CATATAN DARI FORUM REKTOR

Sejak tanggal 17 hingga 19 Januari yang lalu telah diselenggarakan pertemuan para rektor seluruh Indonesia dalam forum rektor.  Pertemuan tahunan tersebut kali ini diselenggarakan di semarang dan universitas Islam sultan Agung sebagai tuan rumah.  Meskikpun  tidak seluruh rektor perguruan tinggi yang diundang hadir, tetapi pelaksanaan forum rektor tersebut cukup meriah, karena dihadiri tidak kurang dari 400 orang dari beberapa perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.  Acara tersebut dibuka oleh wakil presiden Budiono di Gradika Bhakti Praja, yang juga dihadiri oleh menteri pendidikan dan kebudayaan, gubernur jawa Tengah dan para undangan lainnya.

Dalam pelaksanaan konvensi kampus dan pertemuan rektor tersebut juga dilakukan penandatanganan kerjasama antara forum rektor dengan Komisi Pemilihan Umum Indonesia dalam upaya  penyuksesan pemilu yang akan datang.  Hanya saja forum rektor memang tidak akan berpihak dan berpolitik praktis, melainkan hanya sekedar ikut memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya kehidupan berbangsa dan bernegara lewat demokrasi yang baik, termasuk pentingnya berpartisipasi dalam pemilu dan lainnya.

Memang ada upaya dari sebagian pihak yang berusaha untuk menggiring forum kepada masalah praktis dan politis, namun ajakan tersebut dengan serta merta ditolak oleh forum, karena memang  forum rektor merupakan forum yang  terhormat dan lebih bersifat memperjuangkan kepentingan bangsa secara lebih luas, bukan kepentingan politik dan sesaat belaka.  Forum rektor tersebut memang harus dipertahankan  dalam posisinya semula, sehingga akan tetap  diperhatikan seluruh rekomendasinya oleh  semua pihak.  Itulah kekuatan yang dimiliki oleh forum rektor, dan jikalau kemudian  berafiliasi kepada salah satu kepentingan, maka disitulah keruntuhan wibawa forum telah terjadi.

Untungnya  semua rektor kemudian sepakat untuk tetap mempertahankan  posisi forum sebagaimana semula dan akan terus memperjuangkan kepentingan semua pihak, terutama dalam hal bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan, bagaimana mewujudkan  manusia Indonesia yang berkarakter, bagaiaman menyelamatkan lingkungan, bagaimana  mempertahankan energi dan lainnya.  Itu semua disebabkan perguruan tinggi memang mempunyai tugas pokok yang menyangkut persoalan persoalan tersebut melalui tri dharmanya.

Artinya berbagai penelitian yang berkaitan langsung dengan berbagai kepentingan masyarakat umum, semacam persoalan lingkungan, polusi  yang diakibatkan oleh banyaknya pabrik, pemanasan global, tentang pertanian, kelautan, perikanan, enegri,  dan lainnya, akan terus dilakukan dan diupayakan untuk kebaikan umat manusia dan lingkungan.  Beberapa hasil penelitian yang telah dihasilkan dan kemudian direkomendasikan kepada pemerintah, tentunya  akan memberikan sumbangan yang signifikan bagi  upaya mensejahterakan rakyat secara lebih maksimal.

Forum juga sangat prihatin atas munculnya berbagai kerusuhan, bahkan yang melibatkan  elemen  mahasiswa dan pelajar.  Banyaknya tawuran antar pelajar di berbagai daerah tentu sangat menjadi perhatian forum dan karena itu kemudian  dibahs mengenai begaiamana  menciptakan suasana yang kondusif serta bagaimana  melahirkan manusia yang berkarakter baik dan kuat sebagai bangsa Indonesia.  Pembahasan mengenai pembentukan karakter memang mendapatkan perhatian cukup besar, karena memang persoalan ini merupakan persoalan yang mendesak dan segera diwujudkan melalui upaya nyata.

Karakter bagi seseorang memang tidak terjadi begitu saja, melainkan harus terus dibiasakan dan dilakukan dalam lingkungan yang kondusif serta adanya keteladanan.  Banyak definisi mengenai karakter tersebut yang sesungguhnya  merupakan sebuah sikap dan watak yang  positif yang terwujud dalam bingkai nilai nilai universal, seperti bersikap toleran, adil, menghargai pihak lain, taat kepada peratuan dan perundangan yang ada, selalu ingin maju dan burbuat baik dan seterusnya.  Intinya  manusia yang berkarakter itu merupakan manusia yang terbiasa melakukan hal hal baik dan tidak melanggar aturan serta merugikan pihak lain.

