SEMANGAT BEKERJA DI BULAN PUASA

Barangkali banyak orang yang berpikir dan sekaligus merasakan bahwa  dengan berpuasa akan bisa menyebabkan  semangat bekerja menjadi menurun, disebabkan seharian tidak makan dan minum.  Namun kita harus yakin bahwa  kalau puasa tersebut dijalankan dengan penuh kesungguhan serta dibarengi dengan keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, tentu tidak akan  menyurutkan semangat dan bahkan akan dapat menambahkan gairah  dan semnagat.  Hanya saja memang  secara lahir stamina akan berkurang, tetapi dengan semangat yang menyala, kekurangan stamina akan dapat ditutupi, sehingga yang nampak ialah kegairahan semata.

Persoalannya ialah tidak semua orang yang menjalankan ibadah puasa dapat mendalami makna puasa dan sekaligus berusaha untuk menumbuhkan  semangat dalam dirinya untuk meraih kebaikan.  Karena itu tidak aneh kalau kemudian yang kita saksikan ialah kelesuan yang kekurang gairahan dari mereka yang melakukan puasa.  Akibat dari semua itu ialah produktifitas menjadi menurun dan kinerja juga kurang maksimal.  Dan biang keladi dari semua penurunan tersebut ialah puasa itu sendiri.

Kondisi  seperti itu dan juga penilaian terhadap keberadaan puasa yang menyebabkan menurunnya produktifitas dan semangat tersebut memang tidak bisa kita salahkan seratus persen, karena kenyataannya puasa yang kita kerjakan  tesebut memang belum sepenuhnya kita tempatkan sebagai wahana  melatih diri untuk mencapai derajat ketaqwaan dan kebaikan.  Justru yang lebih menonjol ialah  puasa  hanya sebagai kewajiban saja, sehingga pelaksanaannya memang semacam dipaksakan dan bukan dengan kesadaran dan keikhlasan.

Pada hari ini, kita akan dapat menyaksikan kondisi riil  dari umumnya umat Islam yang menjalankan ibadah puasa. Kenapa  hari ini, ya, karena hari ini merupakan hari pertama masuk kerja di bulan Ramadlan tahun ini, sehingga kita akan dapat mengukur sejauh mana pendalaman umat Islam terhadap perintah puasa tersebut.  Jangan jangan mereka justru lebih banyak yang "terpaksa" menjalankan perintah puasa tersebut dari pada menyadarinya sebagai  sarana mencapai kebaikan yang ditunjukkan oleh Tuhan.

Jangan jangan mereka tidak dapat melihat kebaikan yang  ada di bulan suci ini, sehingga kalaupun disuruh memilih, mereka akan lebih memilih tidak berpuasa ketimbang harus berlapar lapar seharian selama sebulan penuh.  Kalau memang benar seperti itu, tentu akan sangat bertolak belakang dengan kondisi ulama pada masa lalu, dimana mereka selalu merindukan datangnya bulan Ramadlan, karena mereka  akan dapat memetik kebaikan yang sangat banyak yang tidak ditemuinya di luar Ramadlan.

Tetapi kita memang harus optimis bahwa meskipun  masih banyak yang belum dapat merasakan nikmatnya beribadah di bulan Ramadlan ini, tetapi  mereka yang ihklas  menjalankan puasa masih lebih banyak, sehingga meskipun secara fisik mereka sedikit  berkurang staminanya, namun  semangat yang menyala nyala akan dapat mengalahkan semua kekurangan tersebut.  Sehingga dengan demikian kita juga berharap justru di bulan puasa kali ini kinerja mereka akan  bertambah dan produkifitas mereka juga meningkat.

Sementara  bagi sebagian  umat Islam yang mengalami kondisi sebaliknya, yakni dengan berpuasa justru akan semakin mengurangi semangat serta produktifitas serta kinerjanya, kita hanya dapat berharap agar mereka  sedikit demi sedikit dapat menyadari tentang  keberadaan bulan Ramadlan dengan segala keunggulannya serta sekaligus berkomitmen untuk  menjadikan Ramadlan tersebut sebagai  sarana  melatih diri menuju insan yang taqwa.

