AMAL SHALIH

Salah satu sayarat seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat ialah ia harus mempunyai amal shalih, di samping iman yang mendasarinya.  Tidak akan mungkin seseorang yang tidak mempunyai investasi amal shalih dapat memperoleh kebahagiaan atau surga, justru yang akan didapatkannya ialah neraka atau tempat kesengsaraan.  Kebalikan amal shalih ialah amal jelek atau kemaksiatan.  Artinya siapapun yang  melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan peraturan yang ada, baik berkaitan dengan persoalan kepercayaan atau agama maupun dalam kaitannya dengan kemasyarakatan, maka sesungguhnya orang tersebut sudah melakukan perbuatan jelek, dan sebaliknya siapapun yang perbuatannya sesuai dengan peraturan, maka ia telah melakukan sesuatu yang baik atau amal shalih.

Dalam kehidupan di masyarakat, terkadang kita membedakan antara  perbuatan yang didasarkan kepada klaim agama dengan yang didasarkan kepada kebiasaan baik di masyarakat.  Padahal sesungguhnya untuk kehidupan di negara kita, kebiasaan baik yang hidup dan berkembang di masyarakat, tidak akan menyimpang dari ketentuan agama, karena dasar negara kita, yakni Pancasila sebenarkan selaras dengan ajara agama.  Berbagai amalan yang bersumberkan agama tentu tidak akan bertentangan dengan ketentuan di masyarakat, khususnya di negera kita.

Hanya memang tidak semua hal yang diperbolehkan di masyarakat, kemudian juga  diperbolehkan oleh agama, karena sudah sangat jelas  masyarakat kita terdiri atas berbagai suku, ras , dan juga agama.  Sedangkan dalam peraturan internal masing masing agama sudah barang pasti ada ketentuan tersendiri yang berbeda dengan lainnya.  Hal tersebut sudah menjadi pengertian secara umum dan tidak perlu dipersoalkan.  Hanya saja  kalau berkaitan dengan perbuatan baik yang ukurannya umum, tentu ada kesamaan yang relatif dan dapat diterima oleh semua pihak.

Sekedar sebagai contoh, bahwa pada masing masing agama yang memberikan ketentuan berbeda, misalnya dalam hal makanan, tentu berlaku bagi masing masing pemeluk, seperti dalam Islam daging babi sangat dilarang, namun bagi pemeluk agama lain tertentu diperbolehkan.  Tetapi kalau dalam persoalan yang menyangkut kepentingan umum seperti membuat onar, ribut,  merugikan pihak lain dan sejenisnya, tentu semua agama akan sama melarangnya.  Dan sebaliknya kalau perbuatan silaturrahmi atau saling berkunjung, bersahabat, membantu pihak lain dan sejenisnya, tentu semua agama akan menganjurkan dan memujinya.

Sebagai seorang muslim yang taat dan hidup di negara Indonesia seperti kita ini, tentu tidak boleh menjadikan agama sebagai alasan untuk membenarkan perbuatan yang sesungguhnya secara umum tidak baik atau bahkan bertentangan dengan peraturan yang ada.  Justru sebagai muslim kita harus menunjukkan kepada siapupun bahwa Islam itu sungguh sangat baik dan mengayomi seluruh umat, karena memang Islam itu rahmatan lil alamin.

Kitab tentu sangat prihatin dengan kondisi akhir akhir ini dimana banyak orang yang mengatasnamakan agama kemudian justru merugikan banyak pihak.  Padahal agama, khususnya Islam itu sangat santun dan sangat menghormati hak hak setiap orang.  Banyaknya orang yang melakukan kekerasan dan bahkan kejahatan kepada sesama umat manusia, dan berlindung dibalik agama, tentu tidak dapat dibenarkan dan harus diberantas.  Artinya kalau ada orang yang mengatas namakan suatu agama, kemudian melakukan kejahatan, maka sesungguhnya ia telah menodai agama itu sendiri, karena kita semua yakin tidak ada satu agamapun yang memperbolehkan perbuatan jahat.

Kita memang tidak bisa menutup mata dengan adanya sebagian  diantara saudara kita yang salah dalam memahami ajaran agama dan hanya menuruti keinginan hawa nafsu saja, seperti  keinginan untuk memusnahkan seluruh pihak yang tidak seiman dengannya.  Hal tersebut jelas tidak selaras dengan ajaran agama itu sendiri yang menganjurkan  dan memerintahkan untuk berlaku santun dan menghormati kepada siapa saja, termasuk mereka yang berbeda keyakinan.

