MARI BERPUASA YANG BENAR

Hari ini umat Islam di Indonesia dan Negara Negara Asean mengawali ibadah puasa Ramadlan tahun 1433 H, meskipun sebagian umat Islam, yakni umat Muhammadiyah telah menjalankan puasa sejak kemarin.  Berbeda dalam menjalankan puasa di kalangan umat Islam Indonesia sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah, sehingga meskipun sudah diusahakan sedemikian rupa, tetapi toh tetap saja ada perbedaan.  Dan sudah berualangkali saya  berpendapat bahwa seharusnya bisa disatukan demi kebersamaan dan kesatuan umat, karena hal ini  merupakan persoalan ijtihadiyah semata dan pemerintah dapat menetapkannya serta menghilangkan segala perbedaan.

Saat ini seluruh umat muslim telah menjalankan ibadah puasa, dank arena itu kita sangat berharap perbedaan yang  terjadi untuk sementara waktu bisa dilupakan dan kita berkonsentrasi untuk  menjalankan ibadah dengan menjaga dari segala kemungkinan yang dapat membatalkan atau setidaknya  menghilangkan pahala puasa.  Karena sebagaimana kita ketahui bahwa secara formal syariat bahwa puasa ialah menahan diri untuk tidak makan minum dan hal hal yang membatalkan semenjak terbit fajar (subuh) hingga terbenam matahari (maghrib).

Namun demikian puasa sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhan ialah dalam upaya agar pelakunya menjadi muttaqin. Karena itu kiranya tidak cukup kalau puasa hanya dimaknai sebagai menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh dari subuh hingga maghrib.  Puasa yang diharapkan akan menjadikan pelakunya sebagai muttaqin harus lebih dari sekedar menahan hal hal tersebut, melainkan juga menahan diri dari segala nafsu dan perbuatan kotor, berbohong dan melakukan kemaksiatan.

Bagaimana mungkin orang yang berpuasa hanya menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh di siang hari akan dapat mencapai derajat muttaqin?.  Boleh jadi nantinya ada orang yang menjalankan puasa dan menahan diri tidak makan, minum, dan bersetubuh di siang hari, tetapi dia ternyata melakukan perbuatan maksiat, seperti melakukan korupsi, atau berkata bohong, menyakiti orang lain, menipu dan semacamnya.  Nah, kalau kita hanya berpegang kepada definisi puasa sebagaimana dikatakan oleh para ahli sebagaimana tersebut tentu mereka yang dapat menahan diri dari batasan yang ditentukan akan tetap dianggap sah puasanya.

Hanya saja  sangat tidak mungkin orang yang korupi, menipu orang, menyakiti dan menganiaya orang lain dan sebagainya  akan dapat pahala dan menjadi muttaqin.  Tentu akan berbeda antara orang yang menjalankan puasa dan dapat menjaga dirinya dari segala perbuatan maksiat dan dosa, dengan mereka yang menjalankan puasa tetapi masih juga melakukan perbuatan terlarang.

Barangkali demi menyelamakan umat dan memberikan pencerahan kepada umat, akan sangat tepat  kalau diadakan  redefinisi puasa sehingga semua orang yang menjalankan ibadah puasa nantinya  akan benar benar mengarah kepada pribadi yang muttaqin sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan sendiri.  Usulan initentu tidak akan bisa "mandi" atau mujarab ketika  para ulama dan pemimpi umat tidak mau mengambil resiko dan peduli terhadap nasib umat ke depan.

Artinya memang harus ada kepedulian yang nyata dari seluruh ulama dan tokoh Islam untuk menyelamatkan umat dari kemungkinan salah dalam menjalankan kewajiban puasa.  Tanpa hal tersebut kita tentunya masih akan menyaksikan orang orang yang secara lahir telah menjalankan ibadah puasa, tetapi ternyata puasanya tersebut tidak akan dapat mengubah apapun yang ada di dalam dirinya.  Perbuatan maksiat yang selama ini dilakukan masih tetap terus barjalan dan bahkan  seolah menadapatkan perlindungan dari kegiatan puasanya tersebut.

