WASPADA TERHADAP ANCAMAN RADIKALISME AGAMA

Maraknya paham dan sekaligus sikap radikal dalam agama  akhir akhir ini tentu sangat meresahkan, tidak saja bagi masyarakat yang merasa terancam, namun juga bagi para orang tua yang selalu was was.  Bagimana tidak kalau paham dan sikap seperti itu ternyata  saat ini  sudah marak di beberapa perguruan tinggi.  Memang agak mengejutkan, karena  seharusnya perguruan tinggi merupakan tempat yang cukup aman untuk tidak ketularan paham seperti itu.  Kita tahu bahwa perguruan tinggi sebagai tempat mengkaji berbagai disiplin ilmu dengan mengedepankan kepada pemahaman moderat dan perangkat teori serta prosedur ilmiah, tentu tidak akan mudah ditembus oleh paham radikal dalam agama tersebut.

Lebih mengejutkan lagi, ternyata yang banyak peganutnya justru adalah perguruan tinggi "umum" dan bukannya perguruan tinggi agama.  Kita tentu tidak boleh gegabah menuduh siapa yang salah dan bertanggung jawab, karena  setelah kita analisa  ternyata di sana banyak faktor yang dapat membuat seorang mahasiswa terseret kepada paham tersebut, dan bahkan sangat fanatik.  Kita yakin bahwa tidak ada kurikulum perguruan tinggi manapun yang  memuat ajaran dan paham radikal dalam agama tersebut, termasuk  conten dari selabus masing masing.

Hanya saja pengaruh  dari luar kampuslah yang sesungguhnya sangat kuat, sehingga  sebagian mahasiswa tidak mampu lagi membendung arus tersebut dan akhirnya larut dalam paham tersebut dan sekaligus menjadi  ujung tombak dalam penyebaran paham tersebut.  Artinya paham tersebut bukannya secara formal diajarkan dan diperkenalkan secara formal di kelas atau di perguruan tinggi, melainkan justru dibawa oleh sebagian mahasiswa dari luar dan kemudian ditularkan kepada mahasiswa lainnya.  Bahkan pendalamannya juga  dilakukan di luar kampus itu sendiri.

Nah, sebagaimana saya sebutkan tadi bahwa  kenapa mahasiswa yang seharusnya kritis dalam setiap hal, bisa terpengaruh paham seperti itu, ternyata ada beberapa faktor yang menjadi sebab mudahnya sebagian mahasiswa  berpaham radikal dalam agama seperi itu.  Faktor faktor tersebut dapat disebutkan antara lain:

  1. Pemahaman agama yang kurang.  Artinya bahwa  saat ini  banyak orang yang memahami agama secara harfiyah dan serampangan, bahkan hanya semata menerjemahkan secara lahir teks teks atau lebih ironis lagi hanya  membaca terjemahan yang belum pasti tepat terhadap pendangan dan pendapat sebagian orang.  Akibatnya  sudah dapat ditebak bahwa pemahaman yang  demikian tentu akan  banyak menimbulkan plemik dan pertentangan dengan kondisi riil di masyarakat dan di negara yang berdaulat seperti  Indonesia ini

Sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam Islam sendiri cukup banyak ayat maupun hadis yang  kalau dipahami secara harfiah dan terpisah pisah, akan menimbulkan kesimpulan yang sangat berbeda jauh dengan pemahaman yang kontekstual dan komprehensif.  Sebagai contoh ialah ketika memaknai kata "jihad" dimana kata tersebut mempunyai makna yang cukup banyak dan semuanya berlaku sesuai dengan konteksnya.  Kata jihad tersebut bisa bermakna perang dalam arti mengangkat senjata melawan musuh, tetapi juga bisa bermakna lainnya, seperti perang melawan nafsu, perang melawan kebodohan, kemiskinan, dan lainnya, dan juga bisa bermakna mengembangkan dan menyiarkan syariat Islam dengan jalan damai.

Karena itulah pemahaman terhadap teks teks agama tersebut akan sangat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang.  Kalau pemahaman yang ditonjolkan  ialah tentang perang melawan segala kemungkaran yang terllihat, tanpa menginddahkan aturan lain, tentu hal tersebut akan berakibat terjadinya benturan dengan kepentingan lan dari pihak lain, dan begitu seterusnya.

Apalagi kalau paham tersebut kemudian ditawarkan kepada orang orang yang jiwanya "kosong" atau setidaknya sedang mencari sesuatu yang dapat memuaskan dirinya, tentu akan sangat tepat dan dengan cepat akan bisa diserap dan diyakini. Paham tersebut  lebih menitik beratkan kepada tujuan akhir, yakni akhirat dan surga yang ditawarkan.  Sementara itu untuk urusan dunia sama sekali tidak ada arti dan harganya.  Itulah kenapa penganut paham seperti itu sanggup melakukan apapun yang dianggap benar ole mereka, meskipun harus membahayakan  dan bahkan harus mengorbankan diri mereka. "surga" adalah kata akhir yang mereka rindukan, meskipun  belum pasti hal tersebut mereka dapatkan, karena jalan yang ditempuh ternyata sama sekali berbeda dengan jalan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw, yakni berbuat baik kepada semua  dan sama sekali tidak merugikan kepada siapapun.

