RENDAH HATI

Kebiasaan yang sulit dihilangkan pada diri seorang yang sedang meraih sukses ialah sombong atau takabur, meskipun  kadarnya  ada yang sedikit.  Artinya sikap seseorang yang sedang berada dalam kesuksesan biasanya akan memandang remeh kepada pihak lain, terutama mereka yang tidak dapat meraih kesuksesan sebagaimana dirinya.  Kesuksesan yang diraih, terutama dalam persoalan duniawi, biasanya akan membuat seseorang merasa hebat dan orang lain menjadi berada di bawahnya.  Orang yang sukses dalam hal ekonomi, cenderung akan memandang remeh kepada mereka yang tergolong kurang berhasil atau golongan miskin, walaupun  dapat saja hanya dalam soal cara berbicara, sikap, maupun dalam tindakan lainnya.

Itulah sifat manusia yang memang cenderung mendahulukan sifat egonya, meskipun secara  agama, Islam sangat jelas telah memberikan  tuntunan agar semua orang dapat bersikap rendah hati dan tetap memandang sama kepada sesama manusia, baik yang  selevel dalam hal ekonomi mapun kepada mereka yang lebih renhad.  Dengan bersikap seperti itu tentu diharapkan akan tumbuh rasa syukur yang tulus dan  pada saatnya akan menmpatkan dirinya pada tempat yang terhormat secara substansi.

Bahkan secara lebih tegas Islam menyatakan bahwa sifat sombong tersebut merupakan sifat yang hanya dimiliki oleh Tuhan, dan semua makhluk yang ada di alam dunia ini tidak ada hak untuk mempraktekkan sifat sombong tersebut.  Dan hanya mereka yang durhaka sajalah yang kemudian melakukan kesombongan sebagaimana  dianjurkan oleh iblis.  Karena memang hanya iblislah yang pertama kalinya membangkang perintah Tuhan dengan  kesomvbongannya yang tidak mau menuruti perintah Tuhan untuk tunduk, hormat  atau “bersujud” kepada  Adam.  Alasan yang dikemukakan ialah kesombongannya yang merasa lebih mulia ketimbang Adam, karena dirinya diciptakan dari api sementara Adam dari tanah.

Tentu kalau sifat sombong tersebut sudah merasuk kedalam jiwanya, alasan apapun akan dapat dijadikan  dalih untuk membenarkan kesombongannya tersebut.  Dan anehnya kebanyakan umat manusia kemudian  tidak merasa terusik dengan kondisi seperti itu.  Kita lihat saja dalam kebiasaan sehari hari, dimana setiap orang yang lebih tinggi  dalam hal ekonominya, sudah barang lazim kalau dihormati oleh mereka yang berada di level bawahnya.  Dan anehnya mereka yang  ekonominya lebih baik tersebut kurang menghormati kepada mereka yang di bawahnya, terutama dalam hal berbicara, bersikap dan perbuatan keseharian.

Di kalangan masyarakat Jawa dikenal adanya boso  kromo dimana   lawan bicara selkalu dibedakan.  Kita belum pernah menemukan orang kaya kemudian mau  menggunakan boso kromo kepada merka yang miskin, dan kalau toh ada itu  hanya sangat sedikit sekali.  Berbeda dengan  arah sebaliknya, yakni sangat banyak dan lazim kita jumpai orang orang miskin yang menggunakan boso kromo tersebut kepada mereka yang kaya.  Ditilik dari sisi ini saja kita sudah mendapatkan praktek “kesombongan” yang tidak disengaja atau tidak disadari oleh mereka yang melakukannya.

Ada kalanya perbuatan yang dianggap  sudah terbiasa dan tidak digugat oleh masyarakat pada umumnya, kemudian dianggap sebagai sesuatu yang  baik, tetapi pada substansinya  terkadang tidak baik, karena  tidak sesuai dengan anjuran agama misalnya.  Karena itu memilah dan mengevaluasi  segala perbuatan yang kita lakukan dalam keseharian memang sangat diperlukan.  Semua itu  dalam upaya kita untuk  lebih memberikan nuansa agamis dalam kehidupan kita.  Jangan jangan perbuatan yang selama ini kita praktekkan, ternyata tidak sejalan dengan apa yang seharusnya kita lakukan.

