MEMOTIVASI PUASA

Secara umum puasa memang dirasakan berat oleh sebagian besar umat Islam, bahkan kalau misalnya diadakan survey dan umat menjawabnya secara jujur, kiranya dapat diprediksi bahwa sebagian besar diantara mereka  akan menjawab bahwa puasa memang berat, karena harus menahan makan dan minum selama sehari penuh.Padahal kebanyakan mereka  adalah pekerja berat sebagai tukang bangunan, buruh pabrik, petani, nelayan dan lainnya.  Kondisi seperti itu bukannya tidak disadari oleh pembuat keputusan syariat, yakni Tuhan sendiri, melainkan Tuhan sangat tahu tentang persoalan tersebut, dan karna itulah sesungguhnya ada yang harus kita ketahui dalam persoalan tersebut, semisal kenapa Tuhan memberikan beban yang dianggap berat oleh umat, dan lainnya.

Memang dalam menyikapi persoalan tersebut kita hanya bisa mengira ngira dengan berhusnudzdzan kepada Tuhan dan bukannya sebuah kepastian.  Artinya ketika kita menemukan sesuatu dibalik perintah Tuhan yang  dianggap berat oleh umat tersebut, bukan mesti benarnya, melainkan hanya sekedar menafsirkan dan mencari hikmah dibalik perintah tersebut.  Dan hal tersebut tentu tidak dilarang, bahkan malahan sangat dianjurkan, terutama untuk memberikan semangat dan motivasi bagi umat  dalam menjalankan  perintah yang berat tersebut.

Dalam kaitannya dengan perintah puasa di bulan Ramadlan, sesungguhnya kita menemukan begitu banyak hal yang dapat dijadikan motivasi agar dalam menjalankannya menjadi ringan dan semangat.  Salah satu diantara motivasi tersebut ialah bahwa Tuhan akan memberikan balasan yang sangat besar bagi orang orang yang  berpuasa.  Melalaui sebuah hadis Qudsi, Tuhan pernah berfirman bahwa puasa itu hanya untukku dan Aku sendiri yang akan membalas atas puasa tersebut.  Dalam kaitan dengan balasan tersebut dala riwayat lainnya diinformasikan bahwa orang yang berpuasa nanti akan bertemu dengan Tuhan dan akan ditempatkan di surga melalui pintu yang diberi nama "al-Rayyan".

Untuk lebih memberikan motivasi dan kepercayaan  diri yang tingi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa,  Nabi Muhammad saw juga menyampaikan bahwa diamnya  mereka  yang berpuasa itu dianggap bertasbih, dan bahkan tidurnya pun dianggap ibadah.  Dan untuk mensugesti agar tidak rendah diri ketika berhadapan dengan orang lain disebabkan bau mulut karena lamanya waktu tidak makan dan minum seharian, maka Nabi memberikan pernyataan bahwa bau mulut mereka yang berpuasa itu menurut Tuhan lebih wangi ketimbang minyak misik.

Bahkan  menurut riwayat imam al-Bukhari, Muslim dan lainnya, nabi  pernah menyatakan “barang siapa yang menjalankan ibadah puasa Ramadlan, dengan didasari ketaqwaan dan hanya semata mata karena Allah, maka  segala dosanya yang telah lalu akan diampunkan oleh Tuhan”.  Barang kali inilah motivasi terbesar bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa.  Bahkan saking  besarnya pahala dan balasan tersebut sampai sampai ada yang menyalah gunakan maksud motivasi tersebut, yakni dengan tetap melakukan kemaksiatan sebelum Ramadlan, toh pada saat Ramadlan tiba dan menjalankan puasa, segala dosa tersebut akan dihapus.

Tentu hal tersebut sama sekali tidak dapat dibenarkan, dan bahkan akan sangat salah, karena motivasi seperti itu  harus dikaitkan dengan  ketentuan lain yang saling berhubungan.  Artinya kalau ada seseorang dengan sengaja  melakukan dosa  dan maksiat dan setiap kali memasuki Ramadlan menganggap dosanya akan dihapuskan, bisa jadi malahan dosa dosanya semakin banyak dan tidak terampunkan.  Ingat nabi juga pernah memberikan worning bahwa  tidak semua orang yang menjalankan puasa  itu akan bisa mendapatkan  apa yang diinginkan, bahkan sangat banyak yang hanya mendapatkan rasa lapar dan haus saja.

Lebih dari itu kalau kita cermati perintah Tuhan  dalam hal menjalankan puasa tersebut juga diiringi dengan tujuan yang ingin dicapai, yakni agar menjadi taqwa, hal itu tentu lebih memberikan  tekanan tersendiri, yakni sebagai wahana untuk melatih dan membiasakan  dengan amalan amalan yang dapat mengantarkan seseorang menjadi taqwa tersebut.  Tentu hal tersebut juga mengandung makna sebagai ujian kepada umat manusia; apakah mereka akan menuruti perintah yang berarti taat  dan juga apakah mereka tidak menjalankannya yang berarti membantah.  Nah, kalau semua itu bisa disadari dan kemudian  mensikapinya dengan benar, tentu sedikit banayk akan berpengaruh dalam sikap kita dalam menjalankan puasa tersebut.

