MENUNGGU DIMULAINYA PUASA

Sampai saat ini kita masih terus terbelenggu oleh ego masing masing orang, kelompok atau organisasi, terutama dalam menyikapi masuknya bulan suci Ramadlan dan bulan Qamariyah lainnya.  Padahal kita sudah berada dalam kondisi yang seharusnya bisa bersatu demi persatuan dan kebersamaan seluruh umat Islam.  Bahkan sangat ironis ketika kita harus menyaksikan  ada tiga hari berturut turut umat Islam di negeri ini dalam menetapkan  dimulainya puasa ataupun diakhirinya puasa.  Kenapabangsa sebesar ini tidakmampu menyatukan umatnya untuk  melakukan ibah puasa secara bersama sama dan begitu pula mengakhirinya secara bersama sama pula.

Semakin  banyak munculnya  pada ahli falak yang dihasilkan oleh perguruan tinggi, selayaknya akan semakin dapat dirapatkan jarak dan bahkan disatukannya persoalan tersebut.  Namun dalam kenyataannya  bahkan malahan masing masing saling mengklaim kebenaran aliran yang diikutinya.  Artinya semakin banyak ahli yang mengetahui persoalan di sekitar falak ini ternyata  tidak semakin dapat memberikan rahmat  bagi umat Islam secara menyeluruh,  tetapi malahan semakin menjadikan jurang pemisah diantara umat Islam.

Kita sebagai umat Islam yang memang tidak mendalami persoalan ilmu falak tersebut tentu hanya bisa berharap bahwa semakin banyaknya sarjana dalam bidang ilmu ini, diharapkan akan  dapat mempersatukan umat, melalui keputusan yang tidak saja mengedepankan ego masing masing, tetapi lebih mementingkan persoalan persatuan umat.  Toh persoalan ini merupakan persoalan ijtihadiyah yang bisa benar dan bisa salah.

Pendekatan dalam menetapkan tanggal Qamariyah bukan  dengan  atau melalui  pendapat masing masing individu yang kemudian ditarik menjadi keputusan kelompok, melainkan  selayaknya  melalui pendekatan kebijakan demi keutuhan dan kebersamaan umat.  Sesungguhnya ada kaidah dari para ulama terdahulu yang bisa kita pegangi  untuk mempertemukan berbagai  pemikiran dan bahkan mungkin keyakinan, yakni "keputusan hakum atau pemerintah itu akan tetap dan  dapat menghilangkan perbedaan".

Dengan mengacu kepada kaidah tersebut dan juga  mengedepankan semangat persatuan dan kebersamaa umat, maka akan sangat mudah membuat keputusan tersebut, walaupun tentu akan pihak yang tidak  atau kurang puas, tetapi demi kebersamaan, hal tersebut akan bisa dilakukan.  Saudi Arabia misalnya telah memprakteeka hal tersebut, yakni keputusan menentukan tanggal Qamariyah melalui keputusan raja dan hal tersebut kemudian akan diikuti dan ditaati oleh seluruh masyarakat Saudi, meskipun tentu ada yang kurang sependapat dengan keputusan tersebut, disebabkan mempunyai pandangan lain.

Tetapi setelah keputusan raja dimunculkan maka segala ketidak setujuan tersebut kemudian harus disimpan dalam hati dan tetap mengikuti keputusan raja.  Pertanyaannya apakah kita juga tidak bisa melakukan  hal seperti itu.  Sekali lagi persoalannya  terletak ditangan para elit organisasi yang saat ini ada di negeri kita.  Dan kita sangat yakin bahwa umat hanya akan mengikuti apa yang diptuskan oleh para elit atau ulama yang kebetulan menjadi pimpinan di organisasi tersebut.

Kalau semua pimpinan organisasi kemasyarakatan dan keagamaan  sepakat dengan penggunaan kadah tersebut dan semua lebih mengedepankan kemaslahatan dalam memandang persoalan tersebut, tentu akan sangat mudah bagi pemerintah untuk menetapkan awal bulan tersebut.  Tentu pemerintah juga tetap harus memperhatikan aspirasi yang berkembang di masyarakat dan para ulama dalam  bidang ilmu falak, dan juga lebih mengedepankan  pada kebenaran.

Barangkali ada juga yang berpendapat bahwa biarkan sajalah persoalan ini berjalan sebagaimana saat ini, toh dalam kenyataannya umat Islam dapat menerima perbedaan tersebut dan tidak terjadi gesekan yang membahayakan atau setidaknya mengarah kepada perpecahan.  Namun  ketika kita menyaksikan beberapa taun terakhir ini meskipun toleransi uamat dalam menerima perbedaan terebut terlihat baik secara nasional, ternyata  terjadi juga gesekan gesekan di tingkat bawah yang kalau terus dibiarkan tentu akan sangat membahayakan keutuhan umat.

