PEDULI KUALITAS PENDIDIKAN

Perangkat untuk menuju pendidikan yang berkualitas melalui berbagai aturan perundangan sesungguhnya sudah cukup baik, hanya saja implementasinya di lapangan yang masih terus memerlukan dorongan  dan kesadaran dari semua pihak, terutama para penggiat pendidikan, termasuk pendidik.  Para pendidik yang memang menjadi tulang punggung pendidikan hingga saat ini masih banyak yang belum menyadari sepenuhnya peran dan fungsinya sebagai pendidik, dan kebanyakan hanya baru dapat menajlankan tugas mengajar, tanpa  mempedulikan bagaimana peserta didik  dapat maju, cerdas, dan  memahami setiap mata pelajaran yang disapaikan.

Kondisi seperti itu ternyata menjadi pemandangan umum pada sebagian besar pendidikan kita, dan karena itu tidak aneh ketika banyak muncul kritikan tentang rendahnya mutu pendidikan kita.  Artinya  banyak lulusan dari lembaga pendidikan yang tidak standar, apalagi kalau dikaitkan dengan dunia kerja, kebanyakan mereka sama sekali tidak siap.  Karena itu sangat wajar jikalau saat ini banyak pengangguran, walaupun telah mempunyai ijazah.  Persoalan utamanya ialah tentang kualitas mereka yang  tidak sesuai dengan keinginan para pengusaha dan dunia kerja lainnya.

Akar persoalannya  sesungguhnya ada pada tiga hal, yakni persoalan sumber daya manusia yang berupa guru dan juga dosen, kemudian  sarana pe,belajaran, dan ketiganya ialah tentang kurikulum.  Tentang  sumber daya yang sudah banyak disorot oleh banyak pihak, memang harus kita akui masih sangat membutuhkan perhatian.  Kita dapat menemukan banyak  guru atau pendidik yang  belum sepenuhnya  menyatu dengan profesinya tersebut.  Artinya  seharusnya seorang pendidik itu memang menfokuskan dirinya kepada dunia pendidikan, sehingga ia harus terus belajar dan menambah ilmunya untuk kepentingan peserta didik, bukan  sekedar bekerja untuk mendapatkan imbalan.

Walaupun saat ini  sudah ada program sertifikasi bagi para pendidik  untuk mendapatkan gelar sebagai pendidik profesional, tetapi dalam kenyataannya masih  banyak diantara mereka yang sebutannya saja pendidik perofesional, tetapi substansinya  masih amatiran.  Kita menyadari bahwa  program sertifikasi yang dimaksudkan untuk mendongkrak kualitas pendidikan tersebut, kemudian banyak dipahami hanya sekedar meningkatkan “kesejahteraan” guru saja tanpa diimbangi dengan peningkatan kualitas.  Ini seharusnya yang menjadi pertimbangan kita untuk melakukan evaluasi dan uji kompetensi yang beberapa waktu lalu digulirkan.

Program evaluasi melalui uji kompetensi tersebut memang harus dilakukan  untuk megetahui peta pendidik, kemudian dilakukan berbagai upaya untyuk peningkatan mereka melalui berbagai training yang diharapkan  mampu memberikan nuansa baru bagu para pendidik sehingga mereka dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik dan tepat.  Dengan pertimbangan  masa depan bangsa yang  harus kompetetif dengan bangsa lain di dunia, maka  persoalan tersebut harus di”paksakan”, meskipun banyak  yang menentang.

Mereka yang tidak sepakat dengan program evaluasi dan uji kompetensi tersebut tentu ada dua kemungkinan, yakni kurang perhatian terhadap dunia pendidikan atau bahkan mungkin mereka para pendidik yang  merasa  tidak mampu.  Nah, kalalu kasusnya ialah kekhawatiran mereka yang tidak mampu dalam uji tersebut, tentunya harus terus menyiapkan dirinya, karena  profesi guru memang sebuah tanggung jawab yang harus diberikan kepada seluruh bangsa.  Artinya kalau  seseorang telah menjatuhkan pilihannya sebagai pendidik, maka ia harus  mau dan ikhlas mendarma baktikan dirinya untuk kepentingan mencerdaskan bangsa.

Sementara itu persoalan sarana dan kelengkapan belajar sampai detik ini juga masih banyak  persoalan, terutama di beberapa daerah yang jauh dari perkotaan.  Sarana minimal untuk sebuah pembelajaran seharusnya memang dapat dipenuhi, karena pemerintah memang sudah mengalokasikan dana cukup banyak untuk sektor pendidikan tersebut, namun kalau melihat kenyataan di lapangan, memang  masih sangat memprihatinkan, karena itu  harus ada evaluasi implementasi anggaran pendidikan tersebut, karena pada sektor lainnya justru banyak kelebihan, tetapi pada sektor  ini ternyata masih kurang.

