PENTINGNYA MAHAR

Persoalan mahar atau mas kawin atau shadaq atau apapu  namanya ialah sesuatu yang berharga yang diberikan oleh pihak mempelai sebagai salah satu  persyaratan perkawinan.  Dalam Islam mahar tersebut harus diberikan oleh pihak mempelai laki laki kepada mempelai perempuan, dan bukan kepada lainnya, semisal kepada orang tua ataupun saudaranya.  Namun demikia adat dan tradisi di suatu tempat terkadang sangat berbeda dengan  teori tersebut.  Ambil contoh misalnya praktek pemberina mahar yang yang terjadi di india sebagaimana yang kita ketahui justru diberikan oleh mempelai dan atau keluarga mempelai perempuan kepada mempelai laki laki dan keluarganya.

Mungkin sebelumnya banyak diantara kita yang kurang perhatian terhadap persoalan ini, namun setelah heboh pembakaran suami dan orang tua kepada isteri anaknya  beberapa waktu lau, mata kita menjadi terbelalak.  Betapa tidak hanya disebabkan belum lunasnya pembayaran mahar kepada suami dan mertua, seorang suami dan mertua sanggup membakar isteri dan anaknya hingga sang isteri  menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit, dan anknya  hingga saat ini masih berjuang melawan maut di rumah sakit.  Bayi tersebut terbakar hingga 555 dan dalam kondisi sangat kritis.

Lain ladang lain pula belalang, kiranya itulah yang tepat untuk menggambarkan peristiwa tersebut dengan  kondisi mahar yang ada di negeri kita.  Bahkan  tentang mahar tersebut seolah tidak menjadi persoalan, karena memang bukan menjadi tujuan perkawinan itu sendiri.  Bahkan  karena kurang perhatiannya masyarakat Indonesia  tentang mahar tersebut, terkadang mahar yang diberikan kepada pihak mempelai perempuan hanya berupa peralatan shalat dan kitab al-Quran saja yang tentu harganya sangat murah.  Meskipun ada juga yang memberikan mahar dengan perhiasan yang cukup mahal.  Namun  kita dapat mengerti bahwa masyarakat muslim Indonesia memang tidak menjadikan mahar sebagai sesuatu yang luar biasa sehingga  akan dapat menjadi hambatan dalam perkawinan.

Barangkali secara spontan kita dapat menyatakan bahwa  dengan praktek mahar sebagaimana yang terjadi di India tersebut, seolah perempuan itu kurang berharga dibandingkan dengan laki laki.  Artinya kalau seorang perempuan menginginkan mendapatkan seorang laki laki sebagai suami maka ia harus mengeluarkan banyak harta untuk keperluan membayar mahar.  Nah, persoalannya ialah kalau kemudian perempuan tersebut ataupun keluarganya tidak mampu, maka akan sangat  sulit baginya untuk bisa mendapatkan suami yang diinginkan.

Lebih lanjut  kondisi tersebut akan menjadikan seorang perempuan sebagai pihak yang bertanggung jawab  kepada keluarga.  Artinya seorang perempuan memang harus bekerja membanting tulang untuk mendapatkan harta, yang kemudian dapat digunakan untuk membayar mahar kepada suami dan mertuanya.  Sungguh merupakan kondisi yang memprihatinkan, khususnya bilamana ditinjau dari semangat perlindungan kepada perempuan yang memang secara fisik relative lemah dibandingkan dengan laki laki.

Untuk itulah Islam sangat bijak dalam memandang persoalan ini, yakni karena secara fisik laki laki lebih kuat dibandingkan dengan perempuan, maka laki lakilah yang harus bertanggung jawab  atas semua, yakni memberikan mahar kepada isterinya, dan juga bertanggung jawab atas nafkah kepada isteri dan anak anaknya.  Meskipun kalau kemudian dimusyawarahkan bahwa isteri juga dapat berpartisipasi dalam  menguatkan pilat ekonomi keluarga, tidak ada masalah atau diperkenankan.  Bahkan kalau sekiranya suami kemudian tidak dapat menjalankan perannya sebagai kepala rumah tangga disebabkan oleh cacat ataupun yang lain, maka perempuan dapat mengam,bil alih tanggung jawab  atas kelangsungan keluarga tersebut.

