PROBLEM SOSIAL=PROBLEM KITA

Setidaknya ada sekitar 170 titik di wilayah nusantara ini yang sangat rawan timbul masalah social, dan kalau tidak dilakukan pendekatan yang tepat, sangat mungkin  justru akan  dapat menyulut masalah menjadi keluar dan  sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa ini.  Bukan maksudnya  untuk menakut nakuti, namun hal tersebut memang sangat nyata dn telah diidentifikasi oleh kementerian sosial.  Nah, tugas kita semua saat ini ialah  berusaha bagaimana agar  titik titik terjadinya potensi  bencana social tersebut bisa didekati sedemikian rupa sehingga akan menjadi kondusif dan bisa mredam potensi tersebut.

Masalah sosial memang bukan semata mata menjadi  pekerjaan kementerian sosial, melainkan menjadi tanggung jawab kita semua seluruh bangsa, karena  persoalan sosial tersebut sangat erat berkaitan dengan persoalan lainnya.  Namun demikian memang kementerian sosial mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk  mengelolanya sehingga tidak akan terjadi bencana sosial  sebagaiaman yang sangat dikhawatirkan banyak pihak.

Faktor ekonomi  misalnya, sangat erat kaitannya dengan persoalan sosial ini.  Banyaknya anak anak jalanan, terutama di kota kota besar, penyebab utamanya ialah masalah ekonomi disamping sebab lainnya.  Kemiskinan yang  semakin akrab dengan sebagian besar masyarakat kita tentunya akan sangat  mempengaruhi berbagai  persoalan sosial di negeri ini; mulai dari timbulnya kekerasan, premanisme, eksploitasi anak, maraknya seks bebas, minman keras, narkoba, dan masih banyak lagi persoalan lain yang  sangat menyedihakan serta  membahayakan  bagi keberlangsungan generasi terbaik bangsa.

Banyaknya pengangur yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan, sesungguhnya bukan saja menjadi tanggung jawab kementerian tenaga kerja dan transmigrasi, tetapi juga terkait dengan berbagai pihak, termasuklembaga pendidikan.  Kita memang mempunyai kementerian tenaga kerja dan transmigrasi yang memang bertugas untuk mencarikan solusi ketenaga-kerjaan, tetapi akan sangat tidak mungkin dilakukan, manakala tidak ditopang oleh pihak lainnya.  Setiap tahunnya, angkatan kerja sedemikian membludak tidak seimbang dengan lowongan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah dan perusahaan swasta lainnya.  Sementara itu proses pendidikan teus berjalan dan  ratusan ribu orang diluluskan dari perguruan tinggi, negeri maupun swasta.

Nah, apa yang saya maksudkan dengan keterkaitan antara persoalan ketenagakerjaaan dengan lembaga penidikan ialah, bagaimana lembaga pendidikan tidak saja membekali para peserta didiknya atau mahasiswanya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi semata, melainkan juga sekaligus dibekali dengan ilmu tentang kewira-usahaan.  Artinya  bagaimana perguruan tinggi saat ini lebih mengorientasikan  mahasiswanya untuk menjadi pengusaha yang akan  menciptakan lapangan pekerjaan, dan bukannya malah ingin menjadi "kuli" dari pihak lain.

Tentu orientasi tersebut harus dimulai dengan  pengenalan  dunia usaha kepada mahasiswa dengan berbagai variannya.  Memang kita tidak berasumsi  bahwa seluruh mahaisswa nantinya akan  menyenangi dunia usaha tersebut, akan tetapi dengan memberikan bekal yang cukup tentang kewirausahaan tersebut, kampus  sesunguhnya telah  berusaha untuk memberikan sesuatu yang terbaik baik solusi bangsa kedepan.  Kita berkeinginan bahwa  para lulusan perguruan tinggi akan mampu memberikan dharma baktinya kepada bangsa ini melalui berbagai macam profesi yang ditekuninya.  Tetapi  profesi yang paling terbuka dan tergantung kepada  diri para alumni ialah  berwira usaha.

Itu  baru sebagian solusi yang  dapat dilakukan oleh lembaga pendidikan dalam ikut memcahkan persoalan sosial di masa mendatang.  Sementara itu persoalan sosial lainnya yang saat ini  sangat mengkhawatirkan masih cukup banyak, seperti  anak terlantar, yang menurut kementerian sosial jumlahnya  jutaan anak.  Anak terlantar tersebut tidak saja mereka yang tidak mempunyai rumah dan orang tua, tetapi juga termasuk di dalamnya anak anak yang sesungguhnya tinggal bersama dengan orang tuanya, tetapi sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya tersebut.  Jadilah mereka sebagai anak anak yang tumbuh liar bersama dengan komunitas liarnya di luar rumah.