Seharusnya memang puasa itu tidak hanya sekdar menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh di siang hari melainkan juga menahan diri dari melakukan perbuatan maksiat dan perbuatan tercela lainnya.  Bahkan Nabi Muhammad sendiri sesungguhnya telah memberikan isyarat untuk hal tersebut  melalui pernyataannya yang diriwayatkan oleh beberapa tokoh hadis. Isyarat yang dimaksudkan ialah  pernyataan yang maksudnya " banyak orang yang menjalankan puasa, tetapi sama sekali tidaka akan mendapatkan apa apa, erkecuali hanya sekdar lapar dan dahaga"

Pernyataan tersebut  sungguh sangat menohok kepada mereka yang berpuasa tetapi tetap saja melakukan maksiat.  Artinya bisa saja puasa yang dilakukan tersebut dianggap sah, tetapi tidak benar secara hakiki.  Ketika ada seorang yang menjalankan ibadah puasa  dan menahan diri untuk tidak makan, minum dan melakukan persetubuhan di siang hari dari fajar hingga maghrib, tetapi dia melakukan ghibah, memfitnah orang lain, menyakiti pihak lain dan bahkan melakukan korupsi ataupun suap dan sejenisnya, maka sudah barang pasti orang tersebut tidak akan pernah mendapatkan pahala puasa, dan yang didapatkannya hanyalah lapar dan dahaga, dan bahkan dosa.

Termasuk di dalamnya ialah mereka yang berkata kata bohong, mencaci maki pihak lain, mendendam, iri hati, dengki, dan lainnya.  Jadi  hal hal  yang dapat digongkan sebagai perbuatan maksiat tersebut sesungguhnya dapat merusak puasa yang sedang dijalankan.  Untuk itu akan sangat bagus bilamana  definisi puasa diperluas lagi, yakni menhan diri dari makan, minum, bersetubuh di siang hari dan menahan diri dari segala perbuatan maksiat serta merugikan pihak lain. Dngan definisi seperti itu setidaknya kita akan dapat memberikan perhatian kpda umat untuk meninggalkan segala macam maksiat dan hal yang merugikan piak lain selama menjalankan ibadah puasa.

Hal penting lainnya dalam menapaki hari pertama puasa kali ini ialah melupakan perbedaan  yang kemarin  diperdebatkan.  Artinya kita tidak usah membahasnya lagi dan lebih baik nanti pada saatnya biar digodok oleh mereka yang mempunyai kepentingan.  Karena kita yakin bahwa kalau para pimpinan da tokohnya bisa  menyisihkan kepentingan egonya, maka hal tersebut akan dapat segera dicarikan jalan keluarnya dengan baik.  Sudah saatnya kita lebih berkonsentrasi untuk mencerahkan umat melalui pembinaan mental agar mereka menjadi semakin baik dan taat serta taqwa.

Sikap saling memaafkan dan toleran kepada pihaklain memang harus ditekankan untuk dipelihara dan dikembangkan, demi terwujudnya masyarakat yang damai sejahtera dan  bermartabat.  Pada hari pertama puasa, yang kebetulan juga bersamaan dengan hari libur Sabtu dan Minggu, tentu akan  dapat membuat umat dapat merenung secara dalam tentang  berbagai hal seputar pelaksanaan puasa  dengan segala romantikanya.  Kita yakin pasti banyak hal yang dapat diraih dalam perenungan tersebut, utamanya tentang betapa sangat bahagianya  mereka yang miskin tetapi bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik.

Alangkah  bagusnya jikalau mereka yang mampu secara financial kemudian mau membantu kepada mereka yang  miskin dan lemah  dalam hal ekonomi.  Dan bulan nan suci yang  berlimpah pahal ini tentu akan merupakan waktu yang tepat untuk memberikan santunan kepada mereka sebagai wujud syukur kita kepada Tuhan yang telah memberikan dan melimpahkan rizki kepada kita, dan kemudian  diwujudkan dalam berbagi dengan sesame.

Semuanya itu kita lakukan dengan keyakinan yang penuh bahwa pahala  bermal di bulan Ramadlan tentu akan dilipat gandakan  menjadi lebih dari tujuh puluh kali dan doa di bulan suci ini juga akan didengar dan dikabulkan oleh Tuhan, apalagi ketika doa tersebut diucapkan oleh mereka yang lemah dan diungkapkan secara tulus. Jadi perenungan yang  sungguh sungguh tentu akan melahirkan sesuatu yang baik dan  bermanfaat bagi  oaring banyak.  Semoga kita semua dapat merenung di awal puasa ini sehingga  pada hari hari berikutnya nanti akan semakin banyak kebaikan yang muncul dalam inspirasi kita dan sekaligus dapat diwujudkan dalam kenyataan.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.