TENTANG HAKIM LAGI

Setelah beberapa waktu lalu MA bersama dengan KY memecat hakim agung Yamani, kini KY telah merekomendasikan pemecatan lagi terhadap seorang hakim ‘cantik” yang selingkuh.  Alasannya sangat jelas bahwa hakim, sebagai orang yang sangat dihormati dan dimuliakan bahkan mewakili Tuhan di bumi, sudah seharusnya berperilaku baik dan menjaga integritasnya sebagai orang yang mulia.  Hakim adalah orang yang memberikan putusan tentang nasib seseorang, apakah dihukum ataukah dibebasakan, sehingga seharusnya hakim itu identic dengan keadilan yang sesungguhnya.

Beberapa hakim yang tersangkut persoalan narkoba, suap, perselingkuhan dan lainnya, tentu  merupakan  sebuah bencana tersendiri yang dapat merusak citra dan reputasi hakim, termasuk mereka yang benar benar jujur dan baik.  Nah. Komisi yudisial dibentuk memang untuk memberikan pengawasan kepada hakim agar mereka tetap dalam rel yang benar dan lurus.  Namun sebagaimana kita ketahui dan bahkan sudah menjadi pengetahuan masyarakat, bahwa  dunia hakim sama identiknya dengan dunia keplosian yang dianggap sarat dengan berbagai kasus penyelewengan.

Kita memang tidak dapat membenarkan seratus persen pernyataan dan pemahaman masyarakat tersebut, karena kita justru sangat yakin bahwa  masih banyak hakim dan juga polisi yang baik, jujur dan bekerja sesuai dengan  tugas serta tanggung jawab yang dipikulnya.  Hanya saja memang kita tidak dapat menutup mata  terjadinya berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh mereka, dan berbagai kejadian tersebut pada umumnya berlalu begitu saja, dan hanya sedikit yang kemudian mengemuka dan diproses secara hokum.

Untuk itulah masyarakat kemudian memendam  perasaan yang nagatif terhadap lembaga  lembaga penegak hokum tersebut.  Kita memang tidak dapat menyalahkan  mereka, tetapi yang seharusnya kita lalujkan ialah terus memberikan saran perbaikan terhadap lembaga lembaga penegak hokum tersebut, serta menghimbau mereka untuk terus mengadakan evaluasi serta  secara maksimal berusaha mengembalikan citra mereka dengan jalan  memberikan sanksi yang jelas dan konsisten terhadap semua pelanggar aturan dan hokum yang berlaku.

Salah satu jalan yang memang sangat menentukan ialah bagaimana kita  menjadikan lembaga pengadilan dan juga penegak hokum lainnya  sebagai lembaga yang disegani, dihormati dan diharapkan oleh seluruh masyarakat.  Hal tersebut dapat diwujudkan manakala seluruh unsur yang ada dalam lembaga tersebut menyadari secara penuh tanggung jawab dan fungsi lembaga tersebut serta  berusaha menjauhkan lembga dari berbagai hal yang dapat menyudutkan dan memperburuk citranya.  Konsistensi dalam memberikan sanksi hokum kepada siapapun, termasuk kepada  oknum penegak hokum; polisi, jaksa, hakim, dan pengacara serta lainnya, adal;ah merupakan  kunci dari semua itu.

Karena itu menurut saya  Momisi Yudisial tidak usah terpengaruh dengan berbagai kritik yang seolah  memperlemah kerja KY, seperti pernyataan bahwa KY itu dibentuk oleh konstitusi, kenapa harus mengurusi perselingkuhan, atau pernyataan sejenisnya.  Selama KY memandang bahwa semua hal yang berhubungan dengan perilaku hakim, termasuk akhlaknya yang dapat merusak citranya sebagai hakim, memang sangat perlu untuk diawasi dan diperingatkan.  Bahkan kalau kesalahannya  sudah sedemikian fatal, maka hukuman pecat menjadi  sebuah pilihan tepat dan harus dilaksanakan.

Berbagai kasus yang membelit hakim yang selama ini  tampak  bebas dan  sepertinya dibiarkan saja, saat ini sudah mulai dikuak oleh Komisi yudisial.  Kasus suap yang sering terjadi dan diketahui oleh masyarakat, pada umumnya berakhir dengan mutasi hakim dan bukan dengan sanksi yang berat.  Boleh jadi dengan mutasi seperti itu justru akan semakin menambah pengalaman dan keberanian hakim untuk terus melakukan kesalahan serupa.  Demikian juga dengan kasus  narkoba, dimana diketahui  adanya hakim yang berpesta narkoba, dan ternyata  tidak mendapatkan sanksi yang “adil’.

