TIDAK ADA QADLA SHALAT

Dalam kenyataan sehari hari kita sering mendengar bahwa  si fulan telah meninggalkan shalat sekian hari disebabkan sakit atau sebab lainnya.  Kita juga pernah mendengar bahwa si fulan yang baru saja meninggal dunia itu ternyata berhutang shalat selama setengah bulan, dan akan dibayar oleh keluarganya dan juga diberikan fidyah atau tebusan.  Kita juga acap kali mendengar perbicaraan dari para pemuda yang  sedang bepergian seharian penuh, dan kemudian setelah sampai di tujuan merekapun mengatakan bahwa kita harus segera mengqadla shalat yang kita tinggalkan tadi.  Demikian juga dengan pembicaraan lain yang isntinya membicarakan persoalan shalat yang ditinggalkan dan kemudian harus dibayar atau diqadla.

Sepintas persoalan tersebut merupakan persoalan biasa dan tidak ada yang ganjil dalam pembicaraan tersebut.  Hanya saja kalau kemudian kita cermati secara seksama dan renungkan dengan berpegang kepada beberapa ketentuan syariat, tentu hal tersebut menjadi janggal.  Bagaimana dapat dikatakan sebagai hal yang janggal? Ya, karena menurut ketentuan syariat, baik di dalam al-Quran maupun sunnah Nabi, bahwa shalat itu tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi bagaimanapun.  Sejauh akal pikiran masih sehat, meskipun badan harus hancur lebur, maka kewajiban shalat masih tetap melekat dan tidak boleh ditinggalkan.

Dengan kenyataan tersebut, maka pernyataan bahwa shalat telah ditinggalkan dan kemudian diqadla, merupakan kesalahan yang tidak ada alasan pembenarnya.  Kita juga sudah mengenal dan mengetahui bahwa  meskipun berdiri saat menjalankan shalat itu mwrupakan sebuah keharusan, namun ketika seseorang kesulitan untuk berdiri, semacam sakit misalnya, maka ia diperbolehkan menjalankan shalat dengan dukuk.  Kalau misalnya dudukpun masih kesulitan atau tidak mampu maka shalat dapat dilakukan dengan berbaring dan begitu seterusnya kalau tidak mampu berbaring, dapat dilakukan dengan terlentang, dan kalau masih kesulitan maka cukup dengan isyarat yang mungkin dilakukan.

Sebegitu rincinya pelaksaan shalat tersebut sehingga tidak ada kesempatan sedikitpun untuk meninggalkannya dengan alasan apapun.  Tentu ibadah shalat tersebut akan sangat berbeda dengan ibadah lainnya semacam, puasa misalnya, dimana Tuhan sendiri dengan jelas menyatakan  bahwa ketika seseorang  sedang sakit ataupun bepergian, maka ia diperbolehkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadlan, tetapi pada saatnya harus mengganti sebanyak yang ditingggalkan tersebut pada hari hari selain Ramadlan.  Karena itu sangat wajar dan tidak janggal, ketika diumumkan bahwa si fulan yang meninggal dunia tersebut  meninggalkan puasa selama tujuh hari misalnya.

Bagaimana  dengan orang orang yang sedang mengadakan perjalanan jauh dan dalam perjalanan tersebut melewati waktu shalat, sedangkan kendaraan yang ditumpangi tidak berhenti dan memberikan kesempatan kepada para penumpangnya untuk turun dan menjalankan shalat.  Nah, dalam kasus seperti itu sesungguhnya masih banyak jalan dan cara yang bisa ditempuh.  Artinya kalau waktu shalat yang kemungkinan berbarengan dengan perjalanan kita tersebut masih memungkinkan kita lakukan secara menjamak atau mengumpulkan dua shalat pada satu waktu, semisal  waktu Dhuhur dengan Asar, dan Maghrib dengan Isya’, maka  akan lebih baik kalau shalat tersebut dilakukan secara menjamak.

Namun kalau perkiraan waktu dalam perjalanan tersebut adalah waktu subuh misalnya, maka  shalat subuh tersebut masih tetap bisa kita lakukan di dalam kendaraan yang kita tumpangi.  Dalam persoalan ini Islam sesunggguhnya sanhgat luwes dan tidak mempersulit umatnya dalam menjalankan ibadah.  Tata cara melaksanakan shalat di kendaraan sudah banyak dibahas dan ditulis oleh para ulama, dimana di sana  ada semacam keringana nuntuk tidak memenuhi beberapa persyaratan sebagaimana kalau shalat dilaksanakan  di tempat yang tetap.

