HARI NATAL

Kita hidup di negara yang masyarakatnya majemuk dan terdiri atas berbagai pemeluk agama dan keyakinan, karena itu menjadi sebuah kewajiban bagi seluruh masyarakat kita untuk saling menghormati keyakinan dan agama yang dipeluk olleh saudara kita sesama bangsa ini.  Memang kita tidak diperbolehkan untuk  memasuki wilayah agama orang lain sedemikian jauh yang akan menyebabkan terjadinya konflik batin, tetapi kalau sekedar menghormati atau dengan bahasa lainnya tidak menghina atau menjelekkan serta menyerang  pihak lain yang kebetulan keyakinannya berbeda dengan kita, tentu suatu yang  sangat bagus dan memang harus dilakukan.

Ketika kita sudah sepakat menghuni negara  kesatuan RI, tentu berkonseksensi harus menerima perbedaan, baik suku, agama, keyakinan dan budaya yang ada dan berkembang di negeri ini.  Justru akan sangat naif, manakala kita kemudian tidak bisa menerima dan hidup berdampingan dengan pihak  lain, hanya  berbeda keyakinan atau berbeda suku dan budaya.  Selama ini keragaman budaya, suku dan kepercayaan, dapat hidup di negeri ini dengan baik, meskipun harus kita akui masih ada beberapa pihak yang belum dapat menerimanya secara tulus.  Untuk itu menjadi tugas kita bersama memberikan pencerahan kepada mereka agar mampu  dan dapat menerima perbedaan yang ada.

Sebagaimana kita ketahui bahwa  negera kita merentang dari Sabang hingga Merauke, yang tentu terdiri atas berbagai suku, budaya dan kepercayaan serta agama.  Ada yang beragama Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini, ada yang beragama katolik, protestan, Hindu, Budha, Kong Hucu dan mungkin juga lainnya yang berasal dari daerah. Sementara itu mengenai suku juga beragam yang merentang dari Aceh hingga Papua.  Menyadari hal tersebut kiranya harus ada pengertian yang sama diantara seluruh rakyat bahwa seluruh suku, budaya dan agama tersebut memang diperbolehkan hidfup di negeri tercinta ini.

Karena itu memang tidak ada satu pihak manapun yang dibenarkan memusuhi salah satu diantara suku, budaya dan agama yang ada dan hidup di bumi nusantara ini.  Memusuhi dan usaha apapun untuk melenyapkan atau  memojokkan salah satu diantaranya, berarti telah mengingkari kebhinekaan yang telah lama ada dan sekaligus mengingkari terhadap kesepakatan nasional tentang negara kita.

Nah, menghormati dan tidak mengganggu pihak lain tersebut sesungguhnya merupakan syarat mutlak terjadinya kedamaian dan  kebersamaan.  Dari kehidupan yang damai dan bersama itulah bangsa ini akan mampu membangun dan bangkit dari ketertinggalan dalam berbagai bidang.  Persoalannya ialah hingga saat ini ternyata masih ada pihak yang belum menyadari secara penuh tentang pentingnya saling menghormati tersebut, sehingga  kita masih sering mendengar berbagai persoalan dan konflik yang dipicu oleh suku, budaya dan jua keyakinan dan agama.

Bahkan hanya persoalan memberikan ucapan selamat kepada  mereka yang sedang merayakan  hari besar pada kayikinan tertentu saja  menjadi persoalan yang  menggegerkan.  Ketika  kita mengucapkan selamat kepada umat hindu yang sedang merayakan Nyepi misalnya, tentu hal itu bukan berarti telah keluar dari keyakinan Islam, melainkan hanya sekdar  ikut mengucapkan selamat kepada mereka dengan harapan bahwa  mereka akan semakin taat kepada ajaran  agamanya dan sekaligus  dapat membantu mewujudkan kebaikan yang kita rindukan.

Sama halnya ketia saat ini umat kristiani  merayakan natal, tentu sangat wajar dan tidak salah ketika kita ikut mengucapkan selamat kepada mereka, bahkan akan lebih bagus manakala kita sertai dengan harapan semoga mereka benar benar meneladani  nabi Isa atau Yesus, terutama dalam menebarkan kedamaian ke seluruh dunia.  Ajaran saling mengasihi diantara sesaama, tentu akan sangat bagus manakala diterapkan oleh seluruh masyarakat.  Namun sayangnya memang masih ada yang menganggap bahwa mengucapkan selamat seperti itu dianggap sebagai kesalahan fatal dan dihukumi haram.

