BAGAIMANA MENJADI ADVOKAT BAIK

Profesi advokat hampir diidentikkan dengan sebuah pekerjaaan yang penuh dengan hal hal yang berbahaya atau menyerempet “dosa”, meskipun sesungguhnya  kalau dilihat dari sisi idealitasnya profesi tersebut sama mulianya dengan profesi penegak hukum lainnya.  Hanya saja praktek yang ada dan dilakukan oleh sebagian advokat menjadikan profesi tersebut diberikan cap oleh masyarakat sebagai profesi yang kurang baik.  Praktek praktek tersebut ada yang justru berlawanan dengan hukum itu sendiri, seperti menyuap,  memutar balikkan  fakta,  dan dengan tipu daya tertentu untuk memenangkan  sebuah perkara.

Para advokat yang sudah mempunyai nama biasanya tidak mau begitu saja dikalahkan oleh lawannya, dan tentu akan berusaha sekuat tenaga dan pikiran, bahkan taktik untuk mengalahkan  lawannya tersebut, walaupun harus mengorbankan idealitas.  Bahkan untuk menjaga ketenaran dan kewibawaan sebagai advokat yang handal, maka  terkadang seorang advokat harus melakukan  berbagai negosiasi dengan pihak pihak untuk  memenangkan perkaranya.  Itulah yang terjadi dalam dunia nyata, meskipun  akan menjadi sulit  untuk dibuktikan, terkecuali  yang kemudian dapat ditangkap tangan oleh aparat lainnya.

Namun sebagaimana provesi lainnya, advokat juga ada yang baik, bersih dan tetap menjaga idealitas serta kewibawaan dan supermasi hukum.  Tentu agar tidak kalah dalam sebuah pembelaan perkara, advokat baik tersebut akan mempertimbangkan  dari berbagai hal serta cermat dalam melihat dan mengalisa perkara. Namaun kalau toh misalnya harus kalah dalam membela kliennya, advokat tersebut tetap tegar dan secara gentle  akan tetap menghormati proses hukum yang bersih dan baik.

Dunia advokat memang penuh dengan gemerlap dunia dan harta, sehingga  kalau sesorang advokat tidak kuat dalam mempertahankan idealaitasnya, ia akan mudah terseret dalam dunia gemerlap tersebut, meskipun harus “melacurkan diri”.  Sudah banyak contoh yang terjadi di dunia nyata dimana seorang advokat tertangkap disebabkan berusaha menyuap, tidak terhitung betapa banyaknya  advokaat dan memperoleh servis dari yang berperkara yang jelas dilarang oleh aturan perundangan maupun agama,  dan lainnya.

Seolah melakukan perbuatan maksiat merupakan hal biasa dan ditolerir, padahal seharusnya merekalah yang menjadi teladan dalam berbagai hal, termasuk dalam kehidupan  pribadi dan kemasyarakatan.  Celakanya masyarakat kita sudah tidak lagi peduli dengan segala macam pelanggaran yang dilakukan oleh  orang lain,  termasuk seorang penegak hukum dan advokat.  Saat ini hampir sulit mencari advokad yang benar benar memperjuangkan pelaksanaan undang undang secara benar dan adil.

Artinya kepentingan klien tentu  akan lebih didahulukan ketimbang  berjalannya sebuah ketentuan hukum di masyarakat.  Padahal kita semua tahu bahwa  seorang advokad juga berkewajiban untuk  menjalankan hukum agar hukum dapat menjadi panglima di negeri ini. Pembelaan yang dilakukan terhadap  seorang klien bukan berarti harus mengorbankan  ketentuan hukum, justru pembelaan tersebut dimaksudkan agar hukum dapat dijalankan dengan benar dan memenuhi rasa keadilan masyarakat.  Namun yang terjadi  pada saat ini seoalh kepentingan klien merupakan harga mati  yang harus diperjuangkan, meskipun harus melacurkan diri dalam hukum.

Tentunya bukan kesalahan fakultas hukum yang melahirkan para advokat tersebut, karena kita sangat yakin bahwa di fakultas hukum atau syariah tidak pernah diajarkan untuk melakukan perbuatan melawan hukum untuk kepentingan yang dibela.  Secara teoritik  segala kebaikan dan begaimana seharusnya seorang sarjana hukum bersikap dan berbuat, baik dalam kapasitasnya sebagai pejabat maupun apa saja.  Namun  perbuatan yang justru bertentangan dengan tujuan hukum itu sendiri diperoleh dari sebuah pengalaman dan  lingkungan masyarakat yang tidak kondusif untuk mempertahankan kondisi idealitas tersebut.