  1. Kondisi ekonomi, artinya faktor ekonomi bagaimanapun akan dapat mempengaruhi seseorang dalam arti yang sangat luas.  Bahkan kaena ekonomi tersebut seseorang akan sanggup beralih keyakinan. Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan bahwa Kemiskinan itu dapat menyebabkan seseorang menjadi kafir.  Memang sangat dapat dimenngerti kalau seseorang  selalu mengalami kehidupan yang  tertekan dalam bidang ekonomi, sementara di sekitarnya banyak orang  mendapatkan harta dengan melimpah dan hidupnya sangat senang, maka ia akan mudah dipengaruhi oleh apapun yang bermuara kepada tuntutan keadilan dan kesamaan dalam memperoleh kebahagiaan dan harta.

Apalagi kalau kondisi ekonomi yang selalu tidak berpihak kepada dirinya, sementara di sekelingnya  dia selalu menyaksikan keglamoran, sehingga kondisi jomplang tersebut akan selalu menjadikan diri seseorang yang terhimpit ekonomi tersebut akan dengan mudah dimasuki paham yang memberikan solusi yang dianggap dapat  memberikan kepuasan dirinya, terutama dalam memberikan sebuah harapan yang sangat menjanjikan dan terlepas dari "penderitaan " kekurangan ekonomi tersebut.  Intinya ketimpangan dan ketidak adilan ekonomi akan menyebabkan timbulnya paham seperti itu.

  1. Politik,  artinya bahwa kondisi politik yang tidak mencerminkan keinginan banyak pihak, dan bahkan selalu lebih menguntungkan pihak pihak tertentu, juga akan menjadi salah satu pemicu munculnya radikalisme tersebut.  Coba bayangkan, kalau seandainya kebijakan sebuah pemerintah hanya berpihak kepada asing atau hanya condong ke para konglomerat dan sama sekali tidak berpihak kepada rakyat banyak, tentu hal tersebut sangat potensial untuk menjadi penyebab munculnya gerakan yang pada ujungnya  akan berupa kekerasan dan pemaksaan kehendak.

Tentu kita sangat tahu tentang sejarah Khawarij yang  komitmennya terhadap gama begitu luar biasa, namun cara yang gunakan sama sekali tidak menghargai pendapat dan cara pihak lain.  Hanya caranya sajalah yang dianggap benar dan itu harus dipaksakan untuk siapapun.  Cara pandang seperti itulah yang kemudian menjadikan mereka sebagai kelompok keras dan radikal dalam memahami dan menyimpulkan teks teks agama, sehingga justru akan meimbukan ketegangan dan permusuhan, dan bukannya ketenteraman.

  1. Sosial, artinya bahwa kondisi sosial yang sangat tidak kondusif dengan munculnya berbagai persoalan yang tidak kunjung selesai juga merupakan faktor potensial terhadap munculnya aliran tersebut.  Barngkali kejadian demikejadian yang dialami oleh masyarakat dan tidak ada solusi yang memuaskan, bahkan  problem semakin meruncing sehingga menyebabkan hilangnya rasa aman dan damai, akan menyebabkan sebagian orang kemudian mengasingkan diri dari kancah sosial, namun karena persoalan sosial tersebut tidak kunjung selesai maka terpaksa  sebagian orang tersebut mengambil keputusannya sendiri, yakni memerangi siapapun yang dianggap bersalah dalam menyebabkan problem tersebut, dan begitu seterusnya.
  2. Psikologi, artinya pengalaman hidup seseorang yang  kebetulan selalu mengalami nasib yang tidak atau kurang baik dan bahkan selelau menemui kegagalan, tentu akan  dapat menyebabkannya gampang marah dan curiga kepada pihak lain.  Nah, kondisi seperti itu kalau bertemu dengan orang yang relatif sama atau bahkan bertemu dengan orang orang yang dapat menjajikan sesuatu yang dapat diraihnya, tentu akan klop.  Janji surga yang diberikan dengan memerangi kepada semua orang disekitarnya yang tidak sepaham, apalagi kepada mereka yang dianggap telah merampas keberuntungannya, maka akan  sangat manjur, bahkan  ia akan sanggup untuk menjemput surga yang dijanjikan tersebut meskipun harus melakukan bunuh diri.

Tentu masih banyak faktor lainnya yang kalau kita kaitkan dengan kemunculan kelompok radikalisme agama tersebut juga dapat dilakukan, seperti faktor pendidikan, lingkungan dan lainnya. Namun yang terpenting bagi kita ialah bagaimana kita dapat mengupayakan agar mereka yang mempunyai pemahaman radikal terhadap agama tersebut dapat kita dekati dengan menyampaikan cara yang biasa ditempuh oleh Nabi dan juga para ulama terdahulu, yang lebih mengedepankan persaudaraan, kebersamaan, toleransi, perdamaian, dan juga kemaslahatan.

Disamping itu kita juga harus mau peduli terhadap mereka  bahkan  mau menyediakan waktu untuk berdialog dan diskusi bersama.  Yang jelas kita tidak boleh memusuhi mereka sedemikian rupa sehingga  mereka nantinya akan semakin tidak terkendali.  Kita harus yakin bahwa mereka masih bisa kita ajak dialog dengan mengutamakan kebersamaan dan kemaslahatan.

Saat ini kita menyadari bahwa radikalisme agama telah berada di sekitar kita dan tentu kalau dibiarkan terus  akan dapat mengganggu stabilitas  lingkungan kita dan bahkan dapat mengancam keutuhan dan kebersamaan kita.  Untuk itulah  beberapa hal sebagaimana  d atas harus dilakukan dan kepedlian serta pembinaan intensif kita kepada mereka memang mutlak diperlukan dan harus diwujudkan.  Mudah mudahan  semuanya akan menyadari pentingnya kebesamaan, toleransi, kedamaian dan kemaslahatan, sehinga kondisi kondusif yang telah ada akan dapat terus dipertahankan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.