MEMBUAT WIBAWA ISLAM

Sesungguhnya islamitu sangat luar biasa baik dan semboyan bahwa ia merupakan rahmat bagi alam semesta memang benar adanya.  Hanya saja hal tersebut dapat  menjadi hilang dan berganti dengan sebaliknya, yakni menyeramkan dan menakutkan banyak orang, kalau islam tersebut berada  pada tangan orang orang yang tidak dapat memeliharanya dengan benar dan tepat.  Artinya bahwa substansi ajaran Islam itu memang  cocok dengan semua zaman dan wilayah, karena elastisitas yang dimilikinya.  Namun sekali lagi  dalam kenyataannya  masih banyak orang yang phobi terhadap Islam atau hokum Islam itu sendiri.  Penyebabnya ialah  terlalu harfiyahnya  umat Islam dalam memaknai taks tekas yang ada dan tidak dapat menyesuaikan dengan kondisi yang dihadapi.

Islam memerlukan kajian yang cermat dan matang dari para pemeluknya, agar dapat benar benar menjadi rahmat bagi alam semesta, karena sesungguhnya teks teks yang ada  sangat mungkin ditafsirkan  ke berbagai versi yang terkadang malahan akan menjauhkan Islam dari para pemel;uknya atau  tidak akan pernah didekati oleh mereka yang ketakutan dengan aturan yang  dianggap sangat tidak manusiawi atau lainnya.  Tentu kita  juga memaklumi adanya kejadian seperti itu, karena sejarah umat Islam dari masa ke masa di berbagai belahan dunia memang ada yang  sangat kaku dalam menerapkan  hokum Islam, meskipun ada juga yang moderat dan disesuaikan dengan kondisi setempat.

Cerita tentang betapa hokum seperti potong tangan bagi para pencuri, hokum qisas bagi para pelaku hokum pidana yang berkaitan dengan anggoda badan seseorang ataupun dengan nyawa, hokum gantung, hokum pancung dan sejenisnya  yang pernah diberlakukan di beberapa Negara dengan mengatas namakan sebagai bentuk hokum Islam, tentu menjadi bukti betapa  banyak umat manusia kemudian tidak mau mendekat dengan Islam, tetapi malah justru menjauhinya.  Bahkan dengan kondisi seperti itu mereka kemudian mengklaim bahwa Islam itu identic dengan kekerasan dan kesadisan serta tidak mengenal peri kemanusiaan.

Demikian juga cerita tentang beberapa orang  yang masuk dalam aliran keras dan mempunyai keyakinan yang relative berbeda dengan keyakinan kebanyakan umat Islam lainnya, semakin menambah  kepercayaan mereka yang sudah anti Islam.  Beberapa kelompok di Negara kita misalnya yang meyakini bahwa membunuh orang kafir itu mutlak wajib dan akan mendapatkan balasan surga,  dianjurkannya bunuh diri untuk membunuh banyak orang kafir, serta harus  memusnahkan segala sesuatu yang menurut mereka tidak sejalan dengan syariat Islam, merupakan beberapa hal yang menyedihkan dan seharusnya tidak dilakukan oleh mereka yang menamakan dirinya sebagai umat Islam.

Betapa dapat dibenarkan  mereka yang membunuh nyawa orang lain dengan mengatas namakan sebagai perintah agama.  Agama yang seharusnya menentramkan dan melindungi  jiwa dan kehormatan setiap orang justru dislah gunakan sebagai alat untuk merusak dan menyakitinya.  Apa yang dilakukan oleh beberapa orang yang mengatasnamakan  perintah agama tersebut sesungguhnya  sama sekali tidak dapat dibenarkan, baik dari sisi  substansi ajaran Islam maupun dari sisi  uswatun hasanah yang diteladankan oleh Nabi Muhammad sendiri.  Islam itu sesungguhnya sangat santun dan menghormati serta melindungi siapapun, termasuk mereka yang tidak sepaham dengan  syariat Islam, asalkan mau damai dan sepakat hidup bersama dalam kerukunan.

Memang benar Islam memperbolehkan membela diri dari penyerangan yang dilakukan oleh pihak lain ataupun dari segala ancaman yang akan membahayakan diri dan juga agama atau syariat.  Namun selama  orang  lain tersebut  dapat hidfup rukun bersama dalam kehidupan bermasyarakat, tanpa mengganggu  berbagai hal yang berkaitan peribadatan dan lainnya, tentu Islam akan dengan senang hati menerimanya.  Itulah misi yang sering dilupakan orang atau pemeluknya sendiri sehingga membuat keputusan yang justru merugikan Islam secara keseluruhan.

