PUASA DAN PENGENDALIAN NAFSU

Sebagaimana diketahui bahwa makna puasa ialah mengendalikan diri dari makan,minum, bersetubuh dan segala macam yang membatalkannya.  Pengertian dan makna puasa seperti itu sesunguhnya mengandung arti yang sangat jelas dalam hubungannya dengan pengendalian nafsu, seperti nafsu makan, nafsu seks dan nafsu lainnya.  Hanya saja masih mungkin pengertian yang seperti itu belum dapat menyentuh segala macam nafsu yang justru lebih besar dan lebih berbahaya dibandingkan dengan nafsu nafsu tersebut.  Pertanyaannya ialah apakah puasa tersebut benar benar dapat mengendalikan segala macam nafsu?

Tentu bukan persoalan mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena  terkait dengan banyak persoalan, seperti persoalan masing masing orang yang menjalankan puasa, persoalan pemahaman dan kesadaran, dan juga persoalan lainnya.  Secara ideal kita memang dapat mengkalim bahwa puasa tersebut seharusnya  bisa mengendalikan segala macam nafsu, dari yang rigan hingga nafsu yang sangat berat.  Akan tetapi secara riil kita harus menyadari dan mengakui bahwa  cukup banyak orang yang menjalankan  puasa, tetapi ternyata puasanya tersebut sama sekali tidak mampu mengendalikan nafsunya.

Kita masih menyaksikan banyak orang yang berpuasa, tetapi masih memelihara nafsu ingin menguasai hak milik pihak lain.  Demikian juga kita dapat menyaksikan orang yang berpuasa tetapi masih terus mengumbar kata kata kotor dan menyingung bahkan menyakitkan pihak lain. Bahkan ada juga yang berpuasa namun masih melakukan terror kepada pihak lain, melakukan tindakan korupsi, suap, dan perbuatan maksiat lainnya.  Jadi meskipun secara ideal puasa itu dapat mengendalikan segala nafsu, tetapi dalam kenyataanya masih belum bisa.

Lantas dimana letak kesalahannya?.  Memang sangat sulit untuk mencari letak kesalahan masalah tersebut.  Barangkali yang dapat menggambarkan kondisi tersebut ialah manakala kita menarahkan bidikan tersebut kepada masing masing orang.  Kita santgat mengerti bahwa pengetahuan orang mengenai perintah berpuasa terebut sangat beragam;  Ada dantara umat Islam yang memahminya hanya sekdar perintah kewajiban yang harus dilaksanakan.  Mereka hanya memahami bahwa melakukan puasa akan mendapatkan pahala dan meningalkannya akan mendapatkan siksa.

Sementara di pihak lain ada sebagian umat yang memahaminya sebagai sebuah perintah yang sekaligus mengandung hikmah yang sangat banyak dan akan berakibat baik bagi setiap orang yang menjalankannya.  Nah, dari dua cara penyikapan terhadap perintah ibadah puasa tersebut tentu sudah terbayang bahwa hasil yang akan didapatkan sudah barang pasti akan juga berbeda.  Arinya sebagian orang akan merasa puas  ketika sudah menjalankan perintah puasa tersebut, walaupun sama sekali tidak ada dampak apapun, terkecuali hanya sedikit kurus dalam kehidupannya, misalnya.

Namun  di pihak lain ada yang belum dan tidak akan merasa puas sebelum semua hikmah yang terkandung di dalam perintah berpuasa tersebut dapat berdampak dalam kehidupan nyata.  Mereka berpendapat bahwa puasa tidak hanya sekedar perintah melainkan juga ada maksud yang lebih besar yang tersimpan dalam kata kata Tuhan " agar kalian menjadi taqwa".  Maksud besar tersebut tentu kondisi yang sangat ideal, seperti taat terhadap segala perintah dan menjauh dari segala larangan Tuhan, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi pihak lain karena sifat sifat terpuji yang dimilikinya, seperti jujur, ikhlas, suka menolong, disiplin, semangat bekerja, dan sifat positif lainnhya.

