SEBUAH TANGGUNG JAWAB

Secara teoritis sangat mudah untuk mengatakan bahwa tanggung jawab itu harus ditunaikan, karena kedudukannya yang sama dengan sebuah amanah yang dibebankan.  Namun terkadang kalau tidak benar benar menyadari serta tulus dalam mengemban tugas, teori tersebut akan sangat berat dilaksanakan, lebih lebih ketika harus berbenturan dengan kepentingan banyak pihak, seperti keluarga dan lainnya.  Artinya kalau sebuah tanggung jawab yang harus diemban tersebut kebetulan bersamaan dengan kepentingan  keluarga yang juga mendesak untuk dilaksanakan, di situlah akan ada benturan kepentingan diantara keduanya.

Mungkin  bagi orang orang yang belum pernah mendapatkan kasus semacam itu akan sangat mudah menyatakan bahwa tanggung jawab itulah yang harus didahulukan.  Tetapi pertanyaannya ialah apakah kepentingan keluarga  tidak merupakan tanggung jawab juga?.  Nah, di sinilah  kita harus pandai pandai mengelola banyak pihak, sehingga semua kepentingan yang memang menjadi tanggung jawab akan dapat dilaksanakan seluruhnya dengan baik.  Namun hal tersebut tidak mudah, bahkan terkadang harus merelakan beberapa kepentingan prinsip yang bersifat pribadi harus dikorbankan.

Sebuah contoh ialah orang yang mempunyai tanggung jawab sebagai pendidik yang harus mengajar di kelas, namun disebabkan tugas dinas lainnya yang mengharuskan ia keluar kota dan tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai pendidik yang harus masuk kelas, maka  kemudian ia akan menggantinya pada hari lain, yang tentu bukan  hri efektif atau pada hari libur.  Kita sama sama tahu bahwa pada hari efektif tentu jadual sudah sedemikian padat dan tidak mungkin ada waktu dan ruang yang dapat diperguanakan untuk “nyaur utang” masuk kelas tersebut.

Nah, pada saat seperti itu terkadang seseorang harus mengalahkan kepentingan keluarga dan pada hari libur masih harus tetap menjalankan tugas.  Kalau utang yang dirtinggalkan masuk kelas tersebut hanya satu atau dua kali, barangkali tidak terlalu bermasalah, namun ketika tugas tugas dinas yang mengharuskan dia  tidak bisa masuk kelas, cukup banyak, maka barulah di situ akan sedikit menjadi persoalan.  Di sinilah pentingnya  mengelola hubungan dan komunikasi diantara para pihak, terutama yang  harus diminta haknya.

Sikap bijak yang harus ditunjukkan ialah bagaimana kita dapat mengerjakan nyaur utang tersebut, dan kepentingan keluarga juga tidak terabaikan.  Caranya dapat beraneka ragam sesuai dengan kondisi masing masing. Keluarga sangat mungkin menginginkan kebersamaan pada saat hari libur, baik harus pergi untuk rekreasi atau sekdar makan bersama di sebuah restoran atau hanya jalan jalan ke mall dan lainnya, tetapi kelas yang diutang juga harus diganti.  Kalau kemudian pada pagi hingga siang atau bahkan hingga sore hari masuk kelas, maka biasanya  sudah tidak ada gairah lagi untuk bercengkerama dengan keluarga.

Namun sesungguhnya dapat dicari solusi yang  sekiranya dapat membuat mengerti semua pihak, misalnya dengan melaksanakan nyaur utang tersebut pagi hingga  sore, lalu kemudian sore itu juga mengajak keluarga untuk sekedar melepaskan lelah dan mencari suasana baru dengan menginap di sebuah hotel dan melupakan seluruh  persoalan keseharian.  Tentu kalau hal tersebut dilaksanakan dengan kesungguhan hati, kiranya  akan dapat membayar kekurangan waktu yang tersita untuk menjalankan tugas mengajar tersebut.

Atau dapat pula dengan membagi waktu sedemikian rupa, misalnya  nyaur utangnya pada satu hari saja, sabtu misalnya, lalu untuk hari minggunya  secara full diperuntukkan bagi keluarga.  Mungkin ada yang menganggap bahwa satu hari dirasakan kurang  panjang, karena tujuannya ialah untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh.  Nah, kalau seperti itu, tentu  harus dapat ditunda  pada saat yang tepat, yakni setelah seluruh utang mengajar selesai ditunaikan.

