PALSU

Ada kalanya orang  tidak menyukai sesuatu yang asli, melainkan justru memilih yang palsu dengan berbagai pertimbangan subyektinya.  Ketika seseorang mempertimbangkan  harga pada saat membeli sesuatu, dimana perbedaan nya sangat  tajam, ia akan lebih suka sesuatu yang palsu atau imitasi ketimbang yang asli. toh secara sepintas tampak sama.  Ketika seseorang tidak atau kurang percaya diri dengan  apa yang dimilikinya, maka ia  kemudian memilih sesuatu yang palsu, seperti  rambut palsu, alis palsu, dan lainnya.  Bahkan saat ini orang sepertinya sudah tidak lagi memperdulikan masalah asli dan palsu tersebut.  Walaupun tentunya masih ada  orang yang terus mempertahankan diri  tidak mau sesuatu yang palsu.

Memang  adakalanya juga  semua orang tidak mau yang palsu, seperti cinta atau kesetiaan dari orang lain tentu diharapkan yang sesungguhnya.  Karena  kalau hal hal seperti itu ternyata palsu, akan sangat menyakitkan dan menyisakan luka yang sangat dalam serta sudah diobati.  Tetapi memang  harus kita sadari ada sebagian orang tidak akan mau  terhadap sesuatu yang palsu, apapun wujudnya.  Dan kita harus menghargai orang seperti itu.  Namun semakin  kompleks persoalan hidup dan  bersamaan dengan sulitnya mencari  harta, kemudian memaksa orang untuk  menerima sesuatu yang tidak asli alias palsu.

Dalam hal perhiasan, misalnya, orang kemudian lebih memilih  yang palsu dengan  alas an harganya relative rendah dan tampilannya juga tidak terlalu berbeda.  Demikian juga dalam hal memilih  pakaian, dan asesoris lainnya.  Bahkan mungkin saat ini sudah menjadi kecenderungan banyak orang untuk lebih memilih yang tidak asli, toh dalam hal seperti itu tidak ada pihak yang dirugikan.  Tentu akan berbeda misalnya  ketika  sesuatu yang tidak asli tersebut menyangkut kepentingan pihak lain, sudah barang tentu akan merugikan, seperti ketika membel;I sesuatu menggunakan uang palsu atau melamar sebuah pekerjaan dengan ijazah palsu dan lainnya.

Jadi mengenai sesuatu yang palsu tersebut manakala hanya menyangkut dan berhubungan dengan diri sendiri, kiranya hal tersebut dapat dimengerti dan tidak menjadi masalah.  Namun apabila sesuatu yang palsu tersebut menyangkut kepentingan pihak lain, tentu tidak diperkenankan, dan bahkan  dilarang, karena akan dapat memberikan kerugian kepada pihak lain.  Meskipun demikian  apabila kita  hanya membatasi  pada hal hal yang asli dan sama sekali tidak mau menggunakan sesuatu yang palsu, tentu akan lebih bagus.

Kenyataan di lapangan memang menjadi sangat berbeda  dengan  idealitas, karena  di lapangan sudah berbenturan dengan banyak kepentingan para pihak.  Bahkan ada kesepakatan di tingkat  lebih bawah bahwa  sesuatu yang imitasi atau palsu tersebut  memang  tidak dapat dihindari, meskipun tentu akan merugikan pihak lain.  Maraknya kaset dan Cd  bajakan atau tidak asli tentu sangat meresahkan dan merugikan pemilik hak yang asli, karena  meskipun  kaset tersebut terjual sangat banyak, tetapi sang pemilik asli tidak akan mendapatkan keuntungan materiil.

Sementara itu bagi sebagian masyarakat tentu ada yang merasa senang karena  dapat membeli kaset  dengan harga murah.  Dan seolah penegak hokum  tidak mempunyai daya atau kekuatan untuk melawan  derasnya  arus pemalsuan  atau pembajakan tersebut.  Akibantnya  banyak pihak yang kemudian dirugikan dan tidak dapat berbuat apa apa.  Sharusnya hal tersebut tidak boleh terjadi di Negara yang mengedepankan hokum ketimbang kekuasaan ataupun lainnya.  Untuk itu kita harus  terus mengupayakan pemberantasan terhadap segala bentuk pembajakan atau pemalsuan yang merugikan pihak lain.