Siapapun yang tetap melakukan hal tersebut, yakni memberikan ucapan selamat kepada pihak lain yang berbeda agama dan keyakinan, kemudian dicap sebagai  telah keluar dari Islam atau setidaknya dianggap sebagai golongan yang liberal.  Dan sebagaimana kita tahu bahwa golongan liberal di dalam Islam hampir dipastikan dianggap sesat oleh  sebagian umat Islam yang mengangggap dirinya  lebih sunni dan benar.

Dalam persoalan ini sesungguhnya saya tidak  berkeinginan untuk membuka masalah ini lebih jauh, dan mencukupkan diri dengan perbedaan yang ada.  Biarlah perbedaan tersebuit tetap ada dan berkembang sesuai dengan iarama masing masing, dan yang terpenting ialah bagaimana  perbedaan tersebut dapat dikelola dengan baik sehingga tidak akan menimbulkan konflik yang membahayakan.  Biarlah perbedaan tersebut akan tetap seperti persoalan khilafiyah yang selama ini  eksis dan bertahan di masyarakat.

Hal tersebut disebabkan bahwa msing masing pihak, baik yang membolehkan memberikan ucapan selamat kepada pihak lain, semacam ucapan natal atau lainnya, maupun yang mengharamkan, ternyata sama sama mempunyai argumentasi.  Saya tidak berada  dalam wilayah menilai, apakah argimrntasi masing masing itu kuat ataupun tidak, karena  sisi pandangannya sudah sangat berbeda sehingga akan sulit dinilai.  Namun secara umum karena  hal tersebut tidak masuk dalam wilayah “dalam” agama, tentu akan menjadi lebih bagus manakala dalam kehidupoan bermasyarakat, kita dapat toleran dan menghormati pihak lain.

Saat ini dimana umat kristiani sedang merayakan  natal, umat lainnya juga secara tidak langsung ikut memperingatinya, meskipun tidak sebagaumana umat kristen.  Bukti  keikut sertaan mereka ialah dengan memanfaatkan liburan atau bahkan ada yang dengan  usaha yang menghasilkan ekonomis, dengan membuat pernik pernik natal yang kemudian dijual kepada umat kristiani.  Bahkan sebagian  organisasi kepemudaan juga ikut menjaga  kekhusukan  mereka yang menjalankan ibadah di gerja dari kemungkinan ganggguan dari pihak yang tidak bertanggung jawab, dan juga bentuk lainnya.

Dalam urusan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, memang akan sangat bagus jikalau seluruh elemen masyarakat saling membantu keperluan pihak lain.  Kita tentu juga sangat ingat ketika merayakan Idul Fithri mkisalnya, banyak umat lain yang turut memeriahkannya, meskipun secara tidak langsung.  Dan kitapun akan merasa bangga karena kerukunan diantara umat yang beragam tersebut ternyata dapat diciptakan.  Oleh karena itu  tidak ada salahnya  ketika saudara kita sedang punya hajat merayakan  hari besar agama dan keyakinannya, kita  turut mengucapkan selamat.

Tetapi saya sendiri sangat menyadari bahwa  tindakan seperti itu  belum mendapatkan kesepakatan dari seluruh umat islam, karena itu bagi yang akan mengucapkan selamat ya silakan, ttetapi kalau bagi yang berkeyakinan  tidak benar, maka  tidak usah mengucapkan selamat.  Toh juga tidak ada satu pihakpun yang dirugikan.  Hanya saja yang perlu dipertahankan ialah bagaimana kita tetap menjaga kerukunan umat yang berbeda agama dan keyakinan tersebut, agar tetap dapat hidup damai dan berdampingan serta dapat menjalankan tugas tugas kemasyarakatan dengan baik.

Bagaimanapun bangsa ini sudah sepakat untuk menjalani hidup dengan damai berdampingan antara berbagai suku dan agama, serta masing masing harus saling menjaga kedamaian, saling menghormati dan tidak menghina sesama, termasuk keyakinan yang dipeluk.  Untuk itu harapan yang paling realistis ialah seluruh bangsa ini terus menjaga persatuan untuk bersama sama membangun bangsa menuju  cita cita bersama sebagaimana yang diimpikan oleh para pendiri negeri.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.