hal tersebut tetap berkaitan erat dengan perbuatan manusia di dunia, meskipun tidak secara langsung dapat dilihat dengan mata atau indera lainnya.

Sedangkan bentuk musibah ketiga ialah yang  dikatakan sebagai semi berkaitan dengan perbuatan manusia, seperti musibah banjir, longsor dan sejenisnya.  Kenapa dikatakan semi?, ya  karena secara keilmuan dan kasat mata dapat dilihat urutannya.  Ketika manusia tidak menjaga kelancaran  aliran sungai atau saluran air misalnya, yakni dengan membuang sampah di sungai atau disebarang tempat, yang kemudian menumpuk di saluran ataupun sungai, dan pada saat terjadi hujan maka saluran dan sungai tersebut tidsak akan dapat mengalirkan air dengan lancar.  Akibat dari itu semua, kemudian air meluap dan terjadilah banjir.

Demikian pula ketika manusia kemudian membuat bangunan di bantaran sungai sehingga sungai menjadi sempit dan tidak lagi muat  air yang lewat, maka air tersebut akan melimpah ke daratan dan itulah banjir.  Termasuk dalam kategori tersebut ialah  ketika manusia selalu membangun dan membangun tanpa menghiraukan dampak lingkungan dan tanpa mempehatikan  tempat peresapan air, maka hal tersebut juga akan dapat menyebabkan banjir. Dan lebih jauh lagi ketika mereka yang berada di tempat yang relatif tinggi dan kemudian  dengan seenaknya saja menebangi pepohonan yang berfungsi menahan air dan tanah, serta menanaminya dengan beton dan bangunan permanen, maka  kondisi seperyi itu akan dapat engakibatkan musibah banjir di tempat lainnya yang lebih pendek dan juga menyebabkan tanah menjadi longsor dan ,lainnya.

Nah, itulah kondisi yang saat ini terjadi dan menimpa banyak warga bangsa kita, baik   kecelakaan kendaraan, gempa bumi, banjir dan lainnya yang tentu kita tidak boleh saling menyalahkan satu sama lain.  Kita sangat paham bahwa  tentu ada pihak pihak yang bersalah dalam musibah terswebut, namun bukan waktu yang tepat ketika kita harus menggugat pihak yang dianggap salah tersebut.  Namun justru yang paling penting saat ini untuk dilakukan ialah bagaimana  kita dapat memberikan bantuan  yang sangat dibutuhkan saudara kita yang sedang kena musibah, sembari kita tetap merenungkan, sesungguhnya apa yang dapat kita lakukan untuk meminimalisasi musibah tersebut di masa mendatang.

Barangkali kita patut merenungkan apa yang pernah disampaikan oleh Ebit G ad melalui lagunya, meskipun  ada yang tidak menyetujuinya karena kata kata yang digunakan seolah menye[pelekan posisi Tuhan yang Maha Pemaaf dan maha segalanya.  Pernyataan Ebit dalam syair lagunya memang memberikan kesan seolah Tuhan  itu “jengkelan dan bosan”.  Kata kata tersebut ialah “mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita coba kita tanyakan pada rumput yang bergoyang”.

Penggalan syair lagu tersebut memang pernah digugat oleh sebagian orang, namun menurut saya  hal tersebut merupakan ekspresi tentang  seorang manusia yang  ingin  menyadarkan umat manusia yang  sudah lagi mengindahkan nilai nilai agama dan etika, tetapi malahan  tidak merasa salah dan bahkan bangga dengan  perbuatan salah dan dosa tersebut.  Karena kalau manusia selalu melakukan dosa, tentu Tuhan tidak akan tinggal diam dan membiarkannya sedemikian rupa, melainkan Tuhan terkadang perlu memberikan peringatan kepada manusia berupa musibah tersebut.

Apakah perilaku kita selama ini sduah benar dan memberikan kontribusi bagi kedamaian umat mansuai atau   malah sebaliknya, justru selalu merugikan dan membuat kesulitan  kepada pihak lain dan terus kita lakukan.  Karena itu introspeksi diri dan evaluasi atas segala perjalanan dan sikap hiudup kita memang  diperlukan, sehingga dalam perpektif ini kita dapat yakin bahwa Tuhan memang sayang kepada kita dan tidak akan menimpakan adzab ataupun musibab kepada kita.

Kita sangat mengerti bahwa kalaupun Tuhan memberikan musibah tidak akan khusus tertuju bagi mereka yang berbuat lalim dan dosa, melainkan musibah tersebut akan menimpa pula  kepada mereka yang tidak melakukan kemaksiatan dan seluruh manusia yang berada di daerah tertentu tersebut.  Karena itu sebelum Atuhan benar benar memberikan musibah yang besar dan akan sangat berat kita tanggung, maka  sangat mutlak dilakukan  instrospeksi diri tersebut dan sekaligus memperbaiki perilaku kita serta  melakukan pertaubatan  massal atas segala dosa dan kesalahan yang selama ini kita lakukan, serta berkomitmen untuk mengubah nya menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan dan keadilan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.