BERBENAH DIRI MENUJU KEBAIKAN

Selama beberapa hari dan bahkan minggu ini, kita dihebohkan oleh peristiwa  yang brkaitan dengan dua lembaga penegak hukum, yakni kepolisian republik Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi.  Benturan keduanya  begitu dahsyatnya, sehingga banyak komentar dan tuduhan yang sangat tidak enak didengar, baik yang datang dari masyarakat umum maupun dari pihak pihak tertentu yang sudah pasti tidak menginginkan  terjadinya perseteruan antara kedua lembaga tersebut.  Perhatian dan energi kita  sangat banyak tersedot untuk urusan tersebut, sehingga urusan urgensinya, yakni memberantas  segala macam korupsi dan sejenisnya menjadi terhambat atu setidaknya terganggu.

Kita dibuat tidak mengerti kenapa para petinggi  darisebuah lembaga yang seharusnya meunjukkan keteladanan  kepada masyarakat, justru terlibat “pertengkaran” yang menyita perhatian banyak orang, termasuk yang ada di luar negeri.  Seharusnya kalau memang benar benar ingin menegakkan  kebenaran dan  keadilan serta memberantas segala penyeleweangan, korupsi dan sejenisnya, mereka itu saling membantu dan menopang, bukan malah saling “menjatuhkan” serta ingin menunjukkan kekuatan masing masing.   Karena itu tidak terlalu salah kalau kemudian masyarakat menganggap bahwa  mereka itu tidak tulus dalam menjalankan tugas, dan ada sesuatu masalah besar yang ingin dikejar atau justru malah disembunyikan.

Kengototan pihak kepolisian  dalam menangani kasus simulator SIM yang melibatkan perwira tinggi polri aktif justru akan melahirkan  anggapan yang sangat tidak enak bagi polri sendiri.  Kalau toh polri mampu menyelesaikan masalah tersebut, tentu akan lebih afdlol dan  lebih transparan manakala kasus tersebut diserahkan saja sepenuhnya kepada KPK yang memang  bertugas memberantas korupsi di negeri ini, dan dengan begitu polri akan dinilai sebagai institusi yang sangat baik dan obyektif.

Barangkalai secara normatif, masing masing pihak merasa  benar dan sesuai dengan  aturan main yang ada, tetapi terkadang kita juga harus melihat kenyataan, dan bukan saja hanya berpegang kepada normatifitas belaka.  Dan hal speperti itu tentu mereka sudah sangat paham serta biasa melakukannya.  Hanya saja  dalam persoalan ini, kenapa kok menjadi susah diurai dan masing masing tampaknya ingin menunjukkan kekuatannya melalui kewenangan yang diberikan oleh negara.

Apalagi kemudian adanya kebetulan yang sangat banyak sekali yang  bisa saja dinilai sebagai sebuah kejanggalan dan kesengajaan untuk maksud maksud tertentu.  Kebetulan yang banyak tersebut diantaranya ialah penarikan sejumlah penyidik kepolisian yang waktunya kebetulan berbarengan dengan penanganan kasus yang melibatkan oknum di polri.  Padahal menurut polri bahwa para penyidik ya ng diperbantukan di KPK memang sudah habis masanya dan akan segera digantikan dengan penyidik yang lain.

Kebetulan lainnya ialah penangkapan penyidik polri yang diperbantukan di KPK yang kemudian lebih memilih menjadi  pegawai tetap KPK, yakni kompol Novel baswedan dengan tuduhan penganiayaan  yang mengakibatkan tewasnya  seseorang yang sudah terjadi semenjak tahun 2004.  Hal ini juga kebetulan baru ditangani saat ini, saat yang bersangkutan sedang menangani perkara simulator SIM yang melibatkan petinggi polri.

Kebetulan kebetulan yang  seperti itu tentu tdak akan dapat memuaskan masyarakat yang sedang menyaksikan episode pertarungan antara dua lembaga tersebut, dan mereka menyimpulkan bahwa memang ada kesengajaan  pihak polri untuk  merecoki penanganan perkara simulator SIM di KPK, dan  adanya maksud ingin menunjukkan kepada masyarakat dan KPK bahwa polri sesungguhnya lebih kuat dibandingkan dengan institusi  anti korupsi tersebut.

Menurut saya gonjang ganjing seputar KPK dan polri biarlah berlalu dan kalau bisa pemerintah dapat menengahi dan menyelesaikan persoalan tersebut, sehingga masing masing akan dapat konsentrasi  melaqksanakan kinerjanya dengan baik.  Akan tetapi bagi kita yang tidak terlibat langsung dengan persoalan tersebut tidak harus larut terus dalam  persoalan tersebut.  Kita harus tetap fokus kepada kinerja kita sendiri dan produktif dalam  menjalankan tugas dan kewajiban yang memang dibebankan kepada kita.

