KIAI

Seseorang yang mendapatkan gelar kiai adalah  orang pandai, khususnya dalam bidang ilmu syariat Islam serta menjadi panutan masyarakat, baik dalam hal kerlakuannyanya, sikapnya, kebijakannya dan berbagai hal lainnya.  Sehingga gelar kiai tersebut bukan pemberian  oleh sebuah lembaga, melainkan muncul secara sendirinya dari masyarakat.  Pada dataran tersebut sesungguhnya kiai itu identic dengan ulama, meskipun ada perbedaannya.  Artinya kebanyakan masyarakat menganggap bahwa ulama itu orang yang  pandai dalam bidang ilmu syariat, walaupun belum pasti menjadi panutan masyarakat banyak.  Tetapi kalau kiai itu disamping pandai juga menjadi  tempat berteduhnya umat.

Itulah setidaknya  pengertian yang beberapa saat yang lalu “disepakati” oleh masyarakat secara luas dan seolah sudah menjadi sebuah kebenaran.  Namun  bersamaan dengan berlalunya zaman, ternyata pergeseran gelar tersebut  tidak dapat dibendung.  Ironisnya pergeseran tersebut cenderung mengarah kepada  pelemahan gelar tersebut.  Artinya gelar kiai tersebut bukan lagi hanya milik mereka yang pandai dan alim dalam bidang syariat, serta menjadi teladan dan rujukan masyarakat, melainkan  seolah  dapat dimiliki oleh siapapun yang secara lahir menampakkan diri sebagai sosok kiai.

Boleh jadi sang kiai tersebut tidak benar benar menguasai ilmu syariat atau bahkan sama sekali tidak pantas untuk dijadikan  teladan.  Saat ini  gelar kiai sangat mudah didapatkan oleh siapapun yang bermodalkan sedikit ayat al-Quran dan kemampuan orasi dan ditambah dengan penampilan, sudah akan mudah mendapatkan gelar kiai.  Artinya siapapun yang tampil memberikan ceramah agama, meskipun hanya sepenggal persoalan, ia sudah dapat mendapatkan gelar kiai, setidaknya dari masyarakat yang diceramhi tersebut.

Bahkan lebih ironis lagi ketika kita menyusuri perkampungan dan perdesaan, di sana kita akan mendapi sang kiai yang ternyata  jauh dari pandai dalam bidang ilmu syariat, melainkan hanya bias menjalanlan shalat dan kebetulan “ngadep” mushalla atau masjid.  Bekal yang paling utama dalam persoalan tersebut ialah dia mampu membacar tahlil dan tentu melakukan shalat lima waktu.  Nah, dengan  begitu orang tersebut sudah menjadi ‘kiai” dalam pandangan masyarakat perdesaan tesebut.  Dalam pengertiannya yang seperti itu. Kiai tersebut tidak mesti menjadi rujukan dan teladan bagi masyarakatnya secara umum.

Sebab pada saat yang sama mereka juga harus pergi ke sawah bersama, ngobrol bersama, njagong bersama, dan yang membedakan mereka biasanya ialah ketika urusan ibadah, dimana sang kiai selalu menjadi pemimpin, baik dalam menjalankan shalat maupun dalam kegiatan tahlilan dan sejenisnya.  Bahkan dalam tataran kehidupan kemasyarakatan, sang kiai tidak dimasukkan ke dalam wilayah khusus.  Artinya terkadang sang kiai malahan dianggap “remeh” oleh masyarakat, hanya disebabkan  kiai tersebut secara ekonomi tidak mendukung.

Itulah kenyataan yang  dapat kita temukan di masyarakat.  Tidak ubahnya dengan kiai tersebut ialah sosok ulama.  Artinya  gelar ulama seharusnya diberikan kepada mereka yang memang benar benar pandai dan menguasi  ilmu syariat dan menjadi teladan bagi masyarakatnya.  Sebab justru kata ulama inilah yang secara genealogis disebutkan oleh nabi Muhammad saw sebagai pewaris beliau, utamanya dalam hal meneruskan perjuangan dan menyampaikan risalah yang dibebankan kepada Nabi.  Jadi seharusnya  ulama itulah yang menjadi panutan, rujukan dan juga teladan bagi masyarakatnya.