Gelora jihad yang selama ini disampaikan oleh sebagian orang dengan cara memerangi orang orang yang tidak sepaham dengan mereka, bahkan juga dengan merusak berbagai fasilitas ibadah dan lainnya, tentu tidak dapat dibenarkan oleh siapapun yang  mengkaji agama secara bik dan bijak.  Justru inti dari ajaran agama itu ialah bagaimana  seseorang dapat menjadi bijak dalam menyikapi berbagi problem, bauik daam masyarakat maupun dalam dirinya sendiri.  Aagama tentu akan sangat memerintahkan untuk menjaga keutuhan masyarakat, menjaga aset yang diperuntukkan bagi masyarakat dan juga tidak merusak dan merugikan  siapapun.

Nah, dengan demikian kalau sekiranya ada sebagian masyarakat kita yang dengan mengatas namakan agama tertentu kemudian merusak dan membinasakan pihak lain, termasuk berbagai fasilitas yang digunakan untuk ibadah serta bertahan hidup, tentu ada yang tidak benar di dalamnya.  Dalam Islam sendiri sesungguhnya sudah diatur dengan begitu bagus tentang hubungan antar umat tersebut.  Bahkan cara dakwahpun juga telah diatur sedemikian rupa sehingga tidak akan pernah merugikan pihak lain.

Dakwah atau mengajak pihak lain untuk  mengikuti jalan Tuhan tentu tidak boleh dilakukan dengan kekerasan atau pemaksaan, melainkan harus dengan cara yang santun, dalam bahasa agama dengan hikmah.  Hal tersebut juga sangat tergantung kepada siapa yang diajak gtersebut.  Artinya kalau mereka yang menjadi sasaran ajakan adalah yang sama sekali belum mengenal ajaran Islam, maka caranya ialah dengan cara yang menarik, santun dan juga penjelasan yang baik dan mengena.  Namun jikalau sasaran ajakan tersebut adalah mereka yang sudah relatif mengenal agama, maka dengan cara diskusi yang baik dan  lebih menekankan kepada argumentasi rasional dan maton, dan bukan dengan cara yang kasar, memaksakan diri dan lainnya.

Dalam kasus yang akhir akhir ini mencuat ke permukaan, seperti mengenai nikah sirri misalnya, umat Islam tidak sepakat dalam menyikapinya.  Artinya kalau sekiranya nikahtersebut termasuk urusan fiqh  dan fiqh itu selalu berkembang dan sesuai dengan konteks dan zamannya, maka sudah selayaknya dengan berbagai pertimbangan  sebagaimana didalam ilmu ushul fiqh, maka persyaratan pncatatan nikah tersebut dapat dijadkan sebagai sebuat syarat wajib, dan bukan hanya sebagai pilihan saja.

Artinya umat Islam terutama para ulama dan tokohnya harus dapat meyakinkan  dan sekaligus meyakini bahwa hal hal yang sudah ditetapkan oleh perundangan bagi umat Islam di Indonesia ini harus menjadi sebuah keniscayaan dan bukan lagi kembali kepada fiqh klasik yang disusun jauh dari Indonesia  serta sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini.  Hal ini sangat penting agar umat tidak lagi terus menerus berdalih  kepada fiqh.  Termasuk dalam masalah ini ialah persoalan cerai atau talak yang di dalam fiqh dapat diucapkan oleh seorang suami kapan saja dan dimana saja.

Ini sangat merugikan pihak lain, terutama pihak perempuan, karena  tidak mendapatkan perlindungan yang semestinya.  Padahal kita tahu di dalam perundangan kita sudah diatur bahwa talak itu hanya dapat dilakukan di depan sidanag pengadilan.  Namun dalam prakteknya  masih banyak orang yang meyakini bahwa talak akan terjadi meskipun diucapkan di rumah, di tengah jalan, di pasar dan dimanapun.

Itulah berbagai persoalan yang sampai saat ini masih menjadi pekerjaan rumah kita daan meyakinkan serta membuat kondisi masyarakat menjadi damai, tentram dan aman, tentu merupakan amal shlaih yang akan menjadi investasi kita di akhirat nanti.  Sebaliknya bagi mereka yang selalu beralasan agama untuk membenarkan perbuatannya yang sesungguhnya tidak baik dan melanggar aturan yang ada, tentu  hal tersebut merupakan amal jelek yang harus segera diakhiri dan beristighfar.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.