Islam sebagaimana yang kita tahu adalah menjadikan  keluarga sebagai tumpuan utama yang harus dibentuk secara baik dan  kerjasama yang harmonis, sehingga tujuan utama  pernikahan yakni menciptakan kehidupan yang tenang atau sakinah dan dipenuhi dengan rasa kasih sayang  atau mawaddah dan rahmah diantara seluruh anggotan keluarga, akan benar benar terwujud.  Karena itu persoalan mahar meskipun  harus diberikan oleh pihak laki laki kepada perempuan, tetapi tidak akan memberatkan, bahkan sangat mungkin kalau hal tersebut tidak diwajibkan mereka sudah akan meninggalkan  mahar tersebut.

Kita juga sering mendengar bahwa  di Negara lain semacam di Arab, mahar tersebut juga terkadang menjadi persoalan, karena meskipun mahar menjadi kewajiban laki laki, tetapi nilainya sangat tinggi.  Bahkan ada semacam  pernyataan bahwa  lebih ringan kawin dengan perempuan di Amerika atau pun di Eropa dan dibelahan bumi lainnya dengan mencarter pesawat, dibandingkan kawin dengan perempuan  arab di negeri dan kampungnya sendiri.  Barngkali pernyatan tersebut tidak sepenuhnya tepat, tetapi haol tersebut untuk menggambarkan betapa mahar tersebut menjadi sesuatu yang memberatkan.  Mungkin  keadaan tersebut dapat memicu  terjadinya perselingkuhan  diantara  anak manusia, disebabkan  ketidak mampuan mereka untuk mahar tersebut, sementara hasratnya untuk menikah sudah sedemikian besar.

Namun pada perkembangannya, istilah mahar tersebut ternyata tidak hanya digunakan sebagai persyaratan dalam perkawinan, melainkan juga sebagai persyaratan tertentu semacam permohonan jasa kepada pihak lain.  Bajkan dalam dunia perdukunan sekalipun  kita juga sering mendengar istilah mahar, yakni ketika seseorang akan meminta tolong untuk sesuatu hal, maka terlebih dahulu orang yang akan meminta tolong tersebut harus membayar mahar tertentu sebelum niatnya dilaksanakan.

Dalam dunia politik juga  sudah muncul istilah mahar, seperti ketika seseorang akan melamar mencalonkan diri sebagai kepala daerah, melalui salah satu partai tertentu, maka untuk dapat diloloskan permohonannya, seseorang tersebut harus terlebih dahulu membayar mahar kepada partai politik tertentu tersebut, dan harganya  tentu sangat mahal.  Jadi  kata mahar tersebut sudah banyak bergeser dari  peruntukan aslinya, yakni dari persyaratan pernikahan, menjadi persyaratan  dalam merealisasikan sebuah keinginan, baik dalam hal social, budaya, politik dan juga hokum.

Kembali kepada masalah mahar dalam peruntukan aslinya yakni sebagai persyaratan perkawinan, kita juga masih terusik dengan kejadian di India yang menewaskan seorang siteri yang belum mampu membayar mahar.  Kejadian tersebut seharusnya menyadarkan kita semua, terutama  para tokoh di negri yang memberlakukan mahar sangat memberatkan, untuk memikirkan kembali  persoalan mahar tersebut.  Atau setidaknya ada  dorongan yang bersifat multi Negara atau internasional yang memberikan rekomendasi kepada seluruh Negara yang memberikan ketentuan  mahar sangat berat, agar merevisi ketentuan tersebut.

Artinya kalau misalnya Negara tidak mengatur persoalan tersebut, kemudian Negara sangat perlu mengaturnya, sehingga tradisi yang kurang baik dan dapat memberikan dampak negative tersebut tidak akan terulang kembali di masa mendatang.  Kita harus dapat memandang dan memahamkan kepada seluruh masyarakat dunia bahwa ikatan perkawinan tersebut merupakan ikatan yang suci dan  setelah terjadi ikatan tersebut, seluruh kekayaan dan hasil kerja semua pihak harus menjadi harta bersama dan dipergunakan untuk keperluan bersama dan seluruh keluarga.

Memang ada  dan harus duhormati mengenai harta pribadi yang didapatkan semenjak sebelum perkawinan, namun kalau kemudian masing masing mau meleburnya menjadi satu, tentu akan menjadi sangat baik.  Yang terpenting ialah bagaimana  keluarga tersebut dapat hidup harmonis, bekerjasama, mempunyai tujuan yang sama dan saling menghormati aktifitas yang dilakukan oleh masing masing suami isteri dan anak.  Walaupun demikian tetap harus ada control dan  koordinasi, sehingga tidak akan terjadi salam faham yang akan menyebabkan retaknya rumah tangga tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.