Jadi berat atau tidaknya pelaksanaan kewajiban puasa tersebut juga sangat tergantung pada  cara kita mensikapinya.  Bisa saja ssuatu yang  hakekatnya merupakan sangat berat, tetapi karena sikap kita terhadap sesuatu tersebut positif dan bahkan mungkin  disertai semangat yang tingi, maka hal tersebut akan terasa  ringan.  Dan sebaliknya adakalanya sesuatu yang hakekatnya ringan, tetapi karena sikap kita negative, maka hal tersebut akan menjadi sesuatu yang sangat berat.

Motivasi memang  diperlukan dalam melaksanakan apapun, termasuk melaksanakan perintah agama, seperti berpuasa, shalat, zakat dan lainnya.  Tanpa motivasi orang akan merasa berat menjalankannya.  Banyak orang yang malas menjalankan shalat, padahal dia  tahu bahwa shalat merupakan kewajiban utama yang harus dijalankan dan bahkan shalat tersebut merupakan kewajiban rutin dan  bagi yang menjalankannya secara benar dan tulus, akan dapat menjadi tameng dari  perbuatan yang keji dan mungkat.  Demikian juga banyak orang kaya yang enggan membayar zakat, apalagi infaq dan sedekah, padahal mereka sangat paham bahwa zakat tersebut merupakan kewajiban yang harus ditunaikan, dan seterusnya.

Tentu semua itu ada sebabnya, dan salah satu sebab utama yang biasa dan umum ialah karena tidak adanya kesadaran dan motivasi yang kuat dalam diri seseorang tersebut untuk menjalankan kewajiban dimaksud.  Barangkali sudah ada pengertian, tetapi kurang dihayati dan dipentingkan, sehingga pengertian tersebut tidak berkembang menjadi sebuah motivasi kuat untuk mewujudkannya.

Nah, kaitannya dengan pelaksanaan kewajiban puasa bagi umat Islam kiranya amat sangat urgen untuk memberikan motivasi kepada seluruh umat agar dalam menjalankan ibadah puasa dapat berjalan dengan baik, dan sempurna hingga akhir bulan serta mendapatkan sesuatu yang dituju, yani derajat taqwa yang sesungguhnya.  Kalau dilihat  dari sisi kewajiban pelaksnaannya saja, puasa memang cukup berat.  Bayangkan saja kelau seseorang bekerja sebagai buruh, petani, nelayan dan sebagainya yang harus bekerja keras dan memerlukan pasokan energi melalui makan dan minum setiap saat.  Tetapi dengan berpuasa, berarti pasokan makan dan minum hanya dilakukan pada malam hari saja, sementara pekerjaan yang harus diselesaikan ada di siang hari.

Untuk itu  sekiranya tidak ada motivasi, tentulah puasa tersebut akan terasa sangat berat.  Namun ketika  puasa tersebut kemudian disikapi dengan  bijak, bahwa memang ada kalanya orang harus mau berusah susah dahulu untuk mendapatkan  kesuksesan, terutama kesuksesan akhirat, maka  beratnya puasa tersebut agak tertolong menjadi  lebih ringan.  Dan manakala kemudian juga dibwerikan motivasi lain, seperti balasan yang sangat banyak serta akan bertemu dengan Tuhan di akhirat nanti, tentu akan semakin menambah ringan dalam berpuasa.

Motivasi memang sangat penting dalam semua hal.  Ibaratnya kalau seorang anak  agak malas belajar, tetapi kemudian diberikan motivasi oleh orang tuanya semisal akan dibelikan  sepeda atau diajak rekreasi dan lainnya, tentu  mereka akan lebih giat belajar.  Namun dalam tingkatan tinggi motivasi yang bersifat materi seperti uitu menjadi kurang berarti.  Artinya memang benar motivasi sangat diperlukan untuk memberikan dan menyuntik semangat dalam melaksanakan sesuatu, akan tetapi bagi mereka yang sudah pada level tinggi sebagai hamba Allah tentu tidak akan terlalu tergantung kepada motivasi tersebut.  Dan kalau toh  disebut bahwa mereka masih membutuhkan motivasi, maka  hal tersebut berupa motivasi kesadaran diri yang penuh  untuk menjadikan sesuatu perintah sebagai sebuah  kebutuhan.

Logikanya kalau seseorang sudah menganggap sesuatu  itu sebagai kebutuhannya, maka ia akan bersemangat untuk mengerjakannya, dan bahkan akan merasa sayang kalau meninggalkannya.  Hanya saja  tingkatan orang seperti itu  sangat sedikit, dan yang terbanyak ialah mereka yang masih membutuhkan sebuah motivasi dalam menjalankan apapun, termasuk menjalankan perintah agama.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.