Saat ini dimana  informasi dimanapaun di seluruh dunia dapat diakses dalam waktu menitan, seharusnya semua orang dapat menempatkan diri sebagai pihak yang berhadapan dengan banyak pihak dank arena itu harus dapat berlaku bijak.  Bahkan kalau diingat saat ini masyarakat dunia sedang mengagungkan hak hak azasi manusia, yang sesungguhnya juga sangat dihormati oleh Islam, setiap keputusan apapun yang menyangkut banyak orang harus dipikirkan juga tentang akibatnya  dalam pendangan masyarakat dunia.  Saya sendiri  sesungguhnya termasuk  orang yang  sangat peduli dengan persoalan HAM, hanya saja tidak keterlaluan menjadikannya sebagai satu satunya pertimbangan.

Artinya kalau memang  ada pihak yang melanggar HAM secara serius, seperti memnunuh dan membanati banyak orang, dan kemudian  ketika ada usulan agar yang bersangkutan diadili dengan memberikan hukuman mati, misalnya, dan kemudian ditentang dengan alas an HAM, tentu saya tidak akan dapat menerima alas an HAM yang disodorkan tersebut.  Kenapa? Karena  pihak yang melanggar HAM tersebut dengan sengaja dan sadar melakukannya, kenapa kemudian kita tidak diperkanankan untuk memberikan efek jera kepada dirinya dan juga kepada siapapun yang mengetahui hal tersebut.  Ada kalanya  usaha untuk mencegah terjadinya kejahatan tertentu dengan memberikan hukuman yang berat iotu lebih diutamakan.

Dalam kaitannya dengan persoalan tersebut saya memang termasuk yang tidak sepakat adanya beberapa perda tentang syariat Islam yang justru setelah dicermati hanya kulitnya saja dan bukan substansinya.  Artinya kalau substansi ajaran Islam, saya sangat yakin siapapun akan setuju, karena akan memberikan rasa aman dan keuntungan kepada semua pihak, tetapi kalau hanya kulitnya saja, justru malah akan  membuat  persoalan semakin rumit, dan akan menimbulkan masalah serta kegoncangan.

Salah satu contoh yang saat ini marak dibicarakan orang adalah adanya keputusan Pemerintah Kota Lhokseumawe yang  mulai Senin kemarin memberlakukan larangan mengangkang saat berboncengan di motor bagi perempuan, walaupun masih dalam taraf sosialisasi dan berlaku hingga tiga bulan ke depan, dan setelah itu kalau masih didapati adanya perempuan yang membonceng sepeda motor dan duduk mengkangkang, maka akan dikenakan sanksi.  Belum juga dilaksanakan secara resmi, hal tersebut sudah menuai protes dari para aktifis perempuan yang menganggapnya ada  diskriminasi dan lainnya.

Menurut saya persoalan adat dan tradisi  itu  sangat mudah berubah sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman, bahkan dalam hokum Islam sendiri juga sangat fleksibel, sebagaimana kaidah yang menjelaskan bahwa “hokum itu akan selalu bergantung kepada konteks dan alas an yang menyertainya”.  Ambil contoh saja dalam persoalan tradisi dan adat kebiasaan pada masa yang lalu, orang kencing berdiri itu sangat tidak sopan, bahkan kemudian muncul peribahasa yang menyatakan “kalau ada guru kencing berdiri, maka murid akan kencing berlali”.  Namun  seiring dengan berlalunya zaman dan kemajuan  serta demi kepraktisan, maka kencing berdiri saat ini malah menjadi trend, dan tempat tempat kencing bagi pria kebanyakan memang didesain  berdiri dan bukan jongkok lagi.

Demikian juga contoh dalam hokum Islam sangat banyak dan diantara yang paling menumental ialah apa yang dilakukan oleh imam Syafii ketika beliau melakukan istinbath hokum pada saat di baghdad dan ketika beliau sudah pindah ke Mesir.  Artinya dalam persoalan yang sama, karena kondisinya sangat berbeda antara di Baghdad dan Mesir maka beliau menerapkan hokum yang berbeda.  Itulah kemudian di dunia fiqh dikenal istilah qaul jaded dan qaul qadim.

Jadi menurut saya harus ada kebijakan dari para pengambil keputusan yang akan diberlakukan kepada umat secara keseluruhan, agar setiap yang diputuskan itu terasa sejuk dan memberikan kedamaian bagi masyarakat.  Klaim terhadap ajaran Islam yang ketika diterapkan justru berbuah masalah, tentu harus dikaji lebih dalam, karena kita sangat yakin bahwa syariat Islam itu akan selalu  cocok untuk segala zaman dan tempat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.