IKHLAS MENERIMA KEPUTUSAN TUHAN

Cukup banyak kita menyaksikan keputusan Tuhan yang tidak  sama dengan keinginan umat manusia, sehingga banyak pula diantara mereka yang kemudian berpaling dari Tuhan, disebabkan  pandangan mereka yang sempit sehingga mereka menganggap bahwa Tuhan  itu tidak adil dan sama sekali tidak menyayangi dan tidak berpihak kepada mereka.  Pada akhirnya mereka kemudian malah menjauh dari Tuhan dan meninggalkan ibadah yang sudah mulai dikerjakannya.

Apabila keputusan Tuhan sepert itu kita lihat dengan kecerdasan dan keimanan, tentu ksimpulannya ada dua kemungkinan, yakni ertama Tuhan hanya ingin menguji sejauh mana keimanan mereka itu kepada Tuhan, apakah memang benar dan meresap dalam sanubari sehingga tidak tergoyahkan oleh  datangnya badai sebesar apapun, aaukah sebaliknya iman merka hanya  bagaikan kaps yang sangat mudah digoyang dan diterbangkan oleh angin.  Atau kedua bahwa Tuhan mempunya maksud lain yang justru lebih baik ketimbang hanya sekedar keinginan mereka.  Hanya saja  kemudian mereka tidak dapat menangkap kehendak Tuhan tersebut, sehingga malah menyia nyiakannya.

Kalau kita belum bisa menangkap maksud Tuhan dibalik seluruh keputusan yang diberikan kepada kita,  seyogyanya kita memasrahkan segalanya hanya kepada Tuhan dan kita terus berusaha mencari tahu dengan tetap melakukan ibadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.  Karena kita yakin bahwa dengan mendekatkan diri kepada Tuhan lah kita akan mendapatkan petunjuk.  Untuk itulah diperlukan sikap pasrah yang total dan tulus, tetapi bukan berarti menyerah kepada keadaan dan  pasif serta tidak melakukan aktifitas apapun, melainkan justru pasah tersebut disertai dengan terus mendekatkan diri kepada Tuhan melalui berbagai aktifitas positif.

Bukankah  Nabi pernah menegur salah seorang sahabat yang ketika melakukan kepasrahan dengan membiarkan onta yang dibawanya  berkeliaran tanpa arah dan hanya memasrahkan hal tersebut kepada Tuhan.  Nabi Muhamad saw ketika itu kemudian memberikan penjelasan bahwa pasrah  atau dalam bahasa agama sering disebut sebagai tawakkal adalah menyerahkan segala keputusan kepada Tuhan seteah kita berusaha  untuk meraih sesuatu yang kita inginkan.

Dengan penjelasan Nabi tersebut, sahabat yang membiarkan ontanya tidak diikat sehingga berkeliaran dan sangat mungkin nantinya bisa merugikan pihak lain, diaggap tidak tepat, meskipun dengan dalih menyerahkan urusan tersebut kepada Tuhan.  Karena justru penyerahan diri yang tepat ialah dengan terus berusaha untuk mendapatkan sesuatu serta beruaha untuk mempertahankan atau mengamankan sesuatu sesuai dengan kemampuan yang ada, kemudian baru semuanya diserahkan kepada Tuhan.

Pertanyaannya ialah kenapa kita harus menyeahkan segalanya kepada keputusan Tuhan?.  Jawabannya ialah karena kita percaya bahwa hanya Tuhanlah yang  memberikan keputusan terhadap segala sesuatu.  Kita sebagai makhluk, hanyalah bisa berusaha dan Tuhanlah yang akan memutuskan.  Dalam kondisi seperti itu sesungguhnya kita akan bisa menerima hasil  apapun sebagai keputusan Tuhan, jikalau nantinya  ternyata tidak sesuai dengan harapan kita semula.  Namun kia tetap harus berharap dan percaya bahwa Tuhan  akan memberikan keputusan yang terbaik bagi kita.

Kita sangat percaya bahwa Tuhan tidak akan berbuat dzlaim kepada hamba-Nya, dan pasti akan memberikan keputusan yang erbaik bagi mereka.  Hanya saja terbak bagi kita menurut versi Tuhan terkadang tidak bisa dipahami secara baik oleh para hama-Nya, sehingga sering terjadi orang lalu berputus asa karena tidakkunjung mendapatkan sesuatu yang diidam idamkannya.  Inilah kesalahan fatal umat manusia yang tidak bisa menyikapi keputusan Tuhan.

