ZIARAH

Pada umumnya orang mengenal istilah ziarah selalu dikaitkan dengan ziarah kubur, yang hingga saat ini masih diperdebatkan oleh umat Islam.  Artinya kata ziarah dimaknai hanya sebagai “niliki” kubur, padahal makna umumnya ziarah itu ya mengunjungi, baik yang dikunjungi tersebut orang atau tempat, dan kalau tentang orang, itu baik sudah meninggal ataupun masih hidup.  Jadi makna ziarah itu ialah berkunjung, dan kalau dikaitkan dengan orang, juga dapat disebut atau dikonotasikan dengan silaturrahmi.  Sedangkan kalau dikaitkan dengan suatu tempat, maka pengertiannya ialah mengunjungi atau biasa dikenal dengan istilah wisata.

Rupanya memang  kata ziarah tersebut selalu dibarengkan dengan kubur, sehingga  menjadi maklum kalau kemudian ziarah tersebut dikenal sebagai mengunjungi kubur atau makam.  Sementara istilah ziarah dalam maknanya yang umum, semisal ziarah ke rumah orang tua, ziarah ke masjid tertentu dan sejenisnya menjadi kurang populer.  Namun lepas dari persoalan tersebut, yang terpenting ialah bagaimana kita dapat melestarikan tradisi ziarah tersebut, bukan  hanya ke kubur, melainkan juga ke tempat tempat bersejarah dan juga terutama ke tempat orang tua.

Barangkali kalau ziarah kubur bagi sementara orang sudah  tidak menarik lagi, meskipun menurut Nabi Muhammad saw, bahwa ziarah tersebut akan dapat mengingatkan kita kepada kematian.  Artinya meskipun sudah banyak orang yang tidak gemar ziarah kubur, namun sesunggguhnya kalau hal tyersebut dilakukan akan menambah kebaikan kita, karena dengan berziarah kubur, kita akan dapat mengingat kematian yang juga nantinya menimpa kepada kita.  Nah, dengan mengingat kematian tersebut diharapkan akan tumbuh pula niatan untuk melakukan sesuatu yang baik dan meninggalkan kemaksiatan.

Kalau ziarah kubur sudah tidak disukai dan lebih menyukai mengunjungi mall atau tempat keramaian, maka ziarah kepada orang tua sesungguhnya merupakan perbuatan baik yang tetap harus dipertahankan.  Jangan sampai kita melupakan ziarah kepada orang tua, karena orang tua tentu akan sangat bergembira manakala dikunjungi, dan sebaliknya orang tua akan menjadi sedih kalau anak anaknya  melupakan kepada mereka.  Bukan melupakan dalam arti yang sesungguhnya, melainkan hanya melupakan berkunjung.

Ada sebagian orang yang saat ini mencukupkan diri  hanya dengan menelepon atau sekdar sms saja dan kemudian juga m engirimkan uang kepada orang tua, namun bilamana  mereka dikunjungi justru akan jauh lebih senang dab bahagia daripada sekedar diberikan hadiah.  Orang tua akan merasa sangat senang manakala anak anaknya selalu menampakkan diri dihadapan mereka dalam kondisi yang menyenangkan.  Tetapi kalau datang dengan wajah yang sangat masam atau lesu atau sedih, maka orang tua juga akan merasa sedih.  Jadi mengunjungi orang tua juga harus dengan persiapan yang  baik, yakni dengan menampaqkkan keceriaan yang penuh, dan bukan setor muka yang sedih.

Ziarah memang banyak manfaatnya, disamping bernilai silaturrahmi, ziarah juga dapat bernialai edukatif, yakni mendidik kepada anak anak agar dapat mengenal lebih jauh tentang seluruh keluarga besar, termasuk kakek, nenek, dan seluruh famili yang ada.  Pendidikan bersilaturrahmi tersebut sangat penting, dalam upaya melestarikan tali persuadaraan.  Di samping itu ziarah tersebut juga akan mempunyai nilai penting lagi jikalau dihubungkan dengan kunjungan kepada tempat tempat bersejarah.

Saat ini kita merasakan betapa miskinnya anak anak kita tentang nilai sejarah, bahkan untuk mengenang  para tokoh nasional yang telah berjasa kepada negara dan bangsa ini saja, mereka sudah tidak mampu lagi.  Demikian juga tentang tempat tempat bersejarah lainnya, semacam lubang buaya, tempat para pahlawan kita mempertahankan kemerdekaan di Surabaya, perjuangan Diponegoro, dan lainnya.  Untuk itu meskipun kita tidak mampu mengajak langsung kepada  anak anak kita, akan lebih bagus manakala kita menunjukkan atau berwisata  melalui peta atau gambar, sehingga pada saatnya nangti ketika mampu melakukan kunjungan tempat, mereka akan  dapat lebih meresapi dan menghayatinya.