Namun lagi lagi pada dataran  kenyataan, saat ini kata ulama juga sudah mulai tereduksi menjadi sebuah  sosok yang tidak ideal sebagaimana awalnya. Memang masih ada gelar ulama yang memang diberikan kepada mereka yang benar benar ulama, namun tidak jarang saat ini kita menjumpai beberapa pihak yang sesungguhnya tidak pantas disebut sebagai ulama, tetapi dengan  santainya menyebur dirinya atau disebut pihak lain sebagai ulama.  Karena itu barangkali tidak terlalu salah bilamana dahulu sudah muncul istilah “ulama su’” atau ulama yang jelek yang senyata tidak pantas disebut sebagai ulama.

Kiai itu sendiri menurut uraian bahasa konon dapat dirunut dari bahasa Arab, yakni “ki” atau “qi” yang berarti jagalah dan “yahi” yang dimaknakan sebagai ayat ayat Tuhan.  Jadi secara harfiah tersebut kiai mengandung makna orang yang menjaga dan mengamalkan ayat ayat Tuhan secara benar dan konsisten.  Siapapun yang tidak dapat menjaga ayat ayat Tuhan, sangat tidak tepat dan tidak pantas menyandang gelar kiai.  Apalagi  kalau hanya sekdar “mangku” masjid atau mushalla, tanpa keahlian dalam bidang syariat dan tanpa rekam jejak yang bagus, kemudian menyebut dirinya sebagai seorang kiai, tentu hal tersebut  akan merendahkan derajat kiai itu sendiri.

Mungkin karena kata kata kiai sudah tidak lagi dianggap sacral oleh masyarakat, disebabkan  penerapannya  yang serampangan dan sembrono kepada  orang yang tidak tepat sebagaimana tesebut, kemudian orang sudah mulai berani menamakan sesuatu yang  tidak tepat tersebut sebagai seorang kiai.  Taruhlah sebuah music yang dipandegani oleh MH Ainun najib diberikan nama kiai kanjeng, bahkan yang lebih ironis lagi di Solo ada seekor kerbau yang juga diberi nama dengan kiai slamet.  Memang untuk yang terakhir tersebut sama sekali tidak ada niatan melecehkan posisi kiai, melainkan hanya  sebuah nama.

Namun demikian kita memang sedang menyaksikan adanya reduksi pemaknaan kiai itu sendiri di kalaangan masyarakat.   Orang sangat gampang sekali memberikan  sebutan kiai kepada seseorang hanya didasarkan kepada penampilannya semata.  Aatau bahkan kiai tersebut hanya dihubungkan dengan  seseorang yang kebetulan “ngadep” masjid atau mushalla atau bahkan hanya dilihat dari pakaiannya saja. Padahal dahulu  kiai itu sangat identic dengan seseorang ulama besar yang mempunyai charisma tinggi disebabkan ilmu dan wibawanya.  Atau setidaknya identic dengan seorang pengasuh pondok pesantren yang cukup besar dan mempunyai santri banyak.

Kita memang agak sedikit terganggu dengan  penyebutan kiai kepada pihak pihak yang sesungguhnya kurang atau tidak pantas menyandangnya.  Karena bagaimanapun juga hal tersebut akan dapat  menurunkan kepercayaan masyarakat kepada yang namanya kiai.  Harus ada usaha usaha  nyata untuk mengembalikan  kiai pada tempat yang terhormat, sehingga tidak sembarang orang dapat disebut sebagai seorang kiai.  Usaha tersebut harus dilakukan secara serius dan  didukung oleh seluruh eemen masyarakat ilmiah dan agamis, yang memang harus mempunyai kepdulian terhadap persoalan ini.

Untuk itu pihak pihak terkait harus bersam sama  melakukan upaya tersebut.   Pihak pihak tersebut antara lain majlis Ulama Indonesia, kampus islam, majlis majlis pengajian, dan pondok pesantren.  Tentu kitya akan semakin  terganggu jikalau  kemudian muncul  ledekan  yang tujuannya  kepada lembaga kiai atau ulama.  Mungkin kalau  hal tersebut hanya menyangkut persoalan pribadi seseorang semata, kita tidak terlalu terganggu, namun kalau sudah  menyangkut “lembaga” kiai atau ulama sebagai sebuah sebutan yang  terhormat, tentu kita tidak akan merelakannya.

Jangan sampai kita nantinya  menjadi  ketinggalan dan akan semakin sulit untuk mengubahnya.  Gerakan pemurnian penerapan gelar kiai dan ulama kepada mereka yang memang pantas menerimanya, memang harus dimulai saat ini dan di sini juga.  Dan kita berharap bahwa semua umat Islam menyadari masalah ini dan mendukung secara  total gerakan tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.