SATU DZUL HIJJAH

Rukyah yang dilaksanakan pada senin kemarin ternyata tidak berhasil melihat bulan, sehingga sesuai dengan kesimpulan Badan Hisab dan Rukyat, maka  bulan Dzul Qaidah disempurnakan menjadi 30 hari dan  tanggal 1 dzul Hijjah jatuh pada hari Rabu ini.  Itu berarti hari raya Idul Adl-ha akan jatuh pada hari Jumat tanggal 10 Dzul Hijjah.  Barangkali umat Islam tidak terlalu memusingkan tanggal dalam bulan Dzul Hijjah ini, karena meskipun ada hubungannya dengan idul kurban, tetapi gregetnya tidak sebagaimana kalau idul fitri.  Bahkan sekalipun berbeda, mereka  akan menganggapnya hal yang lumrah dan tidak perlu diperdebatkan.  Tentu akan lain halnya, meskipun tidak sampai  terjadi ketegangan, tetapi kalau untuk tanggal pada bulan Syawwal, tentu akan membawa dampak yang kurang menyenangkan.

Kondisi seperti itu tentunya akan sangat berbeda dengan kondisi di negera Arab, uatamanya  Saudi Arabia yang lebih menganggap penting bulan Dzul Hijjah tersebut.  Namun demikian di negara arab trersebut tidak akan ada perbedaan yang mencuat ke permukaan, karena seluruh rakyat akan patuh dan tunduk kepada keputusan raja.  Bahkan  bulan Dzul Hijjah ini menjadi bulan libur panjang dibandingkan dengan libur idul fitri.

Sangat beralasan manakala kita mengingat bahwa di bulan Dzul Hijjah inilah mereka kedatangan para tamu Tuhan yang jumlahnya jutaan orang dan datang dari seluruh penjuru dunia.  Pada saat yang sama, yakni pada tanggal 9 Dzul Hijjah mereka semuanya berkumpul di Arafah untuk melaksanakan wukuf yang merupakan inti dari ibadah haji itu sendiri.  Bahkan Nabi Muhammad saw sendiri pernah mengatakan bahwa “Haji itu Arafah”.  Karena itulah kita dapat menyaksikan bahwa pada saat itulah seluruh jamaah calon haji datang ke sana  termasuk mereka yang sedang sakit dan berada di rumah sakit pun harus disafarikan ke Arafah.

Nah, dari Arafah itulah  kemudian pada sore dan malam harinya  seluruh jamaah calon haji kemudian bergerak menuju Muzdalifah untuk  bermalam di sana.  Mengenai bermalam di Muzdalifath tersebut  memang akan sangatsulit dilaksanakan, karena  mobilitas manusia yang demikian luar biasa, sehingga  kemudian mereka para calon hujjaj hanya sekedar berada di Muzdalifah setelah lewat tengah malam, dan hal tersebut sudah dianggap cukup sebagai bentuk bermalam.  Dari Muzdalifah tersebut para hujjaj kemudian bergerak menuju Mina untuk melakukan lempar jumrah Aqabah pada pagi hari tanggal 10 Dzul Hijjah.

Nah, pada saat tanggal 10 itulah sesungguhnya seluruh umat Islam di dunia yang kebetulan tidak sedang melaksanakan hajji, merayakan Idul Kurban dengan memotong hewan kurban sesuai dengan kemampuan mereka.  Namun bagi para hujjaj, terutama yang baru pertama kalinya menjalankan ibadah haji, terkadang menjadi lupa bahwa saat itu adalah   hari raya Idul Adl-ha, dan merekapun pada  umumnya lupa pula  untuk tidak melaksanakan shalat Idul adlha.  Memang shalat Id sseperti itu tidak wajib hukumnya, namun kalau dijalankan akan lebih baik.

Bagi mereka yang sudah berkali kali menjalankan ibadah haji kiranya mereka akan lebih suka pergi ke Makkah dan menunaikan  shalat Id si sana bersama dengan  masyarakat di sana, baik yang sedang berhajji maupun yang tidak.  Bagi mereka yang menjalankan shalat Id di masjid Haram, lalu dapat meneruskannya dengan melaksanakan thawaf Ifadlah yang juga merupakan rukun hajji, sehingga setelah itu mereka sudah terbebas dari larangan yang sebelumnya diperuntukkan bagi  mereka yang melaksanakan haji.  Sudah barang tentu mereka yang dapat menjalankan shalat Id di makkah, tentu akan terlebih dahulu melempar jumrah aqabah terlebih dahulu dan kemudian dapat menco[pot pakaian ihramnya, yang biasa disebut dengan tahallul awal.

Dengan tahllul awal tersebut seorang yang tadinya memaqkai pakaian ihram sudah boleh mencopotnya dan berganti dengan pakaian biasa.  Hanya saja sebelum menjalankan thawaf Ifadlah, orang tersebut belum boleh melakukan hubungan suami istri, alias belum tahallul tsani.  Memang ada beberapa pilihan yang dapat dilaksanakan oleh para hajji tersebut, terutama mereka yang memperkirakan banyaknya  para hujaj, sehingga  sebaiknya dipilih waktu waktu tertentu yang sekiranya belum banyak melakukannya.

