WASPADA DAN BIJAK

Ketika kita berada di tempat yang masyarakatnya relatif tidak sama dengan keimanan kita, tentu kita harus super hati hati, terutama dalam hal makanan. Di beberapa negara yang mayoritas tidak beragama Islam seperti Jepang misalnya, tentu akan sangat sulit mencari restoran muslim, sehingga ketika kita mau makan harus mencari tahu tentang makanan yang dijual disitu.  Kalau di hotel misalnya, biasanya sudah ada tulisan yang memberitahukan tentang  makanan yang disajikan.  Demikian juga dengan Bangkok dimana suasananya hampir seperti di Indonesia, tetapi masyarakatnya  mayoritas beragama Budha, sehingga kita juga harus berhati hati dalam soal makanan.  Meskipun demikian di Bangkok  relatif lebih mudah mencari restoran muslim yang selruh makanannya ditanggung halal.

Namun demikian saat ini kita dituntut untuk lebih ekstra hati hati, meskipun berada di wilayah dan lingkungan kita sendiri, karena ternyata di beberapa daerah sudah mulai ditemukan adanya daging babi hutan atau celeng yang beredar di pasaran, baik untuk membuat bakso maupun lainnya.  Tentu kondisi tersebut sangat memperihatinkan, dan harus segera diusut siapa yang ada di belakang maraknya daging celeng tersebut merambah di masyarakat.  Mungkin sebagian pedagang  mengetahui dengan jelas, tetapi kemudian mereka malah memanfaatkannya untuk meraup keuntungan.  Atau bisa jadi sebagian diantara mereka sama sekali tidak mengetahui dan hanya menjalankan dagangannya semata.

Hanya saja  kalau pedagang waspada dan bijak, tentunya  akan dapat membedakan mana daging yang asli lembu dan baik dan mana yang tidak, semisal dengan melihat harga yang ditawarkan.  Daging celeng di saat ini marak tersebut dipasarkan separuhnya harga daging sapi.  Nah, kalau pedagang tidak bijak dan tidak kuat imannya dan hanya semata mata tergiur oleh murahnya harga daging, tentu akan terjebur dalam persoalan tersebut.

Bagi orang yang waspada dan bertindak bijak tentulah akan curiga dengan  apapun yang tidak wajar, seperti murahnya harga yang ditawarkan, ataupun mudahnya seseorang mendapatkan sesuatu, padahal secara normal akan mendapatkan berbagai kesulitan dan proses, dan lain sebagainya.  Memang harus kita akui bahwa masih banyak orang yang setelah mendapatkan sesuatu yang tidak wajar dan dianggapnya sebegai sebuah kebetulan, maka biasanya mereka lupa dan meninggalkan pertimbangan akal sehat, sehingga pada saatnya akan dapat merugikan dirinya sendiri.

Pada saat ini sudah banyak terjadi berbagai penipuan bermotifkan sesuatu yang memberikan harapan yang cukup menggiurkan, padahal secara  akal sehat hal tersebut tidak akan terjadi.  Misalnya  ketika penerimaaan pegawai di lingkungan  pemerintah sudah sedemikian ketat dan transparannya, dan  dapat dokontrol oleh  berbagai pihak, tentu  akan sangat sulit untuk meraihnya dengan jalan pintas.  Satu satunya jalan ialah mengikuti prosedur dan tahapan tahapan yang ditentukan.  Namun demikian ternyata masih juga banyak pihak yang masih percaya dengan beberapa oknum yang memberikan tawaran pekerjaan dengan imbalan yang sangat tinggi.

Akibatnya tentu sudah dapat diduga bahwa penipuanlah yang  terjadi, baik kemudian diekspos di media, maupun yang hanya disimpan sendiri karena malu kalau sampai diketahui orang lain.  Mereka yang tertipun sesungguhnya bukanlah dari golongan masyarakat awam, melainkan dari golongan terpelajar dan seharusnya lebih mengedepankan sikap waspada dan bijak tersebut.  Bahkan  beberapa waktu yang lalu ada juga seorang dosen  PNS yang sedang belajar menempuh program doktor harus berurusan dengan pihak kepolisian, akibat mengedarkan uang palsu.

