JANGAN MENCURIGAI YANG AKAN MELAKUKAN KEBAIKAN

Pada umumnya untuk menjadi baik itu tidak semudah yang dibayangkan orang, bahkan terkadang malahan  jauh lebih berat daripada mempertahankannya.  Masyarakat pada umumnya juga belum dapat mempercayai begitu saja kepada pihak pihak yang sudah dikenal penjahat, yang berminat taubat dan berkeinginan untuk berubah menjadi baik.  Sebab dalam kenyatannya masih banyak piahk yang hany berpura pura saja menjadi baik, padahal ada maksud tertentu yang ujung ujungnya  akan tetap merugikan masyarakat.  Itulah kenapa kebanykana masyarakat kemudian tidak mau percaya begitu saja  atas niat baik yang ditunjukkan oleh orang yang tadinya tidak baik.

Ketika ada ada seorang yang baru saja keluar dari lembaga pemasyarakatan, akibat  melakukan kejahatan, tentu masyarakat akan  melihatnya dengan pendangan curiga.  Jangan jangan kejahatan yang pernah dilakukan dahulu akan diulanginya lagi, meskipun  yang bersangkutan sudah menunjukkan perilaku yang baik.  Sikap masyarakat yang demikian terkadang malahan  akan mengembalikan seseorang yang sudah bulat ingin kembali kepada kebaikan,  menjadi jahat kembali. 

Artinya kalau seseorang yang sudah berniat baik tersebut tidak kuat dengan godaan, ditambah lagi dengan sikap masyarakat yang belum mau menerimanya sebagai orang baik, maka sangat mungkin orang tersebut frustasi dan akhirnya daripada terus tersiksa, lebih baik sekalian kembali lagi kepada kejahatan yang lalu.  Toh ketika  ada niata baik, masyarakat juga tidak akan dapat menerimanya dan tetap memandangnya sebagai orang jahat, sekalian saja benar benar menjadi orang jahat.

Terkadang kita memang harus mengelus dada dengan sikap kebanyakan masyarakat kita yang tidak bisa menerima apa adanya orang yang mempunyai masa lalu kelam.  Padahal  sesungguhnya setiap orang sudah barang pasti mempunyai masa lalu yang tidak atau kurang baik, dan sebagai hamba Tuhan yang menyadari ketidak baikan tersebut, kemudian berniat hijrah kepada  kebaikan, selayaknya  harus mendapatkan apresiasi dari masyarakat, bukan malah  dicibir dan bahkan diasingkan.

Barangkali kalau berniat baik tersebut bukan orang melainkan sebuah partai politik misalnya, maka kita masih bisa mengerti, karena biasanya parpol lebih mementingkan pencitraan dan simpati sementara dari masyarakat, serta menghindari cercaan  dan kemungkinan dijauhi oleh masyarakat.  Contoh paling mutakhir ialah bagaimana parpol saat ini ramai ramai  menyuarakan penghentian pembahasan revisi Undang undang KPK yang beberapa waktu lalu juga diusulkan oleh beberapa parpol tersebut, meskipun bisa saja saat ini mereka berdalih bahwa yang mengusulkan kemarin itu hanyalah  perorangan dan bukan kelembagaan parpol.

Kita sudah hafal dengan  sikap dan pernyataan parpol yang selalu mencari aman  dan selamat, terutama  ketika mendekati pemilihan umum.  Masih terngiang di telinga kita betapa beberapa tokoh partai  para waktu  yang belum lama dengan lantang menyuarakan  perlunya revisi undang undang KPK yang dianggapnya  terlalu superior dan perlu ada remnya.  Bahkan ketika  di awal usulan tersebut ada yang keberatan, dengan lantangnya mereka itu ngotot dan  semacam “emaksakan” agenda tersebut.  Dan lebih dahsayat lagi ternyata draf yang sesungguhnya belum dibahas di komisi III tersebut sudah menjadi siluman dan disampaikan kepada baleg.

Namun setelah seluruh elemen masyarakat turun tangan dan menentang rencana revisi tersebut, serta memberikan dukungan penuh kepada KPK untuk terus memberantas korupsi, maka kemudian  hampir seluruh partai politik melalui fraksi fraksi yang ada menyuarakan agar pembahasana  revisi undang undang KPK tersebut dihentikan.  Secara substansial masyarakat memang dan KPK diuntunhgkan karena ancaman untuk pelemahan KPK menjadi tidak terlaksana, namun  apakah sikap parpol seperti itu tulus ataukah justru karena terpaksa, entahlah kita tidak tahu.