Bukannya kita kemudian apatis dan tidak ikut memikirkan sama sekali, melainkan karena fungsi kita memang tidak dalam kapasitas  dapatbmenyelesaikan persoalan tersebut.  Kalau toh kita  larut dalam persoalan tersebut paling paling yang dapat kita lakukan yang melakukan komentar atau dukungan melalui tulisan ataupun sarana lainnya.  Padahal kita masing masing mempunyai tugas dan kewajiban tewrsendiri.  Karena itulah kita berharap fokus kita kepada kinerja masing masing memang menjadi sebuah keniscayaan.

Demikian juga yang terjadi di beberapa lembaga dan instansi, sudah barang tentu  akan ada persoalan yang memerlukan penyelesaian.  Hanya saja memang tingkat popularitasnya  berbeda beda.  Kalau instansi KPK dan polri memang sedang menjadi sorotan masyarakat, sehingga sekecil apapun persoalan yang sedang mereka  hadapi, akan menjadi besar di mata masyarakat.  Sementara itu di lembaga parlemen kita yang sebelumnya juga mendapatkan perhatian masyarakat secara luas, menjadi tertutupi oleh persoalan KPK dan polri.

Kita masih ingat betul beberapa hari yang lalu dimana kita sebagai masyarakat mengkritik dan bahkan ada yang menghujat keberadaan para anggota dewan yang tidak tanggap[ dengan rakyat diwakili.  Artinya banyak anggota dewan yang seolah mewakili dirinya sendiri ataupun partainya, padahal secara hukum mereka tetap menjadikan rakyat sebagai legitimasi keberadaan mereka di Senayan.  Berbagai tuntutan dan aspirasi masyarakat hanya dipandang sebelah mata saja dan sama sekali tidak diperhatikan, bahkan terkadang malah ditentang dengan arogansi kekuasaan yang melekat di dalam kedudukannya.

Kita juga masih sangat ingat terhadap berbagai persoalan di lembaga peradilan, baik ditingkat pengadilan pertama maupun mahkamah agung. Justru yang baru baru ini terjadi ialah para hakim pengadilan tipikor yang tertangkap basah sedang melakukan praktek suap, dan beberapa kasus lainnya yang telah melukai  perasaan keadilan masyarakat.  Demikian juga dengan keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan hukuman mati bagi produsen narkotika beberapa waktu yang lalu yang juga sangat melukai perasaan keadilan masyarakat.

Jadi sesungguhnya banyak persoalan yang  mengharuskan kita segera menuntaskannya, tetapi karena bertumpuknya persoalan tersebut, seolah satu demi satu tenggelam oleh persoalan yang baru.  Namun kita sekali lagi tidak perlu terlalu larut dalam persoalan yang terjadi  di instansi lain, karena toh di dalam instansi kita sendiri tentu ada persoalan yang harus diselesaikan, dan kemudian fokus untuk melakukan pekerjaan dengan baik.

Kita semua tentu mempunyai persoalan masing masing dan  barangkali juga masih sulit dalam mengatasi persoalan tersebut, meskipun  tidak diketahui oleh publik.  Untuk itulah kita sangat perlu  melakukan pembenahan internal untuk mengurangi atau bahkan  menuntaskan persoalan yang ada dan kemudian  menghasilkan sesuatu yang dapat  bermanfaat bagi banyak pihak.  Berbenah dan mengadakan evaluasi tentu merupakan sikap yang sangat terpuji dan memang harus terus kita lakukan.

Bukankah kita berharap bahwa  aktifitas  kita pada esok hari akan  lebih baik ketimbang aktifitas kita pada hari ini?.  Nah, kalau kita sepakat dengan itu maka kita harus mau dan berani melakukan pembenahan dan evaluasi.  Tindak lanjut dari itu semua ialah keberanian kita untuk merombah yang kurang baik dan menggantinya dengan yang lebih baik. Sesungguhnya  ini merupakan masalah mudah dan sepele, namun kalau ditunggu sampai dengan mengkarat, maka akan menjadi persoalan berat dan sulit dipecahkan.

Pendeknya meskipun  banyak persoalan yang menyita perhatian kita, tetapi kita tetap harus fokus dalam menjalankan tugas dan kewajiban kita masing masing, meskipun kita tidak boleh apatis terhadap berbagai persoalan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak.  Dengan sikap tersebut kiranya kita akan tetap bisa menjadi  manusia baik dan bermanfaat bagi bangsa dan negara seuai dengan  fungsi kkita masing masing.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.