Sikap terbaik yang harus kita ambil ialah dengan senantiasa  memperbaiki diri menuju kesempurnaan.  Kita  juga menyadari bahwa manusia itu tidak mungkin akan bisa sempurna tetapi terus berusaha memperbiki diri dengan melakukan aktifitas baik dan memberikan manfaat tentu akan  menjadi salah satu halpenting yang  akan membuat diri kita semakin dekat dengan Tuhan, dan Tuhan akan menyayangi kita.

Memang secara teoritis  hal seperti itu sangat mudah untuk diceritakan dan diungkapkan,  sedangkan dalam prakteknya seringkali kita  banyak tergoda oleh berbagai rayuan duniawi dan bisikan setan, sehingga  yang terjadi ialah  buruk sangka kita kepada Tuhan yang  dianggapnya tidak berpihak kepada kita, padahal kita telah melakukan ibadah kepada-Nya.

Tetapi meskipun sangat susah untuk kita praktekkan, akan tetapi ketika kita sudah menyadari dengan baik tentang peberian ujian Tuhan kepada setiap hamba-Nya yang menyatakan iman kepada-Nya, tentu hal tersebut akan sedikit memantu kita untuk dapat mempraktekkan hal tersebut.  Sebagaimana kita ketahui bahwa Tuhan pasti akan memberikan ujian kepada setiap orang beriman.  Tujuannya ialah agar Tuhan  bisa membuktikan bahwa orang tersebut benar benar beriman atau hanya bohong belaka.

Orang berikan itu salah satu tandanya ialah tabah dalam menghadapi setiap cobaan dan tidak akanmudah menyerah, bahkan justru ketika diuji dengan sesuatu yang  menyusahkannya, maka akan bertambah ibadah dan amal baiknya dmi mendekatkan diri dan ingin mendapatkan ridla-Nya.  Kita tentu sangat ingat  dengan kisah nabi Ayyub  AS yang dicoba oleh Tuhan dengan penyakit yang menjijikkkan, sehingga beliau harus tabah untuk diasingkan dari pergaulan, bahkan dari keluarganya sendiri serta kaumnya.  Namun  iman yang benar di dalam diri nabi Ayyub, pada akhirnya Tuhan memberikan sesuatu yang sangat luar biasa.

Demikian juga dengan kisah para Nabi dan orang orang salih di masa yang lalu, dimana mereka  seoalh tidak bereming dengan penderitaan yang mereka alami, dan bahkan malahan mereka lebih intensif dalam menjalankan perintah syariat dan melakukan berbagai aktifitas yang bermanfaat bagi umat manusia.  Mungkin pada saat itu  ada beberapa pihak yang menganggap bahwa mereka itu "gila" karena  kekuatan iman mereka yang begitu sahsyat  dan tidak terpengaruh sedikitpun oleh kesusahan yang mereka alami, bahkan iman mereka malah bertambah kuat.

Bercrmin dari berbagai kisah teladan para Nabi dan orang baik  tersebut, kiranya akan bisa membantu kita untuk lebih ikhlas menerima keputusan apapun yang ditetapkan oleh Tuhan, karena apa yang kita alami misalnya, itu belum seberapa  apabila dibandingkan dengan apa yang mereka alami;  Penderitaan yang mungkin kita lalui  masih belum ada  apap apanya bilamana dibandingkan dengan penderitaan yang dialami oleh para Nabi pada saat itu.  Karena itu kita  kemudian akan enjadi malu manakala kita suda menyerah begitu saja terhadap keputusan Tuhan yang mungkin berupa ujian atau bahkan merupakan sesuatu yang  berakibat bagi kita.

Pada akhirnya kita berharap kiranya Tuhan akan memberikan sesuatu yang terbaik bagi kita dalam menjalani hidup di dunia ini, sekaligus dapat memberikan maunah kepada kita sehinga kita bisa berinvestasi untuk kehidupan akhirat yang lebih baik.  Kita juga berharap bahwa Tuhan akan  memberikan ketabahan kepada kita dalam menerima segala bentuk ujian yang diberikan kepada kita, serta memberikan hati dan pikiran yang ikhlas kepada kita sehingga kita akan bisa menerima keputusan apapun  yang ditetapkan Tuhan untuk kita.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.