Bagaimana caranya agar kita tetap semangat dalam bekerja, meskipun sedang berpuasa? Tentu di sini diperlukan beberapa kiat agar semangat dalam diri kita tetap terpelihara dan bahkan mungkin malah lebih baik lagi.  Beberapa kiat tersebut sebagiannya ada yang berbentuk upaya lahiriyah dan sebagiannya lagi berbentuk  motivasi. Barangkali beberapa kiat tersebu dapat disampaikan sebagai berikut:

  1. Menjaga agar selama sehari penuh badan tetap fit dan prima, semisal dengan mengkonsumsi  tambahan vitamin yang memungkinkan badan tidak kekurangan energi atau sejenisnya.  Demikian juga harus menjaga keseimangan makanan.  Artinya tidak terlalu banyak makan sahur yang akan menyebabkan kekenyangan dan mengantuk di pagi hari.
  2. Berusaha memahami hikmah puasa dan berusaha pula untuk mencapa tujuan puasa, yakni menjadi pribadi yang taqwa.  Artinya  dengan memahami berbagai hikmah yang dapat diperoleh melalui puasa, tentu akan memberikan dorongan dan semangat untuk melakukan  kebaikan sepanjang memungkinkan dan mampu diwujudkan.  Hikmah hikmah puasa yang  sangat mungkin dilakukan ialah berdisiplin dalam segala hal, jujur kepada diri sendiri dan juga kepada siapapun, menyadari keterbatasan diri, mau membagi dengan sesama, dan ringan membantu orang lain, serta rajin dan semangat melaksanakan Ibadan.
  3. Meyakini bahwa puasa tersebut hanya diperuntukkan bagi Allah semata, dan bukan untuk yang selainn-Nya.  Artinya kita tidak boleh mencampur adukkan antara kepentingan puasa dengan kepentingan duniawi, seperti politik, pencitraan, dan lainnya.  Dengan keyakinan seperti itu tentu akan dapat membuat seseorang  semakin tulus dalam menjalankan puasa dan  optimis dalam menghadapi segala tantangan.
  4. Meyakini pula bahwa  dengan menjalankan puasa secara benar, ikhlas dan menjaga diri dari hal hal yang dapat menghilangkan makna dan pahal puasa, maka Tuhan nantinya akan memberikan  ampunan-Nya, termasuk  terhadap segala dosa yang pernah dilakukannya di masa yang lalu.

Beberapa hal tersebut setidaknya akan dapat mengugah semangat seseorang untuk lebih baik dan bergairah dalam menjalankan puasa dan melakukan pekerjaan sehari harinya dengan semangat yang juga tinggi.  Kita memang  tidak boleh menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas mala dalam bekerja dan mencari karunia Tuhan, karena kalau hal tersebut yang kita lakukan, maka  sesunguhnya kita belum ikhlas dalam menjalankan ibadah puasa.

Mari buktikan bahwa kita memang benar benar sebagai hamba hamba Tuhan yang  baik dan bertaqwa, dan bukan sebagai pengecut dan hanya sebagai pecundang semata.  Bahkan ibaratnya badan boleh saja sedikit lesu dan lemah, tetapi semangat dalam diri kita harus tetap menyala  untuk melakukan kebaikan dan sekaligus membuktikan bahwa  cinta dan keikhlasan kita kepada Tuhan itujauh lebih besar ketimbang  sekedar lapar dan dahaga sesaat.  Toh dengan sedikit lapar dan dahag tersebut nantinya Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dan besar di akhira nanti.

Untuk itulah kita  harus terus berusaha  menata hati dan pikiran kita agar kita dapat menjadi hamba terbaik dengan melaksanakan seluruh perintah dengan penuh keikhlasan dan ketundukan.  Memang tidak mudah, tetapi kalau hati dan pikiran telah menyatu, apapun akan dapat dikalahkan,termasuk godaan iblis yang dahsyat sekalipun.  Semoga  puasa kali ini dapat menjadi bukti atas kejujuran dan keikhlasan kita sebagai hamba Tuhan yang terbaik dalam menjalankan misi kemanusiaan di atas dunia ini. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.