MENGAMBIL HIKMAH BANJIR JAKARTA

Banjir yang terjadi di ibu kota Negara saat ini memang tergolong luar biasa dan menyentuh  beberapa daerah yang sebelumnya tidak pernah tersentuh air banjir tersebut, sehingga  kerugian yang diderita oleh masyarakat tidak terhitung nilainya.  Saya sendiri pada hari kamis 17 januari lalu pas berada di Jakarta dan  sangat sulit untuk pulang karena tidak ada satu taksi pun yang mau mengantarkan saya dari hotel Sufyan Betawi di menteng, tepatnya di Cut Mutia ke bandara Soekarno Hatta.  Bahkan akhirnya saya harus ke  stasiun Gambir untuk kemudian naik bus.  Namun untuk ke gambai yang biasanya hanya sekitar 5 menit bahkan bisa kurang, harus saya  tempuh dengan naik taksi selama satu jam, karena banjir dan macet serta terus diguyur hujan.

Sepanjang perjalanan dengan bus, saya memang mengamati sekitar dan yang ada memang air dan air, meskipun ada yang tidak terlalu dalam tetapi ada yang cukup dalam dengan dibuktikan oleh beberapa orang yang ada di sana. Saya kemudian memang merenung betpa susahnya mereka yang rumahnya harus terendam air berhari hari, tentu banyak hal yang bisa terjadi mulai sakit hingga sulitnya mendapatkan makanan dan air bersih.  Belum lagi mengenai perabot yang terndam aior tentu akan rusak dan sulit diperbaiki.  Memang penglihatan saya hanya tertuju pada wilayah yang dilalui oleh bus saja, dan belum ke wilayah yang lebih parah tentunya.  Namun  tentu di wilayah yang lebih rendah, kita akan dapat membayangkan betapa  susahnya mereka.

Barangkali  banjir tersebut tidak semata kesalahan  pihak pihak tertentu melainkan kesalahan  semua pihak, mengingat sepak terjang sebagian masyarakat juga  kurang mendukung pengatasan banjir tersebut, seperti membuang samaph di sembarang tempat, mendirikan bangunan rumah disekitar bantaran sungai, sehingga sungai menjadi sempit dan juga dangkal, dan lainnya.  Sementyara itu para  pengembang juga tidak menyertakan  analisis dampak lingkungan saat membangun, baik yang ada di wilayah perkampungan maupun yang ada di wilayah atas.  Artinya pembangunan dan pembuatan villa di Bogor tidak  disertai dengan analisis dampak lingkungan yang menyebabkan air tidak dapat diresap dan aklhirnya mengalir ke daerah rendah.

Sedangkan pemerintah juga kurang  tegas dalam hal pemberian ijin  mendirikan bangunan dan  kebijakan pembuatan lahan lahan peresapan air dan lainnya.  Akibat dari semua itu rakyat secara umumlah yang kemudian merasakan akibatnya.  Tetapi dalam kondisi seperti saat ini kita memang tidak perlu menyalahkan siapa siapa, dan harus focus untuk menolong mereka yang terkena dampat secara langsung terjadimnya banir tersebut.  Penyediaan  barang pokok, seperti makanan, pakaian, dan kesehatan tentu merupakan  hal yang harus diutamanakan.  Termasuk evakuasi mereka yang masih bertahan di dalam rumah mereka yang semakin  tergenang air.

Kita tentu sedih ketika mendengar bahwa untuk eavakuasi tersebut ada sebagian pihak yang memanfaatkannya dengan menarik imbalan yang sangat mahal dengan berbagai dalih yang seluruhnya tidak dapat diterima akal sehat.  Memang ada yang menyatakan bahwa yang dimintai ongkos evakuasi adalah mereka yang dari perumahan elite dan itu  hanya dilakukan oleh para nelayan.  Sedangkan tim yang  dibentuk oleh masyarkat, pemerintah, TNI POLRI,  maupun LSM sama sekali  memungut biaya, alias gratis.