Mereka  meyakini bahwa berbagai sifat baik tersebut akan mampu diraih seseorang dengan menjalankan ibadah puasa secara benar.  Untuk itu mereka  kemudian berkesimpulan bahwa puasa adalah sebuah wahana melatih diri untuk menjadi orang  baik dan ideal seperti digambarkan di atas.  Karea  posisinya yang sebagai latihan, maka seorang yang menjalankan puasa harus  mau dan berusaha menjalankan puasa dan segala hal baik secara sadar dan tulus serta dibarengi dengan keinginan kuat untuk membiasakan diri dalam melakukan hal baik tersebut, terutama setelah selesai puasa.

Keyakinan seperti itu memang dapat dimengerti, karean ternyata banyak riwayat yang mendukung  kesimpulan tesebut, meskipun riwayat riwayat tersebut tidak secara langsung  dan khusus berkaitan dengan masalah ini.  Tetapi sekali lagi riwayat riwayat tersebut  tetap dapat dihubungkan dengan persoalan ini, seperti riwayat mengenai pesan Nabi Muhammad saw kepada para pemuda yang sudah waktunya menikah, tetapi belum mempunyai cukup ongkos untuk menjalani rumah tangga.  Garis besar riwayat tersebut ialah " Wahai para pemuda  barang siapa diantara kalian yang sudah cukup ongkos untuk menikah ( dan juga untuk membangun rumah tanga) maka hendaklah segeralah menikah, karena menikah itu akan dapat mengendalikan pandangan dan menjaga kehormatan diri, tetapi  barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia melakukan puasa, karena puasa itu akan akan bisa menjadi obat atau kendali".

Riwayat tersebut  bahkan sangat jelas menggambarkan bahwa puasa tersebut akan dapat menjadi solusi obat dari membaranya nafsu libido seksual. Riwayat lainnya yang  baangkali dapat dihubungkan dengan persoalan ini ialah worning Nabi Muhammad saw. yang mengatakan bahwa cukup banyak orang yang menjalankan puaa, namun mereka tidak mendapatkan apa apa terkecuali hanya lapar dan dahaga semata.  Riwayat yang terakhir tersebut memberitahukan kepada kita bahwa ada puasa yang hanya menghasilkan lapar dan haus saja, yakni  mereka yang menjalankan puasa tetapi melakukan hal hal tersecela, semacam berdusta, menipu, menyakiti orang lain, mengobral aib orang lain, adu domba dan sejenisnya.  Termasuk juga  mereka yang bepuasa namun tetap melakukan maksiat  dengan melanggar  aturan dan ketentuan yang ada.

Karena itu tidak salah kalau kemudian kita juga mengikuti pendapat yang terakhir, yakni bahwa puasa tersebut tidak semata merupakan perintah, melainkan juga mengandung maksud yang sangat baik bagi pembentukan pribadi pribadi yang benar benar muttaqin yang mempunyai sifat sifat baik sebagaimana disebutkan di atas.  Untuk itu dalam menjalankan ibadah puasa kali ini mari kita sertai dengan komitmen untuk memperbaiki diri dan menjadikan diri kita sebagai muttaqin yang sesunguhnya.

Konsekwensi dari pernyataan dan keyakinan seperti itu, maka kita harus mau melakukan kebaikan kebaikan  secara tulus, seperti memperbaiki ritual kita, mengembangkan ilmu kita, menambah porsi ibada yang berdampak social, dan lainnya. Kalau sebelumnya kita jarang melaksanakan shalat secara berjamaah, mulai kali ini kita harus membiasakan diri shalat secara berjamaah.  Demikian juga kalau sebelumnya kita kurang giat dalam membaca, mari kita memulainya saat ini juga, dan  kalau sebelumnya kita kurang dalam beramal jariyah, berupa sedekah dan infaq, maka mulai saat ini juga kita semangatkan dan gelorakan dalam diri kita untuk melakukan  sedekah tersebut, dan begitu seterusnya.

Kita harus meyakini bahwa dengan menjalankan puasa dengan ikhlas dan penuh perngharapan dan optimisme yang maksimal, insya Allah kita akan dapat memperoleh dua hal yang sangat menentukan dalam perjalanan hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat, yakni memperoleh sifat sifat baik sebagai akibat dan dampak berpuasa yang sangat berguna dalam kehidupan kita di dunia, serta  memperoleh pahala yang akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita di akhirat.  Mudah mudahan Tuhan senantiasa akan memberikan pertolongan danbbimbingan kepada kita sehingga apa yang kita inginkan dapat terwujud. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.