Kalau kemudian ditanya kenapa ada orang tua yang membiarkan anak anaknya seperti itu, jawaban spontannya ialah karena jangankan mengurusi anak anak  termasuk menyekolahkan mereka, untuk makan saja mereka harus membanting tulang memeras keringat danmenggadaikan nyawa.  Keluarga yang seperti itu di negeri ini ternyata sangat banyak, meskipun para wakil rakyat dan para pejabat yang bertanggung jawab dalam persoalan ini  sangat hedonis gaya hidupnya dan bahkan  masih ada diantara mereka yang tega mengemplang uang rakyat.

Apalagi kalau kemudian kita menyaksikan bagaimana anak anak jalanan yang  tidur dan makannya pun di jalanan, tanpa ada masa depan bagi mereka.  Pada umumnya mereka  hidup dengan mengamen atau  mencari rizki dari belas kasihan penguna jalan raya.  Kalau pun mereka  kemudian mendpaatkan uang yang lebih dari hanya sekdar untuk makan, maka uang tersebut larinya ialah untuk merokok, minum, bahkan narkoba dan main perempuan, terutama bagi anak laki laki.  Semua itu merupakan persoalan sosial yang segera memerlukan penanganan serius, karena sesungguhnya mereka, baik yang berada di rumah maupun yang memilih kehidupan di luar rumah,  adalah anak bangsa yang memerlukan kasih sayang kita semua.

Kita harus menyadari bahwa keluarga yang  mirip kondisinya dengan itu juga cukup banyak, misalnya keluarga yang mengeksploitasi anak anaknya untuk mengais rizki melalui jalanan dengan membahayakan jiwanya. Bahkan ada diantara mereka  yang boleh pulang kerumah dengan target membawa uang dari hasil usahanya di jalan.  Sungguh merupakan pemandangan yang sangat kontras dengan  keadaan yang selalu digembar gemborkan oleh pihka tertentu untuk mengatakan bahwa  kemiskinan di negeri ini sudah berkurang.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan  anak anak seperti itu, karena yang jelas mereka tidak lagi sekolah, walaupun pemerintah  secara teoritis telah mewajibakan seluruh anak usia sekolah untuk bersekolah.  Anggaran pendidikanpun sudah dinaikkan menjadi 20% dari total APBN, namun  dalam kenyataanya masih  banyak anak yang tidak bisa sekolah disebabkan tidak bisa membayar.  Persoalan anak tidak sekolah ini menurut saya merupakan persoalan serius dan pemerintah harus  segera melakukan upaya nyata agar tidak  ada agi  anak bangsa ini yang tidak bisa mengeyam pendidikan  dasar hingga menengah.  Akan jadi apa bangsa ini kalau  warganya  ada yang buta huruf di tengah tengah era internet seprti sekarang ini.

Keterkaitan antara persoalan ekonomi yang belum berkeadilan di negeri ini dengan timbulnya masalah sosial sangat erat hubungannya, dan tidak bisa dilepaskan.  Artinya  kalau persoalan ekonomi belum menemukan titik temu, makajangan berharap bahwa persoalan sosial akan dapat diatasi.  Demikian pula persoalan ekonomi  sangat ditentukan oleh persoalan pendidikan.  Semakin banyak  orang yang bodoh, akan semakin tinggi kemiskinan dan akibatnya perekonomian tidak akan knjung bergerak naik.

Persoalan perilaku  para pimpinan dan pejabat  yang bertanggung jawab dalam mengurus bangsa juga sangat berpengaruh terhadap munculnya berbagai persoalan sosial.  Sebagai gambaran, kalau banyak masyarakat yang masih ngos ngosan dalam hal ekonomi, atau dalam bahasa lain miskin, sementara mereka setiap harinya disuguhi dengan pameran harta yang melimpah bahkan cenderung dihamburkan oleh mereka yang  ada  di atas, tentu  masyarakat tidak lagi bsa berpikir jernih dan akhirnya  mengambil jalan pintas untuk dapat menikmati harta sebagiamana orang orang yang di atas tersebut.

Toh mereka beranggapan bahwa uang yangdidapatkan oleh mereka juga melalui jalan yang tidak benar.  Hanya saja belum ketahuan atau karena kelicikan mereka sehingga dapat selamat dari jeratan hukum.  Nah, kalau pandangan mereka sudah seperti itu, maka akan sangat mudah bagi mereka untuk melakukan hal hal instan  untuk mendapatkan uang tersebut, walaupun harus  melakukan kejahatan sekalipun.

Persoalan sosial yang demikian  banyak dan rumit adalah persoalan kita dan bukan persoalan pemerintah semata, meskipun kita tetap berharap bahwa pemerintah  akan terus berusaha untuk mencari solusinya dengan  kepercayaan negara yang diberikan kepadanya.  Angaran yang disediakan untuk hal tersebut  perlu direalisasikan dengan  mengingat skala prioritas.  Tetapi sebagai bangsa, kita juga mempunyai kewajiban untuk turut mencarikan soludi terbaik bagi penyelesaian persoalan sosial tesebut, terutama melalui peran dan fungsi kita masing masing.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.