Arti penting ziarah tersebut memang tidak dapat kita pungkiri, sehingga ketika kita sedang menjalankan ibadah hajipun kita tetap diprogramkan untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad saw, dan para sahabatnya.  Tidak saja mengunjungi makam Nabi, melainkan juga  mengunjungi beberapa tempat bersejarah, terutama dalam perkembangan awal Islam, seperti  ke gunung Uhud, tempat peperangan Badar,   masjid Quba’, masjid Qiblatain, dan tempat tempat lainnya.

Meskipun kita meyakini arti penting ziarah tersebut, namun kita juga harus tetap waspada dan terus memberikan pencerahan kepada umat yang relatif awam dalam persoalan  agama, agar mereka tetap menjaga keimanannya serta  mengikuti jejak para ulama.  Artinya kalau kita perhatikan mereka yang berziarah, terutama kepada kuburan  ulama atau auliya’ ataupun orang orang yang dianggap keramat, biasanya mereka kemudian melakukan hal hal aneh yang justru  melenceng dari tujuan ziarah itu sendiri, yakni  untuk mengingat kematian tersebut.

Kita dapat menyaksikan betapa masih banyak diantara umat Islam yang melakukan ziarah dengan tujuan lain, yakni tujuan dunia  dan bahkan sangat tidak rasional.  Ada diantara mereka yang kemudian nerziarah tersebut untuk mendapatkan  keuntungan pribadi, semisal mendapatkan jodoh,  melariskan dagangan,  mendapatkan kekuatan supra, dan masih banyak lagi maksud maksud yang sesungguhnya tidak berkaitan dengan tujuan ziarah.  Untuk itulah kita wajib hukumnya untuk senantiasa mengingatkan  mereka dan sekaligus mencegah agar mereka tidak terjebur dalam  kesalahan dan bahkan kesyirikan.

Kita tentu masih ingat ketika pertama kali nabi menyiarkan Islam di Makkah, dimana beliau sampai harus melarang umat Islam berziarah kubur. Itu semua dikarenakan bahwa  memori umat Islam saat itu masih sangat segar dalam mengingat aktifitas jahiliyyah yang dilakukan mereka sebelum Islam datang.  Nah, khawatir praktek praktek jahiliyyah tersebut akan mengganggu umat, maka Nabi kemudian melarang ziarah kubur tersebut.  Tentu dengan tujuan agar umat secara umum dapat diselamatkan akidahnya dari praktek khurafat dan sejenisnya.

Namun ketika Nabi menganggap bahwa iman umat Islam sudah sedemikian kuat dengan dibuktikan oleh kebiasaan baik yang selalu dilakukan,  maka kemudian Nabi memperbolehkan ziarah kubur tersebut, dengan menjelskan maksud dan tujuan ziarah tersebut, yakni untuk mengenang kematian, dan sama sekali bukan untuk melakukan berbagai kagiatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.  Karena itulah menjadi  keniscayaan bagi kita, sebagai orang yang tahu untuk mengingatkan kepada mereka yang awam dan sangat mungkin tidak memahmi persoalan ini.

Saling mengingatkan dalam hal yang benar dan hak serta dalam kesabaran adalah perintah Tuhan yang tidak boleh kita abaikan.  Termasuk persoalan ziarah ini kita juga harus memasukkannya dalam persoalan yang baik, sehingga  apa yang kita lakukan dalam mengingatkan sesama  umat muslim, akan  dicatat sebagai amal baik dan bukan  amalan yang justru  akan merusak pergaulan dan persaudaraan.

Pada akhirnya kita memang sangat mendorong semua orang untuk tetap memelihara tradisi ziarah tersebut, terutama  ziarah  kepada orang tua, sanak keluarga, famili dan juga kawan, termausk juga ziarah ke tempat tempat yang akan lebih menjadikan kita memahami dan menghargai berbagai perjuangan anak anak bangsa di masa yang lalu. Sementara itu untuk ziarah kubur juga tidak masalah asalkan dilakukan dengan tujuan yang benar.  Mudah mudahan dengan pengertian ini kita semua dicatat sebagai orang yang suka berziarah, suka bersilaturrahmi dan suka menghargai karya orang lain. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.