Pertanyaannya ialah bagaimana ke depan kita dapat  melihat adanya advokat yang benar benar menjalankan profesinya dengan  baik dan keadilan dapat diperoleh oleh seluruh masyarakat.  Untuk menjawab pertanyaan seperti itu memang tidak mudah, melainkan dibutuhkan sebuah mperencanaan yang matang dan sekaligus kebijakan yang mendukung serta konsisten dalam  mencapai cita cita tersebut.

Penguasaan ilmu hukum beserta seluruh  hukum acara serta  bagaimana  kita harus bersikap dan berbuat dalam pembelaan, tentu  mutlak dikuasai, karena hal ini merupakan faktor utama dan penentu bagi seorang advokat untuk dapat lebih  banyak memberikan argumentasi hukum serta membuka kesmpatan untuk memangkan sebuah perkara.  Untuk itu syarat mutlak bagi seorang advokat ialah tterus belajar dan membaca berbagai refensi hukum , termasuk beberapa yurisprudensi untuk mendapatkan wawasan dan cakrawala pemikiran yang lebih luas dan memenuhi  keinginan masyarakat untuk memberikan sesuatu yang terbaik dan adil.

Namun demikian penguasaan ilmu tentang hukum saja tidak cukup, melainkan masih dibutuhkan berbagai ilmu lainnya, seperti ilmu beracara di pengadilan, kiat kita untuk memnangkan perkara, serta bagaimana mencari celah dan kesempatan yang tepat dalam memberikan argumentasi.  Jadsi ilmu taktik dalam beracara  sangat penting juga untuk dikuasai serta tetap dibarengi dengan sikap sopan dan tidak urakan.  Artinya  dalam membela klien seseorang advokat diharapkan tetap dingin dan bersikap  baik kepada siapapun juga.  Jangan sampai sikap yang ditunjukkan  urakan, marah, membentak dan sejenisnya yang justru akan menjadikan pihak lain, termasuk hakim tidak simpatik.

Sebagaimana kita dapat lihat kebanyakan advokat justru melakukan hal hal tersebut dengan tujuan menekan danmemberikan rasa takut kepada pihak lawan, padahal tujuan pe,mbelaan perkara adalah untuk menjalankan hukum dengan benar dan adil dan bukan  semata memanangkan perkara meskipun dengan jalan yang tidak benar.  Kita sangat yakin bahwa  kalaupun advokat tetap santun dalam memberikan pembelaan dan mencounter lawannya, namun  kalau materinya  tepat dan argumentasi nya maton, tentu akan tetap diperhatikan dan dapat memenangkan perkara.

Disamping itu sesuatu yang harus dikuasai oleh advokat ialah kekuatan iman dan ketabahan dalam menjalankan tugas.  Artinya dalam dunia advokat akan ditemui berbagai macam godaan, mulai dari godaan harta yang tidak benar sampai dengan “servis” pribadi  untuk memuaskan nafsu syaitoniyah.  Untuk itu seorang advokat memang harus mempersiapkan diri  untuk dapat menghindarkan diri dari semua itu.  Kita sangat yakin bahwa  kalau seseorang mebekali dirinya dengan pengetahuan yang cukup tentang  ilmu syariat dan berusaha tetap pada jalur yang benar, ia  akan dapat memeperthankan diri sebagai advokat bersih dan tetap disegani oleh masyarakat.

Untuk tetap mempertahankan idealisme  dan menjaga  kepribadiannya tersebut, tentu sangat dibutuhkan sebuah kondisi yang mendorong untuk itu, dan hal tersebut akan dapat dibantu dengan tetap menjalankan ibdah secara rutin dan berkualitas.  Kalau seorang advokat muslim tentunya ia harus  tetap menjalankan shalat dan iabadah lainnya serta selalu berdoa memohon  bantuan kepada Tuhan untuk menjaganya dari segala kerendahan sikap dan akhlak.  Dengan  melakukan hal hal seperti itu tentu akan dapat  mengvhindarkan diri dari segala godaan, meskipun  setiap saat selalu memburunya.

Untuk itu bagi mereka yang baru akan mengukir karir sebagai advokat, kiranya beberapa kiat  tersebut dapat dijadikan  pegangan dan dipraktekkan sehingga kedepan akan menjadi haraopan seluruh masyarakat Indonesia untuk mempertahankan  supermasi hukum di negeri ini, serta keadilan yang dirindukan oleh masyarakat akan dapat diwujudkan dengan nyata. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.