Tentu lain halnya dengan  pamalsuan yang tidak merugikan pihak manapun, seperti  membuat perhiasan dari bahan tertentu yang bukan asli emas yang  mirip dengan tampilan emas, asalkan tidak digunakan untuk merugikan pihak lain.  Artinya sesuatu yang bukan asli kemudian ditawarkan seolah  barang asli.  Kita sering mendapati berbagai asesories, seperti perhiasan,  jam tangan, baju atau pakaian yang diberikan merk tertentu padahal sesungguhnya  hanya sekedar tempelan yang tidak sesungguhnya.  Tetapi  semua orang sudah paham bahwa merk tertentu tersebut  hanyalah  palsu, sehingga harga jualnya juga  sangat jauh berbeda dengan yang asli.  Nah, dalam ksus seperti itu sesungguhnya juga ada pihak yang dirugikan, yakni pemilik merk tertentu tersebut.  Hanya saja karena  hal tersebut sudah maklum, maka  kemudian tidak dipersoalkan.

Saya berpendapat bahwa dalam kasus membajak merk tertentu yang sudah dikenal luas oleh masyarakat, apapun jenisnya,  seharusnya dilarang dan tidak dilakukan oleh siapapun.  Kalau  hanya sekedar meniru  jenis dan model tertentu tetapi  tidak diberikan label atau merk seperti yang asli, tentu menjadi hal setiap orang, apalagi kemudian diberikan label tersendiri.  Hanya saja  harus dibedakan dengan sesuatu yang sudah dipatenkan da nada larangan untuk meniru terhadap sesuatu tersebut.  Artinya kalau ada sebuah produk dan sudah dipatenkan dan  ada ketentuannya bahwa siapapun tuudak diperkenankan untuk meniru tanpa memperoleh ijin dari yang berhak, tentu tetap tidak diperbolehkan, karena hal tersebut melanggar  aturan yang ada.

Memang yang lebih aman ialah  sesuartu yang asli, meskipun  sulit atau bahkan harus memerlukan perjuangan.  Kita tidak dapat membayangkan ketika kita memperoleh sesuatu yang  tidak asli dengan harga yang relative murah, tetapi di kemudian hari ternyata kita  digugat lantaran  dianggap menyalahi aturan yang ada.  Atau  kita mungkin menganggap  biasa terhadap sesuatu yang palsu dan terjadi  di masyarakat seperti  membeli Cd palsu ataupun yang lainnya, tetapi pada saatnya ternyata hal tersebut dapat digolongkan sebagai tindak criminal akrena kita membeli sesuatu yang tidak dibenarkan oleh peraturan yang berlaku.  Tentu semua itu akan menhusahkan kita dan akan menambah “gawean” tersendiri.

Krena itu sudah saatnya kita memang  harus memulai sesuatu dengan yang asli dan bukan yang palsu. Bukankah kita juga akan merasa  sakit ketika kita mendapatkan sesuatu yang tidak asli alias palsu?.  Nah, ketika kita merasa dirugikan ketika mendapatkan sesuatu yang palsu, maka seperti itu pulalah pihak lain, sehingga  apapun alasannya seharusnya kita tetap mempertahankan sesuatu yang asli.  Tampilan kita juga  asli,  pernyataan kita juga harus asli, tulisan dan karya kita juga yang asli, sikap dan perilaku kita serta seluruh aktifitas kita juga yang asli.  Dengan penampilan  yang asli tersebut kiranya kita sudah memulia mengkampanyekan sesuatu yang baik dan sekaligus memberikan pembelajaran kepada masyarakat tentang pentingnya menampilkan sesuatu yang asli.

Kita yakin bahwa dengan  menampilkan dan memanfaatkan sesuatu yang asli, kita akan  berada dalam jalan yang benar dan akan selamat, serta terhindar dari berbagai persoalan yang  bakal muncul.  Sebaliknya ketika kita  mencoba meakai ataupun melakukan tindakan yang tidak asli atau palsu, maka  sangat mungkin kita akan mendapatkan kesulitan yang boleh jadi akan membahayakan kepada diri kita.  Mudah mudahan kita akan senantiasa dijaga oleh Tuhan  untuk selalu  melakukan atau memakai sesuatu yang asli dan tidak bertentangan dengan segala macam peraturan yang berlaku.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.