Dalam bahasa agama barangkali dapat disimpulkan bahwa  manusia berkarakter tersebut ialah yang berakhlak baik serta taat kepada seluruh aturan yang ada.  Penjabaran dari akhlak baik tersebut tentu sangat luas dan panjang, tetapi pada prinsipnya mengarah kepada suatu kondisi dimana seseorang akan selalu menjalankan kebaikan dan menjauh dari segala hal yang dapat merugikan, baik bagi dirinya sendiri maupun pihak lain.  Sehingga lebih dekat dengan sifat taqwa yang sesungguhnya.

Nah sifat sifat seperti itu tidak akan mungkin hanya diberikan secara teroritik semata, melainkan harus dilakukan secara terus menerus, dibiasakan dan dibutuhkan adanya keteladanan dari pihak pihak  yang dianggap sebagai bertanggung jawab atas berjalannya sebuah aturan.  Dalam membiasakan  sifat sifat baik tersebut terkadang memang harus disertai semacam “paksaan” pada awalnya, karena memang untuk mendisiplinkan  seseorang yang belum terbiasa dengan sebuah  kebiasaan, tentu harus diterapkan  sebuah aturan yang  ketat dan bahkan penerapan sanksi bagi yang tidak taat.

Tentu paksaan tersebut bukan merupakan sesuatu yang tabu karena memang dibutuhkan untuk sebuah kondisi yang baik dan teratur.  Kebiasaan yang terus menerus dilakukan dalam  sebuah komunitas, tentu akan menjadi  budaya bagi komunitas tersebut yang tentu tidak perlu lagi adanya paksaan seperti pada saat awal.  Dalam pandangan Islam sesungguhnya  wujud dasar dari manusia itu ialah baik dan hanya lingkungan dan arus budaya  dari luarlah yang kemudian mempengauhi manusia tersebut.

Artinya kalau budaya dan lingkungan dimana seseorang hidup itu baik dan tetap memegang teguh karakter awalnya, maka seseorang tersebut tentu akan tumbuh sebagai seorang yang berkarakter baik dan akan terus  seperti itu, namun ketika  kemudian berhubungan dengan lingkungan yang brensek dan diduung oleh  masyarakat yang acuh taqkacuh dengan segala macam pelanggaran budaya dan sejenisnya, maka  seseorang tersebut akan sangat mudah terpengaruh budaya jelk tersebut dan berubahlah karakternya menjadi sebuah karekter jelek dan merugikan pihak lain.

Catatan penting lainnya dalam pertemuan rektor tersebut ialah  kepdulian forum terhadap kehidupan dan dinamikanya di masyarakat, sehingga kampus nantinya tetap menyatu dengan masyarakat dan bukan menjadi sesuatu yang terasing.  Fungsi dan tugas pokok yang meliputi pendidikan  dan pengajaran, penelitian dan sekaligus pengabdian kepada masyarakat, tentunya akan lebih diperankan melalui berbagai penemuan dan penelitian yang  nantinya bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.  Termasuk salah satunya ialah kepedulian kampus terhadap kehidupan politik masyarakat, walaupun kampus memang tidak akan terjun langsung dalam dunia politik praktis.

Artinya kalau kampus turut  memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang arti pentingnya berpartisipasi dalam sebuah pemilihan umum untuk menentukan masa depan masyarakat melalui sistem demokrasi yang sudah menjadi kesepakatan bangsa,  adalah salah satu bentuk pertisipasi kampus.   Kampus memang harus berperan dan memerankan diri sebagai  sosok yang  netral dan lebih memfokuskan diri kepada persoalan bangsa secara umum dan bukan  hanya sekedar partisipan dan partisan.

Sementara itu dalam kaitannya  dengan persaingan global, forum juga sangat  menekankan pentingnya  kerja sama  antar perguruan tinggi, baik yang ada dalam  internal forum maupun dengan berbagai perguruan tinggi di luar negeri.  Bkan untuk apa apa melainkan  dalam upaya meningkatkan kualitas kampus, seperti dalam upaya melakukan riset bersama, pertukaran dosen, mahasiswa, saling dapat mengakses fasilitas yang dipunyai masing masing, termsuk perpustakaan dan lainnya.

Dengan begitu perguruan tinggi akan tetap dapat mempertahakan diri sebagai  basis keilmuan yang terus berkembang dan bahkan mempengaruhi kehidupan dunia, bukan sebaliknya kampus disetir oleh kemauan dunia.  Semoga cita cita luhur seluruh perguruan tinggi tersebut nantinya akan dapat diwujudkan oleh semua anggota forum, dan bukan hanya satu dua kampus saja.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.