Kita tidak memungkiri bahwa  rekreasi keluarga merupakan hal yang sangat penting untuk tetap menjaga hubungan harmonis diantara seluruh keluarga, namun kalau kita dapat mengelolanya dengan bijak, tentu tidak akan  kesulitan, meskipun harus berhadapan dengan banyak persoalan yang ada di hadapan kita.  Jadi kata kuncinya ialah ada pada bagaimana kita mengelola hubungan dengan semua pihak, dan sejauh mungkin tidak mengabaikan atau mengorbankan  salah satu pihak.  Tentu kalau ada sedikit hak yang terkurangi sudah pasti ada, tetapi  kalau  kualitas hubungan menjadi  lebih baik tentu kekurangan waktu tersebut akan dapat dibayar dengan  tingkat kualitas tersebut.

Kita juga menyadari bahwa  kuantitas  kebersamaan belum tentu akan menjamin  keharmoniasan dan kepuasan, namun kualitas hubungan dan komunikasilah yang akan menentukan kadar kepuasan tersebut.  Lagi lagi yang menjadi penentunya bukanlah sekedar  adanya waktu luang yang banyak, melainkan  pengelolaan waktulah yang akan menjamin  kepuasan.

Kita juga sering menjumpai adanya  konflik dalam diri seseorang antara kepentingan keluarga yang kebetulan sedang sakit misalnya, yang tentu memerlukan perhatian dan kedekatan kita.  Namun di sisi lain kita harus menunaikan kewajiban kerja yang memang menjadi tanggung jawab dan mesti dilaksanakan.  Dalam suasana  seperti itu terkadang orang kemudian tidak dapat mengambil keputusan yang tepat dan kemudian meninggalkan salah satu kewajiban, apakah tugas kantornya yang harus dikalahkan ataukah kewajiban mendampingi keluarga yang sakit yang harus dikorbankan.

Dalam hal  masih ada kemungkinan untuk melaksanakan keduanya, maka itulah yang harus dilakukan.  Artinya kalau kewajiban kantor harus dilaksanakan dan  kemudian dapat dilaksanakan, tanpa harus mengorbankan kepentingan keluarga, maka itulah yang harus dilakukan dan  menjadi prioritas utama.  Namun ketika jalan tersebut tidak didapatkan, seperyti keluarga harus menjalani  sebuah operasi yang tidak boleh ditinggalkan, maka tentu ada jalan keluar yang dapat dibenarkan, misalnya dengan meminta ijin atau meminta cuti dan lainnya.

Dengan jalan seperti itu tentu tidak ada pelanggaran yang dilakukan, atau dengan bahasa lain tidak ada kepentingan yang dikorbankan.  Namun sekali lagi kita harus pandai pandai memberikan penjelasan kepada keluarga atau siapapun yang memerlukan perhatian kita, bahwa  tidak hanya dia sendiri yang harus dilayani atau diperhatikan.  Oleh karena itu penjelasan yang bijak tentu akan dapat membuat mengerti pihak piahk yang ada hubungannya dengan kita dan  kita akan lebih meudah untuk membuat sebuah keputusan.

Sebagaimana kita tahu bahwa tanggung jawab kita tidak hanya  kepada satu pihak saja, melainkan banyak pihak.  Keluarga sudah pasti menjadi tanggung jawab kita, mengenai kelangsungan dan juga kesejahteraan mereka.  Tugas tugas kantor atau tugas apapun yang memang sudah menjadi pilihan kita untuk mengabdikan diri, juga merupakan tanggung jawab yang tidak boleh dibaikan.  Demikian juga mengurus sebuah yayasan atau organisasi kemasyarakat  yang berorientasi pengabdian kepada masyarakat juga menjadi tanggung jawab, dan semua itu memerlukan  perhatian  dan keseriusan kita.  Untuk itu kalau kita sudah mendeklarasikan diri mau menjalani  semua itu, kita harus siap dengan berbagai kemungkinan yang bakal terjadi, dan juga harus mempersiapkan diri untuk  mendapatkan berbagai solusinya.

Tetapi kalau kita memang tidak mampu untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab tersebut, sebaiknya memang harus  terus terang sejak awal dan tidak bersedia untuk memikul tenggung jawab tersebut.  Artinya hanya tanggung jawab pekerjaan dan keluargalah yang  harus dipikul, sedangkan untuk urusan pengabdian  dan kemasyarakatan tidak akan diambilnya.  Dengan begitu kehidupan akan dapat runtut dan kita tidak akan mengecewakan banyak pihak.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.