Sebagaimana diketahui bahwa  waktu menjalankan trhawaf Ifadlah masih dapat dilakukan  setelah mereka semua memenuhi kewajiban menginap di Mina dan sekaligus melempar jumrah ula wustha dan Aqabah selama dua hariu berturut turut atau bahkan tiga hari berturut turut, yakni pada hari hari yang disebut dengan hari Tasyriq.  Kebanyak para haji menjalankan thawaf tersebut setelah mereka pulang dari Mina dan di situlah lautan manusia secara bersama sama menumpuk di masjid Haram.  Semuanya berkepentingan untuk menunaikan thawaf ifadhal dan  juga sa’i.

Itulah gambaran serba sedikit tentang perjalanan haji di kota suci yang tentu tidak dapat dipisahkan dengan penanggalan Hijriyyah, khususnya pada bulan Dzul Hijjah.   Dan sebagaimana kita maklumi bahwa meskipun Tuhan memberikan informasi bahwa bulan haji itu banyak dan tidak hanya Dzul Hijjah semata, namun seperti para ulama telah sepakat bahwa puncak haji itu ya pada tanggal 9 Dzul Hijjah hingga berakhirnya hari Tasyriq, yakni tanggal 13 Dzul Hijjah. Bulan bulan hajji yang banyk tersebut difirmankan sendiri oleh Allah swt, yakni firman Tuhan yang maksudnya “hajji itu pada bulan bulan yang sudah diketahui”, dan menurut pendapat ulama bulan bulan tersebut ialah dimulai bulan Swyawwal, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah.

Sesungguhnya sudah ada usulan dari umat Islam yang menginginkan bahwa haji tersebut dapat dilaksanakan dalam bulan bulan tersebut, sehingga  pemerintah Arab saudi akan sangat mudah mengatur pelaksanaan haji dari seluruh uamt di dunia.  Karena saat ini keinginan umat untuk menjalankan ibadah haji tidak sebanding dengan kapasitas tempat dan layanan, disebabkan pelaksanaan haji yang hanya beberapa hari dan bersamaan.  Bahkan  pendaftar dari Indonesia untuk berhaji tersebut harus rela menunggu hingga 10 tahun lamanya.

Tetapi meskipun  sudah dikemukakan berbagai argumentasi dan dalil yang memadhi, tetapi mayoritas ulama tetap beranggapan bahwa haji itu ya pada waktu  yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw., yakni  melaksanakan wukuf pada tanggal 9 Dzul Hijjah dan dilengkapi dengan  pelaksanaan kewajiban dan rukun lainnya hingga  hari tasyriq.  Karena itu usul  agar haji dapat dilaksanakan pada bulan bulan lainnya sebagaimana disampaikan oleh Tuhan, tidak dapat disetujui dan kemudian tenggelam bersamaan dengan tenggelamnya usul dan pendapat tersebut.

Barangkali sudah saatnya usulan untuk menjalankan ibahadah haji di bulan bulan yang dikenal tersebut perlu dimunculkan kembali dan dilakukan pembahasan yang komprehensif, dan melibatkan berbagai ahli dan ulama dari seluruh penjuru dunia, sehingga hasilnya akan merupakan  kesimpulan yang benar benar adil dan meyakinkan umat.  Ke depan umat manusia yang berkeinginan menjalankan ibadah haji tentu akan semakin bertambah, dan kalau pelaksanaannya masih seperti saat ini, maka  akan banyak orang muslim yang tidak akan kesampaian menunaikan ibdah haji, karena kedahuluan oleh ajal yang menjemputnya.

Menurut saya masih terbuka lebar jalan ijtihad untuk membahas  waktu pelaksaan haji tersebut, karena memang rasul sendiri meunaikan ibadah haji  hanya sekali saja. Karena itu beliau tidak akan mungkin memberikan contoh pelaksanaan haji pada bulan yang lain.  Toh ketika  ada sebagian umat yang tidak sepakat dengan penetapan tanggal  bulan hijriyyah sebagaimana yang ditetapkan oleh raja, mereka akhirnya toh juga harus mengikuti penetapan raja tersebut.  Jadi pada dasarnya kalau  ulama sepakat untuk  disahkannya melaksanakan ibadah haji pada bulan bulan tersebut, maka akan ada solusi  yang sangat baik dalam memenuhi keinginan  sebagian besar umat Islam.

Selamat berhajji, selamat berpuasa Tarwiyah dan Arafah, selamat idul Adlha, selamat berkurban dan selamat berijtihat untuk memberikan kemudahan kepada umat.  Semoga Tuhan senantiasa memberikan petunjuk kepada kita sehingga kita terus berada di jalan yang benar dan lurus serta diridlai-Nya.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.