Shalat di dalam kendaraan tentunya tidak diharuskan menghadap kiblat, karena memang akan sangat sulit kalau hal ttersebut tetap diberlakukan.  Demikian juga keharusan berdiri, ruku’, sujud dan lainnya, sepanjang hal tersebut memang sangat susah untuk dilakukan.  Tetapi kalau tidak susah maka tetap harus dilakukan, seperti shalat di kapal yang sangat luas dan memungkinakn untuk berdiri.  Walaupun demikian karena kapal akan  selalu bergerak, maka selama shalat tidak wajib terus menghadap kiblat.  Setidaknya pada saat mengawali shalat dengan takbiratul ihram, seseorang berusaha untuk menghadap kiblat.

Sementara itu untuk persyaratan yang dilakukan sebelaum shalat seperti berwudlu misalnya, maka Islam jauh jauh hari telah memberlakukan kebolehan bertayammum pada saat  seseorang kesulitan menggunakan air, baik karena sakit maupun karena lainnya.  Jadi sekali lagi dalam urusan shalat, sesungguhnya tidak ada  alasan untuk ditinggalkan.  Siapapun yang mengaku sebagai seorang muslim, maka ia berkewajiban menjalankan ibadah shalat lima waktu dan sekali sekali tidak dibenarkan meninggalkannya.

Meninggalkan shalat dalam kondisi akal sehat berarti sebuah kemaksiatan yang pelakunya dianggap berdosa  dan durhaka kepada Tuhan.  Dalam keadaan seperti itu kita harus yakin bahwa  orang tersebut akan mendapatkan siksa  dari Tuhan, terkecuali seseorang tersebut bertobat dan memohon ampunan kepada Tuhan secara tulus, dan kemudian Tuhan mengampuninya.  Orang yang bertobat secara sungguh sungguh, tentu Tuhan akan  menerima taubatnya.  Tetapi syarat bertaubat itu harus dipenuhi, yakni menyesali perbuatannya yang telah meninggalkan shalat, kemudian berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Sehingga dengan demikian beberapa pernyataan sebagaimana yang saya sebutkan di awal tulisan ini, seharusnya tidak terjadi, jikalau seluruh umat Islam memahami persoalan ini.  Lantas bagaimana kalau ada kasus misalnya ada seseorang yang karena kesibukannya kemudian lupa tidak menjalankan ibadah shalat tertentu?.  Dalam persoalan ini ada aturan yang harus dketahui, bahwa lupa itu merupakan sifat manusiawi yang dapat menimpa siapa saja, dan syariat telah memasukkannya sebagai salah satu alasan yang dimaafkan.  Artinya seseorang tidak dianggap durhaka ketika ia lupa terhadap suatu kewajiban.

Namun kalau hal tersebut dihubungkan dengan pelaksanaan shalat, maka begitu ia ingat, maka ia berkewajiban langsung menunaikannya.  Artinya kalau misalnya ingatnya tersebut sudah jauh melampaui batas waktu sekalipun maka ia tetap harus menjalankannya, karena memang saat ingat itulah kewajiban dibebankan kepadanya.  Namun yang perlu dicatat ialah bahwa lupa tersebut memang benar benar lupa yang tidak disengaja.  Bukankah Tuhan juga memaafkan orang yang lupa makan di siang hari bulan Ramadlan, padahal sesungguhnya ia sedang berpuasa?.  Bakan Tuhan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang membatalkan puasa, malahan dianggap sebagai rizki dari Tuhan.

Nah,  shalat yang dikerjakan di luar waktu yang sesungguhnya disebabkan lupa tersebut bukanlah dianggap sebagai qadla, melainkan tetaplah ada’, karena memang itulah waktu diwajibkannya shalat tersebut.  Itu disebabkan pada saat lupa, tidak ada kewajiban baginya.  Memang persoalan ini kemudian menjadi khilafiyah diantara para ulama, bahkan termasuk shalat qadla itu sendiri.  Namun sejauh argumnentasi yang saya sampaikan di sini sesungguhnya  masalah ini tidaklah khilafiyah, melainkan sesuatun yang amat jelas.

Artinya kalaupun sampai saat ini sebagian masyarakat masih menganggap bahwa qadla shalat tersebut masih ada, maka menjadi kewajiban kita untuk menjelaskan dan memberikan pencerahan kepada mereka bahwa secara syar’i, islam sama sekali tidak memberikan ruang untuk meninggalkan shalat dengan sengaja alias tidak karena lupa, baik disebabkan sakit maupun dalam perjalanan.  Dalil dalil naqli yang ada tidak ada satupun yang membenarkan  seseorang meninggalkan shalat dengan alasan apapun.

Kita hanya berharap mjudah mudahan seluruh umat Islam menyadari hal ini, sehingga ke depan tidak ada lagi kabar atau pernyataan yang dengan lantang diucapkan bahwa seseorang muslim telah meninggalkan shalat sekian lama atau selama sakitnya hingga meninggal.  Dan bagi mereka yang kebetulan meninggalkan shalat, semoga diampuni oleh Allah swt.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.