Yang jelas kita tidak boleh melakukan tindakan  termasuk juga ungkapan yang bernada meremehkan mereka, siapa tahu niat baik mereka justru tulus dan akan menguntungkan masyarakat.  Dan kalau ternyata hal tersebut hanya sebuah siasat belaka, kita juga tidak terlalu rugi, khususnya ketika kita hubungkan  dengan persoalan KPK.  Toh kkita semua  sudah tahu seperti apa partai ;politik yang ada, dan kita juga sudah dapat menilainya.  Bahkan kalau dihubunghkan dengan tahun 2014, kiranya masih cukup waktu untuk menunggu konsistensi dan niat baik mereka.

Justru yang terpenting pada saat ini ialah bagaimana kita dapat berpartisipasi mengubah seluruh yang jelek, jahat, dan tidak baik, menjadi baik, sehingga bangsa ini secara keseluruhan juga akan menjadi baik.  Kita jangan lagi mengembangkan sikap saling curiga, tidak percaya, dan selalu menghakimi pihak lain bersalah secara terus menerus.  Karena pada dasarnya apapun yang ada di dunia ini dapat saja berubah; yang jahat bisa menjadi baik, dan begitu pula sebaliknya yang baik bisa menjadi jahat. 

Nah, peran yang seharusnya kita mainkan ialah bagaimana kita bisa mempertahankan kebaikan tersebut dan mengajak yang tidak  atau kurang baik untuk menjadi baik.  Sudah saatnya kita lebih mementingkan kebersamaan dan kemaslahatan umum, ketimbang persoalan yang bersifat pribadi ataupun golongan.  Kita harus memikirkan umat yang saat ini nasibnya belum  berubah menjadi baik, dan bahkan cenderung terus merosot ke arah yang lebih menyedihkan.

Kalau semua itu dapat  kita lakukan, tentu tidak akan ada lagi pernyataan bahwa  untuk berubah menjadi baik itu sungguh sangat susah.  Saat ini memang masih seperti itu.  Artinya  ketika ada  pihak yang  akan berubah menjadi baik, selalu saja  akan mendapatkan  rintangan yang sungguh berat, dan masyarakat juga belum bisa menerima begitu saja, bahkan  setelah menampakkan diri sebagai orang baik pun masih terus dicurigai dan dijauhi.

Kita  sangat merasakan betapa sulitnya untuk menjadi baik tersebut, apalagi kalau seseorang yang akan berubah baik tersebut sudah pernah melakukan tindakan yang sangat merugikan dan meresahkan masyarakat.  Untuk sekedar berkomitmen tidak melakukan perbuatan  jahat saja, kita juga sering mendapatkan tantangan dari pihak pihak  tertentu yang merasa terganggu  praktek jahatnya selama itu, walaupun  tidak terang terangan.

Misalnya saat ada komitmen untuk tidak melakukan tindakan yang koruptif di sebuah instansi, maka sudah barang pasti akan ada saja pihak pihak yang keberatan walaupun tidak terus terang.  Setidaknya kurang berkenan dengan pernyataan komitmen tersebut,  terutama pihak pihak yang sudah terbiasa melakukan hal tersebut, walaupun dalam  takaran kelas teri.  Tetapi meskipun mendapatkan penentangan dan sikap kurang mendukung seperti itu, kita sehafrusnya tetap konsisten dan tidak menyerah.

Kita sangat yakin b ahwa pada saatnya kebenaran dan sikap baik yang terus kita pertunjukkan dan pelihar, pasti akan menang dan memberikan kemaslahatan dan bahkan penyelamatan bagi banyak orang. Jadi pada saat ini kita harus dapat menempatkan diri sebagai manusia yang setidaknya ada niat untuk melakukan kebaikan dan mengajak pihak lain untuk berhijrah menuju kebaikan.  Paling tidak ketika ada pihak yang menyatakan diri ingin berbuat baik, jangan diejek dan dikucilkan serta dicibir, tetapi berilah dorongan sehingga niat baik tersebut akan dapat diwujudkan dalam kenyataan.

Insya Allah kalau kita mau dan dapat berbuat seperti itu, kita  akan dicatat sebagai manusia  yang telah berbuat baik dan mendukung perbuatan baik. Dengan  begitu Tuhan sudah barang pasti akan memberikan pahal kepada kita serta akan  mewujudkan apa yang menjadi mimpi kita, yakni  hidup dalam kondisi damai, swentosa dan sejahtera, lahir batin, dunia hingga akhirat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.