Tentang sikap rendah hati atau tawadlu’ yang memang sangat dianjurkan dan selalu dipraktekkan oleh orang orang shalih, misalnya, saat ini sudah mulai terkena erosi sehingga menghawatirkan kita semua.  Sikap andap asor yang dahulu selalu menjadi ajaran nomor wahid di setiap keluarga, saat ini sudah mulai memudar seiring dengan derasnya informasi yan g masuk dari berbagai belahan dunia.  Kita memang tidak dapat menyalahkan informasi  dan teknologi yang menyertainya tersebut, karena sesungguhnya yang menjadi persoalan ialah faktor manusianya, bukan faktor teknologi dan informasinya.

Selama kita dapat mendidik anak anak bangsa ini dengan akhlak mulia, maka arus sederas apapun informasi, termasuk yang kurang baik, tetap akan terfilter oleh didikan kita tersebut.  Tetapi sebaliknya ketika  didikan kita tidak berhasil atau bahkan sama sekali tidak berusaha untuk mendidik mereka, maka akan dengan mudah segala informasi masuk dan kemudian menjadi sesuatu yang dipercayai serta ditiru.

Sehingga dengan demikian sesungguhnya persoalan sikap rendah hati tersebut merupakan persoalan pembentukan karakter dalam pendidikan kepada manusia.  Selama  seseorang  yang dalam pembentukan jiwanya berada dalam lingkungan yang kondusif untuk menciptakan sosok manusia yang baik, maka kemungkinan besar mereka akan menjadi menudia yang rendah hati, tetapi sebaliknya kalau mereka berada dalam lingkungan yang tuidak kondusif untuk itu, maka akan sangat  rawan untuk dipengaruhi hal hal baru yang dianggapnya lebih baik.

Namun demikian bukan berarti pendidikan karakter pada usia awal tersebut kemudian  sudah selesai, sama sekali bukan begitu, karena  kalau mereka yang  sudah mempunyai dasar sifat baik dan rendah hati seperti itu, kemudian dibiarkan begitu saja bergaul dan berkomunikasi dengan berbagai  budaya yang  berbeda, akan sangat mungkin dapat terpengaruh dan kemudian terjebur dalam budaya yang sama sekali berbeda.  Untuk itu  pengawasan dan bimbingan harus tetap dilakukan, meskipun tidak membatasi secara ketat atau bahkan mengekang mereka sehingga  seolah mereka terkungkung dari pergaulan mereka.

Kita masih sangat yakin bahwa sikap rendah diri dapat tetap dimiliki dan dipraktekkan oleh anak anak kita di tengah tengah kesombongan banyak pihak, karena kalau kita sudah mendasari mereka dengan sebuah keyakinan yang benar bahwa  sikap rendah hati tersebut merupakan pilihan yang akan menyelamatkan dan menjaga kehormatan, maka insya Allah  mereka akan  dengan mjudah mengatsi  pergaulan mereka tanpa harus mengikuti arus kesombongan yang  ditunjukkan.  Kita harus meyakinkan mereka bahwa sifat rendah hati tersebut merupakan sifat mulia dan pemiliknya akan tetap menjadi terhormat dimanapun.

Kita harus dapat memberikan bukti tentang kehormatan yang akan tetap abadi yang dimiliki oleh mereka yang mempraktekkan  sifat rendah hati tersebut, meskipun mereka sesungguhnya “lebih berhak” berlaku sombong ketimbang mereka yang saat ini melakukannya.  Hanya saja karena kesadaran mereka yang rendah hati tersebut bahwa hanya Tuhanlah yang berhak untuk sombong, maka mereka  tidak akan pernah berani bersikap sombong.  Artinya para ulama yang ilmunya sangat tinggi sekalipun, justru malah selalu rendah hati di hadapan  orang banyak.

Tentu sejarah hidup para ulama dan kisah kiksah teladan di kalangan hamba Tuhan dari masa ke masa yang dicatat oleh sejarah, sangat perlu kita tunjukkan kepada anak anak kita, sehingga  pada saatnya mereka akan terbentuk sifatnya dan sangat meyakini apa yang kita sampaikan.  Kalau dasar seperti itu telah meresap dan bahkan mengakar dalam diri mereka, kita akan sangat  percaya bahwa mereka akan  dapat mempraktekkan sifat rendah hati tersebut dalam kesehariannya.

Jadi sifat rendah hati tersebut akan terpatrei dalam jiwa siapapun yang  dalam proses pembentukannya  dilakukan secara terus menerus dalam keteladanan dan lingkungan yang mendukung.  Saya mengajak kepada semua umat untuk menjadikan rumah kita sebagai lingkungan yang akan memungkinkan membentk sifat dan karakter anak kita, sehingga mereka akan menjadi manusia yang rendah hati.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.