Pendidikan adalah  dunia dimana aspek manusia yang digarap dan bukan barang, sehingga membutuhkan berbagai sentuhan yang memungkinkan mereka dapat berpikir dan memahami serta menyampaikan kesimpulan  dari pengamatannya tersebut.  Tentu hal tersebut memerlukan sebuah proses yang cukup, sehingga memungkinkan analisanya tersebut  menjadi tajam dan bermanfaat bagi dirinya dan juga bangsanya.  Selama ini kurikulum yang diberlakukan kurang dalam hal memberikan pembelajaran kepada peserta didik semenjak  sekolah dasar untuk membiasakan diri mengamati, menganalisis dan menyimpyulkan serta kemudian daspat menyampaikan.

Bahkan tidak jarang kurikulum yang  seperti saat ini ada dipraktekkan oleh sebagian pendidik dengan hanya menghafal saja, sehingga  mereka pada akhirnya tidak terbiasa untuk berpikir dan menganalisa serta mengamati berbagai persoalan secara serius dan sungguh sungguh.  Akibat  lebih lanjutnya ialah para lulusan tidak dapat berkompetisi dengan berbagai lulusan lainnya yang memang dididik dan diarahklan untuk mengembangkan daya nalar dan kritisnya.

Menyadari hal tersebut kurikulum kita, terutama dalam pendidikan dasar dan menengah memang harus diorientasikan  ke sana dan sekaligus menekankan bagaimana pentingnya pembentukan karakter mereka, sehingga mereka akan menjadi sosok yang cerdas dan sekaligus berakhlak baik.  Inilah yang  seharusnya kita  pikirkan dan carikan jalan keluar, sehingga pendidikan kita akan lebih maju dan kompetitif.

Itu  semua lebih banyak berkaitan dengan pendidikan dasar dan menengah, sedangkan untuk pendidikan tinggi menurut saja juga  hampir sama persoalannya, yakni tentang SDM yang kurang, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas, sarana pembelajaran dan orientasi kurikulum.  Persoalan SDM lebih lebih menjadi sangat kurang jikalau dihubungkan dengan posisi sebagai dosen yang mempunyai tugas melaksanakan tri dharma perguruan tinggi. Tradisi penelitian yang berkualitas di kalangan dosen dan perguruan tinggi masih sangat membutuhkan dorongan dan sekaligus “paksaan” dari para pengambil kebijakan.

Artinya  masih dijumpai  dosen yang sudah bersertifikat, tetapi belum menunjukkan  diri sebagai sosok dosen profesional yang  mempunyai empat kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial.  Akibantnya  para  mahasiswa yang memang kurang mempunyai sifat ingin tahu dan cerdas, serta hanya berkeinginan  lulus saja, menjadi klop dan jadilah proses pendidikan yang sangat tidak layak disebut pendidikan tinggi.

Syarat formal memang sudah dipenuhi, yakni minimal  strata dua, tetapi ditilik dari proses pendidikan yang ada  dan berlangsung selama ini, kita juga  kemudian dapat mengerti bahwa  itulah yang dapat dilakukan dan  karena itu saat ini harus  berani melakukan  revolusi pendidikan, kalau kita memang menginginkan  sebuah kondisi yang sama sekali berbeda.  Bahkan sesungguhnya keidealan sebuah lulusan strata tiga sudah dirumuskan, tetapi belum seleurhnya dilaksanakan dengan benar.

Saat ini lulusan program doktor saja seharusnya telah memperoleh pengakuan secara internasional, yakni melalui tulisan mereka yang dimuat di jurnal internasional, tetapi hal tersebut belum dilaksanakan dengan baik.  Pertimbangannya sangat praktis, yakni kalau diberlakukan dengan konsisten, maka akan  banyak yang terhambat, gara gara persyaratan tersebut.  Tetapi kita meang harus memulainya, terutama bagi mereka yang baru saja memasuki program doktor tersebut, sehingga pada saatnya nanti mereka memang sudah siap dengan persyaratan tersebu.

Artinya kalau kita tidak mau memulainya, maka pendidikan kita  masih akan tetap seperti ini selamanya dan kita tidak akan pernah bangkit dari  ketertinggalan dari negara negara lain yang sangat  antusias dalam menangani persoalan pendidikan tersebut.  Kita harus menyadarkan semua pihak bahwa  kemajuan bangsa itu sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh kualitas  masyarakatnya dan hal tersebut dapat dicapai melalui pendidikan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.