Semuanya itu tentu kembali kepada  diri orang tentang sejauh mana kekuatan iman dan perilaku waspada dan bijak yang dipraktekkannya.  Artinya ternyata  kepandaian tidak selalu  identik dengan kewaspadaan dan kebijakan.  Ada kalanya orang pandai yang berlaku sembrono dan nagwur, tetapi sebaliknya ternyata ada juga orang awam yang berlaku bijak dan waspada.

Bagi kita orang orang beriman tentu lebih dituntut untuk selalu waspada dan berlaku bijak dalam semua  hal, karena  dengan waspada kita akan dapat mengantisipasi berbagai problem ataupun bahaya yang sangat mungkin akan menimpa kita. Bahkan dalam  perilaku sehari hari saja sikap tersebut harus tetap ditunjukkan, semisal mengendarai kendaraan, baik saat normal maupun lebih lebih pada saat musim penghujan seperti saat ini.  Terkadang ada sebagian orang yang memang menganggap remeh sesuatu, namun  biasanya pula akan menyesal setelah sesuatu tersebut menimpanya dan merugikan dirinya.

Termasuk  dalam hal berumah tangga dan memilih  pasangan hidup, sangat diperlukan sikap waspada dan bijak.  Jangan sampai kita hanya tergiur dengan parasnya semata, atau hanya terpesona dengan kemolekan tubuhnya, atau hanya sekedar mengincar hartanya.  Tetapi  kita harus mempertimbangkan  kelanggengannya dalam sebuah rumah tangga yang tenang dan dipenuhi oleh kasih sayang yang tulus.

Banyak orang, terutama anak muda yang  ingin  mengambil jalan pintas dengan mengambil keputusan  tanpa pertimbangan matang, terutama dalam hal kecocokan dan keyakinan, yang ternyata  usia pernikahannya tidak bertahan lama.  Lebih celaka lagi kalau kemudian sudah mempunyai anak dan ditelantarkan.  Memang dalam persoalan ini kita tidak dapat hanya semata mata menyalahkan pihak anak muda tersebut, karena sesungguhnya  mereka itu adalah produk dari pendidikan dan lingkungan kita yang memang tidak dapat menjanjikan sesuatu yang membanggakan.

Sedia payung sebelum hujan, itulah kira kira  peribahasa yang tetap masih relevan untuk kita pegangi dalam  kehidupan kita.  Tidak saja dalam hal berat, meliankan juga dalam  hal hal ringan dan berlaku sehari hari.  Artinya  sebelum kita memutuskan untuk megambil sebuah kesimpulan ataupun langkah terhadap sesuatu, akan sangat bijak manakala kita mempertimbangkan berbagai kemungkinanya dan berusaha  mengantisipasinya.  Dalam hal makanan seperti awal kita bicarakan tadi misalnya, kalau kita tidak yakin dengan makanan yang ada di sebuah restoran, maka sebaiknya kita mengundurkan diri dan mencari yang lain.

Dalam hal mencari pekerjaan misalnya, kita juga harus lebih waspada dan lakukanlah yang terbaik, semisal membekali diri dengan berbagai ketrampilan dan pengetahuan, sehingga akan  menopang sesuatu yang kita inginkan.  Dengan mengamalkan sedia payung sebelum hujan, tentu kita akan menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan.  Bukannya mencari jalan pintas yang tidak rasional dan  berakhir pada kekecewaan yang sangat besar.

Kalau kita berlaku bijak, tentu akan memandang semua pekerjaan itu baik dan mulia, asalkan  sesuai dengan aturan yang berlaku dan tentu tidak melanggar aturan syariat.  Usaha yang kita lakukan, apapun bentuknya, sudah barang tentu akan  menghasilkan sesuatu yang kita cari.  Hanya saja kalau misalnya belum sesuai dengan harapan, bukannya kemudian mencari jalan pintas, melainkan harus terus merusaha mengembangkannya sedemikian rupa  secara wajar, sehingga pada saatnya akan dapat memperoleh hasil maksimal.

Itulah perilaku  yang harus  kita terapkan dan praktekkan dalam hidup kita, bukan untuk siapa siapa, melainkan untuk kepentingan dan kesejahteraan kita sendiri, terutama dalam menghadapi  masa depan yang semakin kompleks dan penuh tantangan.  Mudah mudahan dengan berperilaku waspada dan bijak tersebut kita akan dapat menjalani kehidupan ini dengan baik dan tetap memperoleh  kepuasan batin yang  sejati.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.