Coba  bayangkan betapa tidak cukup meresahkan kalau misalnya ada  sebagian umat Islam yang sudah memulai puasa, sementara yang lain masih berpesta, atau  bahkan yang lebih membahayakan ialah dalam mengakhiri puasa, dimana ada sebagia umat Islam yang  sudah merayakan hari raya, tetapi sebagian lainnya justru sedang khidmat menjalankan puasa.  Tentu bukan hanya sampai disitu, karena kebiasaan umat Islam ketka merayakan  Idul Fitri misalnya, mereka melakukan takbir mursal atau takbir keliling, tetapi pada saat yang sama  sebagian dantara mereka masih melaksanakan shalat tarawih.

Tentu hal tersebut aka menimbulkan banyak persoalan sebagaimana kita saksikan di beberapa daerah, walaupun kemudian dapat diatasi oleh polisi dan  mendamaikan diantara umat Islam tersebut.  Tetapi tentu ada yang tidak bebas untuk melakukan  aktifitas merayakan Idul fitri, karena  mereka dilarang melakukan takbir. Jangankan  takbir mursal hanya untuk melakukannya lewat pengeras suara di masjid saja kemudian juga diharapkan untuk dihentikan.

Kondisi tersebut tentu  akan  tidak nyaman bagi semua umat Islam, dan sesunguhnya mereka akan lebih nyaman ketika mengawali puasa bersama dan mengakhirinyapun juga bersama sama.  Hal tersebut terbukti ketika kebetulan kondisinya seperti itu, yakni seluruh umat Islam Indonesia  mengawali dan mengakhiri puasa secara bersama.

Kiranya kondisi tersebut bisa dilihat oleh  para tokoh dan pimpinan umat dan kemudian tergerak hatinya untuk mau bersatu demi umat kedepan.  Toh sekali lagi masalah tersebut merupakan masalah ijtihadiyah yang keputusannya memang  diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam itu sendiri.  Dan kalau kemudian semua sepakat bahwa hanya pemerintahlah yang  berhak menetapkan  tanggal Qamariyahsebagaimana yang terjadi di Negara lain seperti Saudi Arabia dan mungkin juga Malaysia dan lainnya, maka hal tersebut merupakan hadiah yang sangat besar bagi umat Islam Indonesia.

Kita sangat berharap para sarjana ilmu falak yang saat ini bermunculan dan semakin banyak tidak akan menambah banyaknya pendapat yang sulit disatukan, tetapi justru lewat merekalah kemudian akan timbul kesadaran bersama yang tentu tidak  bertentangan dengan kaidah keilmuan untuk mempersatukan penanggalan dalam Islam.  Kehadiran para ahli dalam bidang ilmu falak tentu akan memberikan berkah bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah, khususnya Ramdlan, dan bukan malahan menjadi persoalan atau fitnah yang sangat membahayakan  umat secara umum.

Kajian kajian yang dilakukan oleh mereka juga bukan mendukung  salah satu pendapat yang sudah ada, apalagi dukungan tersebut ditujukan kepada organiasasi, tetapi justru lebih menekankan aspek keilmuan.  Karena itu kajian kajian yang ada harus disertai kritik atas beberapa kelemahan yang dipandang masih ada dan kemudian memberikan solusi terbaik bagi semuanya, yakni bagi keilmuan falak dan juga bagi umat secara umum.

Bukankah ilmu pengetahuan tersebut untuk kesejahteraan uamt dan bukan untuk menyengsarakan umat?  Terus terang saja kita sangat prihatin atas kondisi  umat Islam di negeri kita terutama dengan  masih banyaknya tokoh yang justru lebih mengedepankan egonya ketimbang memikirkan kepentingan umat secara umum. Nada nadanya untuk mengawali puasa tahun ini umat Islam juga akan terpecah dan tidak memulainya secara bersama sama.  Karena diantara umat Islam sudah ada yang telah menetapkan dimulainya puasa, sementara yang lainnya masih menunggu keputusan lebih lanjut.

Lalu pertanyaan yang muncul ialah untuk apa memproduksi banyak sarjana ilmu falak, tetapi dalam kenyataannya malah justru akan semakin menambah lebarnya jurang perbedaan di kalangan umat Islam.  Saya kira sudah waktunya para sarjana ilmu falak tersebut melakukan upaya nyata bukan saja  menitik beratkan kepada aspek keilmuan murni, melainkan juga mempertimbangkan  manfaat ilmu tersebut untuk kepentingan umat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.