Terlepas dari benar tidaknya perbuatan memanfaatkan situasi tersebut untuk mengeruk keuntungan, tetapi apapun dalih dan alasan yang disampaikan, perbuatan seperti itu jelas tidak manusiawi dan sama sekali jauh dari karakter bangsa kita yang  gemar menolong dan  mudah trenyuh ketika melihat sesamanya sedang menderita.  Tentu kita harus mengutuk setiap perbuatan mengeruk keuntungan di atas pebderitaan pihak lain, apapun bentuknya, termasuk tentang penjarahan  terhadap took ataupun rumah yang kebetulan ditionggal mengunsi disebabkan banjir tersebut.

Dalam persoalan ini rasa aman memang sangat diperlukan oleh masyarakat, dan karena itu pemerintah harus mengerahkan segala kemampuannya untuk menjaga dan memberikan  rasa aman kepada warga masyarakat,  melalui patroli oleh aparat dan sebagainya.  Artinya kesulitan yang saat ini sedang dialami oleh sebagian saudara kita di Jakarta dan di tempat lainnya, harus kita berikan bantuan apa saja yang dapat memberikan semangat kepada mereka, termasuk keamanan barang barang milik mereka yang ditinggalkan di rumah maupun di toko mereka.

Kembali pada persoalan banjir, bahwa  kita harus dapat memaknai musibah ini sebagai  buah dari akibat kurang pedulinya kita terhadap lingkungan, meskipun demikian kita tidak perlu saling menyalahkan, tetapi harus ada komitmen diantara seluruh masyarakat untuk memperbaiki sikap dan perilaku kita ke depan, khususnya yang berkaitan dengan persoalan peduli lingkungan.  Kiranya akan percuma saja kalau sekiranya ada kemauan pemerintah untuk mengatasi banjir dengan mengeruk sungai dan melebarkannya, namun masyarakat tidak mau mengubah sikap dan perilaku kurang baik terhadap lingkungan.

Jadi seluruh komponen  masyarakat memang harus saling mendukung dalam persoalan lingkungan tersebut.  Artinya  harus ada rencana  yang baimk untuk memberikan ruang yang memungkinkan  air dapat terserap dan berbagai saluran yang longgar dan lancar.   Kebijakan pemberian ijin untuk pembanguna  perumahan di daerah yang relative tinggi juga harus selektif dan dengan mengingat dampak lingkungannya, sehingga dengan kerja bareng semua pihak dan dilaksanakan secara konsisten,  bayaha banjir akan dapat diatasi di masa mendatang.

Banjir memang sudah terjadi dan mengakibatkan banyak kerugian, namun kita harus tetap bersyukur bahwa  banjir tersebut  masih  dapat menyemalatkan kita dari akibat lebih buruk kepada kita.  Kiranya kita juga patut merenungkan ulang   dan sekaligus sebagai perbandingan dengan maksud untuk  terus bersyukur dalam kondisi apapun, yakni  peristiwa yang menimpa nabi Nuh AS beserta seluruh umatnya.  Banjir yang terjadi pada saat itu sungguh dahsyat dan luar biasa, hingga seluruh dunia dan isinya tidak ada yang  bertahan.  Semua rusak porak poranda dilanda banjir bah yang demikian dahsyat, dan hanya mereka yang berada di kapal Nuh saja yang selamat.

Ketika kita mengingat peristiwa tersebut, meskipun hanya melalui cerita, tetapi kita dapat ikut merasakan bagaimana akibat yang ditimbulkan oleh banjir tersebut, bahkan melebihi tsunami yang pernah meluluh lantakkan bumi serambi Mekah.   Nah, dengan bajir yang saat ini melanda  Jakarta dan beberapa daerah lainnya, tentu kita sekali lagi harus tetap bersyukur, karena ternyata kita masih  diberikan keselamatan dan kondisi kita masih relative lebih beruntung.  Namun demikian bukan berarti kita akan terus membiarkan banjir melanda daerah kita, sekali lagi tidak boleh.  Syaratnya ialah kita harus mengubah cara hidup kita dengan tetap berada dalam  koridor yang benar dan  berusaha melakukan berbagai hal dalam upaya menghindarkan diri dari banjir.

Cukuiplah banjir kali ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dan selanjutnya kita akan mengubahnya menjadi  kondisi aman, tenteram, damai dan terhindar dari segala macam bahaya, termasuk banjir.  Semua  dapat kita ciptakan, dan semuanya dapat kita wujudkan asalkan  ada kemauan dan kerja keras dari semua elemen masyarakat.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.