Bahkan seolah ada hakim yang dianggap bersalah oleh masyarakat, disebabkan membesaskan  tersangka yang diyakini melakukan  kesalahan, ternyata malah mendapatkan promosi jabatan.  Dan Ironisnya lagi hakim yang berani memberikan hukuman maksimal, malahan dimutasi di tempat yang tidak  menangani kasus serupa, yakni korupsi.  Jadi  dunia kehakiman memang sangat aneh di mata masyarakat.

Bahwa mungkin  dalam pandangan hakim  ada perbedaaan yang mencolok dengan pandangan masyarakat, adalah benar, tetapi kalau sudah menyangkut [ersoalan memutasi orang baik dan mempromosikan hakim yang dicurigai, tentu harus dilakukan dengan penjelasan yang gambalang  sehinga tidak akan menimbulkan berbagai penafsiran yang ujung ujungnya  akan merugikan korp hakim itu sendiri.  Menurut saya tidak ada salahnya ketika lembaga hakim, dalam hal ini mahkamah Agung selalu memberikan penjelasan kepada masyarakat atas apapun yang dilakukan, baik dalam hal memutasi hakim maupun dalam mempromosikan hakim, karena tentu hal tersebut akan semakin memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa MA sudah transparan.

Kasus hakim selingkuh barangkali  tidak hanya  sekarang saja dan kebetulan yang diketahui dan diusulkan untuk dipecat adalah hakim perempuan.  Lantas bagaimana kalau yang melakukan selingkuh te5rsebut hakim laki laki? Apakah KY juga akan mengusulkan untuk dipecat juga?.  Hal ini sangat perlu dijelaskan karena  alas an yang dikemukakan  ialah karena hakim perempuan yang  selingkuh itu identic dengan melakukan KDRT.  Lebih dari itu kalau hakim perempuan melakukan selingkuh itu sangat nista dan memalukan.  Lantas kalau yang melakukan itu laki laki tidak dianggap sebagai nista dan memalukan, dan bahkan hanya dianggap sebagai kebiasaan saja?.

Kalau hal ini tidak dijelaskan secara detail, saya khawatir, nanti jangan jangan antara posisi laki laki dan perempuan menjadi hal pembeda dalam memberikan sanksi hokum.  Seharusnya tidak usah dibesar besarkan  judulnya dengan mengedepankan keperempuanannya, seperti ‘hakim canti” dan sejenisnya.  Artinya agar berita tersebut balance, seharusnya cukup dengan “hakim selingkuh” saja.  Soal nantinya yang terbukti ternyata seorang perempuan, maka itu sebuah resiko, tetapi kalau ada hakim laki laki yangmelakukan selingkuh, maka KY juga harus memperlakukan hal yang sama.

Memang  kita berada di  tempat ayng masyarakatnya relative masih menganut system paternalistic, dan seolah seorang perempuan kurang mempunyai  kakuatan dalam berbagai hal.  Hal ini harus kita akui, baik dalam pergaulan sehari hari antara suami isteri, maupun dalam pergaulam masyarakat dan juga  dalam berbagai posisi.  Artinya kita masih menganggap kalau ada  persoalan moral yang menyangkut perempuan, maka hal tersebut sungguh sangat  dibesar besarkan dan seolah dosanya tidak terampuni.  Dan sebaliknya kalau  persoalan tersebut dilakukan oleh laki laki, seolajh masyarakat memakluminya, dan kemudian hilang dengan sendirinya.

Untuk itulah  sebagai rakyat biasa yang tetap berharap kepada para hakim untuk dapat memberikan keadilan dan dipercaya oleh seluruh masyarakat, kita menghiombau kepada semua pihak, terutama kepada komisi Yudisial dan mahkamah Agung RI utnuk terus berusaha memperbaiki citra dan kinerja hakim, serta menghukum siapapun, termasuk kepada hakim yang memang bersalah, baik dalam memberikan hukuman, ataupun dalam perilaku dan sepak terjangnya.  Semua itu dalam upaya memberikan kenyamanan kepada masyarakat dan tidak memupus habis harapan masyarakat untuk mendapatkan keadilan yang sejati.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.